Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
170. Stephanie Austin 2


Ana melajukan lagi mobil Theo di jalan raya. Kali ini dia mengarahkannya ke selatan kota. Itu bukanlah jalan menuju rumah Ammo, seingat Gan.


"Apa kita belum akan pulang?" tanyanya ingin tahu.


"Belum!" ujar Ana.


Wanita itu terus menyetir dengan santai. dia tak terganggu dengan pandangan heran Gan. Sesekali matanya melirik ke cermin di atas kepalanya. Ada sebuah mobil yang sejak awal dirasanya terus mengikuti. Tapi tetap menjaga jarak cukup untuk tidak terlalu kentara.


"Pasti orangnya Ammo," pikirnya santai. Perjalanan berakhir di sebuah blok apartemen kelas menengah. Ana memarkirkan mobil dan turun. Gan ingin turun tapi dicegahnya.


"Kalau kau ikut turun, lalu siapa yang akan menjaga barang-barang berharga di mobil ini?" ujarnya.


Gan melihat kabin belakang yang penuh tas. Akhirnya dia mengangguk dengan berat hati.


"Tenang, apartemen ini sangat aman. Dan aku hanya akan mengambil barang-barang saya, sama seperti tadi," jelas Ana.


"Baiklah!" Gan mengangguk.


Ana kemudian melangkah masuk ke ruangan tak jauh dari parkiran. Itu adalah ruang transisi antar parkiran dengan lobby. Kakinya melangkah ke kotak suratnya yang sudah tak muat lagi, hingga petugas berinisiatif menempatkan sebuah dus untuk menampung surat-surat itu. Ana membersihkan kotak suratnya dan memasukkannya ke dalam box yang tersedia. Box itu penuh dengan surat.


Sambil memeluk box itu, dia memencet nomor kamarnya. Akhirnya pintu masuk terbuka. Langkahnya lebar melewati meja resepsionis. Dia berhenti sebentar setentang meja itu dan melihat para gadis di sana sedang sibuk.


"Apakah ada pesan untukku?" tanyanya.


Seorang gadis mengangkat kepala dan terkejut melihatnya.


"Nona Austin, lama tak melihatmu," sapanya. Tangan gadis itu mencari-cari sesuatu di laci meja. Kemudian ujung bibirnya tertarik membentuk sebuah senyumana manis.


"Menejer menitipkan surat untukmu," ujarnya. tersenyum.


Ana mendekat dan mengambil tiga lembar amplop coklat besar dari tangan gadis itu.


"Katakan suratnya sudah ku terima," Ana balas tersenyum dan melanjutkan langkahnya.


Di depan lift dia menunggu dengan sabar. Kemudian mendapatkan gilirannya dibawa naik ke lantai sembilan.


Ana memiliki sebuah apartemen studio di situ. Di melewati lorong panjang dari list sebelum mencapai apartemennya. Tapi tak ada yang mencurigakan sepanjang jalannya.


Ana melangkah cepat. Dia ingin segera membereskan urusan dan kembali ke rumah Ammo. Dia harus beristirahat untuk langkah besar besok.


Setelah membuka kamarnya, Ana mengamati sekelilingnya lebih dulu. Setelah yakin tak ada yang berubah dana terlihat janggal, baru dia melanjutkan langkahnya masuk ke dalam.


Diletakkannya box yang penuh surat di meja kecil. Kemudian menuju lemari. Mengeluarkan koper dan tas. Lalu memasukkan semua tumpukan pakaian dan apapun miliknya yang ada di situ. Semua dijejalkan ke dalam satu koper dan dua tas besar.


"Bagaimana bisa jadi segini banyak isinya?" gumamnya bingung. Namun tangannya terus bergerak dengan cekatan, mengosongkan semua lemari, laci dan sela-sela rak dan semua barang rahasianya yang juga ada disimpan di situ sebagai cadangan.


Karena tak ada tenaga bantuan untuk membawa semuanya, dan dia enggan untuk naik lagi ke atas, maka seluruh isi kotak surat dituangkannya ke dalam tas besar yang berisi segala peralatan mandinya.


Setelah memeriksa tak ada yang tersisa, bahkan isi kulkas juga sudah dikosongkan. dan sekarang mesin itu dalam keadaan mati. Tangannya mulai mengelap seluruh permukaan meja dan benda-benda yang ada di ruangan itu. Membersihkan semua jejak sidik jarinya dari sana.


