
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Gan.
"Ammo, mereka memasang pelindung tak kasat mata di sekeliling gedung. Aku takkan bisa mendekat kalau begini!" kesal Ana.
"Sebentar!" Ammo ikut membantu Ariel menghancurkan pelindung di halaman itu.
Ana memeriksa semua tombol yang ada di dashboard. Ada tombol dengan tanda listrik. "Apakah ini bisa?" pikirnya.
"Coba saja!" saran Gan.
Ana memencet tombol dengan tanda petir itu. Tombol berubah warna menjadi kuning. Sebuah moncong senjata keluar dari bagian gardan depan mobil. Ana melihat di layar, sasaran yang dibidik adalah pagar besi di depan bangunan. Dengan tak sabar, ditembakkannya peluru yang ada pada senjata tersebut.
Ana bekum pernah mencoba senjata jenis itu di kendaraannya. Jadi dia dan Gan terkejut melihat hasilnya. Begitu peluru itu menyentuh bidang pelindung tak kasat mata yang dipasang biro, maka terbentuklah aliran listrik yang mengarah ke segala arah.
Beberapa jeritan terdengar. "Awasi orang-orangmu, Gan. Katakan pada Khouk untuk menjauh dari sana sampai aku bisa membuka penghalang mereka." perintah gadis itu.
Gan bicara dengan Khouk, sementara Ana menembakkan satu peluru dengan aliran listrik lagi ke titik yang sama, di depan pagar besi. Tak terelakkan, kali ini aliran listriknya mengalir lebih luas. Terdengar jeritan dari arah halaman dalam kantor itu.
Ana tak menunggu lama, ditembaknya satu lagi peluru listrik ke titik yang sama. Fungsinya adalah untuk melemahkan titik yang dibidik dan menhancurkan kesolidan pelindung tersebut. Teorinya sepertinya benar. Pelindung di titik yang ditembaknya tadi, tidak bisa lagi menutup dengan sempurna.
"Bersiap, Gan!" Ana memberi aba-aba.
"Bersiap!" ulang Gan di radionya, agar Khouk mendengar perintah Ana juga.
Ana menembakkan satu lagi peluru listriknya ke pintu besi di depan mobil. Kali ini, pelindung yang dipasang benar-benar hancur berantakan. Dengan sigap mobilnya melesat maju dan menerjang pagar besi yang sejak tadi bergetar ditembaki Ana. Senapan mesinnya terus memuntahkan peluru ke segala arah.
Mobil itu berhasil menerbangkan pintu pagar besi yang tinggi itu. Mobilnya maju, lalu berputar di tempat 360 derajat dan menembaki seluruh are terbuka di halaman.
Ana sedang bersiap dengan peluncur roketnya. Di moment yang pas, dia menembakkannya ke arah pintu masuk bangunan itu. Di detik berikutnya, pintu kayu besar dan mahal itu hancur berantakan.
Mobil Ana berhenti berputar. Tapi herannya, tak ada tembakan balasan yang diterimanya.
"Ini aneh!" ujarnya. Matanya melihat semua tampilan layar di mobil. Tak terlihat satupun panas tubuh manusia di dalam gedung.
"Apa mereka mati?" tanya Ana heran. Dia kan hanya menembakkan peluru ke arah tembok dan halaman. Harusnya para agen itu gantian menembakinya dari balik jendela-jendela kaca besar yang mengarah ke halaman itu.
"Ammo, ini aneh!" lapor Ana.
Ammo diam menganalisa. Tapi kemudian dia terkejut.
"Keluar dari sana sekarang!" teriaknya panik.
Ana tak panik sama sekali. Dia langsung memundurkan mobilnya dengan cepat. Tepat saat mobil itu berada di luar pagar, pelindung tak kasat mata itu kembali menutup sempurna. Bagian depan mobilnya kena sedikit. Dan itu mampu membuat tangannya sedikit kesemutan karena efek setrum dari pelindung tersebut.
"Bagaimana?" tanya Ammo.
"Sepertinya pelindung itu memperbaiki dirinya secara otomatis setelah beberapa saat," duga Gan.
"Harusnya aku tetap berada di sana. Kau tahu berapa peluru yang kupakai untuk merusak pelindungnya tadi?" Ana merasa sangat tidak puas karena Ammo menyuruhnya keluar dan dia merespon dengan langsung keluar tanpa berpikir.
