Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
86. Teori Keyword


Tiga sahabat itu tertidur di tempat terbuka. Blake mengambilkan selimut dan membiarkan mereka beristirahat.


Pagi yang dingin. Kicauan burung mengusir mimpi yang masih melekat. Ammo terbangun. Dua temannya tidur menempe dengannya mencari kehangatan. Dilihatnya jam tangan. Sudah pukul enam pagi. Mereka harus segera kembali.


"Hei, bangun ... dasar pemalas. Ayo lari pagi, biar gak ngantuk." Ditariknya tangan Sanders hingga pria itu terduduk dengan mata masih terpejam.


"Ana, ayo bangun!" seru Ammo lagi.


"Lima menit lagi!" gumamnya.


"Terserah." Ammo berdiri. Ditariknya tangan Sanders agar ikut berdiri.


"Ayo Sanders, kita lari pagi," ajak Ammo. Tapi Sanders hanya diam mematung. Wajahnya terlihat pucat.


"Apa kau sakit? Kau kedinginan. Maafkan aku, seharusnya kita tidak kemping hingga pagi. Ayo kuantar ke kamar!"


Ammo membimbing Sanders menuruni anak tangga menuju taman. Kemudian keduanya melintasi lapangan berumput dan berjalan menuju kamar Sanders. Seorang penjaga melintas.


"Tolong panggilkan Dokter Armstrong dan dokter Sarah, ke sini," perintah Ammo.


"Ya, Bos!" penjaga itu berlalu.


"Kau istirahatlah dulu. Aku akan menemani hingga dokter selesai memeriksa," hibur Ammo.


Tak lama, Dokter Armstrong tiba. "Ada apa dengannya?" tanyanya.


"Tidak tau. Tadi malam dia baik-baik saja. Tapi pagi ini dia terlihat pucat," jelas Ammo.


"Tubuhnya dingin." Dokter Armstrong memeriksa termometer di tangannya.


Sementara Dokter Armstrong merawat Sanders, Dokter Sarah tiba. Ammo dan Dokter Sarah berbincang sejenak.


"Bukankah tadi malam dia terlihat baik-baik saja?" tanya Dokter Sarah.


"Ya. Lalu tiba-tiba pagi ini dia bangun dengan wajah pucat dan tubuh dingin," jawab Ammo.


Tadi malam, bagaimana kau bisa mengkondisikan moodnya?" selidik Dokter Sarah.


"Hemm ... aku mencoba teori keyword yang kau katakan," jawab Ammo.


"Apa keywordnya?" tanya Sarah tertarik. Tak disangkanya, teori itu berhasil.


"Nama barunya, James. Aku memanggilnya James semalam," jelas Ammo.


"Pagi tadi, bagaimana kau memanggilnya?" selidik Dokter Sarah lagi.


Ammo mengingat-ingat sebentar dan merasa ragu. "Aku tak yakin, tapi mungkin kupanggil dengan Sanders...."


"Biar kucoba keywordnya." Dokter Sarah meninggalkan Ammo dan berjalan menuju Sanders.


"Hai James, bagaimana kempingmu?" Dokter Sarah menyapa Sanders dengan intonasi dan penekanan kata yang langsung membuat Sanders menoleh padanya.


"Menyenangkan," sahut Sanders.


"Lalu kenapa pagi ini kau lesu James?" Dokter Sarah kembali menekankan intonasi di kata itu.


"Tidak tau. Aku hanya merasa tidak nyaman dan pusing tadi," sahut Sanders lagi.


"Tadi? Berarti sekarang sudah tidak pusing lagi dong?" terkanya sambil tersenyum lebar.


Sanders ikut tersenyum. "Iya, pusingnya sudah berkurang. Terima kasih, Dok." Sanders menoleh pada Dokter Armstrong yang sedikit tidak dapat mengikuti cara Dokter Sarah. Dia belum melakukan apapun untuk Sanders yang pucat dan kedinginan.


