
Ana kembali menjalani sesi terapinya. Dia telah mendapatkan jawaban dari Ammo yang disampikan oleh Profesor Stone.
"Jika Tuan Alistair adalah juga Tuan Lindl, Maka dialah yang telah membunuh Adriana!" geram Ana marah.
Kemarahan itu bersemayam kuat dalam hatinya. Itu membantu banyak dalam sesi terapi yang hasilnya sangat memuaskan.
Sesi terapi satu jam itu membuka semua rahasia yang kabur dalam ingatannya selama ini. Profesor Stone merasa sangat senang dengan perkembangan tersebut.
"Apa kau akan menceritakannya pada Ammo?" tanya Profesor Stone.
"Ya. Dia harus tahu kebenarannya," jawab Ana. Gadis itu duduk di sofa. Kali ini dia tidak merasakan kesakitan seperti biasanya.
"Aku rasa, nama orang itu adalah key word untuk membuka semua memorimu. Itu sebabnya kau tidak merasa sakit. Dan seperti harapan kita, kau bisa mengingat semua masa lalumu tanpa harus kesakitan!" jelas Profesor Stone.
"Ya. Semua ingatan itu seperti mengalir keluar begitu saja." Ana mengangguk.
"Tapi, aku ingin kau tetap menyimpan obat pereda nyeri ini. Aku tak mau kau tiba-tiba merasa nyeri, sementara tak punya persediaan obat!" ujar pria itu. Disodorkannya sebungkus obat pada Ana.
"Oke!" Ana meraih obat yang diberi Profesor Stone, kemudian berdiri.
"Aku mau ke kamarku dan memberi tahu Ammo," pamitnya. Profesor Stone mengangguk membolehkan.
"Aanda baik-baik saja, Pemimpin?" tanya Khouk saat Ana ke luar ruangan perawatan.
"Aku merasa sangat sehat!" sahut Ana tersenyum. Dia terus melangkah, dan Khouk mengikutinya dari belakang.
Khouk ikut masuk ke ruangan Ana, saat gadis itu masuk. "Kau bisa menunggu di luar, jika masih ingin menunggu," kata Ana.
"Tidak! Bagaimana jika anda kembali pingsan seperti sebelumnya?" tanya Khouk.
"Ya Tuhan .... Khouk, bisakah kau hanya menjawab biasa tanpa disertai dengan pertanyaan lagi?"
Ana menggelengkan kepalanya. Kebiasaan Khouk itu makin lama makin menjengkelkan. Pria itu selalu bertanya balik. Apapun yang dikatakannya, dia akan selalu menemukan kosa kata untuk bertanya kembali.
"Maaf, Pemimpin. Rapi saya bertanggung jawab atas nyawa anda di sini." Khouk menjawab tanpa bertanya kali ini. Dia membutuhkan sedikit waktu untuk merangkai kata agar tidak jadi sebuah pertanyaan seperti biasanya.
'Terserah kau sajalah!" Ana duduk di tepi tempat tidur. Dia mengambil ponsel dan menelepon Ammo.
"Hallo sayang ... bagaimana kabarmu sekarang?" sapa Ammo mesra.
"Aku baik. Bagaimana situasi di sana?" tanya Ana.
"Masih sama. Tak ada perkembangan berarti," keluh Ammo. Ada nada pesimis dalam suara pria itu.
"Kau pasti sangat lelah. Istirahatlah dulu," saran Ana.
"Oh ya, akau mau mengatakan tentang sesi terapiku," ujar Ana.
"Kau terdengar senang. Apakah hasilnya bagus?" tanya Ammo tertarik.
"Kata Profesor Stone, mungkin salah satu nama yang kau berikan itu adalah key word pembuka memoriku."
"Oh ya? Apakah sekarang ingatanmu sudah pulih?" tanya Ammo antusias.
"Ya! Kau bisa tanyakan apapun. Aku akan mengatakan semua yang kuketahui," sahut Ana dengan nada yakin.
"Baik. Sekarang coba katakan siapa itu Tuan Lindl atau Tuan Alistair?" tanya Ammo.
"Mereka orang yang sama. Saat aku dalam tugas di Rock Island, aku ditugaskan memata-matai jaringan mafia Black Rose. Bersama George aku menyamar selama dua tahun."
