
Selama seminggu berikutnya, Ammo mengejar produksi senjata di pabriknya. Dan Ana sudah mendapatkan topeng baru dari Tuan Hanz. Topeng ini sama sekali berbeda dengan yang sebelumnya.
Kali ini Ana didandani jadi gadis cantik, tapi berkulit coklat. Dan berambut hitam keriting. Dia menyukainya.
"Ini tidak akan terlalu sulit untuk digunakan. Aku hanya perlu menggunakan wig, dan make-up," ujarnya.
"Bagus, jika kau menyukainya." Ammo dan Tuan Hanz puas dengan reaksi Ana.
Ana dibekali mobil baru, agar tidak mudah dikenali oleh para The Hunters dan anggota Biro yang menyamar di mana-mana.
Dua hari sebelum hari H.
Ana sudah kembali ke kediaman Ammo untuk memudahkan koordinasi. Itu juga persyaratan dari Alexei yang akan memulai perjalanannya, menjauh dari lokasi sebagai alibi.
Anggota klan yang sudah dilatih, diberikan persenjataan dan pergi ke tempat-tempat yang sudah ditentukan. Mereka akan menunggu dalam bayang-bayang. Tetap diam dan tenang, sampai perintah dikeluarkan oleh Pemimpin Klan, Ana!
"Ammo, kau masih bisa mundur dari rencana lusa. Kau juga harus pertimbangkan keluarga besarmu, kan?" ujar tawar Ana.
Pria itu menggeleng. "Tidak! Aku justru sudah lama menunggu hal ini. Aku ingin membalas setiap kerugian yang mereka sebabkan pada perusahaan dan keluargaku!" jawabnya tegas.
"Baiklah kalau begitu. Berarti kau siap menghadapi segala kemungkinan kalau gerakan kita ini gagal!" Ana mengingatkan.
"Apa kau sudah memberitahu keluargamu?" tanya Ana.
"Tidak perlu! Aku sudah mengantisipasi beberapa hal. Dan jika terjadi yang terburuk, maka prosedur pergantian perusahaan akan berjalan sebagaimana mestinya." beber Ammo. Ana mengangguk.
"Bagaimana dengan persiapan anggota Klan yang bergabung?" tanya Ammo.
"Aku tahu kau merasa ragu jika kita menggunakan mereka. Tapi kita tak boleh ragu saat ini. Lagi pula kita sudah menjelaskan semuanya pada mereka. Dan tak ada yang mundur," jelas Ana.
Ammo mengangguk mengerti. "Kulihat sejak tadi kau melirik ponselmu. Apa kau menunggu panggilan telepon dari seseorang?" tanyanya ingin tahu.
"Aku menunggu telepon dari klan. Kemarin aku mengajukan permintaan dukungan pada pihak yang mendukungmu. Setidaknya, kuharap klan berperan aktif lagi dalam penentuan penguasa di kawasan," ujar Ana.
"Apa kau pikir itu mungkin?" tanya Ammo.
"Tidak tahu. Mereka adalah orang-orang tua kolot yang merasa nyaman dengan kekuasaan semu. Padahal mereka ditertawai oleh dunia luar, karena sudah banyak negara yang tidak lagi menghormati klan!" Ada rasa kecewa tergambar dalam nada suara gadis itu.
"Lupakan hal itu. Aku mau mengajakmu makan malam di taman teratai, bagaiman?" tanya Ammo.
Ana mengangguk. Asalkan Theo membuatkan menu yang lezat, aku tak keberatan makanan malam di mana pun," ujar Ana. Dia juga ingin meredakan sedikit ketegangan yang memberatkan kepalanya dalam minggu itu.
"Tentu saja. Aku akan segera mengatakan pada Theo permintaanmu," sahut Ammo cepat.
"Kalau begitu, aku akan beristirahat dulu," pamit Ana.
"Ya, pergilah!" Ammo mengijinkannya beristirahat setelah diskusi mereka satu harian itu.
"Ammo memanggil Theo dan mengatakan rencananya dan permintaan Ana pada Theo.
Pelayan itu mengangguk cepat menyanggupi permintaan Ana. Dia berlalu dengan cepat ke dapur dan segera membuat persiapan untuk makan malam romantis tuan dan calon nyonya muda mereka.''
Ammo kembali ke ruang kerjanya dan memeriksa laporan dari bawahannya di Slovstadt. Jangan sampai disini diatur supaya berhasil, tapi yang di negara asal mereka, diabaikan. Karena bagaimanapun, keberhasilan di sana akan jadi pendukung gerakan mereka di sini dan beberapa gerakan lain yang mungkin mendompleng dalam ketenarannya.
Hal positif diterima Ammo, termasuk dengan persiapan dari aliansinya untuk menggantikan rezim yang sedang berkuasa.
