
"Hei, kau harus makan dengan baik di sini. Lanjutkan perawatanmu. Nanti kita bisa jalan-jalan lagi keluar dan kemping di halaman belakang rumahku seperti dulu."
Ammo menambahkan potongan daging panggang ke piring Sanders. Dari kejauhan, Blake melihat keduanya terlihat akrab. Tapi sebenarnya hanya Ammo yang bicara. Sementara Sanders akan menunjukkan wajah senang dan tawa gembira setiap kali sepotong makanan diletakkan di piringnya.
Setelah kenyang, Ammo berbaring di tikar kemping mereka. Kepalanya beralas telapak tangan yang dikaitkan di belakang kepala.
Ammo menepuk-nepuk tikar di sampingnya. "Ayo berbaring. Kita lihat bintang di langit. Apa kau masih hafal nama-nama bintang itu atau tidak?" ajak Ammo.
Sanders terlihat ragu untuk berbaring di situ. Dia hanya melihat Ammo yang berbaring santai.
"Hei, aku tau, tak ada Adriana di sini. Tapi bukankah kau lebih dulu jadi temanku, sebelum mengenal dua gadis itu?" Ammo bersungut-sungut. "Kau mengecewakanku, Sanders."
Ammo cemberut sambil melihat langit. Dia berpura-pura tak mempedulikan Sanders.
Seperti didorong naluri, Sanders akhirnya ikut berbaring di sebelah Ammo. Pandangannya lurus melihat ke atas langit.
Ammo mulai menunjuk beberapa bintang. Disebutnya nama-nama bulan itu seingatnya. Dia ingin memancing memori Sanders. Terkadang Sanders memegang tangan Ammo yang menunjuk dan menyebut nama bulan.
"Ada apa? Apa aku salah sebut?" pancing Ammo.
Tapi seperti sebelumnya, bibir Sanders hanya komat-kamit, tanpa keluar sepatah katapun. Apa yang ada dalam pikirannya, tak dapat diungkapkannya. Dia telah melupakan banyak hal, bahkan sekedar nama bintang. Namun nalurinya masih bertahan, entah sampai kapan.
Ammo menyelimuti Sanders yang tertidur di udara terbuka. Ammo bangkit, dia akan membiarkan Blake menemani Sanders kemping.
"Adriana ... Andriana.' Suaranya terdengar sedih.
Ammo kembali duduk, begitu mendengar igauan Sanders. Dia menunggu, apakah nama-nama lain juga akan disebut.
"Ternyata kau sudah melupakanku. Mengecewakan," gumam Ammo pelan.
Diputuskannya untuk menemani sahabatnya kemping malam ini. Namun, hingga dia tertidur, Sanders tak ada menyebut nama lain, selain Adriana.
*
*
Ammo terbangun ketika dirasanya ada yang bergerak-gerak di sebelahnya. Ternyata Sanders tengah tidur dengan gelisah. Sesekali dia menggumam tak jelas. Digenggamnya tangan Sanders.
"Aku takkan meninggalkanmu," bisik Ammo.
"Ammo, Ana ... Ana ...."
"Apa kau sudah ingat Ana?" tanya Ammo tertarik. Tapi Sanders kembali menggumam tak jelas.
"Apa kau ingat, saat Ana dioperasi face off? Kau yang merawatnya kan?" ujar Ammo sambil berbaring santai.
"Ana ...." Sanders bergumam tanpa sadar. "Angel," sambungnya lagi.
Dan gumaman itu sontak membuat Ammo menoleh dengan terkejut. "Kau ingat Ana berubah jadi Angel?" tanya Ammo memastikan.
"Ana ... Angel," gumam Sanders lagi.
"Dan biar kuberi tahu juga padamu. Kau juga berubah dari Sanders menjadi James. Kau ingin menipuku dengan wajah dan nama barumu!" gerutu Ammo kesal.
"Sanders ... James ...."
"Ya, Sanders jadi James. Ana jadi Angel," tambah Ammo.
"Eh, Sanders, apa kau tau apa yang terjadi pada George?" tanya Ammo. "Dia terlihat berubah sejak operasi dua setengah tahun yang lalu."
"George ... mati!" Sanders kembali menggumam tanpa sadar.
"Apa?!"
Suara Ammo yang terlalu kencang karena terkejut, justru membangunkan Sanders dari tidurnya. Dia menatap Ammo dengan ekspresi ketakutan. Hal itu segera menyadarkan Ammo.
"Tidak, tidak apa-apa. Maafkan aku. Ada tikus yang melintasi kakiku tadi," bujuk Ammo menenangkan Sanders.
Tapi pria itu sudah tak mempercayai Ammo lagi. Dia duduk menjauh. Ammo akhirnya menyerah. Lebih baik tidak memaksa Sanders yang sudah seperti itu.
