
Pukul satu siang, mobil itu sudah terparkir di klinik Dokter Dorjan. Seorang pekerja menyambut.
"Aku Alexei, diminta datang oleh Dokter Dorjan," sapa Alexei ramah.
Pekerja itu mengangguk. "Mari ikut saya," ujarnya.
"Oke!" sahut Alexei.
Pekerja itu membawa mereka ke sayap kanan klinik. Kemudian melewati koridor hingga ke belakang gedung. melewati taman yang teratur rapi. Menapaki jalan setapak dibawah pergola yang dipenuhi tanaman rambat yang tidak dikenal Ana.
Setelah melewati itu, Alexei dan Ana akhirnya menemukan dua rumah dengan bentuk yang sama, dibangun berdampingan. Pekerja itu melangkah menuju rumah yang di sebelah kiri. Setelah melewati hamparan rumput hijau dan teras, pekerja tadi mengetuk pintu.
"Dokter, tamu sudah datang!" lapornya.
Terdengar langkah kaki ke arah pintu. Lalu pintu terbuka. "Mari masuk!" ujarnya datar.
Ana dan Alexei masuk mengikutinya ke dalam rumah. Mereka melewati ruang tamu, kemudian berhenti di ruang tengah. Di sana ada seorang pria paruh baya yang sambutnya sudah kelabu. Membuatnya terlihat makin tua.
"Silakan. Saya harus kembali ke klinik!" pamit Dokter Dorjan.
"Terima kasih, Dok," kata Alexei.
"Apa kau Ivan saudara iparku?" tanya Alexei, setelah Dokter Dorjan tak lagi terlihat.
Ana menperhatikan pria itu dengan teliti. "Kenapa aku tak bisa mengingat wajahnya?" ujar Ana putus asa.
Pria itu mengamati Ana. "Kau siapa?" tanya pria itu.
"Jawab dulu pertanyaanku!" hardik Alexei.
"Ya, aku Ivan Avraam, suami Valentina!" jawabnya.
"Wajah Ivan tidak sepertimu!" bantah Alexei.
Dia tangan Ivan menyentuh belakang telinganya. Kemudian dia melepas sebuah topeng silikon dari wajahnya.
Ana terpekik kecil dan menutup matanya seketika. Alexei memeluk Ana. "Lihat paman," bujuknya sambil memeluk gadis itu.
Pengawal Ivan masuk dan menyajikan teh. Dia terkejut melihat situasi di sana. Fan dia segera tahu penyebanya. "Tuan, tolong pakai lagi topeng itu," sarannya.
Ana berhasil mengendalikan dirinya. Dia berbalik dan menoleh. "Apa yang telah mereka lakukan pada ayah?" tanyanya.
"Katakan! Biadab mana yang merusak wajah ayah!" desaknya marah.
"Kau ... kau siapa?" tanya Ivan. Tangannya terulur ke arah Ana.
"Ana, Anastasia!" sahut gadis itu ambil melepaskan topeng wajahnya juga.
"Ana...."
Dua anak beranak itu saling memeluk. "Kau, tidak takut melihatku?" tanya Ivan.
"Aku marah melihat Ayah seperti ini. Apakah ini ada hubungannya dengan Biro Klandestine?" tuduh Ana.
"Bagaimana kau tahu!" Ivan terkejut.
"Karena merekalah institusi terbusuk yang kutahu. Mereka juga yang membuatku seperti ini! Merubah wajahku dan melupakan banyak hal di masa lalu!" geram Ana marah.
"Apa maksudmu dengan merubah wajahmu?" tanya Ivan terkejut.
"Mereka merubah total wajahku dengan operasi plastik! Menghilangkan memoriku. Aku butuh perawatan berbulan-bulan untuk bisa mengingat sedikit demi sedikit kenangan masa laluku!"
Wajah Ivan yang terkejut, laku berubah merah padam, menunjukkan bahwa dia sangat marah mendengar cerita Ana.
"Biadab!" guman Ivan.
"Tapi ternyata aku saja tidak cukup menjadi eksperimen Biro. Bahkan Nathalie, Sanders an Oscar juga dihilangkan ingatan mereka!" tambah Ana.
"Nathalie! Kau menemukannya?" tanya Ivan dengan mata berbinar.
"Ya, dia sedang dalam perawatan dan perlindungan sekarang. Karena Biro merasa menghilangkan memori belumlah cukup. Dia dan pacarnya dicoba untuk dibunuh dalam sebuah ledakan mobil. Tapi mereka lokos!"
Ana pun menceritakan apa yang terjadi padanya, Nathalie, dan teman-temannya. Perlakuan kejan dan tidak berperikemanusiaan dari Biro K sudah terlalu berlebihan.
"Mereka harus dibalas! Dihukum untuk semua kejahatan internasional yang mereka lakukan!" kata Ana emosi.
"Kenapa kau bekerja di sana? Tempat itu tak sulit untuk dimasuki. Tapi mustahil untuk keluar!" kata Ivan.
