Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
171. Good Luck!


Pukul enam pagi, Ana sudah siap. Dia turun ke lantai bawah bersama Gan. Keduanya mengenakan suit di balik pakaian mereka, untuk melindungi dari serangan fatal.


Ammo sudah ada di meja makan dan sedang berdiskusi dengan Kapten Smith, Ariel, Donny dan Ivan.


"Bagaimana perkembangan pagi ini?" tanya Ana sembari duduk.


Theo dengan cepat menuangkan kopi untuknya dan mendekatkan piring croissant ke hadapan Ana, untuknya sarapan.


"Terima kasih, Theo," ujarnya.


"Dengan senang hati, Nona," balas Theo mengangguk. Pria itu kemudian mundur menjauh. Cukup jauh untuk tidak mendengar pembicaraan orang-orang, Tapi masih bisa melihat gerakan, jika dipenggil.


Mereka sarapan sambil mendiskusikan lagi perkembangan terakhir.


"Berita terakhir dari Slovstadt, hari ini akan ada demo besar yang dilakukan serentak. Perkiraan suasana akan memanas. Perhatian pemerintah sudah terarah sepenuhnya pada hal itu." Ammo menunjukkan laporan yang diterimanya dari bawahannata.


Ana manggut-manggut. "Dua minggu demo dan gerakan perlawanan. Itu bukan hal kecil. Pemerintah sudah kesulitan membungkan semua aktifis yang dengan cepat berubah menggantikan orang-orang yang ditangkapi!" komentar Ana.


"Bagaimana kabar dari klan? Apakah mereka sudah mempersiapkan calon pengganti?" tanya Ammo ingin tahu.


"Aku juga sedang menunggu diskusi alot para penasehat kuno itu!" sungut Ana


"Aku butuh jaminan, bahwa calon yang bekerjasama denganku benar-benar mendapatkan dukungan klan. Jika tidak, maka itu akan jadi bumerang bagi kita!" Ammo mengingatkan.


"Biar kutelepon ayah," ujar Ana. diletakkannya roti yang belum selesai dimakannya di atas piring.


"selesaikan dulu sarapanmu. Setelah ini, kita mungkin akan melewatkan makan siang!" tegur Ammo.


"Baiklah." Ana kembali melanjutkan sarapannya sambil menghubungi ayahnya.


"Apakah masih ada perintah lain untukku?" tanya Kapten Smith.


"Tidak! Kembali dan persiapkan pasukanmu!" perintah Ammo.


"Baik!" Kapten Smith pergi.


"Bagaimana dengan kami?" tanya Donny dan Ivan.


"Kalian pergi ke kantor seperti biasa, agar jangan sampai ada perubahan perilaku yang mencolok dari para mata-mata," kata Ammo.


"Oke. Kami berangkat." Donny berdiri diikuti Ivan. Keduanya juga meninggalkan ruangan.


"Apa mereka sudah sarapan?" tanya Ana. dia tinggal meneguk minuman, maka sarapannya selesai.


"Kami sudah sarapan lebih dulu tadi," sahut Ammo.


Theo mengambil cangkir kopi dan piring sarapan yang sudah kosong. Dibersihkannya meja dengan lap yang selalu disangkutkannya di pinggang.


"Ayah menerima panggilanku," lapor Ana. Ammo mendekat, menarik kursinya ke sebelah Ana agar bisa ikut melihat pria itu.


"Bagaimana keputusannya, Ayah?" tanya Ana.


Ayahnya mengangguk sambil tersenyum. "Mereka setuju dengan pilihan Ammo!" ujarnya.


"Jadi pria itu disetujui sebagai calon pengganti pemimpin yang baru?" tanyanya tak percaya. Tapi ekspresinya amat sangat senang.


"Ya! Jadi, gerakanmu harus berhasil. Atau kita semua akan tinggal sejarah!" Ivan Avraam memperingatkan dengan keras.


"Aku tahu. Ini bukanlah hal yang main-main. Resikonya sangat besar. Tapi jika tak mencoba, maka tak kan pernah ada perubahan," Ammo sangat bertekad agar rezim itu berganti.


"Bagus!" ujar Ivan. Kemudian pandangannya beralih pada Ana.


"Ana, ini bukanlah hal mudah. Bisakah kau melewatinya tanpa mengeluh?" tanyanya.


"Aku bukan anak kecil. Lagipula, sudah bertahun-tahun aku memendam impian ini. Kami sudah mempersiapkannya dengan matang, Ayah. Aku harus membalaskan dendam ini!" tekadnya.


"Nak, ayah percaya persiapanmu sudah matang. Tapi jangan lupa bahwa mereka sudah ada jauh sebelum kau lahir. Gerakan mereka lebih solid, anggota mereka jauh lebih ahli ketimbang anggota klan yang kau latih. Jangan sampai malah mengorbankan banyak nyawa anggota klan yang tidak bersalah," nasehatnya.


"Baik ayah. Aku juga tidak berencana seperti itu. Mereka hanya pendukung dan pengalih perhatian. Akulah yang akan bergerak maju. Karena ini adalah dendamku. Jadi harus aku yang menuntaskannya!" jelas Ana.


"Baiklah. Ayah percaya pada kebijaksanaanmu. Kami akan mendukungmu dari sini," ujarnya sebelum mengakhiri panggilan.


Ammo diam cukup lama sebelum mengangkat kepalanya ke arah Ana. "Bawahanku menemukan seseorang sedang memata-mataimu tadi malam," kaya Ammo.


"Oh ya? Apa kau berhasil mengorek keterangan darinya?" tanya Ana.


"Pria tua? Dia sudah tua? Bagaimana ciri-cirinya?" tanya Ana sambil mengerutkan kening.


