
"Aku sudah mengatakan pada Ammo tentang Nathalie. Bahwa dia akan ikut ayah. Bukakah itu bagus? Ujar Ana.
Ivan mengangguk setuju.
"Sekarang panggil Nathalie ke sini!" perintah Ivan pada pengawalnya.
"Baik." Pengawal itu berjalan ke luar kamar.
"Alexei di mana?" tanya Ivan.
"Paman ke tempat Nathalie," jawab Ana.
Ivan mengangguk. Dia turun dari tempat tidurnya pelan-pelan dan berjalan ke tempat Ana.
"Ini, pakailah. Hari itu aku pergi untuk membeli kalung ini, sebagai hadiah pernikahan, untuk ibumu. Tetapi tak pernah bisa sampai padanya."
Ivan memasangkan kalung cantik dengan liontin inisial V di leher Ana. "Entah bagaimana pun nasib mempermainkan kita nanti. Ingatlah satu hal. Kau punya tempat kembali. Klan kita akan selalu menerimamu dengan tangan terbuka.
"Bagaimana caranya aku menghubungi kalian sementara aku tak mengetahui di mana tempatnya?" tanya Ana.
"Aku tak membutuhkannya lagi. Jadi, lebih baik kau yang kenakan!" Ivan melepas jam tangan berwarna silver di pergelangannya dan memasangkan di tangan kanan Ana.
Ana tertawa. "Sekarang jam-ku ada dua," katanya geli. Ivan tersenyum melihat wajah cerah Ana.
"Lihat, begini cara pakainya!" Ivan memencet tombol jam, kemudian kaca penutup bagian atas terbuka.
"Kau bisa tekan tanpa telepon ini. Maka akan langsung tersambung dengan penerima di sana. Jika kau ingin dijemput, maka tim penjemput akan dikirim. Jika kau butuh pengawal, maka mereka akan segera tiba!" terang Ivan serius.
"Bagaimana jika gelang ini jatuh ke tangan orang lain?" tanya Ana.
"Kamera mini ini akan menangkap wajahmu. Jika kau tidak terlihat, maka perintah itu tak dianggap sama sekali!" jelas Ivan lagi.
"Tapi, mereka tidak pernah melihatku. Bagaimana mereka akan mempercayai perkataanku?" Ana masih ragu.
Ivan memencet tombol dengan tanda telepon. Tak butuh waktu lama, seseorang menjawab panggilan.
"Ya, Pemimpin." sahutnya.
"Kau boleh merekam suaraku. Aku akan membuat sebuah pengumuman," ujar Ivan.
"Baik, Pemimpin," terdengar jawaban dari seberang.
"Aku sudah menemukan putri kembarku. Yang ini namanya Anastasia. Dia yang lebih tua dan berkemampuan. Aku menyerahkan cincin kekuasaanku padanya. Apa kau mengerti?" tanya Ivan.
"Anda yakin akan melakukan hal itu, Pemimpin?" tanya suara di seberang.
"Ya! Aku sudah memutuskannya tadi malam. Xander menjadi saksi pengangkatan ini," jawab Ivan.
"Ini Anastasia. Kau boleh rekam wajahnya dan beri tahu yang lain tentang keputusanku ini." Ivan menunjukkan wajah Ana di depan kamera yang ada di situ. Lampu merah kecil di dalam jam itu berkedip-kedip.
"Saya sudah merekam wajahnya. Bisa tunjukkan cincin itu di kamera?" kata suara di seberang.
Ana menunjukkan cincin di jempol kanannya.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara kembali. "Hormat pada pemimpin baru. Saya bersedia mrngabdi dan mengikuti perintah Pemimpin Klan, hingga akhir hayat!" ujar orang tersebut.
Ivan tersenyum..Artinya, posisi Ana telah diakui. Hatinya lega. Putrinya akan mendapatkan perlindungan yang cukup dari orang-orang Klan yang tersebar di mana-mana.
"Kapan pemimpin akan kembali? Kami akan mempersiapkan upacara resminya!" kata orang itu lagi.
"Aku baru selesai operasi. Masih dalam perawatan dokter. Tapi jika sudah sehat, kurasa aku akan meluangkan waktu ke sana!" jawab Ana.
"Apakah anda sakit? Kita punya rumah sakit dan dokter yang hebat di sini. Ayah anda juga pernah dirawat di sini. Tapi, pilihan cuci darah tak bisa dielakkan, karena orang lain telah mengambil satu ginjalnya saat itu, dan merusak yang lainnya," beber orang di sana.
