Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
154. Pertemuan Anggota Klan Khaan


Pukul sepuluh, Ana keluar dari kamarnya. Khouk sudah menunggu di depan pintu. Ada Theo juga berdiri di depan pintu kamar Ammo. Tak lama, pria itu keluar dari kamarnya. Dia menoleh dan berjalan mendekati gadis itu.


'Sudah waktunya!"


Ammo merenggangkan sedikit tangannya di pinggang, agar Ana bisa menyelipkan lengan dan digandengnya ke bawah. Dan gadis itu melakukab persis yang diinginkan Ammo.


Keduanya berjalan bergandengan menuju lantai dasar. Para tamu ditempatkan di ruang besar di belakang, yang jarang sekali digunakan.


"Ada berapa orang yang hadir?" tanya Ana pada Khouk, yang berjalan di belakangnya.


"Ada 142 orang yang datang," jawab Khouk.


"Apakah itu total orang kita di daerah sekitar sini?" tanya Ana lagi. Empat orang itu menggunakan lift yang dekat dengan tempat perjamuan.


Jumlah orang kita yabg saya tahu, ada 186 orang. Mereka berhalangan hadir karena bermacam sebab. Ada yang sakit, ada yang sedang bekerja di kota lain, ada juga yang pekerjaannya sedang tak bisa ditinggalkan. Sudah saya selidik!" jelas Khouk lagi.


"Baiklah," Ana mengangguk.


Keempatnya telah sampai di depan pintu aula belakang. Theo membuka pintu besar itu bersama Khouk, hingga terbuka lebar. Ruangan itu terdengar riuh oleh suara bincang-bincang banyak orang.


Khouk bertindak cepat dengan berjalan ke arah gadis pelayan. Diambilnya sebuah gelas kaca dan dipukul perlahan dengan sendok.


Suara dentingan nyaring dan merdu itu akhirnya berhasil menarik perhatian para tamu.


"Khouk!" sapa mereka gembira.


"Mohon perhatiannya!" ujar Khouk dengan nyaring. Para tamu diam, ingin tahu apa yang akan dikatakan Khouk.


"Sambutlah pemimpin Klan Khaan yang baru! Nona Anastasia, putri pertama pemimpin Erden!" Khouk mempersilakan Ana untuk masuk ke ruangan.


Semua mata mengarah ke pintu aula yang terbuka lebar. Tampak seorang wanita cantik dan anggun, sedang digandeng oleh seorang pria tampan dan kharismatik.


Ana dan Ammo berjalan bergandengan. Bagi Ana, menggandeng tangan Ammo bisa menyamarkan kondisinya yang belum begitu fit, setelah operasi. Khouk menyarankan untuk menggunakan kursi roda saja, tapi Ana menolak. Dia tak ingin dianggap sebagai orang lemah dan tak layak memimpin klan.


Sementara bagi Ammo, dengan menggandeng Ana di depan semua orang, itu akan terlihat sebagai klaim kepemilikan dan peringatan pada yang lain, untuk tidak berpikir mendekati Ana.


Theo mengarahkan Ana dan Ammo ke kursi yang sudah disediakan. Bagaimana pun, Ana tidak boleh terlalu lelah juga.


Ana berdiri di pusat aula, menghadap para tamu. "Selamat datang di kediaman keluarga Oswald. Saya Anastasia Erden dan ini Tuan Edmund Emerson Oswald." Ana memperkenalkan Ammo pada yang lainnya.


Suara berdengung terdengar di ruangan. Banyak yang tak menduga akan melihat anggota keluarga Oswald yang sangat terkenal. Demi melihat pemimpin baru mereka bergandengan dengan pria itu, berbagai spekulasi bermunculan.


"Apakah mereka akan menikah?"


"Baru diangkat jadi pemimpin, bahkan belum melakukan upacara resmi di klan, sekarang ingin menunjukkan kekuasaan?"


"Dia hanya gadis kecil ... lebih bisa diandalkan jika pemimpin kita pria bijaksana!"


Mendengar komentar-komentar miring mereka, wajah Khouk terlihat suram. Diketuknya lagi gelaa dengan sendok, untuk menghentikan spekulasi berkembang liar. Ruangan kembali hening. Mereka tak berani membantah Khouk.


Ana mengangkat tangan kanan dan menunjukkan cincinnya. Semua tamu itu terkejut. Mereka langsung berjongkok khidmat.