Pukul sebelas malam, semua kecermatan itu selesai. DIa melangkah keluar dari apartemen dan melenggang menuju parkiran di mana Gan menunggu.


Semua berjalan sesuai rencananya. Setidaknya, itulah yang dipikirkannya. Dua gadis itu menyetir kembali ke rumah Ammo.


*


*


Di suatu tempat.


"Akhirnya, benda itu bergerak!" ujar seseorang.


"Yang mana?" tanya seseorang.


"Kotak surat untuk Stephanie Austin di apartemennya!" jawab yang lain.


"Ayo, kita harus bergerak cepat!" perintah yang lain.Dua buah mobil bergerak keluar dari sebuah rumah di kompleks perumahan elit. Mereka mengikuti arah gps yang terus bergerak.


"Ini arah luar kota!" ujar yang lain.


"Pantas saja kita tak bisa menemukannya!" komentar yang lainnya.


"Jalannya cepat juga," komentar yang lain.


"Ini karena sudah malam. Jalanan sepi, Untuk apa dia berlama-lama? Kau bodoh atau apa?" ejek temannya.


Pria itu terdiam. Matanya terus mengawasi jalanan depan. Terlihat tak sabar.


"Satu belokan lagi, kita akan menemukan dan menghabisinya!" ujar orang lain lagi.


Mereka sangat bersemangat dan menambah kecepatan. Titik gps yang mereka pasang di box surat berada setelah belokan di tebing itu.


"Dia ada di depan truk sampah itu!" Seseorang menunjuk truk sampah ukuran besar yang berjalan cepat menuju tempat pembuangan sampah di pinggir kota.


Dengan tak sabar, suara klakson terdengar bersahutan disertai lampu untuk menyuruh sopir truk itu memberi sedikit jalan bagi mobil di belakang.


Mobil sampah itu menepi sedikit dan memberi mereka ruang untuk melewati tebing dengan aman. Tangannya melambai menyuruh pengemudi di belakang melewatinya.


Dua mobil itu melajukan mobil mereka di samping truk sampah, untuk bisa segera menemukan Stephanie Austin yang mereka cari.


Setelah melewati truk sampah, mereka tak menemukan mobil lain di depannya. Hanya ada dua mobil mereka dan truk sampah di belakang. Salah seorang memeriksa gerakan sinyal gps.


"Sinyalnya ada di belakang!" ujar orang yang memegang alatnya.


Yang lain melihat ke belakang. Hanya ada truk sampah di belakang.


"Ahh ... sial! Sial!" umpat mereka. Dia membuang kotak itu ke tempat sampah, dan diangkut truk ini ke tempat pembuangan akhir!" yang lain menyimpulkan.


"Sial! Licin sekali dia!" umpat yang lainnya lagi kesal.


"Menunggu berbulan-bulan dan mengejar sejauh ini, hanya untuk melihatnya berakhir di truk sampah!"


"Kita dikerjainya!"


"Artinya, dia tahu ada yang mengikuti dan ingin menangkapnya. Dia akan makin hati-hati sekarang!"


"Sial! Balik ke base camp!" perintah seseorang.


"Baik!" jawab yang lain. Kemudian mereka meninggalkan truk sampah itu di belakang.


*


*


"Kalian sudah kembali?" tanya Ammo yang ternyata belum tidur.


"Ya. Terima kasih untuk pengawalanmu!" sindir Ana.


"Dengan senang hati, Nyonya." Ammo tersenyum tanpa rasa bersalah.


"Bisakah tolong angkat barang-barang itu ke kamarku?" tanyanya.


"Tentu!" Ammo segera menyuruh orang-orangnya untuk memindahkan semua tas dan koper yang dibawa Ana. Termasuk pot-pot tanaman rahasianya.


Dalam setengah jam, semua itu sudah memenuhi kamar Ana dan membuatnya jadi terlihat sempit serta berantakan. Tapi dia puas melihat seluruh hasil jerih payahnya dapat diamankan.


"Sebaiknya kau beristirahat sekarang. Tenaga dan pikiranmu dibutuhnya besok!" ujar Ammo.


Itu lebih mirip sebuah perintah halus. Dan Ana memang harus mengakui bahwa dia memang butuh istirahat sekarang.


"Selamat malam, Ammo," ujarnya sambil melangkah ke kamar.


"Selamat malam, Sayang," bisiknya mesra.


**********


Note: Tentang Stephanie Austin, bisa dibaca di bab 13 yaa..


Happy reading