
Ammo pindah duduk ke dekat Harriet. Merengkuh bahu wanita paruh baya itu. Sungguh, dia tak ingin menyakiti bibinya.
"Aku punya berita mengejutkan. Aku juga tak percaya. Itu sebabnya aku bertanya kapan dia terakhir kemari," jelas Ammo hati-hati.
Harriet tiba-tiba merasa takut. Pelukan Ammo, pertanyaannya, dan berita? Itu pastilah lebih buruk dari sekedar kenakalan Carl selama ini.
"Katakan!"
Mata Harriet seperti mata kucing yang takut dan minta dikasihani. Tapi dia juga sangat ingin tau, apa yang terjadi pada putra semata wayangnya.
Ammo meminta tablet pada Nick yang terus mengikuti. Ditunjukkannya potongan berita di media, pada Harriet.
Wanita itu membelalak tak percaya. "Tidak! Tidak ... itu tak mungkin dia!" sangkalnya tak percaya.
"Aku akan memeriksa ke negara itu, untuk memastikan. Aku ingin mengetahui siapa Carl yang menemui Bibi lima tahun terakhir. Dia pasti ada hubungannya dengan kematian Carl kita!" Ammo memeluk tubuh Harriet yang gemetar, mencoba menenangkannya.
"Bibi lihat ini?" tunjuk Ammo pada berita. "Identitas Carl hilang! Dia dianggap sebagai orang yang tak dikenal!"
Harriet masih belum dapat mencerna informasi yang diterimanya.
"Setelah Carl tewas kecelakaan, Muncul Carl lain untuk menipu kita! Dia bahkan berusaha menghancurkan perusahaan yang dibangun kakek! Carl kita takkan melakukan hal bodoh seperti itu!"
"Carl takkan berbuat sejauh itu. Dia hanya nakal karena frustasi. Dia bilang akan keliling dunia mencari ayahnya. Dia tak mau dengar, kalau ayahnya sudah mati!" tangis Harriet tumpah.
Ammo tercenung mendengarnya. Tak ada satupun anggota keluarga Oswald yang tau siapa ayah Carl. Bahkan kakek kedua yang menjadi ayah angkat bibinya, tetap tak bisa membuka mulut putrinya. Wanita tua ini menyimpan rahasianya rapat-rapat.
"Katamu, kau mau pergi ke negara itu? Bisakah aku ikut?" tanya Harriet disela tangis.
"Aku datang untuk mengajakmu ke sana, Bibi," kata Ammo menenangkannya. "Tapi, kuharap info ini kita simpan dulu rapat-rapat. Bisakah?" tanya Ammo.
"Kenapa?" tanya Harriet heran.
"Agar otak yang mendalangi kejadian itu tidak menaruh curiga dan melarikan diri dari kita. Aku ingin menangkapnya," jelas Ammo.
"Kau, kau merasa itu bukan kecelakaan?" bisik Harriet.
"Tak mungkin suatu kebetulan, Carl tewas di negara yang jauh, lalu identitasnya hilang. Kemudian ada yang menyamar menjadi dia!"
"Jika dia tewas dirampok di negri orang, bisa saja Identitas, dompet dan kartu-kartu hilang. Kita mungkin hanya rugi uang. Tapi, tidak mungkin ada Carl palsu yang datang menemuimu!" Ammo membeberkan semua kecurigaannya.
"Coba bibi ingat-ingat. Lima tahun terakhir, setelah Carl kembali dari perjalanan jauh, apakah sikapnya masih sama?" desak Ammo.
Harriet sudah berhenti menangis. Dia mulai memahami penjelasan Ammo. Tak mungkin ada seseorang tewas lima tahun yang lalu, masih bisa datang dan makan malam dengannya. Jelas itu penipuan. Pemalsuan identitas!
Harriet mengingat-ingat sikap Carl yang selalu membuatnya emosi. Harriet menyalahkan dirinya karena tak dapat memenuhi keingin tahuan putranya, hingga membuat hubungan mereka memburuk.
Ternyata, sikap buruknya, karena pria itu bukanlah putranya. Instingnya tak bisa dibohongi. Dia membenci pria itu setiap kali melihatnya. Harriet akan menelepon Carl jika terlalu rindu, dan memintanya datang berkunjung. Tapi setiap kali bertemu, selalu berakhir dengan pertengkaran.
"Sepulang dari perjalanan jauh itu, dia hanya mengurung diri di kamar. Lebih banyak diam dan tak mau menceritakan pengalaman perjalanannya. Bahkan dia tak punya foto-foto perjalanan. Katanya, kameranya hilang dicuri orang. Jadi dia tak punya foto apapun untuk ditunjukkan!"
"Aku ingat, saat itu aku bilang, 'kenapa kau tak membeli kamera baru? Bukankah uangmu cukup untuk memberi kamera!' seperti itu," ujar Harriet.
Ammo manggut-manggut. "Lalu?"
"Sikapnya memang berubah sejak hari itu. Dari buruk, menjadi lebih buruk lagi. Terutama setelah dia memutuskan untuk pergi dan tinggal sendiri. Entah karena apa, aku tidak menyukainya di alam bawah sadarku. Aku selalu emosi setiap melihatnya," Harriet menunduk sedih.