"Kita akhiri kemping kita. Ayo, kutemani kau kembali ke kamar," ajak Ammo. Tapi Sanders makin mundur menjauh, ketika Ammo mengulurkan tangan.
"Oke, aku takkan memaksamu." Ammo mundur dan menarik tangannya yang terulur.
"Ya!"
Blake terbangun dari tidurnya yang menyandar pada batang pohon.
"Antarkan Sanders kembali ke kamarnya!" perintah Ammo.
"Baik!"
Blake mendekati Sanders, yang menatapnya dengan penuh selidik.
"Kau melupakanku lagi? Bukankah aku yang selalu menemanimu bermain catur di ruang matahari." Jelas Blake.
Ekspresi Sanders berubah. Dia sepertinya mengenali Blake. Disambutnya uluran tangan Blake untuk berdiri. Lalu keduanya pergi meninggalkan Ammo sendiri.
Ammo segera berdiri dan berjalan cepat menuju kamarnya sendiri. Kepalanya dipenuhi beberapa hal mengejutkan dalam dua puluh empat jam!
"George tewas? Bagaimana bisa seperti itu? Bukankah dia yang menyelamatkan Ana dalam operasi terakhir? Apakah dia juga menjalani operasi yang sama dengan Sanders dan Ana, tapi tidak berhasil? Atsu ada pihak lain yang menyingkirkannya?"
Ammo merasa kesal. Makin banyak info yang didapat, kenapa justru makin bertambah banyak pertanyaannya?
Tentang Oscar dan Nathalie. Dia harus tau keterkaitan gadis itu dengan Ana. Dan tentang Oscar, apakah suatu kebetulan, orang yang mendapat perlakuan sama seperti Ana, justru dekat dengan orang yang wajahnya mirip Ana! Ammo mencium bau konspirasi yang kental di sini.
*
*
Pagi sambil sarapan, Ammo membuka laptop kerjanya di dalam kamar. Dia memeriksa pesan-pesan masuk dari berbagai perusahaan yang dipegangnya.
Setelah itu mulai membuka laporan dari bawahannya yang lain. Dan, surprise! Laporan Profesor Stone membuat wajahnya kembali cerah. Stone sudah mulai bisa memasuki memori masa kecil Ana. Namun, yang diingat Ana adalah kejadian pembunuhan ibunya. Juga kematian ibu saat berada di pelukannya.
Meski itu tak terlihat sebagai hal baru, karena Ammo juga tau tentang hal itu. Ana pernah menceritakan kisahnya saat mereka dulu berteman akrab. Tapi, jika Stone yang mengatakannya, maka artinya informasi itu didapat saat Ana dalam pengaruh hipnotis. Itulah perkembangan besarnya.
Pelan tapi pasti, Ana akan mulai mempercayai Stone, dan mengeluar hal-hal yang selama ini disimpannya sendiri.
Ammo mengatakan informasi yang didapatnya dari Sanders. Dia juga mengatakan bahwa info itu didapat hanya dengan mengajak Sanders kemping, seperti saat mereka remaja dulu.
"Aku harus ke sana dan melihatnya. Apakah aku perlu mengatakan tentang Adriana? Atau dia justru akan merasa bersalah dan kehilangan semangat hidup?"
Ammo memiliki banyak pertimbangan saat ini. Setiap keputusan yang diambilnya akan memiliki dampak lanjutan yang tidak disukainya.
Ammo mengangkat kepalanya ketika mendengar ketukan di pintu kamar.
"Ya!" seru Ammo.
"Ada Nona Nathalie yang ingin bertemu dengan Anda!" lapor Blake.
"Bawa ke ruang kerjaku!" sahut Ammo.
"Baik!"
"Apa yang ingin dikatakannya?" batin Ammo. Ammo berdiri dan melangkah keluar kamar. Blake mengikuti Ammo dari belakang.
"Bagaimana Sanders setelah kembali ke kamar?" tanya Ammo.
"Dia tidur lagi. Tapi sepertinya mengigau beberapa kali. Dia terlihat murung, pagi ini," lapor Blake.
"Hemmm." Ammo mengangguk dan terus berjalan.
Blake membukakan pintu ruang kerja Ammo. Seorang penjaga, berjaga di depan pintu. Dan seorang lagi, berdiri di dalam ruangan, mengawasi Nathalie.
"Selamat pagi," sapa Ammo ramah.
"Oh ... pagi, Tuan." Nathalie berdiri dari duduknya, saat mendengar suara Ammo.
"Silahkan duduk." ujar Ammo. Ditunggunya hingga Nathalie duduk di sofa. "Ada keperluan apa?"
"Saya tidak mengenal anda, saya tidak tau kenapa saya dipindahkan ke sini. Dan ... tentang penyakit Oscar, bolehkah saya tinggal di kamarnya, selama dia dirawat?" Nathalie mengeluarkan semua yang ingin ditanyakannya.
******