Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
21. Jebakan


Sebuah mobil van warna kelabu yang terlihat tua, meluncur menembus hutan kecil pinggiran kota. Di kiri kanannya hutan. Itu bukanlah jalan umum, melainkan jalan menuju hutan lindung bukit Sunny. Tempat favorit para penggemar wisata alam.


Ada beberapa jalan kecil menuju kabin-kabin pribadi ataupun yang disewakan. Biasanya beberapa pemburu menyalurkan hobby berburu di hutan lindung ini. Jalur menuju bukit ini selalu ramai di segala musim.


Orang-orang juga bisa menikmati suasana alam yang nyaman, indah dan asri. Pengunjung bisa membawa campervan masing-masing atau menyewa rumah-rumah mobil yang disediakan pihak pengelola hutan lindung.


Mobil van abu-abu itu terus melaju menuju ke atas. Melewati deretan campervan dan tenda-tenda yang menghadap tebing. Beberapa orang berdiri berkelompok. Kemungkinan mereka bermaksud camping, untuk menunggu moment sunrise. Sambil mendekap embun yang membeku.


Dua kilometer dari lapangan terbuka itu, mobil van berbelok ke kiri. Dia terus membelah hutan.


Ponsel bergetar. Sebuah pesan masuk.


LUNCH


"Sial!" umpat gadis itu.


Dia memutar kemudi dengan cekatan dan meninggalkan tempat itu.


"Apakah yang di field tadi adalah para Hunter?" gumamnya mengingat orang-orang yang berdiri berkelompok di lapangan hijau tempat camping.


Dia berbelok meninggalkan jalan setapak dan menembus masuk ke dalam hutan. Melewati setiap batang pohon yang tumbuh tak teratur. Dia harus menjauh dari jalanan secepatnya.


"Sial. Sial! Kenapa baru diberitahu sekarang!" Dia berpikir keras.


"Pasti yang di field itu The Hunters. Begitu aku melewati tempat itu, mereka mengabarkan ke sana. Mereka sengaja menjebakku di sini," gumamnya getir.


Diraihnya sebuah ponsel dari laci mobil. Ditekannya beberapa angka.


"Angel!" Terdengar suara cemas tertahan dari seberang.


Ana tak menggubris. Dia bicara dengan dingin.


"Mereka menjebakku di hutan lindung bukit Sunny. Jika terjadi sesuatu padaku, kau tau harus apa! Ini kepercayaan terakhirku padamu!"


Ana memutuskan sambungan telepon. Lalu memencet sebuah tombol. Dia melemparkan ponsel itu ke luar mobil. Ponsel itu segera terbakar dan menimbulkan letupan kecil yang menghancurkannya menjadi kepingan-kepingan kecil tak terdeteksi.


Tak lama terdengar bunyi berkedip-kedip pada radar di dashboard. Ana memeriksanya. Di belakangnya, ada banyak titik kecil yang sedang mengejarnya dengan cepat.


"Tck!" Ana mendecak kesal.


"Semoga ini berhasil!" harapnya.


Di layar, beberapa titik makin dekat. Mereka sudah sekitar 30 meter di belakangnya. Ana menatap lurus ke depan.


"Harusnya kau ada di sana. Come on!"


Mobil itu terus melaju.


"Kita pergi, Maya. Jika ini tak berhasil, maafkanlah aku!" teriak Ana.


15 meter di belakangnya, sebuah Humvee mengejar. Dari cermin, Ana melihat mereka memegang machine gun.


"Heh! Dasar bodoh!" ejeknya sinis.


Tombol power di kemudi sudah hijau. Ana menunggu moment yang tepat untuk melakukannya.


Persis saat machine gun di belakang menyalak, Ana memencet tombol power. Van itu meluncur kencang ke arah atas dengan dorongan tenaga uap yang panas. Dua sayap muncul di bagian atas atap mobil.


Hari yang sial bagi Humvee di belakangnya. Mobil itu langsung terbakar dan kehilangan kendali. Kemudian meluncur jatuh ke tebing curam.


"Goodbye!" ujar Ana saat mendengar suara ledakan keras dari bawah bukit.


Ana tersenyum dingin. Dia memegang kemudi dan mengarahkan mobil terbang itu ke arah lain. Meninggalkan para Hunter yang mengumpat kesal.


"Aku akan membalas kalian semua!" janjinya dalam hati.


Apakah semua ini ada kaitannya dengan Alena? Sejak agen baru itu muncul, semuanya terasa aneh. Ana berpikir keras. Dia harus menyelidiki ini hingga tuntas.


Dia khawatir dengan anggota timnya yang tersisa. Meski dia sudah meminta mereka menghilang, tak ada yang bisa menjamin mereka tak tertangkap. Bahkan Luke yang di atas bukit juga ketahuan! Apa yang salah?


"Ponselku!" serunya tiba-tiba.


Segera diraihnya ponsel lipat dan memencet tombol C yang ada di situ. Lalu melemparnya keluar jendela. Ponsel itu terbakar dan meledak di udara.


Ana memandang ke arah depan dengan getir. Ponsel itu terakhir ditambahi Ammo dengan fitur-fitur baru. Gadis itu mengatupkan gerahamnya menahan marah.


*******