
Ammo keluar ruangan dan langsung ke dapur.
"Siapkan makan," ujarnya sambil menyalakan televisi di dapur.
Theo segera menyiap makanan sedianya akan disajikannya malam nanti.
Theo hafal, jika tuannya masuk ke dapur dan ingin makan, artinya dia sangat lapar. Jadi makanan itu harus bisa disajikan secepatnya.
Ammo memilih beberapa channel berita dan menontonnya berita tadi pagi nyaris hilang. Hanya satu kantor berita yang masih menayangkan ulang peristiwa ledakan di seluruh dunia, lengkap dengan ulasan dan spekulasi para ahli.
Namun pihak terkait yang dirugikan masih menolak memberi komentar. Tetapi, juru bicara negara Giebellinch telah membantah terlibat dalam hal itu dan mengancam pihak manapun yang mengaitkan negara mereka dalam kejadian tersebut.
Berikutnya ditayangkan sebuah ledakan lain di jalan lintas gurun, satu jam setelah ledakan serentak tersebut. Tapi belum diketahui kemana hilangnya pemilik mobil serta kekasihnya. Orang terdekat mereka telah khawatir ketika di pagi hari keduanya tidak ditemukan.
Berikutnya adalah tayangan foto kedua kekasih yang hilang dan diharapkan masyarakat dapat melaporkan jika melihat keduanya. Yang Pria bernama Oscar Grissham Heatrow, pewaris utama perusahaan besar negara tetangga, Grup Heatrow.
Ammo mengerutkan kening. Dia pernah bertemu sekali dengan pria itu dalam sebuah pertemuan bisnis. Tampan, necis dan cerdas. Tapi dia tak tertarik berbisnis retail seperti mereka.
Lalu seorang gadis cantik yang penampilannya sangat mengejutkan Ammo. Namanya Nathalie Hamilton. Ammo tidak mengenalnya sama sekali, kecuali wajahnya. Itu wajah Anastasia yang dikenalnya sedari remaja. Namun dalam versi glamour khas gadis jetset.
Berbagai spekulasi beterbangan di kepalanya. Dicarinya foto gadis itu di internet. Dia menemukannya, kemudian mengcopynya. Ini sungguh kejutan.
"Apakah peledakan mobil mereka ada hubungannya dengan Ana?" pikir Ammo.
"Makanan sudah siap, Tuan."
Ammo sedikit tersentak mendengar suara Theo. Lalu dia mengangguk, dan mulai makan.
"Bukankah itu Nona yang dulu tinggal di Panti Asuhan ujung jalan?" Theo memperhatikan layar tivi yang diam membeku.
"Kau masih mengingatnya?" selidik Ammo.
"Sedikit mirip, Tuan. Tapi Nona ... siapa yaa namanya? Nona di Panti itu tidak pernah berdandan seperti itu. Apakah dia sudah menjadi orang kaya, sekarang?" tebak Theo.
"Mereka orang yang berbeda. Yang di Panti bernama Anastasia. Tapi yang itu, namanya Nathalie." Ammo membesarkan bagian nama gadis itu.
"Oh, ternyata orang yang berbeda. Tapi sangat mirip. Jika dia berdandan seperti Nona Ana, maka aku akan bilang mereka kembar!" celetuk Theo sembari memegang dagunya.
Sendok di tangan Ammo terlepas dan jatuh ke lantai. Theo segera berlari untuk mengambil sendok lain.
"Kembar?" batin Ammo.
Dia mempercepat makannya begitu sendok diganti Theo.
Ammo melangkah cepat dan melompati anak tangga sekali dua. Dia langsung masuk kamar. Duduk di meja kerja, lalu memeriksa laporan dari semua bawahannya. Ammo membuka laci meja dan mengeluarkan foto masa remaja mereka berlima. Disandingkannya wajah Nathalie dengan wajah Ana saat itu. Benar, mereka persis sama. Seperti gadis kembar.
Ammo langsung membuka laporan dari Stone. Progres pemulihan Ana belum memuaskan. Ammo mengirim pesan file yang dicopynya dari internet, beserta berita ledakan mobil dan hilangnya Nathalie.
GALI INGATANNYA YANG PALING DALAM. TENTANG MASA KECILNYA. TUNJUKKAN FOTO GADIS ITU PADANYA.
Dari berbagai laporan yang masuk, satu hal yang menarik perhatiannya.
MEREKA BERGERAK
Ammo dengan segera memencet tombol merah pada bagian bawah meja kerja. Suara sirine terdengar dari atas kediaman. Semua lampu sorot menyala terang. Dan perangkat perimeter langsung terpasang di seluruh propertinya.
Ammo bisa mendengar suara derap langkah kaki anggotanya yang berlari mengisi post masing-masing.
