
"Tunggu, Ammo!" teriak tuan Calvin setelah ingat maksud kedatangannya ke rumah besar itu.
Ammo terus berjalan dengan tak acuh. Pria tua itu berjalan setengah berlari, menyusulnya.
""Kau harus jelaskan padaku tentang apa yang terjadi pada kediaman Aaron!" teriaknya marah.
Ammo menghentikan langkahnya dan berbalik melihat ke arah Calvin dengan pandangan merendahkan.
"Apa yang terjadi dengan rumahnya?" tanyanya.
"Rumahnya tadi malam meledak!" teriak pria itu histeris.
Ammo menarik kedua alisnya, menunjukkan ekspresi terkejut. Theo juga berekspresi sama. Pria tua itu jadi merasa sedikit meragukan langkahnya datang ke sini.
Ammo mengangkat bahu dan melanjutkan langkahnya ke ruang tengah. "Apakah aku juga harus bertanggung jawab untuk semua kediaman anggota keluarga Oswald? Rasanya tidak ada klausul itu dalam peraturan yang dibuat oleh kakekku!"
Ammo mencapai dasar tangga. Dia berbalik. "Siapa yang menghasutmu hingga berani memintaku bertanggungjawab untuk apa yang terjadi pada putramu?" Ammo menatap Calvin dengan tajam.
"Jangan lupa, aku sudah bermurah hati mengangkat derajat kalian yang hanya kerabat jauhku. Aku bahkan tak punya kewajiban untuk memberimu jabatan di salah satu perusahaanku. Apa kau sudah bosan dengan itu? Aku bisa segera menggantimu dengan yang lain!" ancam Ammo telak.
Pria itu terkejut. Dia menjadi panik seketika dan keringat dinginnya mengucur. "Anak sialan itu! Dia telah menjebakku," geramnya dalam hati.
"Ah, tidak ... bukan seperti itu." Suara pria itu melunak.
"Theo, panggil Leo ke sini!" perintah Ammo, tak mempedulikan ucapan Calvin.
"Ya, Tuan."
Theo segera berlari keluar rumah, mencari Leo di tempat kerjanya di paviliun.
"Ammo, maafkan aku. Kau tau kan aku orang yang meledak-ledak. Aku tidak ada maksud lain, selain meminta bantuanmu menyelidiki apa yang terjadi," bujuk Calvin dengan suara gemetar ketakutan.
"Heh!"
Ammo tak mempedulikannya. Matanya melihat ke arah pintu dengan tak sabar.
"Aaron ... Aaron pagi buta mengadu padaku, bahwa kau mungkin bertanggung jawab atas kejadian di rumahnya," ujar pria tua itu mencoba jujur.
Ammo melirik ke arahnya. Dia menilai, bahwa Calvin akan cuci tangan dan menimpakan semua keributan pagi ini pada putranya saja.
"Dan Kau percaya tanpa bertanya? Apa urusanku dengan rumahnya? Kenapa dia bisa menuduhku? Apa kau tidak bisa berpikir apa sebab dia melakukan itu?"
"A-aku ...."
"Apakah selama ini aku pernah ikut campur dengan kediaman kalian? Dengan affairmu yang selalu berakhir kacau? Selama pekerjaanmu tidak terganggu, maka yang kalian lakukan di luar, bukanlah urusanku!" tegas Ammo.
Calvin Oswald terdiam. Kenapa dia melupakan hal ini? Ammo tak pernah ikut campur urusannya. Tak juga ikut mencela dan menyindirnya dalam pertemuan keluarga, seperti halnya anggota keluarga lain.
"Oh Tuhan, apa yang telah ku lakukan? Membangunkan macan tidur!" batinnya ngeri.
Terdengar langkah kaki dari luar ruangan menuju ruang tengah. Hati Calvin ciut. Jika dia dipecat, mau diberi makan apa para gundiknya?
"Ammo, maafkan aku. Aku akan introspeksi diri. Aku akan berusaha mengontrol emosiku lagi, tapi jangan pecat aku. Aku tak punya keahlian lain," bisiknya menghiba.
Ammo mencibir sinis. Kepalanya diangkat ketika Leo masuk ke ruangan.
"Ya, Tuan!"
Leo berdiri dengan dada turun naik, mengatur nafas. Dia sudah berlari sejak dari bangunan paviun itu. Titik keringat di keningnya terlihat nyata. Dengan segera disekanya dengan saputangan dari saku.
"Tampaknya Aaron Oswald sudah bosan dengan pekerjaannya. Pecat saja!" ujar Ammo tegas.
