Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
22. Spy, Traitor or Witness?


Ammo berjalan mondar mandir di kamar pribadinya, di belakang ruang kerja. Dia gelisah dan khawatir pada Ana setelah menerima panggilan telepon tadi.


"Siapa mata-matanya?" gumamnya.


Keningnya mengerut, dan matanya terpejam. Dia sedang berpikir keras. Tiba-tiba dia ingat sesuatu. Dilihatnya ponsel di tangannya. Lalu dengan setengah berlari menuju bangku batu yang ada di bawah shower kamar mandinya. Dibukanya penutup bangku batu itu. Lalu sebuah tombol ditekan. Ponsel itu langsung mengeluarkan asap disertai percikan-percikan kecil api. Ammo segera melemparnya ke dalam kotak batu dan ditutup kembali.


"Aku harus menyingkirkan pengkhianat itu! Bagaimanapun, pada akhirnya pandangan mereka akan mengarah padaku!" geramnya marah.


"Ammo, apa kau di dalam?" terdengar suara memanggil dari luar kamar mandi.


Ammo menyusun kembali botol-botol toiletries di atas bangku batu itu. Lalu menekan tombol flush di closet. Dia mencuci mukanya sebentar di wastafel agar lebih segar. Lalu berjalan menuju pintu ruangan. Tangannya yang sebelumnya hampir menjangkau handle pintu, tergantung di udara.


Ammo menoleh ke seluruh ruang istirahat pribadinya itu. Harusnya tak ada cctv di sini. Karena ruang ini selalu terkunci dengan sandi jika dia pergi. Tapi rasanya tak ada yang sulit bagi para agen rahasia di sekitarnya.


Ammo memikirkan beberapa rencana sebelum membuka pintu. Di tengah ruangan itu, James terkejut ketika Ammo tiba-tiba membuka pintu. Ammo juga terkejut melihatnya berdiri begitu dekat dengan meja kerjanya. Alisnya bertaut curiga.


"Apa yang kau cari?"


Ammo terlihat tak bersahabat saat ini.


James melihat keheranan pada Ammo. "Aku tadi memanggilmu dan tak ada sahutan. Jadi aku menggunakan interkom di mejamu untuk menanyakannya pada sekretaris."


"Apa interkom di mejamu tidak berfungsi?" tanya Ammo pedas.


"Ah ... bukan begitu. Hanya saja, setelah berdiri dan mengetuk pintu itu, jarak mejamu lebih dekat."


James mulai gugup. "Aku yang tidak menyadari posisiku. Maaf."


James kembali ke mejanya. Mengambil amplop coklat di meja dan membawanya ke meja Ammo.


"Aku mendapatkan ini tadi, dua jam lalu. Ku pikir kau mungkin ingin tau," ujarnya.


Ammo melirik amplop di meja sekilas, lalu mengangguk. Dia duduk dan mulai memusatkan perhatian pada pekerjaannya.


"Hemm, ku pikir aku akan menyelesaikan beberapa hal di luar hari ini."


James kembali ke mejanya. Mengambil beberapa hal di laci.


Ammo melirik dengan sudut mata. Tangannya meraih tombol di bawah meja. Sebuah jeruji besi turun dari plafon. Mengunci dan mengurung James di mejanya. Semua jalur komunikasi di situ langsung putus dengan sendirinya.


James terkejut melihat dirinya berada dalam kurungan besi.


"Apa maksudmu ini!" teriaknya marah.


"Jangan lakukan apapun yang tak bisa kau perbaiki lagi," saran Ammo.


James yang sudah menggenggam pistol, mengacungkannya ke arah Ammo dengan wajah marah. Dia menekan pemantik dan sebuah peluru terlontar ke arah jeruji besi.


"Aakhhh!"


James melihat peluru yang ditembakkannya menyerempet lengan kirinya sendiri. Matanya menyala-nyala menatap Ammo.


"Apa maksudmu in!" teriaknya lagi. Lebih marah dari sebelumnya. Pistol di tangannya tak lagi diarahkan pada Ammo.


Ammo mendongakkan kepalanya ke arah James. Segaris senyum dingin terlukis di wajah tampan itu.


"Aku yak melakukan apapun. Kau yang melakukannya," ujar Ammo tanpa ekspresi.


Ammo meraih amplop coklat yang tadi diserahkan James. Sebelah alisnya meninggi setelah melihat isi amplop coklat itu. Itu foto-foto Maya. Dadanya bergemuruh.


"Sekarang, bisakah kau jelaskan tentang ini?"


Ammo meraih tombol lain. Bagian plafon di atas kurungan itu terbuka. Tampak besi-besi runcing mengarah pada James. Pria itu sangat terkejut. Dia tak menyangka bahwa di dalam kantor inipun ada jebakan seperti ini.


"Kau punya waktu setengah jam ...."


Ammo menekan tombol Start. Terdengar bunyi mekanis. Lalu besi-besi runcing itu mulai turun sedikit. James melotot melihatnya. Ammo tak main-main.


"Itu dari Lindl. Aku tak tau sumbernya, tapi aku tau itu darinya! Harusnya itu dikirim kurir. Aku menemukannya pagi hari di bawah botol susu depan apartemenku!" teriak James.


"Lindl ..., bagaimana kau mengenalnya?" tanya Ammo menyipitkan mata. Jari-jarinya mengetuk meja berirama.


"Aku tak mengenalnya. Dia menangkapku. Dia yang menempatkanku di sini, untuk menjagamu," jelas James.


"Menjaga? Hahahaha ...." Ammo tertawa sumbang. Wajahnya terlihat mengerikan sekarang.


"Menjaga atau memata-mataiku?"


Ammo bersikap cuek. Dia memeriksa foto-foto yang dikirim itu satu-persatu. Mencari sedikit petunjuk yang mungkin terlewat. Tak ada petunjuk spesifik dari luka-luka yang dialami Maya. Itu pure penyiksaan dan perundungan seksual yang biadab.


Tapi di dalam kurungan, James mulai terdesak. Besi-besi runcing di plafon itu sudah makin dekat. Tubuhnya sudah setengah jongkok sekarang.


"Ammo! Aku tau kejadian 2 tahun lalu!" teriak James putus asa.


Ammo mengangkat wajah. Tapi masih tak melakukan apapun. Dia menunggu.


"Aku saksi matanya! Aku melihat apa yang terjadi pada Angel 2 tahun lalu! Sejak itu The Hunters memburuku. Itu sebabnya Lindl mengirimku ke sini tanpa siapapun tau!"


James sudah berbaring pasrah dan menutup matanya. Jarum-jarum besi itu tinggal setengah meter dari lantai. Jika Ammo tidak menghentikannya, maka dia akan mati ditusuk semua jarum besi beton itu.


******