Ya, tujuan mereka adalah mengganti rejim yang sewenang-wenang selama masa kekuasaan mereka. Hanya dengan begitu, perintah pengejaran terhadap Ana bisa dihentikan. Tak hanya itu, praktek- praktek menghapus dan mengganti ingatan serta wajah para agen juga sudah seharusnya disudahi. Karena hal itu melanggar hak azasi manusia.
*
*****
Ayahnya setuju dengan rencana Ana. Dia pun ingin sekali membalaskan semua perlakukan buruk yang diterima waktu itu.
"Ayah akan menganalisa lebih lanjut pemimpin-pemimpin lain yang berpotensi memanaskan kawasan sekitar klan. Dia ingin seluruh negara sekitarnya kembali tentram dan damai tanpa permusuhan seperti jaman raja-raja sebelumnya.
Ana tersenyum. Cita-cita ayahnya sangat mulia. Dan dia berkewajiban untuk membuat itu terlaksana.
"Baik, ayah. Kita akan bekerja sesuai tugas kita masing-masing," ujar Ana mengakhiri panggilan telepon.
Sekarang dia lega. Satu urusan lagi sudah selesai. Urusan terbaru adalah acara makan malam. Jadi dia sudah harus bersiap, agar tidak mengecewakan Ammo lagi seperti saat itu.
Selama lebih dari tiga puluh menit dipijat oleh pelayan wanita. Rasanya begitu nyaman dan rileks. Membuatnya tertidur lelap selama dua puluh lima menit.
Dengan sedikit linglung dia bangun, saat pelayan itu menepuk bahunya untuk memintanya pergi ke bak mandi dan membersihkan diri.
Dia jarang sekali melakukan perawatan tubuh dan dipijat. Dia hanya berolahraga rutin untuk menjaga agar tubuhnya tetap bugar.
"Ternyata pijatan juga ampuh untuk mengusir ketegangan pikiran," batinnya.
Setengah jam berikutnya, dia kembali terlena dengan aroma wangi air mandinya. Hingga Gan hanya bisa menggelengkan kepala. Tapi dengan terpaksa harus membangunkannya juga. Karena waktu makan malam itu tinggal sekitar tiga puluh menit lagi.
"Pemimpin, apa Anda masih ingin tidur? Kita bisa membatalkan acara lain jika Anda mau," saran Gan.
"Oh ... apakah aku tertidur lagi?" tanya Ana malu.
Gan mengangguk. "Anda sangat kelelahan. Lebih baik beristirahat saja," kata Gan lagi.
"Tidak! Ayo kita bersiap." Ana bangkit dari bak mandi yang airnya menenangkan pikirannya itu.
"Aku suka aroma yang kau masukkan ke sini. Tolong tinggalkan saja sabun atau apapun yang tadi kau pakai, di kamar mandi ini!" perintah Ana.
"Baik, Nona," sahut pelayan wanita itu.
Setelah mengenakan pakaian yang dipilihnya, Ana duduk manis untuk dirias sedikit. Pelayan wanita itu bersikeras untuk mendandaninya. Ana tak tega menolaknya.
Dia selesai tepat waktu, dan Ana puas melihat hasil kerja pelayan itu. "Kau sangat terampil!" pujinya.
"Terima kasih, Nona," sahut si pelayan.
Gan mengantar Ana menuju taman teratai. Tampak pengawal Ammo menjaga pintu ke kolam itu. Berarti Ammo sudah ada di sana.
Ana melangkah dengan anggun. Dan entah bagaimana, dadanya berdegup kencang. "Ada apa sih ini? Kenapa jantungku tiba-tiba seperti pintu yang digedor hansip?" pikirnya.
Pengawal Ammo membukakan pintu. Dan Ana menarik napas panjang sebelum melangkah masuk ke sana. "Kenapa rasanya aku seperti sedang pergi kencan pertama?" pikirnya geli.
Di ujung taman, di depan gazebo. Ammo berdiri dan tersenyum bahagia melihatnya datang. Dia berinisiatif menjemput Ana dan membimbingnya jalan dengan meletakkan tangan gadis itu di lengannya.
"Theo sudah menyiapkan makanan lezat," ujarnya mencairkan suasana kaku.
Ana duduk, melihat makanan yang dihidangkan dan menoleh pada Theo. "Terima kasih."
"Dengan senang hati, Nona." Theo mengangguk dan mulai melayani tuan dan calon nyonya rumah itu.
Keduanya membincangkan hal-hal ringan yang membosankan. Sampai Theo merasa jadi seperti nyamuk pengganggu.
Setelah acara makan usai, Theo menyajikan makanan penutup dan membawa meja dorongnya pergi. Memberi kesempatan tuannya lebih dekat dengan Ana.
*****