
"Tak ada maksud. Aku hanya ingin kau menjadi nyonya besar di kediaman Oswald," jawab Ammo jujur.
Karena kebingungan dengan perkataan Ammo, Ana terdiam cukup lama. Dia tak tau mau mengetik kata apa dalam pesan berikutnya.
Beberapa menit yang terasa seperti beberapa jam. Jantung Ammo berdetak lebih kencang, hingga dia merasa dapat mendengar suaranya yang seperti suara drumband. Dia tak sabar menunggu balasan pesan dari Ana.
"Apakah dia marah? Apakah dia akan menerimaku? Atau menolak?" batinnya dengan perasaan kecut.
"Apa kau melamarku?" pesan Ana masuk.
Ammo tercenung membaca pesan itu. "Bukankah yang kutulis sudah jelas?" pikirnya bingung.
"Ya!" balas Ammo memberanikan diri. Jarinya bahkan sampai bergetar saat mengetik dua huruf itu.
"Apa kau tidak pernah pacaran?" tanya Ana.
"Apa maksudnya ini?" pikir Ammo saat membaca reply itu. "Apa dia tak percaya padaku?"
"Pak ... Pak!" panggil sekretaris perusahaan.
Ammo terlonjak. Dia kembali sadar bahwa dia sedang berada di tengah-tengah rapat. Dia ketahuan sedang tidak fokus dan melakukan hal lain.
"Ya?" tanya Ammo pada sekretaris itu.
"Apakah presentasi itu sudah sesuai dengan keinginan Anda?" Sekretaris itu bicara dengan suara rendah sambil menunjukkan video presentasi yang tadi luput dari pengamatan Ammo.
Ammo mengalihkan perhatiannya pada presentasi tersebut. Tak butuh waktu lama, dia mengangkat wajahnya dari laptop.
"Tolong revisi point 3 dan 4. Saya ingin lihat hasil bagian itu dulu, baru kita bicarakan point berikutnya!" ujar Ammo.
Divisi pemasaran menghempaskan napas berat. Revisi lagi, revisi lagi. Dari enam point, hanya dua point awal yang disukai Bos besar. Pada hal mereka sudah bekerja keras selama seminggu untuk menyajikan perencanaan baru.
"Kalian keberatan?" tanya Ammo. Pandangannya tajam.
"Tidak! Akan segera kami perbaiki!" jawab kepala Divisi Pemasaran cepat.
"Waktunya satu minggu!" tambah Ammo cepat.
"Baik!" jawab pria dari Divisi Pemasaran lega.
Ammo mengangguk. "Next!" katanya lantang.
Rapat kembali bergulir. Masing-masing divisi memberi laporan serta perencanaan dan strategi baru sesuai bidang masing-masing.
Ammo melirik ponselnya. Tak ada pesan lagi dari Ana. Dia sedikit kecewa. Tapi fokusnya segera teralihkan pada rapat yang masih butuh tambahan ide darinya.
Pukul tujuh malam, setelah makan malam bersama semua peserta rapat, Ammo pulang bersama Sawyer. Dia masih memikirkan keterkaitan Ana dengan keberadaan Kakek Wilson. "Apa hubungannya dengan pemanah misterius itu?" batin Ammo penasaran.
"Kau terlalu banyak rahasia!" gumamnya.
"Ya, Bos? Anda mengatakan apa? Maaf, saya tidak begitu jelas," kata seorang pengawal yang duduk di samping Ammo.
"Tidak! Bukan apa-apa. Aku hanya sedang berpikir," sahut Ammo.
Helikopter itu mendarat di halaman. Ammo turun dan terheran-heran melihat Theo yang sudah berlari kecil menyusulnya ke dekat heli tersebut.
"Kenapa wajahmu itu? Apakah terjadi sesuatu?" tanya Ammo.
"Ah, Nyonya Harriet datang berkunjung, Tuan!" lapor Theo.
Ammo berhenti. Wajah Theo masih terlihat kesulitan.
"Apakah dia membawa seseorang?" tanya Ammo.
'Anda sudah tahu?" Theo tampak terkejut.
"Tidak! Tapi wajahmu mengatakan hal itu. Apa kau tidak menyukai orang itu?" tanya Ammo sambil melanjutkan langkahnya.
"Itu tidak ada hubungannya dengan saya, Tuan. Tapi mungkin dapat membu---"
"Ammooooo ...!" teriakan nyaring dan manja yang dibenci Ammo terdengar. Orangnya bahkan belum terlihat.
Ammo menoleh pada Theo. Pelayan itu menganggukkan kepala. Wajahnya tegang dan benar-benar kesulitan. Berharap tuannya berbelas kasihan.
Ammo berbalik. "Sawyer!" teriaknya pada pilot handal yang sedang duduk santai bersama para pengawal lain.
"Ya, Tuan!" sahutnya. Dia mengejar Ammo yang sudah menaiki helikopter lagi. Dua pengawal yang sedang memegang cangkir teh, langsung meletakkan minuman itu dan ikut mengejar ke arah heli.
"Cabut dari sini, cepat!" perintah Ammo.
"Siap, Tuan!" Sawyer segera menyalakan mesin burung besinya. Baling-baling berputar. Pintu sudah ditutup. Tapi benda itu belum bisa naik, jika belum dalam kecepatan yang sesuai.
