Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
123. Membujuk Alena


"Saat di klinik Dorjan!" sahut Ammo.


"Aku harus segera menanyakan pada Dorjan, kemana dia pergi setelah kuusir malam itu!"


Ammo mematikan telepon. Ana tertegun. Dia makin jengkel pada Ammo yang bicara sepotong-sepotong tidak jelas.


Yang mana ayahnya? Dia melihat banyak orang di sana. Perawat, Dokter Dorjan, dokter yang satu lagi, bahkan petugas kebersihan yang Ana pinjam peralatannya. Ah, juga pria penghuni rumah di mana Maya disetrum. Ada juga pengawal yang berbaju hitam itu.


Diusir Ammo? Berarti ada konflik. Dan Ammo yang bertemu dengan orang yang disebut Ammo sebagai syahnya.


Sudah dua hari berlalu. Sudah pindah ke mana orang itu setelah diusir Ammo?


"Haaahhh...."


Ana menghempaskan nafas dengan kekesalan yang meningkat.


"Kau sangat kesal setiap bicara dengannya. Apa lagi yang kalian bicarakan?" tegur Alexei.


"Dia bilang aku suda bertemu ayah di klinik Dokter Dorjan!" jawab Ana dengan kening mengerut. Dia masih duduk di tempat tidurnya di loteng.


Di bawah, Alexei juga ikut berpikir keras. "Yang mana Ivan?"


"Apa Ammo ada bilang aku juga melihatnya?" tanya Alexei.


"Dia tak menyebut Paman!" sahut Ana.


"Berarti, kau melihatnya saat tidak bersamaku!" kata Alexei cepat.


"Kita melihat Dokter bersama. Kita di toilet membedah Alena juga bersama. Aku pergi sendirian ketika menjemput Maya!"


Mata Ana membesar. Dia mulai melihat memikirkan sesuatu. Saat mencari Maya, hanya ada empat orang lain yang tidak dilihat Alexei.


"Dua perawat sialan itu tidak mungkin. Mereka terlalu muda. Pengawal berpakaian hitam? Atau pria tua itu? Dia bahkan lebih tua dari paman!" gumamnya sendiri.


"Diusir Ammo setelah kejadian Maya? Artinya dia orang yang harusnya bertanggung jawab atas kejadian itu!" Maya terus saja bergumam.


"Apakah penjaga itu?" pikirnya.


"Paman, coba lihat foto keluargaku!" pintanya. Dia turun dari loteng sekarang.


Alexei mengambil foto itu dan menyerahkan pada Ana. Ana memperhatikan foto lama yang mulai buram itu. "


"Penjaga itu tak mirip ayah!" lirihnya.


"Penjaga siapa?" tanya Alexei tak sabar. Sejak tadi Ana bergumam tak jelas.


"Penjaga rumah sebelah tempat Maya dirawat!" jawab Ana.


"Jika tidak mirip, cari yang lain. Lebih mudah membedakan seseorang lewat fisiknya," saran Alexei.


"Berapa tinggi ayah?" tanya Ana.


"Tinggi ayahmu sama denganku. Aku takkan keliru tentang itu!" jelas Alexei.


Ana berdiri di sebrlah Alexei, mencoba membandingkan tinggi mereka. Dia menggelengkan kepala. "Berarti bukan penjaga itu!" simpul Ana.


"Lalu ada siapa lagi di sana?" tanya Alexei.


"Penghuni rumah perawatan itu. Tuan si penjaga! Tapi tak mungkin dia!" kata Ana cepat.


"Kenapa tidak?" debat Alexei.


"Karena dia terlalu tua! Bahkan lebih tua dari paman! Terlihat sangat lemah dan seperti orang yang sudah dekat dengan kematian!' bantah Ana.


"Apakah tingginya sama denganku?" Alexei mendesak Ana.


"Hemmm.... Aku tidak terlalu bisa memastikannya. Dia berdiri agak jauh dan tubuhnya sedikit bungkuk dan kurus!" Ana menjawab sambil memejamkan mata, mengingat kejadian itu.


"Artinya, jika dia tak bungkuk, bisa jadi, sama tinggi denganku. Itulah dia ayahmu!" Alexei menyimpulkan.


"Dia terlalu tua!" bantah Ana lagi.


"Kau juga terlalu tua untuk jadi keponakanku!" sahut Alexei pedas.


"Hah!" Ana terdiam.


"Penyamaranku! Apa mungkin ayah juga melakukan hal yang sama?" duganya dengan ekspresi terkejut.


"Tidak! Kau di sini saja. Aku yang akan ke sana untuk memeriksanya. Dia pasti akan langsung mengenaliku!"


Alexei pergi ke kamar mandi dan bersiap. Ana masih terdiam ditengah rumah. Dia tak tahu harus senang atau tidak, mendapatkan kabar ini. Semua terasa terlalu cepat. Ammo baru menceritakan tentang ayahnya tadi malam. Dan pagi ini dia mengetahui bahwa ternyata pria itu masih hidup.


"Aku pergi dulu. Kau lebih baik tidak pergi mencarinya. Karena kau sendiri sedang dalam incaran. Urus saja tahananmu di bawah itu!" pesan Alexei sebelum membuka pintu dan pergi dengan motornya.


