
Sambil makan malam, pikiran Ammo masih kemana-mana. Dibandingkan dengan keselamatan dirinya, dia lebih mengkhawatirkan Angel. Entah dimana dia sekarang.
"Jam tangan anda yang baru, dimana Tuan?" tanya Theo.
Ammo terkejut. Tubuhnya duduk dengan tegak. Kemudian tangannya segera meraih gelas dan meneguk isinya. Dia berdiri dari kursi dan melempar serbet ke meja.
Ammo jalan bergegas menuju lift. Theo berlari di belakangnya.
"Tuan ...."
Tapi Ammo tak mempedulikannya. Dia segera masuk lift dan menuju lab pribadinya.
Theo hanya bisa mendesah melihat Tuannya langsung pergi begitu dia bicara tentang jam tangan. Dia memukul bibirnya kesal.
"Ceroboh!"
*
*
Ammo membuka pintu lift. Itu adalah lab pribadinya. Dia menciptakan banyak alat canggih yang tidak diproduksi oleh perusahaan IT-nya. Jam tangannya itu termasuk jam buatannya sendiri.
Ammo membuka layar komputer di depannya. Memasukkan beberapa kode. Lalu layar itu menunjukkan satu lokasi dimana satu titik kecil berkedip-kedip. Ammo memeriksanya dengan seksama. Lalu mematikan lagi komputernya. Kemudian berdiri dan mengenakan pakaian khusus yang ada di etalase.
Ting!
Pintu lift terbuka. Theo masuk dan melangkah cepat untuk mengejar tuan mudanya yang sudah berpakaian lengkap.
"Tuan! Ini berbahaya. Siapapun yang memburu anda, pasti mengharapkan anda membuat kesalahan ini. Mereka pasti sedang mengejar apa yang ingin anda cari sekarang!"
Peringatan Theo menghentikan langkah Ammo. Dia berbalik dan memandang Theo.
"Aku tak ingin lagi kehilangan dia. Aku sudah pikirkan ini dengan jernih. Aku akan berhati-hati. Kau gunakan saja benda itu untuk mengelabui mereka seperti biasa."
Ammo menaiki kendaraan hasil eksperimennya. Memasang helm, seat belt dan memegang kemudi.
"Kau tau harus melakukan apa selama aku pergi kan?" Ammo melirik Theo.
"Baik, Tuan." Theo sedikit membungkuk hormat. Ammo langsung melesat dengan kecepatan tinggi di dalam lorong bawah tanah menuju pintu keluar lain, jauh dari rumah.
*
*
Anna sangat mengantuk. Dua hari dia kurang tidur. Tapi Maya menggigil kedinginan. Panas tubuhnya kini berganti dingin. Tapi Ana tak mungkin menyalakan api. Itu hanya akan memancing tamu tak diundang. Dia bahkan menggunakan tenda kamuflase agar tak mudah ditemukan.
Tubuh Maya yang menggigi kedinginan, menimbulkan iba di hati Ana. Dipeluknya Maya sambil berbaring.
"Kita tak boleh menyalakan api, jadi biar ku peluk saja ya," bisik Ana.
Maya tak mampu menjawab. Hanya suara gemeretuk giginya yang terdengar. Ana memeluknya erat, mentransfer hangat tubuhnya pada Maya.
Tanpa disadari, Ana tertidur pulas beberapa saat. Hingga instingnya yang tajam, membangunkan dirinya dari lelap. Diraihnya pistol berperedam dari balik punggungnya. Ana menajamkan pendengannya untuk menemukan perbedaan kecil dari suara-suara yang ada di luar tenda.
Ana sedikit heran, kenapa parameter tidak memberi peringatan dini? Pada hal, Ana sendiri bisa mendengar langkah kaki yang halus, datang mendekat.
Ana membuka radar di jam tangan Ammo. Ana benar-benar terkejut. Ada bayangan keberahan citra panas tubuh manusia, berjongkok persis di depan tenda.
"Angel! Ini aku!"
Ana terkejut. Dia mengenali suara itu. Tapi tak menjawab sepatahpun.
"Heh pengkhianat ini benar-benar cari mati!
Mata Ana menyala dengan aroma kemarahan yang kental.
Ana memperlihatkan kesungguhan. Dia melepas kunci pistol berperedam itu. Membidik dengan penuh kesungguhan.
"Piussst!
Terdengar bunyi halus saat peluru dilontarkan keluar dari sarangnya. Namun, orang yang memanggil di luar tadi ternyata telah mengantisipasi. Begitu suara halus itu terdengar, dia melompat menghindar.
"Aishah ... dasar gadis bodoh!" geram orang di luar. Sekali lagi kau menembak, aku akan berteriak. Semua yang mengejarmu akan langsung berlari ke sini!" ancamnya.
"Ayo pergi. Aku akan menyembunyikanmu!" ujarnya.
"Kau pengkhianat yang tak bisa dipercaya!" Bisik Ana marah.
"Kapan aku mengkhianatimu? Ayo, kita pecahkan bersama kasusmu. Makin lama kau disini, makin mudah mereka menemukanmu!" bujuknya.
Ana tak menjawab. Namun sebenarnya, di dalam tenda kecil itu, dia sedang bersiap untuk melarikan diri lagi.
"Aku punya kabar lain untukmu. Tapi hanya akan ku katakan jika kau bersedia pergi."
"Jangan berbuat bodoh lagi. Kau tak bisa melawan mereka sendirian. Kau bisa memanfaatkanku untuk membalaskan dendammu."
Ana masih tak menjawab.
"Saat aku mengendap-endap ke sini, aku melihat 34 orang bergerak menuju ke sini. Posisimu sudah diketahui.
Ana keluar dan menodongkan pistol ke dahi Ammo.
"Bereskan tenda itu!" perintahnya.
Ammo terheran-heran. Kenapa harus buang waktu membereskan tenda? dia punya banyak tenda jelek seperti itu di labnya.
"Lupakan tendanya. Nanti ku—"
"Bereskan, jika mau pergi!" potong Ana.
"Oke ... oke. Ku bereskan. Lihat!"
Ammo mengarahkan kelima jarinya ke arah tenda. Dari sarung tangan hitam di telapak tangannya, keluar semacam cahaya yang segera menyentuh tenda. Melipat dan membungkusnya dengan cepat.
"Ini tendamu!" Ammo menyerahkan tenda yang diikat itu ke tangan Ana.
"Ayo. Kita harus segera pergi dari sini!
Ammo berjalan di depan. Di belakang, Anna menggelengkan kepalanya ragu. Apakah mau mengikuti Ammo atau tidak.
******