
"Mungkin maksudmu, berbeda dengan pemikiranku!" ujar Ana.
"Tidak! Aku tau kode tanganmu tadi. Itu sebabnya aku langsung bersiap pergi." bantahnya.
"Dan tentu saja terima kasih sudah menyingkirkan mereka dariku!" ujarnya.
"Kau tau kalau diawasi?" tanya Alexei.
"Sebenarnya aku sering diikuti, sejak Bobby meminta pertolonganku! Dan biasanya aku berhasil meloloskan diri. Tapi hari ini tampaknya, lebih banyak orang yang datang. Dan jelas mereka bukan tertarik padaku. Melainkan dia!" jelasnya.
"Apa kau tak khawatir bahwa aku adalah bagian dari orang-orang yang selama ini mengikutimu?" Ana mengetes anak muda itu.
"Mungkin saja. Tapi aku akan mengikuti feelingku hari ini. Inilah tujuanku keluar. Mencari seseorang yang bisa menolongnya!"
Jawaban pria itu terdengar mengherankan bagi Ana. "Ada apa dengannya?" tanya Ana ingin tahu.
"Dia terluka saat melarikan diri. Dan butuh perawatan lebih lanjut. Sementara aku tak mungkin membawanya ke rumah sakit." Anak muda itu menunduk.
"Kau, begitu baik padanya. Sampai berani mengambil resiko seberbagaya ini. Apa hubungan kalian?" selidik Ana.
"Dia saudara tiriku. Satu-satunya keluargaku yang tersisa!" ucapnya dengan mata menerawang.
"Sebelumnya, kami sangat miskin dan sering tinggal di jalanan. Dia mengambil pekerjaan berbahaya, agar punya penghasilan besar, dan bisa membiayai sekolah kedokteranku!" jawabnya sedih.
"Jadi, selama ini kau yang merawatnya?" selidik Ana.
Anak muda itu mengangguk. "Ya!"
"Tunjukkan jalannya!" perintah Ana.
"Terima kasih," sahutnya cepat. Segera Alexei mengikuti arah yang disebutkan pria muda itu.
"Jadi, siapa namamu?" tanya Ana.
"Anthony!" jawabnya cepat.
"Sekarang katakan kita mau ke mana. Mobil ini sudah memutari blok tiga kali!" ujar Ana pedas.
"Maafkan aku. Bukan maksudku seperti itu. Tapi ada mobil yang terus mengikuti kita sejak tadi. Setelah memutari blok ini tiga kali, aku baru yakin bahwa mereka sedang membuntuti kita." Anthony menunjuk ke belakang mobil.
Ana ikut menoleh. "Bagaimana mereka bisa membuntuti kita?" gumannya.
"Orang yang kau culik itu mungkin punya alat pelacak!" ujar Alexei.
"Apa? Kau menculik siapa?" tanya Anthony heran.
Ana langsung menggeledah tubuh wanita yang masih tidak sadarkan diri itu.
Diperiksanya saku, dompet dan ponsel. "Ini mirip ponsel lapangan di Biro!" lirihnya.
Ana membuka ponsel lipat yang dulu juga dimilikinya. Dipencetnya tombol merah yang ada di bagian bawah ponsel. Kemudian di bukanya jendela dan melemparnya keluar. Ponsel itu meledak di udara.
Dia masih terus menggeledah tubuh wanita itu. Dari mulai jepit rambut, jam tangan, cincin, gelang, hingga sepatunya juga dicopot dan dilempar Ana keluar jendela mobil. Namun Ana belum puas. Sekarang dibukanya dompet kecil yang ada di saku wanita itu.
Ekspresi terkejut itu mengherankan Alexei yang mengintip dari kaca. "Apa kau mengenalnya?"
"Alena, huh! Anak emas George palsu! Kalian kaki tangan para penjahat!" ujar Ana emosi. Dicopotnya blazer wanita itu, dan dilemparkannya jg ke luar jendela.
"Hei, apa yang kau lakukan!" Antho6 terkejut melihat Ana menarik paksa kancing-kancing baju di kemeja gadis itu.
"Aku melepaskan camera recorder!" ujar Ana.
"Apa?" Anthony terdiam termangu. Dia tak menyangka semua pembicaraan mereka mungkin telah direkam orang.
"Jangan khawatir. Aku akan mengamankannya!" ujar Ana. Dia masih sibuk menggeledah gadis itu.
"Astagaa ... jika aku tak tau maksudmu, aku mungkin akan mengira kau sedang melecehkannya!" ujar Anthony.
"Hush! Bersihkan pikiranmu! Dia takkan melakukan hal-hal seperti itu!" hardik Alexei.
"Oke, oke. Sorryyy," ujarnya. Tapi setelah dia seperti itu pun, mereka tetap mengikuti kita berputar-putar di sini!" tunjuk Anthony.
Ana melihat ke belakang. Tangannya meraih sesuatu di bawah jok belakang.
"Ya Tuhan!" Anthony terkejut bukan main. Sementara Alexei terkekeh geli. Mainan keponakannya memang harus yang luar biasa.
"Tunggu di tikungan itu. Lihat di kiri!" Alexei memberi aba-aba.
"Oke!" Ana membuka kaca jendela yang tepat dlberada di sampingnya. Diletakkannya ujung peluncur roket kecil di tepi jendela, sementara pijakan senjata itu berada di atas pahanya.