"Hah?" Leo melihat ke arah Calvin, lalu pada Ammo. Kemudian dia mengangguk mengerti.
"Akan segera saya bereskan, tuan," jawabnya cepat. Lalu dia langsung lari keluar ruangan. Di depan pintu, dia berpapasan dengan Theo yang baru sampai.
Saat Theo mencapai anak tangga terbawah, Calvin segera berpamitan padanya. Dia tak ingin berada di rumah itu lebih lama lagi. Theo segera berbalik dan melanjutkan pekerjaannya.
Ammo turun dengan pakaian rapi, setelah satu jam di lantai atas. Theo yang sedang memeriksa pekerjaan pelayanan lain, langsung mendekati tuannya, menunggu perintah.
"Katakan pada Sawyer untuk bersiap! Dan, buatkan aku kopi," perintah Ammo.
Dia duduk di ruang tengah, lalu menyalakan televisi. Menonton berita pagi. Kembali muncul berita tentang meledaknya beberapa properti milik negara Slovstadt secara serentak, di berbagai negara. Spekulasi pemerhati politik makin panas. Kemudian berita lokal, dimana dua properti pribadi juga ikut meledak di waktu yang bersamaan.
Perbincangan panas masih terdengar saat Leo muncul membawa tablet dan sebuah berkas yang harus ditanda tanganinya. Ammo masih memberi beberapa instruksi sebelum berangkat.
"Ruang kantor Anda sudah akan selesai besok. Apakah ingin memeriksanya dulu?" tanya Leo.
"Kau periksa dan tunjukkan padaku hasilnya."
"Ya, Tuan." Leo mengangguk, kemudian berlalu.
Ammo kemudian juga pergi ke halaman samping. Sawyer sudah menunggunya di sana. Helikopter itu lalu terbang menuju arah yang diminta.
*
*******
Di sebuah ruangan yang bersih dan menenangkan. Seorang gadis memperhatikan sebuah foto yang ditunjukkan Stone.
"Apa menurutmu aku ada hubungan dengan gadis ini?" tanya Ana.
"Kau yang harus menceritakannya padaku," jawab Stone datar.
Gadis itu menggeleng. "Aku tidak mengenalnya ...."
Stone menatapnya. "Apa kau yakin?"
"Apa menurutmu, aku melupakan banyak hal dari masa kecilku?" tanyanya ingin tau.
"Terkadang, melupakan hal terpahit dalan hidup adalah pilihan yang dengan sadar diambil seorang korban, untuk melindungi dirinya sendiri. Dari waktu ke waktu Dia terus mensugesti diri bahwa hal itu tidak pernah ada. Kemudian hal itu jadi terlupakan sama sekali."
Stone menjeda kalimatnya untuk memberi Ana waktu memahaminya. Lalu lanjutnya, "Dan untuk kasusmu yang kemudian mengalami kehilangan memori secara paksa, maka kenangan-kenangan lama, akan tertimpa lebih dalam lagi."
"Lalu, apa yang kita lakukan hari ini?" tanya Ana.
"Kau bisa ceritakan masa lalu yang kau ingat. Kita akan mengumpulkan semua kepingan ingatanmu dan menyusun puzzle-nya jadi satu kesatuan yang utuh," saran Stone.
Ana terdiam.
"Jika gadis itu," tunjuk Stone pada foto, benar memiliki hubungan denganmu, maka dia mungkin sedang menantikan bantuanmu!"
"Apa maksudmu?" tanya Ana dengan tatapan tajam.
"Dia sedang dalam perjalanan, ketika mobil yang ditumpanginya tiba-tiba meledak. Tapi jasadnya tak ada dalam mobil itu. Dan belum ditemukan hingga hari ini," papar Stone.
Ana terbelalak. "Apakah dia saudariku? Dan karena aku bersembunyi, dia diculik orang?" pikirnya tak percaya.
"Baik, mari kita gali kenanganku!"
Dia sudah bertekad bulat untuk mengingat lagi masa lalunya. Jika gadis itu saudarinya, maka dia harus datang untuk menyelamatkannya. Lalu mencari keberadaan ayahnya. Ataukah ayahnya yang membawa gadis itu pergi?
"Bagus. Mari kita mulai. Lupakan musik yang terdengar di kepalamu. Mereka menanamkan barrier itu setiap kali ada yang ingin membuka memorimu!" pesan Stone.
"Oke!"
Ana berbaring dengan santai di sofa empuk. Profesor Stone bersiap untuk memulai sesi terapi ingatannya.
******