
Tak butuh waktu lama, dua petugas klinik berseragam, datang ke rumah itu. Donny yang sedang di taman, memperhatikan. "Apakah penyakit penghuni sebelah sedang kambuh?" pikirnya.
Donny hampir berbalik pergi ketika mendengar jeritan Maya. Dia langsung berlari menuju rumah itu. Dia segera sadar, bahwa petugas klinik datang untuk Maya. Pasti penghuni rumah telah menghubungi klinik.
Tapi dia tak diijinkan masuk. Seseorang berpakaian serba hitam dan mengenakan masker, mencegahnya.
"Itu suara temanku. Dia sedang sakit, jadi biar kubawa dia kembali." Donny mencoba bernegosiasi. Pria itu tetap menggeleng.
Akhirnya Donny mengalah dan menunggu di luar. Dihubunginya Ivan, dan mengatakan posisi Maya.
Ivan yang mendapat telepon dari Donny, segera kembali ke arah kediaman mereka. Dia teringat Ana yang mencari di kebun anggur.
"Ana! Kembali!" teriaknya keras. Dia tak punya nomor ponsel gadis itu.
"Ana!" teriaknya lagi dengan tak sabar.
"Ya, aku datang," sebuah suara terdengar dari kebun anggur, tapi orangnya belum kelihatan.
"Ada apa!" ujar Ana gusar.
Ivan tak mempedulikan hal itu. "Maya sedang berada di rumah sebelah!"
Ivan dan Ana segera menyusul Donny yang masih menunggu di depan pintu.
"Di mana dia?" tanya Ana.
"Di dalam! Tapi aku dilarang masuk olehnya!" tunjuk Donny pada pria berpakaian hitam itu.
"Kami temannya. Ijinkan kami masuk!" Ana menekankan kalimatnya. Tapi pria itu tetap menggeleng. Ana merangsek masuk, namun segera ditahan oleh penjaga itu. Keduanya terlibat kontak fisik sedikit.
Keributan di depan pintu terhenti saat teriakan pilu Maya yang melengking tinggi terdengar.
"Maya!" panggil Ana cemas.
Dia menyerbu masuk. Tapi petugas berpakaian hitam itu sangat tangguh dan gigih juga. Dia bertahan di depan pintu.
Ana murka. Dikeluarkannya pistol dari balik punggungnya dan diarahkan ke perut orang itu. "Minggir! Atau kurobek perutmu!" ujar Ana dingin. Matanya yang tajam menyiratkan keseriusan.
"Kau sebaiknya minggir!" Donny dan Ivan juga mengeluarkan pistol mereka sekarang.
Penjaga itu terkejut. Dia pikir tiga orang itu hanya orang biasa. Sudah terlambat baginya untuk melawan balik, karena tiga pistol sudah membidiknya. Yang paling dekat adalah pistol nyonya gendut di depannya.
Akhirnya dia bergeser dan membiarkan tiga orang itu masuk ke rumah. Ana, Ivan dan Donny bergegas ke arah suara ribut di bagian belakang rumah itu.
"Hei! Apa yang kalian lakukan!" serunya marah. Ana melompat tinggi dan menendang kepala seorang petugas berseragam yang memegang tongkat penyetrum di tangannya.
Semua orang terkejut melihat seirang wanita gendut tiba-tiba masuk dan melompat menendang petugas. Donny dan Ivan menodong petugas lain dan pria tua yang hanya memperhatikan penyiksaan itu.
"Beraninya kalian!" hardik Ana marah. Diambilnya tongkat setruman itu dan ditusukkannya pada pria yang tadi menyiksa Maya. Ana baru berhenti setelah orang itu pingsan.
"Apa kau mau juga?" tanya Maya sambil mengacungkan tongkat itu pada petugas lainnya.
Petugas kesehatan itu mendelik melihat ujung tongkat setrum itu sudah berada dekat hidungnya. Dia tak bisa berbuat apa-apa, karena Donny mengikatnya di kursi. Petugas itu menghindar dan menggeleng berkali-kali.
"Kalau kau saja tidak nau merasakannya, kenapa kau lakukan pada orang lain!" bentak Ana marah. Orang itu terus menggeleng. Ana mencibir menghinanya.
"Maya, ini aku. Apa kau bisa mengingat suaraku?" tanya Ana lembut. Maya masih taj merespon. Tubuhnya masih menggingil dan kesakitan akibat setruman yang diterimanya.
"Aku Angel," bisik Ana di telinganya.
Maya tampaknya memahami kata itu. Dia menoleh pada Ana dengan pandangan menyelidik.
"Ayo kita kembali," bujuk Ana. Dibimbingnya tangan gadis itu dan dibawanya keluar dari tempatnya bersembunyi, di bawah meja kerja.
"Aku akan mengingat kalian!" ujar Ana tajam. Matanya menyorot marah pada pria tua yang diyakini Ana sebagai penghuni tempat itu.
Ana meraih ponselnya dan memanggil nomor Ammo. Begitu tersambung, kemarahannya menyembur tak terbendung.
"Apa begini tempat perawatan yang kau rekomendasikan? Maya disetrum dengan tongkat listrik di sini! Aku tak terima! Aku akan membawa orang-orangku pergi!" semprotnya galak, lalu menutup telepon.
"Ayo!" Dibimbingnya Maya keluar rumah.
Pria tua itu tertegun. Belum ada yang berani membentak dan bersuara keras di depannya. Tapi wanita tua itu benar-benar membuatnya tersinggung.