"Kau lebih baik menunduk, jika tak ingin mengalami sakit telinga!" perintah Ana pada Anthony. Pria muda itu langsung meringkuk di tempatnya.
Ana bersiap. Kepalanya menunduk, untuk menempelkan matanya pada layar pembidik. Ana menunggu Alexei menstabilkan posisi mobil mereka, agar tembakan itu tak salah sasaran, dan meluncur menghancurkan properti sipil.
"Sekarang!" seru Alexei. Mobil itu berhenti di tikungan, dengan posisi jendela tepat mengarah ke mobil yang sejak tadi membuntuti.
Ana menghitung hingga tiga, sebelum menekan pelatuk, yang melepaskan roket kecil keluaran perusahaan Ammo.
Alexei bisa melihat mobil di belakang itu sedikit tidak stabil dan terkejut melihat datangnya roket.
"Mereka pasti tak menduga, mobil seorang nenek tua, menyimpan roket dan menghancurkan sebuah mobil, di jalanan umum!" komentar Alexei bangga.
Anthony tak dapat menahan penasarannya. Dia ikut mengintip dari jendela kaca ke arah mobil sial yang hancur dan terbakar di belakang sana.
"Alexei kembali menjalankan mobil itu. Kini jauh lebih vepat dari sebelumnya.
"Bukankah mobil kita sudah terekam cctv kota?" Anthony gemetar ketakutan.
"Cari tempat sepi!" ujar Ana santai. Dia menyimpan kembali peluncur roket mininya di bawah jok belakang.
"Jalanan ini sepi!" ujar Alexei lima belas menit kemudian.
Ama mengangguk. Tekan tombol itu!" tunjuk Ana.
Akexei mengikuti sarannya memencet tombol yang ditunjuk Ana. Sekarang muncul layar seukuran ponsel di bidang kemudi.
"Mobil ini juga bisa berhanti skin?" "Menakjubkan!" ujar Anthony kagum.
Alexei memilih warna hijau mint beraksen putih. Sekarang mobil itu mulai mengganti warna bodynya menjadi hijau mint dengan aksen putih.
"Kukira, warna purple cocok untuk bibi ini. Kenapa kau pilih hijau lembut begini?" cela Anthony.
"Kau terlalu banyak komentar! Cerewet!" kesal Ana. "Sekarang tunjukkan sana di mana saudaramu itu berada!"
"Baik! Belok kanan sekarang!"
Selama setengah jam berikutnya, Anthony memberi arahan. Entah kenapa dia tak mau mengatakan saja alamat tujuannya. Ana hanya memperhatikan dari belakang.
Diliriknya Alena yang sedang pingsan di sebelahnya. Tangan dan kakinya sudah diikat. Dia bisa saja membunuh dan membuang gadis itu sekarang. Tapi dia masih ingin mengorek keterangan dari Alena.
"Jika kau terus menatapnya seperti itu, kau bisa jatuh cinta padanya!" celetuk Anthony.
"Cerewet sekali kau!" Kepala Anthony jadi korban dijitak Ana dari belakang.
"Hei, jangan memukul kepala! Aku bisa bodoh nanti. Tidak ada yang bisa jadi dokter jika bodoh!" protesnya.
"Astaga ... bagaimana saudaramu bisa tahan dengan kecerewetanmu?" keluh Ana sambil menggelengkan kepalanya yang mulai pening.
"Kami hanya berdua. Jika aku tak bicara, maka akan terasa asing. Aku akan seperti duduk di sebelah patung taman yang sunyi dan sangat pendiam!" ujarnya membela diri.
"Di depan ada persimpangan. Kita ke mana lagi?" Alexei mengalihkan pembicaraan.
"Belok kanan!" Anthony mulai serius sekarang. "Ikuti jalan itu!" tunjuknya.
Alexei menurut. Mobil itu sekarang telah masuk ke jalanan yang hanya diperkeras dengan bebatuan.
"Tempat apa ini?" pikirnya heran. Di belakang, Ana sudah bersikap waspada.
"Jika kau pikir bisa menjebak kami, maka otakmu akan berhamburan di sini!" Ana menodongkan pistolnya ke kepala Anthony.
"Aku tidak berbohong!"
Anthony sangat takut hingga tubuhnya sedikit bergetar. Dia bisa merasakan dinginnya ujung besi pistol itu di pelipisnya. Dia tau, Ana bahkan tak ragu menembakkan roket di tengah jalan. Apa lagi di tempat sepi begini.
"Jalan saja terus. Kalian akan menemukan tempatnya!" ujarnya meyakinkan.
Alexei terus melajukan mobilnya perlahan. Menurutnya, ini tempat yang tepat untuk bersembunyi dari pandangan dan pengawasan orang.
Sudut terpencil diantara rumah-rumah penduduk yang telah diabaikan karena seharusnya pemukiman ini sudah dibongkar untuk dibangun kompleks apartemen baru. Namun sudah tiga tahun belum ada kejelasan dan masih simpang siur tentang ganti rugi.
"Belok kiri sedikit!" ujar Anthony lagi. Alexei mengikuti instruksinya.
"Berhenti!" seru Anthony.
Alexei menghentikan mobil mereka di rumah ketiga dari belokan tadi. Dia mengawasi sekitar tempat itu. Tak ada yang mencurigakan.
"Boleh aku keluar dan membuka pintu garasi?" tanya Anthony pada Ana.
"Hemmm!" gumam Ana, lalu ditariknya pistol itu dari kepala Anthony.
********