"Suatu hari kami mendapatkan perintah untuk menyiapkan banyak makanan. Ayah Leonard bilang akan ada tamu. Rekan bisnisnya datang berkunjung. Namun anehnya, setelah semua siap, kami disuruh pergi dengan boat."
"Kau tahu, aku bekerja sebagai pelayan di sana. Dan George bekerja sebagai tenaga kebersihan area luar. Jadi hari itu semua pekerja yang menjadi tanggung jawab kepala pelayan, disuruh pergi. Aku dan George merasa bahwa ini adalah rapat besar para mafia. Itu sebabnya kami harus pergi, agar tak ada saksi mata."
"Satu hal yang kami tak mengerti adalah, Leonard, putra pemimpin mafia Black Rose juga disuruh pergi. Bahkan bersama dengan sepuluh pengawalnya, pergi lebih dulu."
"Saat sampai di pantai pulau utama, aku dan George sepakat untuk menyewa speed boat lain dan mencari Leonard. yang dibawa entah ke mana oleh para pengawal itu. Aku bisa lihat dia memberontak saat diseret pergi. Aku hanya khawatir dia dibunuh oleh mereka."
"Kami akhirnya menemukan speed boat yang bisa disewa satu jam kemudian. Lalu menyusuri jejak terakhir tentang Leonard. Setelah berputar-putar cukup lama di laut, tiba-tiba pria itu muncul dengan sendirinya. Dia mengemudikan sendiri boat yang sebelumnya dia pakai bersama para pengawal. Tapi tak ada lagi satupun pengawal yang bersama dengannya. Kami memanggil-manggil, tapi dia terlalu jauh dan tidak mendengar."
"George mengusulkan untuk menyusul Leonard yang mengarahkan kembali ke rumah besar di pulau. Tempat itu sangat sunyi. bahkan para pengawal yang biasanya berkeliling di sepanjang pantai, tidak ada. Kami justru melihat orang-orang asing duduk di bangku-bangku taman yang dipasang di sekitar pantai."
"Kami berdua mengendap-endap masuk ke dalam. Menghindari pantauan orang-orang asing itu. Sedikit heran juga sih, aku melihat boat Leonard di dermaga tempat boat biasa menepi. Pulau itu sangat sepi. Tapi atmosfer ketegangan sangat terasa di udara. Entah kenapa, Aku seperti merasakan aroma kematian menguar di udara."
"Dengan cepat kami memanjat dan mencapai lantai dua dari bagian dapur. George sudah mempelajari tempat- tempat yang mungkin bisa kami gunakana untuk melarikan diri, jika ketahuan."
"Dari bagian pantry atas, kulihat tangan Leornard gemetar mengacungkan pistol ke arah ayahnya sendiri. Pria itu ketakutan. Sbuah pistol lain mengarah juga ke kepalanya, memaksanya menembak mati ayahnya sendiri."
"Ayah Leonard masih terus bicara. Dia bicara tentang prinsipnya. Dia memang pedagang narkoba dan menyelundupkan senjata. Tapi tak pernah ingin terlibat dengan politik. Apa lagi mendirikan klinik yang digunakan untuk kejahatan.'
"Aku masih ingat yang dikatakannya. "Kalian bahkan lebih keji dari seorang pencuri organ tubuh! Pencurian organ biasanya menyasar mayat tak dikenal. Tapi kalian justru mau menciptakan mayat hidup demi kepentingan politik kotor! Aku memang penjahat, tapi aku masih manusia, bukan iblis seperti kalian!" teriaknya."
"Alistair menembakkan pistolnya ke kaki Leonard, membuat pria itu jatuh terduduk di lantai. Lalu menyuruhnya menembak ayahnya. Tangan gemetar itu diarahkan pada pria tua yang selama dua tahun itu sangat ramah pada para pekerjanya."
"Sebuah tembakan yang mendesing dekat kepala, mengagetkan Leonard. Tanpa sadar dia menembakkan peluru yang sudah siap meluncur. Ayahnya jatuh dengan lubang di perut. Pria muda itu menjerit histeris. Dia ingin mendekati ayahnya, tapi dihadang oleh Alistair. Dengan keji ditembakinya kedua orang itu dengan bermain-main. Hal itu mebuatku berteriak marah tanpa sadar."
"Dan kalian ketahuan!" tebak Ammo.
*******