Ammo berjalan keluar kamar. Di luar, Theo dan Leo sudah menunggunya dengan khawatir.
"Ini bukan latihan. Kalian tahu mesti apa, kan?" tanya Ammo.
"Ya!" Kedua orang itu langsung berlarian melakukan tugasnya masing-masing.
Ammo berjalan menuju ruang kerjanya. Langsung ke ruang lab. Di tengah ruangan di dalam kotak kaca, ada baju khusus yang sudah lama diidamkannya. Baju pelindung sekaligus dilengkapi berbagai senjata dan alat canggih lain.
Dia membuat baju itu satu pasang. Satu untuknya yang berwarna hitam. Dan sebuah lagi untuk Ana yang berwarna biru. Tapi tadi siang, dia baru bisa menyelesaikan miliknya saja.
"Sepertinya kau akan diuji coba hari ini," desisnya.
*
*
"Bagaimana persiapan?" tanya Ammo.
"Semua sudah di tempatnya, Tuan." jawab Smith.
Sekonyong-konyong terdengar suara ledakan dari arah hutan kecil di bagian belakang rumah.
"Mereka mencapai perimeter belakang!" kata kapten.
"Habisi siapapun yang melewati perimeter properti kita!" perintah Ammo.
"Siap!" Kapten itu berlari keluar sambil memberi perintah.
"Habisi semua yang masuk ke perimeter!" teriaknya keras. Dengan segera terdengar suara ledakan-ledakan kecil disertai rentetan senapan mesin di sekeliling rumah.
"Tuan, Lebih baik anda pergi," pinta Theo.
"Ini rumahku! Mereka sudah lancang meledakkan kastil mama. Dan sekarang mereka mau mengusirku? Apa kau tau Theo? Tiga penghuni Panti Asuhan itu diburu oleh mereka. Satu mati, satu gila, dan Ana, hilang ingatan! Dan kau mau aku lari?" teriak Ammo marah.
Theo terdiam. Dia tak tahu menahu soal itu. Ini soal apa hingga satu mati, satu gila, dan gadis yang tadi mereka bincangkan, ternyata hilang ingatan? Tanpa sadar, Theo menutup mulutnya. Dia semakin khawatir sekarang. Dia tau tuannya menyukai gadis itu. Dia pasti akan balas dendam.
Ammo duduk di meja ruang tengah. Alat yang tadi dibawanya, dibuka. Dia memencet tombol power, maka layar menyala. Kembali muncul tampilan peta dunia. Ammo memencet beberapa tombol untuk memunculnya mode yang diinginkannya. Sekarang, di layar itu muncul beberapa titik. Tapi tidak sebanyak titik yang muncul di hari sebelumnya.
"Kalian tidak punya rasa terima kasih!" desisnya geram.
"Tuan, kami mendapatkan satu yang masih hidup," lapor kapten.
"Ada informasi?" tanya Ammo tak sabar.
"Mereka bicara bahasa Slovstadt!" jawab kapten.
"Interogasi! Jika tak mau bicara, habisi saja!" ujar Ammo gusar.
Leo masuk tergopoh-gopoh. Dia membawa alat pendeteksi yang telah dipasang pada gadget masing-masing peserta rapat pemegang saham.
Terdengar sebuah percakapan telepon. "Kembang api akan muncul lebih cepat."
Ammo membeku. Dia mengenali suara itu. Itu suara George. Lalu dia mendengar suara lainnya.
"Benarkah? Itu harusnya sangat indah, bukan?" Wajah Ammo menggelap menahan marah. Itu suara Aaron Oswald sepupu yang biasanya tak ingin menonjolkan diri.
Ammo menambahkan dua titik pada layarnya.
Lalu mengirim pesan pada seseorang.
FLYING BIRD
Bincang-bincang di rekaman itu masih terdengar, diselingi suara tawa.
Ammo melihat jam tangannya. Menunggu beberapa saat, hingga waktu yang telah ditentukannya. Kemudian, jarinya memencet tombol merah pada peralatannya.
Theo dan Leo bisa melihat warna merah menyebar beberapa saat, sebelum hilang. Layar itu kembali bersih.
Keduanya membekap mulut mereka yang terbuka.
"Apakah tuan mereka meledakkan seluruh titik di peta? Sungguh mengerikan!" pikir Theo dan Leo.
Ammo berjalan kembali ke lantai atas dengan santai. Dia membawa kembali peralatan dan pelindung kepalanya.
"Mereka hanya mengirim para keroco ke sini. Sungguh tak memberi muka!" cibirnya.
Tak lama, suara sirine polisi terdengar meraung-raung dari ujung jalan, hingga ke depan rumah.
*******