"Aku yakin, jika kau tetap di sana, maka kau akan terjebak. Mereka tidak pergi ke manapun. Mungkin hanya berlindung di bawah tanah!" jelas Ammo.
"Aku bisa menghadapi mereka!" ujar Ana masih emosi.
"Jika kau terjebak, anak buahmu tak bisa berbuat banyak. Mereka tak bisa masuk untuk membantumu! Tunggu Ariel membereskan pelindung itu sebentar lagi!" Kata Ammo.
"Jangan terlalu lama. Aku hanya akan jadi lelucon jika menunggu seperti bebek ompong di depan pintu!" umpatnya kesal.
Lima menit yang panjang jika menunggu. Akhirnya suara Ammo terdengar.
"Coba kau tembak dengan senjata listrik itu sekali lagi. Harusnya sudah bisa!" ujar Ammo.
Ana menekan tombol dengan simbol listrik itu lagi. Diarahkannya moncong senjata itu ke area pintu pagar yang pagar besinya sudah lepas. Dia sangat berharap apa yang dilakukan Ammo dan Ariel berhasil.
Satu peluru listrik ditembakkan dan mengenai pagar tak kasat mata. Tanpa menunggu lagi, Ana menembakkan satu peluru tambahan lagi. Tapi saat peluru itu melesat, ternyata pekerjaan Ariel dan Ammo berhasil. Pagar transparan itu telah lenyap.
Akhirnya peluru listrik yang dilontarkan terakhir, langsung mengarah ke gedung biro. Ana dan Gan bisa melihat aliran listrik dahsyat mengaliri seluruh fasad bangunan. Melihat hal itu, Ana mengirimkan bonus satu peluru listrik lagi ke gedung itu.
"Jika mereka tak mau mati kesetrum, harusnya mereka keluar sekarang!" geramnya.
Tanpa ampun, dikeluarkannya pelontar rudal kecil dari samping mobil. Mobil itu masuk dan mengambil posisi berbelok. Sekarang pelontar rudal kecil itu tepat mengarah pada bangunan biro.
Tak menunggu lama, Ana menekan tombol untuk meluncurkan senjatanya. Lalu, mengembalikan posisi mobil dan mengirimkan satu lagi peluru listrik untuk mengeluarkan para pengecut yang sedang bersembunyi itu.
Lantai dasar biro meledak dengan dahsyat. Harusnya itu cukup untuk memaksa orang-orang itu keluar dan menghadapinya.
"Gan, kau ambil alih mobil. Aku akan turun!" ujar Ana. Sudah diputuskannya untuk mencari ke seluruh sudut gedung tersebut.
"Berhati-hatilah!" Ammo mengingatkan.
"Ya," sahut gadis itu tak acuh.
"Gan berpindah ke bangku kemudi. Kemudian dipanggilnya orang-orang Khouk. Seharusnya mereka ikut masuk ke sana dan membantu mencari orang-orang jahat itu.
"Khouk, aku harusnya ada bersama pemimpin. Tapi aku harus menjaga mobil untuk mengantisipasi perintahnya.
"Biar aku yang ke sana dan melindunginya!" sahut Khouk cepat.
"Cepatlah!" desak Gan. Dia bisa dihukum mati oleh klan kalau terjadi hal buruk pada Ana. Sekarang dia malah disuruh menjaga mobil. Tragis sekali nasibnya jadi pengawal.
Khouk yang bersembunyi di sekitar sejak sehari sebelumnya, muncul dengan cepat dan mengagetkan Gan.
"Ternyata kalian begitu dekat. Baiklah. Jaga mobil ini. Dan aku akan menyusul pemimpin kita," instruksi Gan.
"Tidak! Kau di sini saja. Kau yang mengerti fungsi mobil ini. Biar aku yang pergi mencarinya di dalam!" Khouk melangkah melewati pagar yang sudah sepenuhnya terbuka itu.
"Tapi---" Ucapannya terhenti.
Khouk sudah melangkah lebih jauh lagi dari pintu pagar. Kemudian dia melihat kelebatan bayangan Ana
"Cepat sekali gerakannya," gumam Khouk. Baru kali ini dia melihat aksi gadis itu dalam sebuah misi. Sekarang bisa dilihatnya, bahwa Ana adalah wanita berbakat yang seharusnya tak pernah dikhianati oleh teman-temannya.
************