"Kalian, siapkan barang-barang kalian dan bawa Maya ke mobil. Kita pergi dari sini!" perintah Ana.
"Tapi Bos belum memberi perintah!" sanggah Donny.
"Kalau begitu biar aku ambil alih tanggung jawab Maya. Aku tak butuh kalian berdua!" ucapnya pedas.
Ivan melihat gelagat tak baik, dia langsung menghubungi Ammo, menanyakan perintah selanjutnya.
"Kami akan mengantarmu!" kata Ivan cepat. Dia lari ke rumah yang mereka tempati, untuk membereskan barang-barang mereka yang tertinggal.
Ana telah sampai di garasi. Alexei sedang bicara dengan Anthony.
"Itu dia!" seru Anthony ketika melihat Ana berjalan mendekat sambil memegangi seorang gadis yang sedikit kehilangan akal.
"Ya!" jawab Ana singkat. Dibukanya pintu depan mobil dan mendudukkan Maya di sana.
"Kau mau membawanya juga?" tanya Alexei.
"Ya. Juga Bobby!" Suara Ana masih terdengar kesal.
"Bobby? Bukankah dia baru sa—"
Ana mengibaskan tangan, menyetop protes Anthony.
"Aku lihat dengan mataku sendiri, mereka menyetrumnya dengan tongkat listrik! Apa kau mau Bobby diperlakukan kasar?" Intonasi suaranya masih meninggi.
"Apa?" Anthony terkejut mendengarnya. Rasanya itu mustahil terjadi. Bukankah dokter dan perawatnya ramah di dalam sana tadi?
Donny dan Ivan datang dengan membawa dua buah tas. Naik apa kita?" tanya Ivan begitu sampai.
Ana mengerutkan kening. "Bukankah kalian kesini dengan kendaraan! Di mana mobil kalian?" tanyanya heran.
"Itu mobil milik Kakek Wilson. Dua orangnya sudah kembali setelah sehari di sini," jelas Donny.
Ana mengambil ponsel lagi dan menelepon Ammo kembali. "Kirimkan mobil ke sini! Aku mau membawa semua orangku dari sini!" ujarnya ketus.
"Sawyer sedang ke sana. Jika masih kurang, Dorjan akan menambahkan mobil lain untuk kalian! Dan aku sudah menyiapkan lokasi perawatan yang kebih baik untuk mereka." Suara Ammo terdengar lelah.
"Good! Secepatnya!" timpal Ana tak peduli. Dia sedang sangat marah sekarang.
"Anthony, bawa aku melihat Bobby!" ujarnya.
"Baik!"
Anthony dan Ana berjalan beriringan menuju ruang tempat Bobby dirawat.
"Kau siapa?" tanya Ivan pada Alexei.
"Kerabatnya!" jawab Alexei santai.
"Dan, dia siapa?" tunjuk Ivan lagi ke kursi belakang mobil.
"Musuhnya!" jawab Alexei acuh tak acuh.
"Apa dia selalu marah-marah begini? Setiap kali melihatnya, selalu bersikap menjengkelkan!" komentar Donny.
"Dia hanya melakukan hal yang perlu untuk melindungi orang-orangnya!" bela Alexei.
Ivan dan Donny tercenung. Dilihatnya gadis di jok belakang yang mengalami memar di sana-sini. Sial sekali jadi pelampiasan emosi Ana.
Suara helikopter terdengar sayup-sayup. Tak lama terlihat helikopter Ammo tiba. Sawyer mendaratkannya di helipad di samping bangunan itu.
Ana keluar. Disusul oleh Anthony yang mendorong brankar berisi Bobby yang belum siuman. Peralatan kesehatan masih menempel di tubuhnya. Ada tas besar diletakkan di bagian kakinya.
Sawyer mendekat dan menemui Ana. Dia menyampaikan pesan Ammo. Ana mengangguk.
"Bawa Bobby dan Anthony ke sana. Donny, kau ikut bersama mereka!" perintah Ana.
"Oke!" jawab Donny.
"Jadi aku bersama mereka?" tanya Anthony.
"Ya. Bobby butuh perawatan segera. Kau bisa menjaganya tetap stabil selama perjalanan kan?" tanya Ana minta kepastian.
"Ya. Aku bisa melakukannya!" sahut Anthony yakin.
"Oke. Bawa dia naik dan pergilah! Nanti aku ke sana setelah membereskan beberapa urusan!" jelasnya.
"Baiklah." Anthony mengangguk. Bersama Donny, mereka mendorong brankar itu ke arah helikopter.
"Sekarang, kita bagaimana?" Alexei bertanya.
"Pulang!" sahut Ana santai. Dia berjalan memutar bagian depan mobil. "Aku yang menyetir!" ujarnya datar.
Ana masuk mobil dan memperbaiki posisi Maya yang duduk di depan. Dipasangkannya seatbelt dan memeriksa kunci pintu.
"Kalian tidak masuk?" tegur Ana.
"Di mana?" tanya Ivan heran. Alena masih tidur terlentang di jok belakang mobil.
"Duduk saja di kiri dan kanannya. Jika kalian terganggu, biarkan saja dia duduk di lantai!" jawab Ana ketus.
"Oh ya ampun...."
Ivan tak bisa berkata-kata lagi. Alexei dan Ivan, duduk mengapit Alena yang masih belum sadarkan diri.
Ana memundurkan mobil dan meluncur pergi tanpa berpamitan.
********