
Ana menyetir dengan santai. Dia sengaja meminjam mobil Theo agar tidak dicurigai siapapun yang mungkin sedang mengawasi mereka. Mobil Theo adalah mobil biasa yang dimiliki para pekerja. Diharapkannya kendaraan itu tidak terlalu menarik perhatian jika parkir di dekat rumah atau apartemennya.
Menurut Ana, Theo hanya mencoba bersikap sederhana. Sebab, kalau dihitung tahun dia bekerja, seharusnya dia sangat mampu untuk membeli mobil yang lebih dari itu. Tapi, kesederhanaan Theo menguntungkannya.
Mobil itu meluncur menuju kompleks perumahan. Pohon-pohon peneduh berjejer rapi di sepanjang pinggir jalan. Ana menepikan mobil dan mengarah ke rumah mungilnya. Dengan remote control dibukanya pintu pagar yang mengarah ke garasi mobil. Mobil Theo dilajukan ke dalam halaman rumah mungil bercat putih.
Ana menghentikan mobil di dalam garasi dan langsung menutup semua pintu masuk dengan rapat. Kemudian keduanya turun.
"Rumah ini indah," komentar Gan.
Ana tertawa kecil mendengarnya. "Jangan terlalu percaya dengan apa yang kau lihat," ujarnya.
Kembali pintu rumah dibuka dengan remote control. Ana menuju ke arah pintu depan yang biasa dilaluinya. Diraihnya tombol tersembunyi untuk menghilangkan lapisan dinding pelindung rumah.
"Woww!" seru Gan takjub.
"Apa yang akan terjadi kalau ada yang menerobos masuk?" tanyanya ingin tahu.
"Sama seperti yang akan terjadi jika ada yang masuk ke halaman rumahku yang di luar kota!" jawab Ana.
Gan terdiam mendengarnya. Bosnya kali ini bukanlah wanita berhati lembut selembut penampilannya. Dia pendendam dan akan membalas lebih pada pihak yang menyakitinya. Begitulah kesimpulan yang didapat Gan selama dia mengikuti Ana.
Tapi, sejauh interaksinya, meskipun hanya bicara sekedarnya, Gan tahu bahwa Ana selalu bersikap baik pada para pelayan wanita yang ada di kediaman Ammo. Dan itu bukan kebaikan yang pura-pura. Tapi kebaikan, pujian, dan perhatian tulus.
"Aku ke atas sebentar, dan jangan sentuh apapun yang kau tak tahu. Nyawamu taruhannya!" ujar Ana sembari menaiki tangga. Gan mengangguk. Dia melihat berkeliling rumah mungil itu. Kemudian memilih duduk di sofa, agar tak perlu membahayakan nyawanya.
Entah apa yang dilakukan Ana di lamtai atas. Gan merasa bosan. Didekatinya kandang besar tempat Mimi bermain. "Bahkan kucing itupun dikurung dikandang sebesar ini agar tidak sampai menyalakan senjata rahasia yang ada. Hebat sekali!" pikirnya.
Ana turun sambil menjinjing dua tas travel besar. Kelihatannya cukup berat. Entah apa isinya. Gan berdiri dan menawarkan bantuan.
"Perlu bantuan, Pemimpin?" tanyanya.
"Nanti," sahutnya tanpa menoleh. Gan akhirnya hanya memperhatikan saja. Mungkin itu sesuatu yang sangat sensitif, jadi dia tak ingin ikut campur.
Ana pergi ke kamar mandi. Gan kembali berdiri diam, tak tahu harus apa. Rumah itu begitu mungil, tapi tuannya tak butuh bantuannya, jadi dia hanya bisa melihat saja. Atau, mengawasi suasana di luar?
Gan kemudian berdiri dekat jendela kaca yang persis berada di sebelah sofa yang didudukinya tadi. Keningnya mengerut melihat seorang pria mondar-mandir dan melihat ke arah rumah. Gan curiga, tapi tak mungkin berbuat sesuatu tanpa persetujuan tuannya. Jadi diamatinya dengan seksama pria itu.
