
Pesawat jet itu mendarat mulus di lapangan terbang kecil di pedesaan. Beberapa pesawat kecil dan tua, berjejer rapi di pinggir parkiran, pinggir landasan pacu.
Ariel membawa masuk pesawat itu ke arah hanggar yang sudah dibuka lebar. Pintu pesawat terbuka, setelah mesin benar-benar mati. Ammo turun, diikuti Ana, Nick dan empat teman Ammo lainnya.
Di bawah, telah menunggu seorang pria tua dengan janggut dan brewok tak terurus. Berpakaian flanel lusuh di musim semi. Mengenakan celana jins dan sepatu boot kulit berwarna cokelat serta topi cowboy. Penampilan yang oldies dan eksentrik.
"Tinggal ditambahkan tali lasso dan seekor kuda, penampilannya akan mirip dengan gembala sapi di pegunungan!" komentar Ana.
"Kau harus belajar menjaga mulutmu, Nona!" ketus Lindsay yang menatapnya tajam.
Gadis manis yang imut itu segera berlari menuju orang tua yang tersenyum lebar padanya.
"Kakek!" teriak lindsay gembira. Gadis itu segera menghambur ke pelukan kakeknya
"Anak nakal!" omel orang tua itu sambil mengusap punggung cucunya.
Ana terdiam gagu. Semua orang meliriknya dengan pandangan jengkel, saat melewatinya. Tatapan itu seakan sedang menilainya.
"Ah, mulutku! Kenapa jadi tak terkendali begini? Semua gara-gara Ammo!" batinnya.
"Tidak! Kau yang membuat berbagai kesalahan, tapi selalu menimpakan kesalahan padanya.!" bantah hati kecilnya.
"Tidak!" bantahnya.
"Ya! Coba kau ingat-ingat, apa sebenarnya kesalahannya! Kau terus menimpakan kesialanmu padanya. Karena kau tau dia takkan membalasmu! Akui itu!" Hati kecilnya kembali mengingatkan.
"Hei! Apa kau ingin tinggal di sini sendiri?"
Ana mendongakkan kepala. Panggilan Sawyer menyadarkannya dari perang batin.
"Ya!" sahutnya segera mengejar rombongan Ammo ke dalam satu bangunan tak jauh dari hanggar.
"Kendaraan sudah disiapkan!" ujar pak Tua.
Ammo mengangguk puas. "Aku akan menyusahkanmu dengan permintaan lain, Kakek Wilson," tutur Ammo sopan.
"Jika Kau yang meminta, mana mungkin aku menolak!" Kakek tua itu terkekeh sambil melirik cucunya yang sedang sibuk menikmati roti kesukaan yang disiapkan kakeknya.
"Bisakah Anda mengatur jalur aman untuk Brandy dan Lindsay ke Slovstadt?" pinta Ammo.
Pria tua itu tercenung sejenak. Dia sangat mengerti siapa cucunya. Dia juga tau siapa Ammo. "Lindsay, apa Kau mau liburan ke sana?' tanyanya.
"Emmm...."
Lindsay hanya mengangguk. Mulutnya penuh dengan roti krim yang lezat. Berdua Brandy, mereka menyantap makanan spesial itu.
Kakek Wilson menghela nafas. "Baik, akan kusiapkan," ujarnya.
"Kalau begitu, aku bisa tenang. Sekarang saatnya aku kembali. Banyak yang harus dibereskan!" pamit Ammo.
"Terima kasih atas bantuannya, Kakek Wilson." Ammo menyalami pria tua itu debgan hormat.
"Hanya ini yang bisa kulakukan untuk membalas kebaikan kakekmu," balas pria tua itu.
Brandy, Lindsay, kami berangkat lebih dulu. Kalian pergi sesuai pengaturan kakek Wilson!" tegas Ammo.
"Ya, Bos. Tiba saat berangkat, kami akan menghubungi!" Sahut Brandy.
"Selamat tinggal, Sayangku," pamit Ariel pada Brandy.
"Menjijikkan!"
Brandy meraih sesuatu di atas meja dan melemparkannya ke arah Ariel yang langsung mengelak pergi sambil tertawa.
Rombongan itu menaiki dua mobil hummer truck warna hitam yang telah diparkir di depan gedung. Dua pengemudinya bergegas berlari, begitu kakek Wilson memanggil.
"Mereka sopir yang handal dan akan membawa kalian kembali dengan aman," ucapnya.
"Kami berangkat, Kakek," pamit Donny dan Ivan sambil melambaikan tangan.
Ammo bersama, Ana, Nick dan Sawyer berada dalam.satu mobil. Ada seorang sopir dan rekannya yang duduk di depan kemudi.
Ariel, Donny dan Ivan berada di mobil belakang. Ditemani sopir dan seorang pengawal juga.