"Itu bukan salahmu, Bibi. Perasaan seorang ibu tak bisa dibohongi. Sesempurna apapun dia membuat topeng Carl, hatimu akan selalu tau bahwa dia bukan putramu," ungkap Ammo.
"Jadi kapan kita akan ke sana?" tanya Harriet.
Aku butuh identitas Bibi, untuk membuatkan surat perjalananmu," katanya lembut.
Harriet meminta pelayannya mengambilkan kartu identitasnya, lalu diserahkan pada Ammo.
"Aku akan mengabari bibi, saat sudah tiba waktunya berangkat. Kita akan menbalas mereka! Siapapun yang berani berbuat seperti ini, harus mendapat hukuman setimpal!" tandas Ammo.
Ammo melirik jam dinding cantik dari kristal. Sudah pukul sepuluh malam. "Sudah larut, bibi. Apakah kau bisa kutinggal?" tanya Ammo penuh perhatian.
"Apa kau akan membawaku, jika aku tak bisa ditinggal?" canda wanita itu jenaka.
"Sungguh?" Harriet tak percaya Ammo mengundangnya menginap. Adakah saudaranya yang lain diundang menginap di istana itu?
"Hemm, baiklah. Bibi akan mengikuti saranmu. Sesekali liburan di kastilmu yang misterius, bukankah akan mendebarkan?" ujarnya senang. Ammo tersenyum tak berdaya.
Harriet meminta pelayannya untuk menyiapkan beberapa pakaian santai untuk dibawa.
Ammo mengirim pesan pada Theo untuk menyiapkan kamar buat bibinya menginap.
Satu jam kemudian, semua persiapan selesai. Pelayan mengangkat satu buah kopor besar dari lantai atas.
"Aku pergi liburan dulu. Kalian bisa bersantai beberapa hari," ujar Harriet sebelum masuk mobil.
"Baik, Nyonya. Selamat liburan," sahut pelayannya dengan senyuman.
Mobil itu meluncur membelah malam yang makin pekat.
"Kota ini jadi semakin semarak dari waktu ke waktu," ujar Harriet sambil menoleh ke jendela.
"Apa Bibi jarang keluar rumah?" Ammo merasa heran. Bibinya punya kriteria sebagai sosialita di kota ini. Cantik, kaya dan dari keluarga terpandang.
"Aku lebih suka berdiam di rumah atau di greenhouse. Kapan-kapan kau datang, aku akan tunjukkan koleksi tanaman berhargaku," ujarnya bangga.
Ammo mengangguk mengerti. "Apakah berkebun juga hobby yang mahal? Seberapa berharga sebatang pohon?" tanya Ammo heran.
"Hahahaha...."
Tawa Harriet berderai. "Kau ketinggalan jaman, anak muda!" ejeknya sambil tertawa.
"Aku? Ketinggalan jaman?" Ammo menunjuk dirinya sendiri. "Bukankah itu terdengar aneh?" bantahnya.
"Tanaman juga ada yang berharga. Kau bisa sebut itu sebagai investasi kecil-kecilan! Itu sebabnya aku membangun grren house!" jelas Harriet bangga.
"Benarkah?" Ammo benar-benar tak percaya.
"Coba Bibi lihat di rumahku. Ada banyak macam pohon dan bunga. Apakah ada diantara itu yang cukup berharga? Jika ya, kurasa aku akan meminta Theo membangun green house juga dan memindahkan tanaman itu ke sana!" ujar Ammo serius.
"Biar besok kulihat, tanaman apa saja yang ditanam tukang kebunmu." Harriet mengangguk setuju. Dia jadi punya sedikit kesibukan, sambil menunggu surat kunjungannya selesai.
Setelah melewati dua gerbang depan, mata Harriet membelalak melihat taman asri di sisi jalan masuk menuju rumah.
"Kau benar-benar menyia-nyiakan uang!" omel Harriet.
"Kenapa? Apakah ada yang bisa jadi investasi dari bunga-bunga liar itu?" tanya Ammo antusias.
"Bunga liar, katamu?" Harriet menjitak Ammo dengan emosi. "Kau membuat greenhouse-ku jadi lelucon!" ujarnya sengit.
Ammo bingung dan tak percaya.
"Stop, Ted!" perintahnya.
Mobil pun berhenti mendadak. Ammo membuka pintu dan keluar. Harriet ikut keluar.
"Yang mana yang berharga?" tanya Ammo sambil membungkuk, mengamati bunga-bunga di taman. Harriet menyeret tangan Ammo untuk mengikutinya.
"Ini ... ini ... ini." Harriet menunjuk beberapa tanaman yang menurut Ammo tak ada bagus-bagusnya.
"Ini berharga?" tanyanya heran. "Bukannya ini bunga liar jelek dan tak bisa berbunga?"
"Aduhh ... sakit, Bibi," keluh Ammo mengusap lengannya yang kena cubit.
"Aku akan bertanya dengan tukang kebunmu, besok!" ujar Harriet ketus.
"Oke. Minta Theo menemanimu berkeliling, besok. Sekarang, mari kita pulang. Ini sudah sangat larut," bujuk Ammo lembut.
Keduanya kembali masuk ke mobil yang menunggu, untuk mengantar ke rumah.
********