Tak lama Ana keluar dari kamar mandi. Dilihatnya Gan mengamati sesuatu di luar. "Ada apa?" tanyanya mendekat.
"Apakah anda mengenalnya? Orang itu terus mengamati ke arah sini," lapor Gan.
"Itu Tuan Simon. Jam segini dia membawa Tom atau Gladys jalan-jalan ke luar rumah," jawab Ana. Dia mengamati sikap Tuan Simon yang terus melihat ke arah rumah. Lalu terdengar suara gonggongan Tom. Tuan Simon menunduk dan berbicara pada Tom. Menoleh sekilas ke arah rumah, sebelum pergi.
"Tom pasti pup di depan situ, itu sebabnya dia berhenti cukup lama." Ana menjelaskan.
"Tom?" tanya Gan heran.
"Tom adalah anjing peliharaan Tuan Simon.
Ana melanjutkan pekerjaannya membereskan barang-barang pribadinya kemudian dimasukkan ke dalam tas besar lainnya. Termasuk melepaskan perangkat komunikasi yang dipakainya sebagai agen. Peralatan teknologi di situ dilepaskannya.
satu tas bertambah lagi. Kemudian tas keempat dibuka Ana dengan cepat memeriksa semua pengaman yang dipasangnya. Semua senjata dilepaskannya dan dimasukkan ke dalam tas keempat.
Selama dua jam gadis itu membereskan semuanya. "Tinggal yang di halaman," katanya.
Gan menoleh ke halaman yang diberi beberapa lampu taman. "Beritahukan padaku, biar kubantu." Gan tak enal hati membiarkan Ana membereskan semuanya sendiri.
"Tidak bisa. Hanya aku yang tahu, di mana letaknya!" tolak Ana.
"Kau awasi saja keadaan sekitar. Jika ada yang macam-macam, kita tamat! Karena sistem perlindungan rumah ini sudah kulucuti," katanya.
"Baik! Saya akan melindungi anda, Pemimpin," jawab Gan cepat.
"Mari kita angkat dulu barang-barang ini ke mobil!" perintah Ana.
Keduanya segera memasukkan empat tas ke dalam mobil bagian tengah. kabin itu segera terisi penuh. Ana lalu mengunci pintu rumah dengan remote control. Semuanya sudah dibawanya. Mobil itu dimundurkan dan garasi ditutup.
Kembali gadis cantik itu menyibukkan diri dengan mengangkati pot tanaman dan berjongkok untuk mengambil sesuatu di bagian bawahnya.
Ana menghitung peralatannya. "Sudah lengkap sepuluh," ujarnya.
"Ayo kita kembali!" Diangktnya sebuah kotak karton ukuran sedang yang berisi ranjau yang entah seperti apa, Gan tidak tahu. Dia sibuk mengamati keadaan sekitar rumah itu.
Keduanya masuk mobil lagi dan keluar dari halaman. Ana mengunci semua pintu pagar dan rumah dengan remote yang dipegangnya. Kemudian melajukan mobil itu pergi dari sana.
Seorang pria beruban dengan rantai anjing di tangannya mengambil ponsel di saku depannya.
"Dia muncul lagi, dengan seorang wanita lain yang tak kukenal. Memeriksa halaman, lalu pergi dari sana!" katanya.
"Bagus Simon. Kau memang agen senior yang handal!" Terdengar pujian dari seberang telepon itu.
"Tugasmu sudah selesai. Kau sudah bisa pulang dan menunggu tugas lain." tambahnya.
"Baik!" jawab Tuan Simon sebelum menutup telepon.
"Ayo, Tom ... kita pulang. Tugas kita di sini sudah selesai!" katanya pada anjingnya. Anjing itu menyalak gembira diajak bicara.
*******
Catatan: Tentang Tuan Simon ini bisa dilihat di bab 4 yaa.
Happy reading.
Jangan lupa baca novel-novel author yang lain ya. Please tinggalin jejak like, komen, love, gift dan rate bintang lima yaa..