Diperiksanya lagi suhu tubuh Sanders dengan termometer. Dokter itu bisa melihat, suhunya bergerak naik.


"Oke, kau sudah membaik. Mungkin hanya kedinginan di luar. Segera sarapan dan habiskan obatmu. Kau bisa tetap di ruangan sampai tubuhmu benar-benar pulih. oke?"


"Oke, Dok," sahut Sanders.


Dokter Armstrong meninggalkan Sarah dan Sanders berbincang. "Aku belum melakukan apapun padanya. Bagaimana dia bisa pulih begitu cepat?" bisiknya pada Ammo.


"Kita bicara di luar." Ammo berjalan keluar ruangan.


"Ada apa?" tanya Dokter Armstrong.


"Kemarin aku dan Dokter Sarah membahas teori keyword untuk kasus Sanders dan pasien lain yang serupa. Aku mencobanya tadi malam, dan itu terbukti!" jelas Ammo.


"Jadi, lain kali jangan memanggilnya dengan Sanders. Panggil dengan nama James saja," pesan Ammo.


"Oh, jadi itu sebabnya Sarah menekan kata James itu dengan kuat. Dan Sanders ehh, James kembali pulih dengan cepat."


"Apa pengobatannya sesederhana itu?" tanya Dokter Armstrong tak yakin.


"Untuk sementara, teori itu baru sampai di perkembangan ini. Belum ada pembuktian pengaruh jangka panjangnya!" Dokter Sarah menyela pembicaraan.


"Tapi ini merupakan terobosan besar. Setidaknya sekarang kita bisa tau cara mengatasinya. Aku akan buat pemberitahuan pada para perawat untuk tidak lagi menyapanya dengan nama Sanders," putusnya cepat.


Ammo mengangguk. "Bagus! Lakukanlah seperti itu. Lalu cari keyword untuk pasien lainnya," perintah Ammo.


"Baik, Bos!" Dokter Sarah pergi keluar ruangan.


"Aku juga pamit," Dokter Armstrong mengikuti Sarah keluar.


"James, aku mau pulang dulu. Kau harus cepat sehat, biar kita bisa kemping lagi." pamit Ammo.


Ammo baru keluar kamar rawat ketika Ana justru hendak masuk. Ammo menariknya menjauh.


"Apaan sih ... kalian meninggalkanku tidur sendiri di lapangan!" omelannya mulai terdengar.


"Sanders tak enak badan, jadi aku membawanya kembali," ujar Ana.


"Biar kulihat...." Ana hendak masuk lagi ke dalam, tapi masih ditahan Ammo.


"Jangan panggil dia Sanders. Panggil James saja, ingat itu!" Ammo memperingatkan.


"Kenapa? Bukankah—"


"Jangan suka membantah. Ikuti saja. Dan jangan lama-lama. Kita harus segera kembali!" Ammo berjalan ke arah kamarnya.


Di pikirannya berkecamuk teori Dokter Sarah. "Lalu, apa keyword untuk Ana?" batinnya.


*


*


Menjelang sore hari, Ammo dan Ana telah sampai lagi di kediaman. Keduanya terlihat jelas sangat lelah, karena menempuh perjalanan panjang.


Theo dan Kapten Smuth sudah siap menunggu. Keduanya ingin menyampaikan laporan, tapi melihat kelelahan yang tampak nyata, mereka menunda laporan itu.


"Apa anda ingin disiapkan air panas, Tuan?" tanya Theo.


"Ya, tolong." Ammo mengangguk


Theo langsung berjalan cepat, naik ke lantai dua. Dia langsung menyiapkan bak mandi. Menyalakan keran air hangat, lalu menuangkan bermacam esensial oil ke dalam air. Kemudian menambahkan cairan pembersih lembut ke dalam air bak.


Theo mendengar pintu kamar dibuka. "Apa airnya sudah selesai?" tanya Ammo.