"Dia tua, beruban dan selalu membawa anjing bersamanya," jelas Ammo.


"Tuan Simon? Apa kalian menangkapnya di dekat rumahku?" tanya Ana ingin tahu,


"Ya, mereka melihat pria itu mengamati rumahmu cukup lama, saat kau berada di dalam. Dan ketika kau pergi, dia menghubungi seseorang. Tapi ketika anggotaku tiba, pembicaraan itu sudah selesai. Dan pria itu sama sekali tak bersedia bicara sepatahpun.


"Apa kalian menahannya di sini?" tanya Ana penasaran.


"Tidak!. Setelah dia menolak bicara, untuk keamanan rencana, maka aku mengirimnya ke tempat rahasia," jelas Ammo. Ana diam. dia tak ingin mendebat pria itu disaat seperti ini. Jadi biar dibereskan nanti saja.


"Perkiraanku, kedatanganmu sudah ditunggu mereka. Artinya mereka menduga, kau pasti akan ikut mengail di air keruh. Dan kau sudah ketahuan. Bagaimana kalau kau tunda rencanamu? Biarkan kami bergerak di sana. Bukankah sama saja!"


"Tidak sama!" Ana tidak sepakat.


"Jika pemerintahan berganti, permintaan utamaku adalah mengganti ketua Biro Klandestine dengan orang yang lebih manusiawi dan patuh pada aturan. Setelah itu kau bisa ajukan tuntutan hukum pada ketua yang sekarang. Minta aparat hukum untuk mengusut apa yang telah mereka lakukan padamu. Juga pada banyak objek percobaan rahasia mereka yang keji. Bagaimana menurutmu?" bujuk Ammo.


"Jika kau bicara soal itu lagi, maka aku akan membencimu!" ancam Ana marah. Gadis itu marah sekarang. Tak percaya bahwa Ammo justru menyuruhnya mundur di saat-saat terakhir.


Ammo diam dan menghela napas berat. Gadisnya sudah bertekad. Daan dendamnya sudah merasuk ke tulang. Tak mungkin untuk dibujuk lagi. Tapi, dia jelas khawatir. Sekarang mungkin rencana mereka sudah diantisipasi pihak lawan. Entah apa yang akan dihadapi Ana di sana, nanti.


Ana berdiri dari duduknya. "Apa sarapanmu sudah selesai?" tanyanya pada Gan.


"Sudah, Pemimpin." Gadis pengawal itu mengangguk.


"Bagus! Sudah saatnya kita bergerak!" ujar Ana. Dia melirik jam tangan yang baru diupgrade Ammo. Ada banyak perangkat canggih ditanamkan di situ.


Ana berjalan keluar. Ammo dan Gan mengikuti.


"Mobil barumu menunggu di depan!" ujar Ammo dengan suara melunak. Dia tak mungkin bisa menghalangi niat gadis itu sekarang. Jadi mari terus dukung, agar semuanya berhasil seperti rencana mereka.


Ketiga orang itu menuju halaman depan, di mana sebuah mobil 4 wheel warna hitam sudah menunggu. Mata Ana membelalak. Itu mobil yang sangat macho.


"Apa ini mobilmu?" tanyanya.


"Mobilmu!" jawab Ammo tersenyum. Semua milikku adalah milikmu!" tambahnya lagi.


"Dan pasang perangkat ini di telingamu. Ammo memasangkan head set yang diberikan Theo, pada Ana. Gan juga memakainya.


"Dengan ini, kau bisa berkomunikasi denganku, dengan Alexei, dengan Gan dan juga kapten Lance," jelas Ammo.


"Kapten Lance?" tanya Ana heran. Selama persiapan dan pembicaraan mereka, tidak sekalipun membawa-bawa nama Kapten Lance. Kenapa tiba-tiba muncul?


"Aku tahu yang kau pikirkan. Tapi aku juga punya pemikiran sendiri. Terutama setelah kehadiranmu ketahuan oleh mata-mata mereka." Ammo mengatakan alasannya menarik Kapten Lance dalam rencana.


"Dia asuransiku?" Ana menegaskan.


"Ya! Jika sudah tak ada kemungkinan lagi. Bawa seluruh anggotamu menjauh, dan minta Kapten Lance menyudahi semua kekacauan itu!" pesan Ammo.


Ana menghela napas sebelum akhirnya mengangguk. "Baiklah."


"Gan, kau harus mengingatkannya!" pesan Ammo tegas.


"Ya, Tuan Oswald," jawab Gan cepat.


"Kau juga bisa menghubungi Kapten Lance dari headsetmu, jika keadaan darurat. Dan kau harus mengatur orang-orang klan yang ikut serta. Kau yakin bisa?" tanya Ammo memastikan.


"Tuan Khouk yang mengatur orang-orang klan. Kami akan saling berkomunikasi." Gan menjelaskan detailnya.


"Baiklah. Kami pergi sekarang." Ana menyudahi kecerewetan Ammo.


Ammo menarik gadis itu dalam pelukannya. "Kau harus menjaga selembar nyawamu. Atau aku akan mengamuk di sana!" bisik Ammo khawatir.


"Aku janji!" dikecupnya pipi pria itu seringan angin, untuk menenangkan hatinya. Mereka tak bisa pergi bersama, karena Ammo harus memantau gerakan di Slovstadt. Jika itu gagal, maja nyawanya juga terancam.


Aktifkan suit pelindung itu," pesan Ammo lagi.


"Oke! Kami berangkat!" Ana mulai menyalakan mesin mobil. Dia mengenal tombol-tombol yang muncul. Itu khas produksi pabrik mobil Ammo dan dengan fungsi khusus.


"Good Luck!" seru Ammo.


********