
Iring-iringan mobil sampai di tempat sakral Klan. Sebagai salah seorang keturunan Klan Khaan, Ammo juga ingin mengunjungi makam leluhurnya.
Areal pemakaman itu sangat bagus dan asri. Didampingi oleh Ana, mereka melewati gapura besar dan berukir indah. Di belakang, mengikuti Ayah, Paman, dan juga Nathalie. Mereka kuga sekalian berziarah ke makam leluhur.
"Ammo!" terdengar panggilan nyaring dan riang.
Ammo menoleh. Matanya membesar, melihat orang yang memanggilnya. Itu Lindsay dan juga Brandy. Kedua gadis itu mengenakan pakaian tradisional yang sangat cantik.
"Selamat datang pemimpin," sapa mereka dengan sopan setelah mendapat teguran dari protokol atas tindakan tidak sopan tersebut. Ana mengangguk dan tersenyum penuh pengertian pada kedua gadis itu.
"Akhirnya aku melihat kalian lagi. Di mana Kakek Wilson?" tanya Ammo dengan bahagia.
"Ada di dekat sana!" tunjuk Lindsay ke satu arah.
Ammo menoleh ke arah itu, tapi tak menemukan yang dicarinya. Lalu dia menoleh ke atah Ana yang terus tersenyum di sebelah.
"Apa ini kejutanmu?" tanya Ammo senang.
"Apa kau senang?" tanya Ana.
"Aku bahagia. Terima kasih. Terima kasih juga sudah menyelamatkan mereka dari penculikan," ujar Ammo tulus.
"Bukan aku yang melakukannya. Seperti juga Xander dan Khouk, ada orang lain lagi yang juga ternyata ditugaskan untuk menjaga Kakek Wilson. Dia yang menyelamatkan mereka." jelas Ana.
"Apa aku bisa bertemu dengannya? Aku ingin berterima kasih padanya," tanya Ammo sambil berjalan.
"Semoga dia ikut hadir di sini," sahut Ana.
Sekarang rombongan itu menaiki tangga batu yang tingginya mencapai dua puluh anak tangga, mencapai puncak.
Setiap lima anak tangga, mereka akan melewati pelataran selebar kurang lebih sepuluh meter yang juga berisi makam-makan tua dari para pejabat sebelum-sebelumnya. Nama-nama yang ada di situ adalah nama-nama yang menjadi cikal bakal anggota klan Khaan.
Keduanya menaiki undakan lapisan kedua, kemudian pelataran lain yang juga berisi makam. Tapi rombongan itu melewatinya. Lalu menaiki undakan tangga lapisan ketiga.
Setelah berada di pelataran, barulah Ammo bertemu dengan orang yang dicarinya. Tapi dia tak bisa langsung menghampiri, karena sesuai protokol, maka anggota klan harus menghormati pemimpinnya dulu, jika melihat kehadirannya.
"Selamat datang, Pemimpin." Dua orang pria menunduk takzim setelah melihat kehadiran Ana dan rombongannya.
Ana mengangguk sopan dan tersenyum pada keduanya. "Dia tak sabar untuk menyapamu," ujar Ana.
"Kakek Wilson!" seru Ammo senang. Pria itu bergegas menghampiri dan memeluk pria tua itu.
"Aku senang karena ternyata kau aman. Siapakah yang menyelamatkan kalian? Aku ingin berterima kasih padanya," ujar Ammo.
"Ini orangnya. Namanya Selem. Aku juga baru tahu kalau ternyata selama beberapa waktu telah berada dalam pengawasan seseorang." Kakek Wilson menunjuk pria tua yang berdiri di sebelahnya.
"Terima kasih karena sudah menyelamatkan Kakek Wilson dan keluarganya!" ujar Ammo tulus sambil menjabat tangan Selem.
"Itu tugas yang diberikan pada saya. Saat itu, saya juga dibantu oleh Khouk, karena Tuan Wilson termasuk orang anda. Saya sudah memintanya untuk mengabari anda bahwa tiga orang yang anda cari, aman bersama saya." jelasnya.
"Jadi, Khouk yang melemparkan panah informasi itu ke rumah." Ammo mengangguk mengerti.
"Oh ya, saya menemukan sebuah kancing dengan bentuk unik yang berada dalam genggaman tangan sopir Kakek Wilson saat dia dievakuasi. Apakah anda ada kehilangan sesuatu?" tanya Ammo.