"Sedikit lagi, Tuan," sahut Theo.


Namun Ammo sudah tak sabar untuk berendam dan merilekskan tubuhnya.


"Anda terlalu lelah. Apa perlu saya panggilkan petugas massage?" tanya Theo.


"Tidak perlu. Buatkan aku minuman segar," perintah Ammo.


"Baik, Tuan." Theo segera undur diri, karena Ammo sudah mulai masuk bak mandi.


Di lantai bawah, Ana yang kelelahan justru berbaring di sofa ruang tengah. Ada Ariel yang merasa terganggu di situ.


"Kau bau keringat. Harusnya seperti Ammo, langsung mandi biar segar!" sungut Ariel.


"Hah ... cuaca tak sebagus saat pergi. Banyak terpaan angin keras, membuat helikopter itu layaknya mainan remote control. Bikin badan pegal semua!" keluh Ana dengan mata terpejam.


Seorang pelayan masuk dan mengantarkan minuman untuk Ana dan Ariel.


"Terima kasih." Ana langsung meneguk minumannya hingga habis.


Ariel hanya bisa mengelengkan kepala melihatnya.


Theo melintas dengan sebuah nampan di tangan. Ana dan Ariel melihat pria itu menaiki tangga hati-hati.


"Ahhh ... rasanya aku ingin punya pelayan sekarang. Inginnya tanpa berjalan, sudah sampai di kamar mandi," racau gadis itu.


Ariel menaikkan sebelah alisnya. Ada keusilan di matanya. Dia berdiri dan menarik tangan Ana, untuk mengangkatnya masuk. Tapi tanpa diduga, meskipun kelelahan, instrimg Ana masih tajam.


Ditangkapnya tangan Ariel, memutarnya ke belakang tubuh pria itu, bermaksud untuk menguncinya. Tapi Ariel bukannya tak bisa bela diri. Dia berbalik dan secepatnya mencium pipi gadis itu.


Hal itu mengagetkan Ana dan mengurangi kewaspadaannya. Pegangannya pada lengan Ariel terlepas.


"Apa-apaan kau!" teriaknya marah.


Kali ini Ana serius menghadapi Ariel. Dia melompat dan menetak dada Ariel hingga terhuyung ke atah tiang tengah rumah itu. Ana berjumpalitan ke belakang, untuk bisa berdiri lagi di tempatnya.


"Uhukk ... aduhh!"


"Tadi katamu ingin seseorang mengangkatmu langsung ke kamar mandi. Kubantu angkat, malah jadi begini!" gerutu Ariel.


"Kau brengsek!" umpat Ana marah.


Theo turun dari lantai atas. Dilihatnya seorang pelayan wanita masih ada di ruangan tengah. Aturan di rumah ini, jika Tuan ada di rumah, tak boleh ada pelayan wanita di ruang tengah atau ruang manapun yang dimasukinya.


"Ada apa?" tanya Theo.


"Mereka berkelahi," tunjuknya ke arah Ariel di lantai dan Ana yang ngeloyor pergi.


"Tak ada yang terluka, jadi biarkan saja. Kau kembali ke tempatmu!" perintah Theo.


"Baik." Gadis pelayan itu masuk kembali ke dapur.


Theo berjalan menuju meja telepon. Dia membuka buku telepon dan memencet nomer yang dituju. Ammo meminta Theo menghubungi Bibi Harriet. Mengabarkan kunjungannya ke sana petang nanti. Wanita tua itu senang keponakan tersayangnya akan datang.


Theo menghubungi Ted, sopir Ammo lainnya. Juga Nick, untuk bersiap mengantar Tuan pergi petang nanti.


Tugas Theo selanjutnya adalah menyiapkan sedikit hadiah untuk wanita itu. Theo telah sangat memahami semua keluarga Oswald, hingga kesukaan terkecil mereka. Thei adalah ekspert di bidang pekerjaannya.


********