Ammooooo ... tunggu!" teriak seorang wanita cantik dengan dandanan a la sosialita papan atas. Gadis itu melepas high heels-nya, kemudian mengejar ke lapangan berumput.
Theo memanggil beberapa pengawal yang sedang melihat adegan pengejaran itu dengan heran. Tiga pengawal segera melompat dan menahan wanita yang hendak mendekati heli yang mesinnya sudah menyala.
"Bahaya, Bu!" cegah mereka.
"Ibu apa!" Gadis itu memukul tiga pengawal yang mengelilinginya dengan geram.
Dengan satu langkah tak terduga, seorang pengawal bertubuh tegap, rubuh sambil memegang anunya dengan wajah pucat dan meringis sengsara. Gadis itu menendang sekuat tenaga. Dua pengawal lain otomatis melindungi miliknya masing-masing.
Gadis itu berhasil lolos dan kembali berlari. Namun Sawyer jauh lebih cepat untuk mengangkat naik burung besinya. Mereka berhasil lolos dan melayang di angkasa.
Ammo menelepon Theo. "Selamat berjuang!" ujarnya sambil tertawa. Helikopter itu menghilang, meninggalkan Theo yang berwajah pucat pasi. Tuannya memang kejam. Membiarkannya sendirian menghadapi wanita satu ini.
"Ke mana kita, Tuan?" tanya Sawyer yang bingung tak tentu arah.
"Ke klinik Dokter Devan!" jawab Ammo.
"Siap!" heli itu berputar arah dan terbang menuju tempat yang dimaksudkan Ammo.
"Ada-ada saja. Aku ingin istirahat, kenapa Bibi Harriet membawanya ke rumah? Bukankah dia tahu aku tak menyukai Syeila?" Ammo merasa kesal dalam hatinya. Sekarang dia harus kabur dari rumahnya sendiri.
"Devan, aku butuh tempat pengungsian malam ini!" Ammo mengirim pesan.
"Kau punya ratusan kamar hotel!" balas Dokter Devan mengejek.
"Bidadariku ada di sana!" balas Ammo lagi.
"Yang tertembak itu?" tanya temannya tak percaya.
"Bukankah dia berkarakter?" Ammo menanyakan pendapat Devan.
"Kau menyukai wanita berkarakter, huh? Dia memang sangat berkarakter. Sampai-sampai beberapa pria yang menjemput ayahnya, memberi hormat dengan berjongkok. Mirip seperti berjongkok di depan raja atau ratu!" balas Devan. Dia mengatakan apa yang terjadi saat penjemputan itu.
"Benarkah? Aku tidak tahu tentang itu. Yang aku tahu, dia memang punya orang-orangnya sendiri. Mungkin itu semacam perkumpulan atau anggota geng, barangkali!" tebak Ammo.
"Hei, siapkan kamar untukku!" pesan Ammo lagi.
"Oke!" Hanya itu balasan yang diterima Ammo.
"Apakah orang-orang itu juga yang menyelamatkan Kakek Wilson, Lindsay, dan Brandy?" pikirnya.
"Dia tak membalas pesanku lagi sejak siang tadi. Apa dia marah?" Ammo membuka lagi chat antara dirinya dan Ana.
"Ah, sial! Bodoh banget!" Ammo merutuk sendiri. Diperhatikannya pesan terakhir adalah pesan dari Ana. Dan dia belum membalasnya karena disibukkan pada pekerjaan.
"Ya Tuhan, apakah dia menunggu-nunggu balasan pertanyaan itu? Bagaimana kalau dia marah?" pikir Ammo.
"Kau!" tunjuk Ammo pada pengawal yang duduk di sebelahnya.
"Ya, Bos!" jawab pria itu sigap.
"Bagaimana cara melamar seorang gadis?" tanya Ammo meminta pendapat.
"Apa?"
"Aaaahhh ...!"
Heli itu sedikit oleng karena Sawyer terkejut. Tapi dia dengan cepat menguasai kendaraannya.
"Apa kau mau bunuh diri?" tegur Ammo.
"Maaf, Bos. Aku sangat terkejut," sesal Sawyer.
"Boleh tahu gadis mana yang beruntung itu? Apakah gadis tadi?" tanya Sawyer.
"Kalau begitu, untuk apa aku melarikan diri!" gerutu Ammo kesal.
"Maaf, Bos!" Ujar Sawyer.
"Sekarang katakan. Bagaimana cara melamar seorang gadis!" perintah Ammo.
"Gadis-gadis biasanya suka bunga, suka coklat. Atau beri dia hadiah, benda-benda kesukaannya, perhiasan, make up. Pasti hatinya luluh!" saran salah seorang pengawal.
"Dia suka senapan mesin, peluncur roket, granat dengan daya ledak tinggi, dan kendaraan dengan kemampuan tempur yang tinggi! Apa aku harus memberikan hal yang seperti itu?" tanya Ammo.
"Itu terdengar seperti sedang mempersiapkan pasukan perang, Bos! Apa anda akan melamar seorang jendral perang?" tanya Sawyer.
"Sembarangan!" Ammo mengetuk kepala Sawyer pelan.
*******