"Jika kau sangat membutuhkannya, aku akan mengirimkannya padamu, nanti," kata Ammo.
"Tidak apa-apa. Tugas saya untuk itu sudah selesai. Jika mendapat tugas baru, maka saya akan mendapat tanda pengenal baru lagi," jelasnya.
"Baiklah, mari kita lanjutkan ke puncak makam," ajak Ana.
"Baik, pemimpin."
Rombongan itu melanjutkan langkah menaiki undakan tangga terakhir yang menuju kompleks pemakaman para pemimpin klan.
"Kakek Wilson, Kalau makam leluhurku, di sebelah mana?" bisik Ammo bertanya.
"Leluhur anda ada di baris pelataran tadi. Nanti, setelah mengunjungi makam para pemimpin, anda bisa mengambil waktu untuk melihat makam leluhur keluarga Oswald," jelas Kakek Wilson. Ammo mengangguk. Mereka sudah sampai di pelataran atas. beberapa makam megah dengan hiasan dan ukiran berjejer rapi di sana.
Seorang pemandu dan penjaga makam, memberi hormat pada Ana dan keluarganya. Kemudian mulai menjelaskan makam para pendiri klan, pemimpin pertama dan seterusnya. Hingga mereka akhirnya berdiri di depan makam kakek Ana.
Meskipun sudah pernah ke sana, tetap saja ada rasa sedih di hatinya. Ana belum menemukan di mana ibunya dimakamkan, hingga tak bisa memindahkannya ke kompleks ini. Hatinya masih selalu sakit setiap kali kenangan kematian ibunya melintas di depan mata.
Acara sudah selesai di sana. Ammo dipersilakan untuk mengunjungi makam leluhurnya. Kakek Wilson langsung membawa Ammo dan dua gadis itu turun ke pelataran kedua.
Ana dan keluarganya tak ingin mengganggu, jadi mereka akan menunggu sejenak di atas bukit itu. Tapi tak dinyana, Ammo justru meraih tangan Ana dan menariknya untuk mengikutinya ke makam di bawah.
Seorang petugas pengawalan bereaksi cepat mencegatnya. "Hei! Jangan bertindak tidak sopan!"
Ana menengahi. "Tidak apa-apa. Kami sudah berteman sejak kecil. Dia tak akan melakukan hal buruk!" jelas Ana.
Karena Ayah Ana menarik tangan pengawal, maka orang itu membiarkan Ana pergi. "Tidak apa-apa."
Rombongan itu akhirnya mengikuti dari belakang. Sementara Gan dan para pengawal pribadi Ana sudah lebih dulu mengikuti gadis itu yang pergi bersama Ammo.
Kakek Wilson menjelaskan makam leluhur pertama Oswald yang bergabung dalam klan lalu keturunan berikutnya, hingga pada kakek buyutnya, yang menjadi makam terakhir keluarga Oswald di klan.
Ammo menundukkan kepala. "Kakek buyut, aku Edmund Emmerson Oswald, datang menyapa," ujarnya.
Rombongan keluarga Ana akhirnya juga sampai di sana dan mengamati.
"Di depanmu, aku ingin melamar pemimpin Klan Khann untuk menjadi istriku. Tolong direstui," ujarnya dengan suara lantang, hingga bisa didengar dengan jelas. Termasuk juga oleh keluarga Ana.
"Tidak sopan!" Kakek Wilson mengetuk kepala Ammo dengan topi yang dipegangnya.
"Aduhh ... tidak sopan bagaimana? Bukankah aku melamarnya di depan kakek buyutku dan juga keluarganya? Itu untuk menghormatinya. Agar dia percaya bahwa aku serius dan tidak akan mempermalukannya!" Ammo membela diri.
"Apa yang kau pikirkan? Dia Pemimpin Klan. Kau harus mencari cara yang lebih elegan dan manis. Masa melamar gadis di depan makam?" Mata kakek WIlson melotot marah.
Lindsay dan Brandy tertawa. Ana hanya tersenyum. Kemudian menoleh pada ayahnya. Keluarganya juga tersenyum. Tampaknya tak ada yang keberatan dengan tindakan Ammo.
Ammo menoleh pada Ana. Ingin tahu, apakah gadis itu tersinggung atau tidak dengan tindakannya.
*******