"Ammo, aku yang akan mencarinya ke klinik itu!" kata Alexei pada Ammo.


"Oke!" sahut Ammo.


*


*


Sekesai mandi dan memakai penyamarannya lagi, Ana menyiapkan sarapan. Hanya ada mie instan di rak pantry Alexei. Ana makan dengan lahap.


Kemudian dia turun sambil membawa sebungkus snack dan segelas air.


Alena terbaring lemas di lantai.


"Masih ingin bersikap angkuh padaku, atau bekerja sama?" tanyanya dingin.


"Tolong...."


Ana mendengar samar rintihan itu. Ana meletakkan gelas dan bungkus snack di meja sudut. Dia mendekati Alena. Menendangnya sedikit, untuk memastikan bahwa wanita itu tidak merencanakan hal yang licik. Setelah memastikan bahwa ikatannya masih kuat, Ana mengembalikan posisi kursi itu ke tempatnya.


Alena hanya bisa merintih. Ana menyentuh dahinya. Tubuhnya sedikit hangat dan rona wajahnya memucat.


Didorongnya tubuh itu untuk membungkuk ke depan. Ana memeriksa luka di bahu gadis itu. Sedikit membiru. "Lukamu sedikit infeksi!" ujarnya datar.


Kepala Alena tertunduk. Dia sudah taj sanggup mengangkat kepala lagi. Terlalu lemah dan tak punya tenaga.


"Aku bisa mengobatimu. Tapi aku tak sudi menolong orang yang sombong!" ujarnya.


"Tolong...."


Ana kembali mendengar rintihan Alena. Dia marah dan ingin tak peduli pada gadis itu. Tapi hati nuraninya menolak untuk terus menyiksa Alena. Itu membuatnya sangat kesal.


"Kau minum dulu. Biar punya tenaga. Lalu kau harus mulai bicara dengan benar!" serunya jengkel.


Didongakkannya kepala Alena, lalu air di gelas itu dituangkannya sedikit demi sedikit, sampai habis.


"Kenapa kau menolak makanan yang kutawarkan? Kau mengira aku menaruh racun di situ? Apa kau sering melakukan hal seperti itu pada orang yang kau tangkap?" tanya Ana kasar.


"Ibu panti sering mengingatkan kami untuk selalu berbuat baik pada orang. Jika kira reelalu sering berbuat jahat pada orang, maka hati jadi kelam. Kita akan mengira orang lain sama jahat dan liciknya seperti kita!"


Tak ada yang menjawab kata-katanya. Tapi dia sengaja melakukan itu untuk menyindir gadis itu.


"Ibu panti juga bilang, kita tak boleh culas untuk mendapatkan sesuatu. Karena ada saatnya kita di bawah. Dan orang yang kita jegal berada di atas. Maka kita akan menerima karma atas keculasan kita pada orang lain!" tambahnya lagi.


"Dan itulah yang terjadi padamu sekarang. Aku barusan membaca perintah pusat untuk mengejarmu menangkap atau membunuh jika melawan!" tambah Ana lagi.


Kali ini, kata-kata Ana telah memukul pertahanan Alena. Tubuhnya bergetar, meskipun lemah. Ana tersenyum. Berarti ada bagian dari kata-kata itu yang benar. Dan sekarang Alena takut, karena telah menjadi buruan The Hunters.


"Jika kita terlalu dekat ke atas, menghalalkan segala cara untuk memanjat posisi tinggi dengan cepat, kitapun akan cepat runtuh, atau ditendang setelah dianggap tak berguna!" kata Ana.


"Kurasa, kau terlalu banyak tahu. Atau terlalu dekat. Terlalu populer Seperti si Angel K05? Atau atasanmu sudah dibereskan lebih dulu, hingga peganganmu langsung putus!" tebak Ana.


Tubuh Alena makin bergetar. Dan keluar geraman marah dari mulutnya.


"Ggggrhhhh...!"


Ana mengangkat lagi wajah gadis itu. Disorongkannya sekeping biskuit ke mulut Alena.


"Makan!" paksanya. Ana terpaksa menggigit dan mengunyah biskuit yang memenuhi mulutnya, agar tidak tersedak.


"Hanya aku yang bisa membantumu keluar dari masalah. Belum ada yang tahu kalau aku yang menyembunyikanmu! Jika aku mau jahat, aku bisa melepaskanmu saat ini juga. Lalu kau akan tahu lanjutannya! Jadi kelinci buruan dari para pembunuh gila, seperti yang kau lakukan selama ini!" celanya.


"Kau renungkanlah! Aku masih ada urusan lain. Jika kau bersikap baik, maka kau akan bertahan hidup. Kalau tak berguna, aku tinggal melepasmu dan mengatakan posisimu pada The Hunters. Itu lebih memuaskan, ketimbang mengotori tanganku sendiri, dengan darahmu!"


Ana keluar dan menutup pintu. Dia merasa lelah dan tak sabar melihat sifat keras kepala Alena. Belum ada informasi apapun yang didapatnya dari gadis itu.


"Menjengkelkan!" umpatnya dalam hati.


*********