
Satu minggu itu Ammo dan Ana menyibukkan diri merancang beberapa alat yang dapat digunakan para anggota klan. Alat itu harus bisa memudahkan mereka berkomunikasi dengan aman, serta mendeteksi kehadiran musuh.
Selain itu, Ammo juga menyiapkan prototipe suit untuk keamanan mereka, seperti yang dipakai Ammo dan Ana. Dia ingin suit itu dibuat massal untuk orang-orang mereka.
Minggu kedua, lab riset milik Ammo kembali berjalan. Pekerja di bagian ini, khusus diisi orang-orang Klan. Khaan. Dan setelah perdebatan panjang Ana dengan para penasihat klan, akhirnya mereka menyerah dengan keputusan Ana.
Berkat keberadaan ayahnya di klan, Ana berhasil mendapatkan orang-orang terpercaya untuk bekerja di lab riset milik Ammo. Sekarang, mereka tak lagi merasa khawatir akan dikhianati oleh pihak lain.
Ariel, Ivan dan Donny berhasil merekrut karyawan untuk kantor Ammo. Sekarang, semua kembali berjalan normal. Sekretarisnya adalah orang klan yang dibantu oleh Ariel, Ivan serta Donny.
Ammo menjadi lebih bersemangat bekerja. Dia optimis, ketertinggalannya dalam tiga bulan terakhir, bisa dikejar mulai sekarang.
Satu bulan kemudian.
Secara bertahap, orang-orang klan dilengkapi dengan peralatan canggih. Khouk membantu melatih beladiri untuk keterampilan orang-orang itu. Alexei mengajari mereka cara menggunakan senjata. Secara bergantian, beberapa orang berlatih keterampilan bertarung di tempat Alexei.
Ana telah mendapatkan pengawal pribadinya. Ayahnya sendiri yang memilih Gan Chinua dari para pengawal di kediamannya. Gadis itu datang bersama dengan para tenaga tambahan untuk bekerja di lab riset Ammo.
"Apa arti namamu?" tanya Ana pada gadis itu.
"Berkah Tuhan yang pemberani, Pemimpin," jawabnya sopan, sambil terus berjongkok.
"Bagaimana kau biasa dipanggil?" tanya Ana lagi.
"Di klan, aku dipanggil Gan, Pemimpin," sahutnya.
"Baiklah, Gan. Kau bisa berdiri sekarang!" perintah Ana.
Gadis itu dengan patuh. Dia siap menerima perintah apapun. Ana menoleh pada Khouk.
"Bisakah kau bersama paman Alexei melatih orang-orang kita?" tanya Ana.
"Bisa, Pemimpin," jawab Khouk cepat.
"Aku mau, mereka sudah bisa diandalkan dalam satu bulan ke depan. Aku tak ingin menunda ini lebih lama lagi. Banyak mata yang terus mengawasi kita!" jelas Ana.
"Siap, Pemimpin."
Khouk dapat memahami kekhawatiran Ana. Meskipun anggota klan itu sudah bergerak hati-hati, tapi karena semua hal terhubung dengan Ammo. Dan pria itu membuka kantornya lagi. Dapat dipastikan para pengamat di balik kegelapan akan mengendus kegiatan lain di balik kantor Ammo.
"Aku sudah bicara dengan Paman Alexei. Kau bisa langsung ke sana. Atur orang-orang untuk latihan bergantian!" pesan Ana.
"Baik." Khouk mengangguk.
"Terima kasih, Pemimpin. Saya undur diri," ujarnya sembari jongkok, memberi hormat. Kemudian dia pergi.
"Gan, sekarang aku mengandalkanmu!" ujar Ana. Gadis pengawal itu mengangguk.
"Kau bisa istirahat sekarang. Siapkan tenagamu untuk sore nanti!" perintah Ana.
"Baik!" Gan mengangguk lagi.
"Theo, tolong siapkan kamarnya," pinta Ana.
"Kamar sudah saya siapkan, Nona," sahut Theo.
"Mari!" Theo mengajak Gan pergi. Gan mengikuti Theo yang mengajaknya ke lantai dua.
Ana mengeluarkan ponsel dari sakunya. "Ammo, aku ingin pulang ke rumahku sore nanti!" ujar Ana, begitu ponselnya tersambung dengan Ammo.
"Buat apa? Bukankah sangat berbahaya jika kau sendirian?" cegah Ammo.
"Ada Gan yang mengawalku. Dan jangan lupa, aku bukannya tak bisa membela diri!" bantah Ana.
"Aku akan mengantarmu!" putus Ammo.
"Tidak perlu! Aku tak ingin merepotkanmu!" tolak Ana.
"Tak ada yang repot jika itu tentang dirimu!" rayu Ammo.
"Kau makin mahir merayu sekarang," ejek Ana.
"Kukira semua wanita suka dirayu. Tapi kau terlihat tidak terlalu senang," tebak Ammo.
"Aku lebih suka kau yang dulu. Teman bertarung setiap kita bertemu. Kita bisa mengasah kemampuan dan berusaha saling mengungguli." Ana teringat hal-hal dulu, setiap kali dia datang ke kantor Ammo.
"Kalau begitu, tunda kepulanganmu. Aku juga ingin berlatih denganmu. Dan aku masih punya janji dengan seseorang untuk bermain ke Dojo!" ajak Ammo.
"Wow ... terdengar menyenangkan. Baiklah, akan kutunda kepulangan hingga esok! Cepatlah pulang!" ujar Ana senang.
"Sesuai perkataanmu, Nyonya!" sahut Ammo dengan senyuman lebar. Akhirnya dia punya waktu juga keluar bersama Ana. Kesibukan mereka selama satu setengah bulan, membuat hubungan yang baru dirajut itu, terasa hambar.
*******