
Pagi hari, Ana turun ke basement. Dia membawa sebungkus biskuit kering dan cangkir dari kertas berisi air putih.
Alexei melihatnya turun, tapi tak menggubris. Dia tak ingin mencampuri urusan Ana. Alexei percaya Ana tahu apa yang harus dilakukannya.
Di ruang rahasia, Alena sudah sadar dari pingsannya. Dia mencoba melepaskan diri dari kursi besi yang rebah di lantai yang dingin. Tubuhnya terasa menggingil terpapar udara dingin ruangan dan lantai.
"Kau masih belum belajar sesuatu!" sinis Ana.
Diletakkannya makanan dan gelas air di meja. Diperbaikinya posisi kursi itu. Ana mengambil lagi kabel listrik dan menempelkannya langsung ke kaki kursi dari besi.
"Jangan macam-macam. Atau kau akan mengalami hal yang lebih buruk dari sebelumnya!" ujar Ana memperingatkan.
Kali ini Alena patuh dan menahan diri. Bersyukur setruman sebelumnya tidak sampai membuatnya mati. Dia bisa melihat bahwa kabel listrik itu kini membelit kaki kursi. Keberuntungan tidak akan datang dua kali.
"Makan ini!" Ana menyodorkan sekeping biskuit ke mulut Alena. Gadis itu mengelak ke samping, menepis makanan tang diberi Ana.
"Kau mogok makan? Heh ... lucu sekali!" Ana tertawa mengejek.
"Apa kau juga mogok minum?" Ana mengangkat cangkir kertas itu ke arah Alena.
Dia kembali tertawa melihat tahanannya membuang muka. "Oke, nikmatilah hari-hari panjangmy tanpa makanan dan minuman lagi!" Ana menuangkan air di cangkir ke kepala Alena.
"Aku akan memdukung aksi mogok makan dan minummy. Sampai jumpa!"
Ana membawa kembali bungkusan biskuit dan gelas kertas yang dibawanya. Kemudian dia keluar dan menutup pintu. Disetelnya rusng penyimpanan itu lebih dingin lima derajat lagi.
"Bagaimana dia?" tanya Alexei.
"Mogok makan!" sahut Ana santai.
"Besok dia akan mulai melunak," timpal Alexei.
Ana mengangguk. Kemudian membantu Alexei menyiapkan sarapan. Tak lama, terdengar jeritan menyayat dari kamar.
"Itu Maya!" Ivan melompat dari sofa, menuju ke kamar.
"Ada apa?" tanyanya.
Ana menyusul masuk kamar. Maya duduk di ujung tempat tidur, memeluk kedua kakinya. Menunduk hingga rambutnya menutupi wajah.
Alexei juga melihat hal itu. "Mungkin dia mimpi buruk?" tanyanya.
Ana segera naik ke tempat tidur dan mendekati Maya. "Maya, ada apa? Apa kau bermimpi?" tanya Ana lembut.
Tapi reaksi Maya diluar dugaan. Dia menyerang Ana dengan beringas. Ana mengelak, hingga sekarang tubuh Maya berada di atas dan berusaha memiting tangan Ana yang menahan gerakan Maya.
"Bantu dia!" seru Alexei, melihat Ivan terkejut. Dua pria itu memisahkan Maya dari Ana. Maya terus mencakar. Bahkan lengan Alexei ikut jadi korban.
Ana turun dari tempat tidur dengan wajah dingin. Tangannya melayang ke pipi Maya.
Plakkk!
Tamparan itu sangat keras, hingga membuat kepala Maya menoleh ke samping. Tapi dia segera terdiam. "Ada apa denganmu!" hardik Ana kesal.
"Sudahlah ... dia mungkin sedang terbawa mimpi," bujuk Alexei.
"Saat terakhir aku menyelamatkannya, dia tidak selinglung ini! Apa yang sudah terjadi sebenarnya?" Ana benar-benar tak mengerti.
"Ada gap, sejak dia hilang dari pantauanmu, hingga ditemukan Donny dan Ivan," jelas Alexei.
"Ya. Kita tak tau apa yang dialaminya lagi saat itu. Mungkin lebih mengerikan dari sebelumnya. Hingga mengguncang jiwanya!" tambah Ivan.
Maya kini berbaring lemah di tempat tidur. Matanya menatap kosong.
"Tapi kemarin, dia masih bisa mengelabui Donny dan kabur dari rumah itu. Kenapa sekarang dia jadi begini?" Ana tak bisa memahaminya.
"Baiknya kau bicarakan hal ini fengan Bos. Mungkin dia ada solusinya. Jika kau terus mengurus Maya yang keadaannya makin buruk, kau tak bisa bergerak maju dan membalaskan dendam!" Ivan memberi saran yang masuk akal.
Ana merenungkan kata-kata Ivan. Dan memang sekarang perhatiannya terpecah. Mungkin lebih baik mengirim Maya ke tempat perawatan khusus milik Ammo. Jadi dia bisa kembali berkonsentrasi mengusut kematian ibunya.
Ana meraih ponsel dan menghubungi Ammo.
"Ya, katakan ada apa!" terdengar sahutan dari sana.
"Apakah kau punya tempat perswatan mental? Maya makin memburuk!" ujar Ana.
Tak segera terdengar jawaban dari sana. Ana menunggu dengan tak sabaran.
