Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
200. Kebijakan Baru Klan


Ana sarapan berdua dengan ayahnya. "Apa kau sudah siap untuk pertemuan pagi ini?"


"Ya." jawab Ana singkat.


"Apa ayah akan ikut hadir pertemuan?" tanya Ana.


Ayahnya mengangguk. "Tetapi, jika kau yakin bisa menghadapi mereka sendiri, maka aku tak perlu hadir."


Mendapat jawaban seperti itu, Ana bertanya lagi. "Apa ayah tidak percaya padaku?"


"Tentu aku percaya padamu. Aku justru tidak mempercayai mereka soal ini. Hati-hati. Mereka punya banyak trick untuk memangkas kekuasaanmu," pesan ayahnya.


"Baik. Akan kuingat. Tapi aku mau Paman Taban dan ayah ikut hadir dalam pertemuan, sebagai putra dari pemimpin terdahulu," ujar Ana tegas.


"Ayah akan menghubunginya agar bersiap-siap. Dan ayah rasa kau sudah punya rencana." Ivan tersenyum melihat Ana yang sangat percaya diri.


"Ya," jawab Ana singkat.


*


*


Pertemuan pertama Anastasia sebagai Pemimpin Klan, dihadiri oleh semua Tetua klan yang juga merangkap sebagai penasehat. Juga para asisten dan pengawas pelaksana kebijakan klan.


Ana duduk di podium yang tidak terlalu tinggi. Di kiri dan kanan, ada ayah dan adik tiri ayahnya. Ana meminta keduanya duduk di sana sebagai mantan Pemimpin Klan sebelum dirinya. Kemudian ada juga Nathalie yang telah dimintanya untuk menjadi sekretarisnya sementara waktu. Gadis itu duduk sedikit di belakang Ana.


Di bagian depan, berdiri berseberangan para tetua sekaligus penasehat klan. Setelah itu, adalah para asisten serta staff lainnya.


Pembawa acara membunyikan lonceng, tanda acara dimulai, setelah Ana menganggukkan kepala.


"Saatnya mendengarkan laporan dari para staf. Dimulai dari kanan!" perintah Ana.


Laporan masuk yang menurut Ana sangat biasa. Ana tidak terlalu tertarik. Tapi dia minta Nathalie untuk mencatat poin penting dari laporan mereka.


Setelah semua mendapat giliran, selanjutnya giliran para penasehat menyampaikan laporan mereka. Ana memperhatikan dengan serius. Dan seperti sebelumnya, laporannya juga sangat bagus.


Setelah semua selesai melaporkan tugas masing-masing, Ana berdehem. Sekarang gilirannya untuk bicara. Setelah memeriksa catatan Nathalie sejenak, Ana menoleh pada semua yang hadir. Dia mengeluarkan beberapa lembar kertas yang telah dikerjakannya subuh tadi.


"Semua laporan yang masuk terlihat bagus. Saya akan memeriksa itu nanti langsung ke lapangan," ujarnya.


"Sekarang saya mau memilah jabatan yang saling tumpang tindih. Para tetua akan kembali kepada kedudukannya sebagai tetua yang dihormati, tanpa dibebani lagi dengan segala urusan rutin klan. Kemudian saya akan mengangkat penasehat yang baru. Jadi tidak ada lagi rangkap jabatan. Masing-masing fokus dengan tugas dan jabatannya saja."


Ana menoleh ke kanan dan kirinya. "Paman Taban dan juga Ayah akan menjadi penasehat saya yang baru. Saya tidak butuh banyak penasehat. Cukup orang yang sejalan dan sepemikiran saja," ujar Ana.


Suara dengung mulai terdengar di ruangan. Ana mengetukkan palu kecil di mejanya untuk membuat mereka kembali tenang.


"Selanjutnya. saya akan membuat kebijakan baru." Ana melanjutkan kata-katanya. Peserta pertemuan menunggu kejutan apa lagi yang akan dilontarkan gadis itu.


"Orang-orang klan yang berada di luar. Diberi ijin untuk kembali ke klan. Sejauh dia tidak pernah berkhianat pada klan, dia boleh sekedar datang ke sini ataupun menetap kembali di tanah klan ini!"


Dengungan suara menjadi lebih riuh dari sebelumnya. Tapi Ana tidak terlalu mempedulikannya.


"Jika ada yang tidak ingin mendengarkan, silakan keluar dari ruangan dan jangan pernah kembali lagi ke sini!" ujar Ana tegas.