"Kami bersedia mengabdi dan mengikuti Pemimpin Klan hingga akhir hayat! Hidup pemimpin baru!" serempak para tamu itu bersumpah setia. Tak boleh ada lagi tempat untuk menyimpan keraguan. Semua harus patuh pada komand pemilik cincin itu.


"Silakan duduk!" ujarnya setelah duduk di kursi yang bersebelahan dengan kursi Ammo.


Para tamu duduk dengan tertib. Perhatian kini tertuju pada wanita cantik itu.


"Aku baru berjumpa lagi dengan ayahku, setelah dipisahkan oleh kelompok asing. Mereka tak hanya memisahkan keluargaku, tapi juga membunuh ibuku. Menyiksa ayahku hingga keadaannya sangat parah dan hingga sekarang keadaannya masih sangat memprihatinkan!" Ana sudah memulai pidatonya.


"Seseorang mengangkat jarinya tinggi, agar terlihat oleh Ana.


"Ya, katakan apa yang ingin kau bagi pada kani!" Ana mempersilakan seorang pria untuk berdiri dan bicara


"Pemimpin, apakah Anda mengumpulkan kami, untuk mengikuti acara pernikahan anda berdua?" tanya seorang pria muda.


Ana menggeleng cepat."Tidak. Aku mengumpulkan kalian, untuk memberi tahukan bahwa aku akan membalaskan dendam keluargaku pada pihak terkait. Kuharap kalian bersedia mendukungku," ujar Ana penuh harap.


"Ruangan itu hening sebentar, sebelum suara kasak-kusuk kembali terdengar.


Khouk berang. Dia maju dan mendentingkan gelas lagi. Tapi keriuhan itu tak mudah diredakan.


"Nona, berikan perintah resmimu. Dengan begitu, tak ada racun yang bisa ditiupkan oleh orang tak bertanggung jawab!" suara Khouk terdengar lantang, mengalahkan suara lengungan lebah.


Ana mengangkat tangan kanannya kembali. Ammo dan Khouk severa berjongkok di depan tempat Ana duduk. "Kami akan selalu setia dan mendukung keputusan yang anda buat!" Ujar keduanya serempak.


Para tamu itu tersentak melihat ckncin di jari itu muncul kembali.Para tamu itu hanya bisa ikut-ikutan. Tak ada celah untuk membantah.


"Kami akan selalu setia dan mendukung keputusan yang anda buat!" ujar mereka bersama-sama."


Ana mengangguk puas, lalu menurunkan tangannya lagi. "Aku hanya ingin kalian tahu, bahwa kemegahan klan kita sudah memudar. Banyak bangsa tidak lagi menghormati klan kita. Mereka tak segan menyiksa bahkan berniat membunuh ketua klan, membunuh istrinya dan memisahkan aku dan adikku dari ayah." Ana menjeda kata-katanya yang emosional.


"Dan sekarang, mereka memburuku ke mana-mana, hingga tak bisa hidup bebas. Terakhir, tiga orang dikirim untuk membunuh ayah. Namun kami melawan, aku membunuh dua diantaranya. Sementara satu dari kelompok itu berhasil menyarangkan peluru di dadaku!" Ana memghela napas panjang.


"Haruskah aku terus lari dan bersembunyi? Sekarang saja, jika tidak ditampung keluarga Oswald, bagaimana aku bisa berdiri di depan kalian?" tanya Ana.


"Jadi, bersediakah kalian membantuku, dengan keahlian yang kalian miliki? Kita harus membalas kelompok itu dengan serangan cermat dan keras!" ujar Ana lagi.


"Aku akan mendukung dan melaksanakan perintah Pemimpin Klan!" Sumpah Ammo.


Khouk terkejut, karena telah didahului pria itu. Dia pun segera berjongkok dan mengucapkan sumpah setia.


"Terima kasih. Kalian selalu bisa kuandalkan!" Senyum Ana merekah. Lalu matanya yang tajam, menyapu seluruh ruangan yang diisi para tamu klan.


Orang-orang itu berpandangan. Namun itu tidaklah lama. Seluruhnya tanpa kecuali, berjongkok dan bersumpah untuk mendukung rencana balas dendam Ketua Klan dan keluarganya


"Kita harus dapat mengembalikan lagi harga diri Klan Khaan!" ujar seseorang dengan lantang.


"Kita harus membalaskan dendam ini!" Sambut yang lainnya dengan gegap gempita.


Ana tersenyum melihat anggota klannya bersemangat.


******