"Beri alamatmu, kukirim Sawyer ke sana dalam dua jam!" kata Ammo.
"Kau lebih mempercayai Ivan dari pada aku?" pertanyaan Ammo sangat telak.
Ana terdiam tak bisa membantah. Dia juga tak tahu kenapa langsung menolak rencana Ammo. Padahal Ivan bahkan sudah berada di rumahnya. Rumah rahasia apa! Sebentar lagi tempat ini akan segera diketahui banyak orang, termasuk The Hunters.
"Baik. akan kukirim alamatnya. Terima kasih," sahut Ana. Panggilan telepon itu putus.
"Siapkan sarapan, nanti Sawyer akan menjemput Maya ke sini!" kata Ana.
"Dan kau, ikut bersama dengannya!" katanya pada Ivan.
"Baiklah!" Ivan mengangguk.
Hampir dua jam kemudian.
Suara helikopter terdengar di atap rumah. Ana keluar. Dia melihat helikopter Ammo di atas sana. Ditunjuknya Jalan masuk rumahnya sebagai tempat pendaratan darurat.
Sawyer harus ekstra hati-hati menurunkan burung besinya. Beruntung jalan masuk itu berada di tengah halaman dan jauh dari pohon-pohon di sekitarnya. Heli itu mendarat dengan selamat. Seseorang turun. Dia berpakaian seperti seorang dokter. Pria itu berlari menuju tempat Ana berdiri di teras.
"Di mana pasiennya?" tanya pria itu.
"Ammo yang mengirimmu ke sini?" tanya Ana. Pria itu mengangguk.
Ana membawanya masuk ke rumah. Ditunjuknya Maya yang sedang duduk mematung di depan televisi. Pandangannya kosong. Tak mempedulikan apapun di sekitarnya.
"Aku harus menyuntiknya, agar tenang selama penerbangan," ujar pria itu. Ana mengangguk mempersilakan.
Ivan sudah bersiap disamping Maya. Dokter itu menyuntik lengannya. Dan Maya tak bereaksi. Menoleh pun tidak. Hati Ana merasa sakit melihatnya. "Bagaimana Maya bisa berakhir begini?" pikirnya geram.
Tak butuh waktu lama sampai Maya tertidur. Ivan membopong tubuh Maya keluar dan membawanya ke helikopter.
Penjemputan itu segera selesai. "Kami pergi!" ujar Ivan.
"Hati-hati!" pesan Ana.
Helikopter itu naik perlahan, kemudian menghilang dari pandangan. Ana kembali masuk ke rumah. Hatinya masih gundah. Tapi Ana percaya, Ammo takkan mengirim Maya ke sembarang tempat perawatan lagi.
"Apa rencanamu, sekarang?" tanya Alexei.
"Rumah ini sudah diketahui banyak orang. Tidak aman lagi. Kita harus pindah lagi!" kata Ana.
Alexei merasa iba melihat keponakannya terus melarikan diri seperti itu. Apa kau punya tempat lain?" tanyanya.
"Aku punya tempat lain. Tapi dengan gadis sialan di basement itu, maka jadi mustahil!" Ana menggeram kesal.
"Bagaimana kalau ke tempatku? Tidak akan ada yang menyangka bukan?" tawar Alexei.
"Tapi, jika The Hunters mengetahuinya, maka tempat paman akan jadi neraka!" Ana mengingatkan.
"Kehilanganmu, barulah neraka!" Alexei tersenyum untuk menenangkan kekhawatiran Ana.
"Baik. Aku bereskan beberapa keperluan dulu." Ana masuk ke kamar dan satu jam kemudian, keluar dengan tas yang terlihat berat.
"Mari kubantu. Katakan mau dibawa ke mana!" tanyanya.
Ana memberikan tas itu ke tangan Alexei. Memindahkan beban berat itu pada pamannya.
"Apa kau membawa harta karunmu?" komentar Alexei setelah merasakan beratnya tas itu.
Ana tertawa kecil. Dia memeriksa dan memasang semua pengaman halaman dan rumah. Diambilnya juga laptop yang didimpannya dibalik lemari pantry.
Keduanya menuju garasi bawah tanah. Kali ini Ana memilih mobil sport sebagai kendaraannya. Semua bawaan dimasukkan dan diletakkan di belakang jok mobil.
"Gadis itu mau kau taruh di mana?" Alexei melihat hanya ada dua seat di mobil itu.
"Dia penumpang gelap. Lebih cocok diletakkan di bagasi!" suara Ana terdengar dingin.
Alexei tak bertanya lagi. Dia mengikuti saja rencana Ana, agar gadis itu tak bertambah kesal.
Sekarang Ana pergi menjemput Alena di ruang rahasia tempat penyimpanan makanannya. Di tangannya ada satu alat suntik.
Ana membuka pintu. Dilihatnya tubuh Alena yang mulai menggigil kedinginan. Tapi tak ada rasa iba sedikitpun pada gadis itu. Lengan gadis itu disuntik. Ana menunggu selama lima menit, sampai gadis itu benar-benar tertidur pulas.
Ana melepas ikatan dan menyeretnya keluar menuju garasi. Alexei membantu memasukkan gadis yang terikat tangan kaki dan disumpal mulutnya, ke dalam bagasi mobil.
Ana memeriksa pengamanan rumah sekali lagi. Setelah itu, dibawanya mobil itu keluar lewat jalur rahasia.
*********