Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
107. Pemakanan Carl


Helikopter Ammo sampai di kompleks pemakaman keluarga Oswald. Sudah banyak mobil terparkir dengan rapi. Ammo menawarkan tangannya untuk membantu Ana turun, sebagai bentuk kesopanan di depan keluarganya.


Ana ingin menepisnya. Dia sudah siap untuk melompat turun. Tapi Alexei mengingatkan. "Hargai tata cara keluarga Oswald!"


Sambil cemberut, Ana memegang tangan Ammo dan turun dari helikopter. Banyak mata menatapnya dengan alis diangkat tinggi. Kemudian mereka membuang muka.


Brenton menegur istrinya yang melengos tak sopan. "Jaga sikapmu!" Dia bergegas menyongsong Ammo dengan wajah cerah.


"Akhirnya kau tiba," sambutnya.


"Apakah aku terlambat?" tanya Ammo.


"Tidak. Kami juga baru sampai dari bandara. Tapi yang lain sudah menunggu sejak satu jam," ujar Brenton Oswald.


"Hemm...." Ammo berdehem dan terus melangkah.


"Apa kabar Bibi Grace?" sapa Ammo pada istri Brenton yang berdiri tak jauh.


"Kabar baik, Ammo sayang," sahutnya dengan senyuman anggun. "Siapa dia?" Matanya mengarah pada Ana.


"Perkenalkan, ini temanku, Ana. Kami langsung ke sini dari kantor," jawab Ammo.


Ana menganggukkan kepalanya sedikit pada Grace. "Salam, Bibi Grace," sapanya.


Grace terlihat tak terlalu senang melihat Ana. Jadi dia juga hanya mengangguk sekilas, sebelum kembali mengalihkan perhatian pada Ammo.


"Kuharap kau bersedia datang untuk makan malam, kapan-kapan," ujarnya penuh harap.


"Aku tak ingin merepotkan Bibi," tolak Ammo halus. Diciumnya tangan wanita itu dengan hormat.


Grace mengangkat sedikit dagunya dan tersenyum anggun. Dia puas dengan perlakuan Ammo. Bagaimanapun, dia adalah istri dari anggota keluarga tertua keluarga Oswald. Sedikit kebanggannya yang tersisa, setelah pengkhianatan demi pengkhianatan suaminya diketahui publik.


"Mari, orang-orang sudah menunggu," ajak Brenton sebelum keadaan menjadi canggung.


"Mari, Bibi. Yang lebih tua harus didahulukan," ujar Ammo.


"Kau memang yang paling terpelajar dari generasi muda keluarga ini," pujinya.


Ammo tersenyum tipis. Dia mengiringi suami istri itu dari belakang, bersama Ana. Keluarga Oswald lainnya telah berada jauh di depan.


Harriet terlihat sangat lelah di kursi rodanya. Matanya kuyu dan kehilangan cahaya. Ana mendekati dan memeluknya tanpa canggung.


"Jangan bersedih, Bibi," hiburnya. Harriet membiarkan pelukan Ana lebih lama. Matanya menelisik gadis itu.


"Apa seperti ini penyamaranmu?" kritiknya. "Tak ada beda dengan sebelumnya!"


Ana tertawa kecil. "Selama dua hari, aku menggantikan tugas Ammo di kantor," jelas Ana.


"Jika dia menyulitkanmu, katakan padaku!" Harriet melirik Ammo yang sibuk memeriksa persiapan acara.


"Acara akan dimulai, Bibi."


Ammo mendorong kursi roda Harriet lebih dekat ke lubang makam. Seorang pemuka agama telah berdiri di samping peti mati Carl.


Acara dimulai. Doa-doa dipanjatkan dan para anggota keluarga mengikuti dengan tertib. Kesedihan terasa menggantung di udara. Meski Carl selalu menjengkelkan semasa hidup, tapi mereka juga tak senang saat mengetahui bahwa ada orang lain yang mengambil keuntungan atas kematiannya, lalu menyamar dan merampok uang keluarga Oswald selama lima tahun.


Hanya Harriet yang benar-benar bersedih dan kehilangan. Tangisannya sulit untuk diredakan. Ana terus menggenggam tangan Harriet yang dilapisi sarung tangan hitam. Mengalirkan energi positifnya pada wanita paruh baya yang sedang rapuh itu.


Acara usai setelah peti mati dimasukkan ke liang lahat. Para pekerja menimbunnya dengan cekatan. Putri Grace datang dengan sekeranjang bunga. Diserahkan pada Harriet.


Tangan tua dan gemetar itu menaburkan bunga-bunga di atas pusara putra tercintanya. Air mata Harriet tak berhenti mengalir. Anggota keluarga lain menyodorkan tissue untuknya. Mereka menaburkan bunga bergantian, hingga seluruh tanah merah itu jadi hamparan kelopak bunga.


"Kau sangat dicintai, Carl. Kau sangat dicintai keluarga ini," lirih Harriet dengan hati perih.