"Apa?" Ana terkejut. Jadi, itu sebabnya ayahnya begitu lemah?
"Orang-orang biadab itu. Aku akan membalas mereka!" geram Ana marah.
"Apa keputusan anda sekarang, Pemimpin?" tanya orang di sana lagi.
"Mengirim ayah pulang ke sana, bersama Nathalie dan Xander. Ayah dan Nathalie butuh ketenangan dan perlindungan. Apa kalian bisa melindungi mereka?" tanyanya.
"Bagaimana kalian menjemput mereka?" tanya Ana.
"Beri lokasi Anda, Pemimpin. Dalam waktu satu jam, mereka akan datang menjemput!" sahut orang di sana.
"Tapi sebaiknya Xander ditinggal untuk menjaga keamanan anda di sana!" sarannya.
"Tidak! Aku mempercayakan tanggung jawab keselamatan Ayah dan adikku pada Xander. Dia harus ikut mengawal keduanya," tolak Ana.
Suasana hening sejenak. "Saya akan mengirim orang lain untuk menjaga Anda, Pemimpin!" ujarnya.
"Siapa?" tanya Ana.
"Namanya Khouk. Sebenarnya dia sedang ditugaskan untuk menjaga orang kita juga. Salah satu keturunan penasehat Klan Khaan. Tapi, sampai kami mengirimkan pengawal lain untuk Anda, dia bisa menjaga Anda, Pemimpin," jelas orang itu.
"Baiklah. Aku ikuti pengaturanmu. Namamu siapa?" tanya Ana.
"Nama saya Erdeniin, Tuan Pemimpin!" sahutnya.
"Baik, Erdeniin. Kirimkan penjemputan untuk Ayah, Nathalie dan Xanders secepatnya. Kami sekarang ada di Klinik Dokter Devan." Ana menjelaskan lokasi mereka.
"Baik! Akan segera saya atur." Panggilan itu kemudian terputus.
"Kau berbakat untuk memimpin. Ayah tak salah pilih. Berhati-hatilah setelah ayah pergi!" pesan Ivan.
"Aku tidak mau pergi!" suara Nathalie terdengar kencang di luar. Alexei masih membujuk keponakannya yang manja itu.
Dengan menghentakkan kaki di lantai, dia masuk ke kamar.
"Ayah, bukan aku tak ingin pergi bersamamu. Tapi ada Oscar yang sedang membutuhkanku, sekarang!" jelas Nathalie.
"Dia sedang dirawat. Masih akan lama baru sembuh. Keadannya jauh lebih parah dari pada kamu!" ketus Ana.
"Itu sebabnya dia butuh aku di sampingnya!" debat Nathalie.
"Tidak! Yang dibutuhkannya adalah Dokter Sarah!" tegas Ana.
"Kau!" Nathalie tak tahu mesti bilang apa lagi pada Ana.
"Nyawamu lebih penting dari apapun. Apa kau mau korbankan nyawamu demi dia?" tanya Ana tajam.
Nathalie hanya bisa mendelik mendengar kata-kata Ana.
"Jika dia kembali segat dan keadaan membaik, kau bisa temui dia lagi!" kata Ana tak mau dibantah.
"Tidak mau!" jawabnya bandel.
"Hah ... terserah padamu!" ujar Ana akhirnya. Diliriknya Nathalie yang tersenyum penuh kemenangan
"Blake dan dua pengawal itu akan ditarik Ammo, karena aku sudah bilang kalau kau akan pergi dengan ayah. Aku juga akan pergi. Lalu siapa yang akan melindungimu dari kejaran orang-orang itu?"
Mata Nathalie membesar. Gadis itu menjadi lebih jengkel ketika melihat senyum Ana. "Kau ... kau perempuan culas!" pekiknya tertahan.
Donny dan Ivan mengetuk pintu. "Hai Ana. Aku mau mengucapkan selamat tinggal padamu. Kami dipanggil kembali oleh Ammo," lapor Donny.
Ana mengangguk. Bagus! Dia lebih membutuhkan kalian di sana, dari pada di sini!" ujar Ana.
"Oke. Sampai jumpa lagi!" Donny dan Ivan melambaikan tangan sebelum pergi.
Nathalie terdiam. Yang dikatakan Ana benar. Jika tak ada yang mengawal, bukankah dia akan jadi sasaran mudah?
"Baiklah ... aku ikut ayah!" katanya dengan nada terpaksa.
Tiga puluh menit kemudian. Terdengar panggilan di jam tangan itu. "Ya!" sahut Ana.
"Kami ada di depan klinik ini!" kata suara di seberang.
******