Seketika ruangan menjadi hening. Mereka duduk diam dan patuh, saat Ana mengangkat cincinnya. Gadis itu menggelengkan kepala tak suka.


"Apakah kalian selalu ribut seperti ini? Tadi saat kalian bicara, saya mendengarkan dengan tenang dan meminta Nathalie mencatat semua poin pentingnya. Kenapa saat saya bicara kalian selalu ribut? Saya bahkan belum selesai menjelaskannya!" ujar Ana marah.


"Bagaimana klan ini bisa dihormati pihak lain, kalau sikap kalian seperti ini? Enggan mendengarkan pendapat pihak lain yang ingin memajukan klan, adalah sikap yang sangat ceroboh! Saya akan merubah hal-hal yang menghambat upaya kemajuan klan. Yang tidak senang atau pun tidak setuju, silakan keluar dari sini! Saya tak bisa bekerja sama dengan orang-orang yang seperti itu!"


Ruangan hening. Tak ada yang beranjak dari duduknya. Ana memperhatikan mereka sekali lagi.


"Sekarang akan saya lanjutkan," ujar Ana.


"Orang-orang yang sudah keluar dari klan tanpa ijin, diperbolehkan kembali. Namun, hanya bisa tinggal di perbatasan klan, di kaki gunung. Kita akan meminta mereka membangun perkampungan baru di kaki gunung dan mengerjakan lahan yang selama ini diabaikan. Hasilnya harus dibagi menurut perhitungan yang mendetail yang akan dibahas nanti."


"Tujuan membawa mereka kembali adalah untuk memperbesar klan yang sekilas saya lihat, penduduknya sangat sedikit. Dan satu lagi, tidak semua orang cocok untuk tinggal di puncak gunung!"


"Selain tu, tujuan utamanya adalah memperkuat daerah perbatasan kita. Jika selama ini hanya dijaga oleh sedikit penjaga yang berpatroli bergantian, maka dengan adanya penduduk, maka perbatasan akan otomatis jadi lebih kuat. Penduduk yang ada, akan membantu para penjaga, menjaga wilayah kita!"


Ana melihat orang-orang dan menunggu reaksi mereka. Mereka hanya saling berpandangan. Entah mengerti, entah tidak.


"Sementara itu saja yang perlu saya sampaikan. Hal lainnya akan menyusul kemudian.


Ana memberikan beberapa lembar kertas yang telah disiapkannya. Meminta Natalie untuk mengetik, mencetak dan mengedarkan keputusannya pada anggota klan lain di luar sana.


Ana dan rombongannya keluar ruang pertemuan. Ayah dan pamannya mengantarkan menuju ruang kerja yang sudah dirapikan dan ditata ulang oleh Nathalie.


"Kau jadi tangan kananku di sini." Ana memeluk pundak Nathalie. Kembarannya itu mengangguk senang.


"Ruangan yang sangat bagus. Sangat banyak hiasan di sini." Ana melihat rak kaca setinggi plafon diletakkan sebagai penyekat ruangan dengan area di mana dia bisa menerima tamu ataupun istirahat minum teh.


"Itu adalah semua hadiah yang diberikan oleh kepala-kepala negar lain di masa-masa jaya klan kita. Sebelum pemberontakan itu terjadi," jelas pamannya.


"Aku senang paman bersedia membantu membangun klan kita," kata Ana tulus.


"Itulah pesan ayahku. Sebagai anak, aku harus patuh. Aku hanya pemimpin sementara yang dipercaya ayah untuk terus mencari Kak Erden," jelas pamannya.


"Dan pencarian paman tidak sia-sia. Akhirnya kita semua bersama lagi sebagai satu keluarga. Terima kasih, Paman." Ana menganggukkan kepalanya sedikit untuk menunjukkan rasa hormatnya, Pria itu tersenyum tipis.


"Lalu, di mana ruangan ayah dan paman?" tanya Ana.


"Biarkan para penasehat itu membersihkan ruangan mereka dulu. Setelah itu baru kami memilih ruangan sendiri," ujar ayahnya.


"Atau cari ruangan lain yang masih kosong," timpal Nathalie.


"Jika masih ada ruangan kosong, gunakan saja. Nanti bekas ruangan para penasehat itu, kita jadikan ruangan lain. Aku masih punya banyak rencana. Tapi sebelumnya, ingin melihat keadaan riil anggota klan di luar sana."


*******