"Apa kau mau kutemani di rumah, malam ini?" tawar Grace.


Harriet menoleh pada Ammo yang sedang mendorong kursi rodanya. Ammo mengerti arti tatapan itu.


"Bibi Harriet akan di rumahku untuk sementara," jawab Ammo.


"Jangan merepotkan Ammo," cehah Grace.


"Kau sudah menangkap orang itu?" Mereka terkejut. Betapa cepatnya langkah Ammo membereskan penjahat itu.


"Kau bilang, Aaron?" tanya Calvin terkejut. "Ap-apakah—"


"Ya, mereka bekerja sama!" jawab Ammo tajam.


Suarang berdengung seperti lebah terdengar, saat semua orang mulai berbisik-bisik dan memandang Calvin dengan tatapan tak senang. Istrinya Annette tiba-tiba merasakan dingin di tengkuknya. Terasa seperti sedang menghadapi sidang hukuman mati.


"Aku akan menyelidiki dengan jelas, apakah Aaron terlibat pembunuhan Carl atau hanya bekerja sama untuk menghancurkan perusahaan!" jelas Ammo.


Taman pemakaman itu kembali berdengung, seakan ada sekawanan lebah sedang terbang mengitari tempat itu. Mereka saling berspekulasi dan menyayangkan keterlibatan Aaron.


"Tak disangka ... dia pendiam dan tidak menonjolkan diri, ternyata hanyalah kamuflase!" sindir salah satu anggota keluarga dengan suara keras. Sangat jelas sindiran itu ditujukan pada Calvin dan istrinya.


Calvin dan istrinya tak berkutik. Dia hanyalah keluarga jauh yang dibawa masuk oleh kakek Ammo. Tak disangkanya sama sekali, putranya bisa dihasut orang hingga mengkhianati kepercayaan keluarga.


Calvin ingin sekali menghajar putra yang tak tahu terima kasih itu. Tapi sekarang dia tak berkutik menghadapi kesinisan keluarga besar ini. Dia benar-benar sudah kehilangan muka.


Ammo tak peduli apa yang digossipkan kerabatnya di belakang. Dia ingin membawa Harriet pulang lebih cepat untuk beristirahat.


"Bibi ingin naik helikopter bersamaku atau—"


"Aku kembali dengan mobil Kapten Smith saja," putus Harriet.


"Baik. Smith, tolong kawal Bibi sampai di rumah," perintah Ammo.


"Siap, Bos!" sahutnya. Kursi roda itu diambil alihnya dari tangan Ammo. Kemudian di dorong ke arah mobil tak jauh dari situ.


Ammo meneruskan langkah bersama Ana. Letak helikopter masih agak jauh dari tempat parkir mobil yang dekat dengan pintu masuk.


"Kita pulang ke rumah!" perintah Ammo pada Alexei.


"Siap!"


Dia segera berlari menuju helikopternya. Ammo, Ana dan seorang pengawal, menyusul masuk. Mesin segera dinyalakan dan baling-baling pun berputar.


Tak lama, burung besi itu telah melayang di langit kota. Langit di Barat mulai berubah warna menuju senja. Suasana hening itu dipecahkan suara Ana yang tiba-tiba.


"Aku ingin berkunjung ke panti," ujarnya.


"Jika keadaan sudah membaik, kau boleh pergi ke sana!" tegas Ammo.


"Aku tak takut dengan ancaman Biro. Jika mereka terus mendesakku, aku akan melawan! Kita tak boleh mengalah terus!" sanggah Ana.


"Aku harus mulai mencari jejak ayah. Nathalie harus—"


"Tunggu, Nona. Apakah kau ounya saudari kembar bernama Nathalie?" tanya Alexei.


Ammo dan Ana menoleh cepat. "Bagaimana kau tau?" Ammo menatap Alexei tajam. Tak banyak yang tahu tentang saudari kembar Ana.


"Aku merasa tertarik ikut denganmu tadi pagi, karena kau menyebut nama Anastasia," jelas Alexei.


"Tapi yang kulihat, penampilannya sangat berbeda dari bayanganku! Jadi, kuabaikan. Mungkin hanya kebetulan punya nama sama," tambah Alexei lagi.


"Lanjutkan!" perintah Ammo.


"Tapi mendengar dia menyebut Nathalie dan mencari ayah, kurasa aku tak mungkin keliru. Kau pasti orang yang kucari selama ini!" bebernya.


Alexei yang masih ingin bicara, mendadak diam saat menyadari dua pistol diarahkan padanya.


"Apa kau anggota The Hunters?" tanya Ana dan Ammo dengan suara dingin.


"Apa? Bukan!" gelengnya cepat.


"Lalu siapa kau!" Ammo telah membuka pengaman pistolnya. Dia siap untuk memuntahkan peluru kapan saja, bahkan meskipun itu di atas ketinggian.


*********