Kemudian dua mobil bongsor itu melaju di jalan sepi. Pemandangan diri kanan jalan adalah tanah pertanian. Sejauh mata memandang, tanaman pertanian tumbuh dengan subur. Diantara tanah pertanian satu dengan lainnya, dibatasi dengan jalan kecil menuju rumah pertanian pemiliknya. Pohon Apel, Pir dan Cherry menghias tepi jalan-jalan kecil yang mereka lewati.
"Tenang sekali hidup di sini," celetuk Ana.
"Itu sebabnya Kakek Wilson pensiun ketika kakekku meninggal dunia. Dia pindah ke sini dan mengembangkan tanah pertaniannya," jelas Ammo.
Ana akhirnya tahu hubungan Ammo dengan kakek tua itu. Namun Ammo tak seperti Bos lain. Dia tampak benar-benar hormat pada Kakek Wilson.
"Lalu, landasan pesawat di tengah tanah pertanian itu, milik siapa?" tanya Ana ingin tahu.
"Ohh ... aku mengerti sekarang." Ana manggut-manggut.
Sekarang dia menaruh rasa hormat pada pria itu. Dan ucapannya yang kasar sebelumnya, memanglah tidak pantas keluar. Dia menilai seseorang hanya dari penampilannya saja.
"Apakah aku juga menilai Ammo hanya dari penampilan saja?" pikir Ana. "Penampilannya yang mana yg membuatku benci?"
Ammo melihat Ana yang sedang melamun. Tapi dibiarkannya saja. Diambilnya ponsel dan memberi beberapa instruksi pada Theo dan Kapten Smith.
*
*
Langit sudah gelap, saat dua mobil itu tiba di Star Club House. Sawyer turun di situ, untuk nengambil helikopternya. Ammo melanjutkan perjalanan kembali.
Hampir pukul sebelas malam, dua mobil itu memasuki kompleks perumahan.
Ana terpaku melihat gedung panti yang sudah lama tak dilihatnya.
"Aku ingin ke sana," gumamnya.
"Jika situasi sudah kondusif, kau bisa menjenguk mereka.
"Kenapa tidak mampir sebentar saja?" bujuk Ana.
Ammo menggeleng. "Semua lingkaran pertemananmu telah dihancurkan pihak yang membencimu. Apa kau ingin orang-orang tak bersalah di panti itu juga menjadi target mereka?" tanya Ammo.
Ana menggeleng lemah.
"Kenapa ada orang yang ingin membunuhku? Apa kesalahanku?" geramnya marah.
"Kita harus mencari tau tentang Ayah dan Ibumu," simpul Ammo.
"Menurutmu seperti itu?" tanya Ana heran.
"Memangnya, apa kesimpulanmu?" Ammo balik bertanya.
"Aku tidak tau. Aku belum punya kesimpulan apapun!" jawab Ana jujur.
Mobil itu tiba juga di gerbang kediaman Ammo. Petugas gerbang mendatangi sopir dan bertanya.
"Tuan Oswald di belakang, ujar sopir
"Tuan Oswald yang mana?" tanyanya datar. Karena ada banyak keluarga Ammo yang juga dipanggil.Tusn Oswald.
Nick turun dengan wajah jelek.
"Buka pintu! Tuan di dalam!" serunya.
"Nick?" penjaga itu heran. Dia segera kembali ke pos jaga dan nenghubungi kapten Smith.
"Ya, Nick mengawal Tuan Ammo!" jawab kapten Smith.
Pintu gerbang segera dibuka. Dua mobil itu meluncur masuk. Melewati deretan pohon dan taman kecil di sepanjang jalan masuk.
Mobil tertahan di depan gerbang dalam, sebelum memasuki dan memutari taman air mancur di depan rumah.
Theo, Smith dan Sawyer telah berdiri menunggu kedatangannya. Mobil berhenti di depan dua pot besar bunga tulip kuning yang sedang mekar dengan cantik.
Pintu dibuka Nick. Dia turun lebih dulu, dan mempersilakan Ammo turun. Ammo baru mau bergerak, tapi Ana sudah turun lebih dulu.
Empat bawahan Ammo jelas terkejut. "Gadis manakah yang tidak tau sopan santun ini?" pikir Theo dengan wajah merah padam.
Ammo turun lewat pintu yang satu lagi, dibukakan oleh sopir mobil itu.
"Terima kasih," ujar Ammo.
Pria muda itu hanya mengangguk dan kembali menutup pintu. Theo dan kapten Smith memutari mobil dan menyambut tuannya yang baru turun.
"Kau kurang tata krama!" bisik Nick yang berdiri tak jauh dari Ana.
Ana terkejut dan sedikit emosi. Dengan mata melotot, dia ingin mendebat Nick.
"Jangan lakukan hal bodoh!" Sawyer menatap Ana dengan dingin.
Ana merasa dia tak diinginkan di tempat itu. Buat apa Ammo membawanya ke sini? Wajahnya panas ditegur bawan Ammo berkali-kali.
"Mari masuk!" ajak Ammo ramah.
*******