Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
42. Obati Aku!


Ketukan di pintu membangunkan Ana. Dengan cepat dia menyadari keberadaannya di tempat itu. Terdengar ketukan lagi di pintu.


"Iya!"


Ana turun dari tempat tidur dan melangkah ke pintu. Dibalik pintu terlihat seorang pria berseragam hitam, menunggunya.


Penjaga itu mengangguk sedikit. "Tuan Ammo meminta anda menemuinya."


"Oke."


Ana langsung mengikuti pria itu.


Mereka menyusuri lorong lagi. Tapi Ana tak bertanya apapun. Dia yakin, orang yang disuruh ini adalah orang yang irit bicara. Suara dan wajahnya sama datar dengan tuannya.


Saat melintas, sebuah ruang lain terbuka. Seseorang di dalam, terkejut melihat Ana di tempat itu. Ana melewati dan menganalisanya melalui ekor matanya.


Pria berkulit cokelat. Dan coklat itu asli, bukan akibat berjemur. Berwajah khas Amerika Selatan yang seksi. Bukan wajah Asia. Tinggi 175-180cm. Berat tak sampai 90kg. Pundak kokoh dan lebar, tanda terbiasa menggunakan energi tangannya.


Sekarang Ana berdiri di depan pintu tertutup. Penjaga itu memencet sebuah tombol. Sebuah alat sidik jari dan retina mata muncul.


"Access granted!"


Pintu akses terbuka dengan bunyi klik yang khas. Penjaga itu masuk, diikuti Ana. Di sana ada Ammo dan seorang pria lain berpakaian putih dan berkacamata yang terlihat membosankan.


Ana menebak. Pria itu mungkin seorang peneliti atau semacam itu. Ana dipersilahkan duduk di bangku antara Ammo dan pria itu.


"Ini Profesor Stone, ahli dalam bidang otak ato semacamnya." Ammo tak dapat menjelaskan yang mungkin tak dipahaminya.


"Saya neurologist," Stone memperbaiki istilah Ammo sambil meringis.


"Yah, itu!" ujar Ammo.


"Lalu?" tanya Ana ingin kejelasan. Dia tak butuh introduce yang bertele-tele.


Ammo mengerti Ana lebih suka to the point. Dia memperbaiki posisi duduk. Dua sikunya bertumpu di meja sementara kedua tangannya saling menggenggam. Dengan mencondongkan tubuh ke depan, Ammo menoleh pada Ana.


"Aku mengundang Stone untuk membahas masalah memorimu. Jika kau bersedia, dia akan memulai langkah perawatanmu," ujar Ammo.


"Apakah itu harus?" tanya Ana.


"Well ... kalau kau ingin mengetahui kebenaran, kau harus berada di posisi yang tepat. Tidakkah kau merasa seperti ada missing chain dalam hal ini?" tanya Ammo.


Ana diam menyimak.


"Aku berusaha menyatukan berbagai informasi, tapi selalu terbentur sesuatu yang gelap dan disembunyikan sangat dalam. Jika ucapan James benar, menurutku, yang terjadi di tugas terakhirmu itu lebih dari sekedar urusan asmara!" jelas Ammo tenang.


Ana mengerutkan keningnya. Kepalanya mengarah ke meja. Matanya dipejamkan kuat-kuat seperti dipaksa untuk mengingat sesuatu. Dari balik kelopak mata yang tertutup rapat itu, Ammo dan Stone bisa melihat bola mata Ana bergerak liar.


Stone menoleh pada Ammo. Dia menggeleng khawatir. Ammo mengawasi Ana tanpa berkedip.


Dan benar saja. Lima menit kemudian, Ana memegang kepalanya menandakan usahanya mencari memori itu menyakitinya. Tapi dia tetap bandel dan memaksakan diri. Nafasnya terengah-engah sekarang.


"Jangan kau paksakan. Itu akan melukai otakmu," larang Ammo.


Ana memandang Ammo dengan ekspresi marah dan putus asa. Digenggamnya kuat tangan Ammo di pundaknya.


"Obati aku! Setelah itu, aku akan memburu mereka!" ujar Ana marah.


Ammo terdiam. Dia bisa melihat api di mata Ana. Ammo menggeleng.


"Bukan kau, tapi kita!" ujar Ammo.


"Tidak, kau sudah mengorbankan kastil orang tuamu untuk melindungiku. Aku tak ingin menyeretmu dalam masalah ini," tolak Ana.


Ammo mengeluarkan beberapa foto yang waktu itu ditunjukkannya pada Ana. Kemudian menyusun beberapa foto berdampingan.


Ammo menyebut nama-nama orang di sana.


"Ammo, Adriana, George, Ana, Ana, Sanders, Sanders," tunjuk Ammo pada semua foto.


Ana terbelalak melihat kenyataan itu. Jadi, gadis remaja di foto Ammo adalah dirinya? Mereka saling kenal? Dan James?


"Ughhh!"


Ana menekan kepalanya karena serangan rasa sakit yang hebat. Kali ini benar-benar parah. Ada darah mengalir keluar dari hidungnya.


Stone dengan cepat membuka tas kerja dan mengambil sebuah alat suntik di situ. Dia segera menyuntik lengan Ana. Kemudian gadis itu melemah dan tertidur.


Ammo memanggil lewat interkom.


"Bawakan tandu, ke sini!" serunya.


Profesor Stone sedang mengelap darah yang keluar dari hidung Ana.


"Mereka melakukan tindakan gila padanya," ujarnya menggelengkan kepala.


"Kau bisa memulihkannya?" tanya Ammo meminta kepastian.


"Aku akan mengusahakannya," jawab Stone.


"Aku ingin kepastian!" desak Ammo. Matanya berkilat.


Stone merasa udara ruangan itu jadi lebih dingin sekarang. Dia merasa sedikit terintimidasi dengan aura Ammo yang sedang menahan murka.


"Aku belum pernah menemui kasus seperti ini. Mereka pasti menjadikannya sebagai eksperimen. Tapi aku akan berusaha keras mengurai simpul ingatan yang mereka ikat."


Hanya itu yang bisa dijanjikan Stone.


Ammo mendengus tak puas. Lalu seseorang masuk membawa tandu. Mereka membaringkan tubuh Ana dengan hati-hati. Dan Stone membawa Ana pergi.


*******