"Aku mau mencari sebab musabab tewasnya ibu malan itu, saat ayah sedang pergi! Seorang teman mengajakku ikut bekerja di sana!" helas Ana.
"Apa kau sudah menemukan jejaknya?" tanya Ivan.
Ana menggeleng. "Bahkan setelah bertahun-tahun, aku masih belum mendapatkan informasi apapun. Aku hanya dibuat berputar-putar dari satu orang ke orang lainnya!" kesalnya.
"Paman, Ambilkan foto aku dan ayah. Nanti akan kutunjukkan padanya!" pinta Ana.
Ivan pun mengambil foto mereka berdua beberapa kali, sebelum mulai berbincang-bincang.
Saat tak ada orang lain di situ, Ivan menyerahkan sesuatu ke tangan Ana. "Simpan dengan baik. Itu semua bukti yang telah kukumpulkan selama ini!" bisiknya. Ana mengangguk.
"Apa aku boleh membukanya?" tanya gadis itu. Ivan membalasnya dengan anggukan.
"Kenakan topengmu. Kita tak bisa mempercayai siapapun!" ujar Ivan.
"Bagaimana kalau kau pindah tinggal dengan kami?" tawar Alexei.
"Ivan menggeleng. Itu akan sangat membahayakan kalian!" tolaknya.
Lagi pula, aku harus rutin cuci darah!" imbuhnya.
"Bagaimana kalau kutempatkan orang-orangku untuk menjagamu di sini?" desak Alexei lagi.
"Nah, itu lebih baik," dukung Ana.
Ivan bisa melihat putrinya sangat ingin menjaganya. Tapi, ini kediaman Dokter Dorjan. Pasti akan mengganggunya, jika ada banyak orang di sini!" tolaknya halus.
"Jika itu masalahnya, Ayah bisa kembali ke rumah di tengah kebun anggur itu!" desak Ana.
"Pemiliknya sudah mengusirku. Di sini saja, aju sudah bersembunyi tanpa diketahuinya," jelas Ivan, berharap Ana berhenti mendesaknya.
"Ammo? Biar aku yang memintajan ijinnya!" Ana langsung menghubungi Ammo.
"Ya, ada apa?" sambut suara di seberang.
"Aku mau ayahku kembali ke rumah di tengah kebun. Bagaimana pendapatmu?" Ana bukan meminta pendapat, tapi mengutarakan keinginannya.
Ammo terdiam sejenak dengan rasa tak percaya. Namun dia akhirnya tersenyum. Itulah Ana yang dikenalnya. Selalu tahu bagaimana mendapatkan yang diinginkannya tanpa ditolak.
"Baiklah. Ayahmu boleh tinggal di sana. Akan ku katakan pada Dokter Dorjan," jawab Ammo.
"Terima kasih!" Ana langsung mematikan telepon.
"Beres!" katanya dengan senyuman senang.
"Kau mengenalnya?" tanya Ivan.
"Ya!" Ana mengangguk. Dia temanku sejak kecil. Panti asuhanku, tidak jauh dari kediamannya," jelas Ana.
"Nah, sekarang jelaskan bagaimana Awal mula kejadian ini!" desak Alexei.
Ivan diam beberapa saat. Dia mengangkat cangkir teh dan menyesapnya perlahan.
"Merunduk!" Ana memperingatkan.
"Ada apa?" tanya Alexei dan Ivan bersamaan.
"Jam tanganku memberi peringatan!"
Ana membuka layar kecil yang ada pada jam tangannya. Diarahkannya jam itu ke pintu depan, tempat mereka masuk.
"Ada tiga orang berjalan ke sini!" Ana menunjukkan cahaya merah samar dari tiga orang yang berjalan beriringan.
"Apakah ada pintu belakang?" tanya Ana pada pengawal ayahnya.
"Ya, ada. Ayo!" Pengawal itu berjalan mendahului di depan. Di belakang, menyusul Ivan yang berjalan tertatih-tatih dengan tongkat penopangnya. Kemudian disusul Ana dan Alexei yang sudah siap dengan pistolnya masing-masing.
Empat orang itu berjalan dengan mengendap-endap. menyusuri kebun anggur. Pengawal Ivan membawa mereka ke rumah yang ada di tengah kebun.
Ana mencoba menelepon Ammo. Tapi dia tak mendapatkan sinyal telepon di sana. Jadi dia hanya mengirim pesan pada Ammo. "Tempat ini ketahuan! Ada yang mendatang kami!"
"Ana, cepat!" panggil Alexei tak sabar.
"Ya!" Gadis itu berlari menyusul keluarganya, sambil meneriksa layar pada jam tangannya.
"Sebentar lagi mereka pasti akan menemukan tempat ini!" bisik Ana lirih.
"Kita akan menghadapinya!" balas Alexei percaya diri.
Tak lama, jam tangan Ana kembali memberi tanda bahwa ada yang mendekati perimeternya. Masih tiga buah bayangan merah yang samar.
"Cepat masuk ke rumah itu!" tunjuk Ana pada rumah terdekat. Itu rumah tempat Maya dirawat sebelumnya.
*********