
"Dan kalian ketahuan!" tebak Ammo.
"Yah, begitulah. Kemudian orang-orang Alistair menembaki kami. Aku ingat, George melindungiku, mendorongku kembali meluncur di lift makanan, menuju dapur." Suara Ana tercekat.
"Kurasa ... kurasa George kita tewas di sana," lirih Ana.
"Jadi, yang kutahan itu, memang George palsu!" Ammo sudah dapat titik terang.
"Dan karena ingatanku dihapus, maka mereka bisa dengan mudah menggantikan george dengan yang palsu selama tahun-tahun terakhir ini." Ana menggeleng tak percaya, dengan kekejian Biro.
"James waktu itu cerita, ingatanmu dihapus karena kau stress akibat misi itu. Kau mengkhianati biro, dengan jatuh cinta pada Leonard dan ingin melindunginya. Sampai George menembak mati Leonard," beber Ammo.
"Mereka memutar balikkan fakta dan memfitnahku. Leonard itu belok! Dan aku hanya seorang pelayan di sana. Tak masuk akal!" bantah Ana marah.
"Aku juga tak mempercayainya," ujar Ammo.
"Lalu, siapa Tuan Lindl atau Alistair itu? Apa hubungannya dengan Biro dan pemerintah? Apakah dia orang pemerintah yang juga bergerak di bisnis kotor, atau mafia kuat yang menguasai biro, hingga mampu mendapatkan legitimasi atas proyek penelitiannya ini?" Ammo berpikir keras tentang peran orang itu.
"Dan satu lagi yang kita belum tahu. Di manakah letak tempat penelitian dan operasi itu!" ujar Ammo.
Ana diam, berusaha mengingat lokasi dia dioperasi. "Kurasa, itu ada di luar negri. aku ingat saat sadar dari pingsan, aku merasakan udara segar khas pegunungan. Dan, bahasa yang digunakan para petugas kebersihan, memiliki logat berbeda. Sangat khas. Seperti orang utara," ujar Ana setelah mengingat-ingat.
"Utara ya?" Ammo mengulangi kata-kata Ana. Dia ikut berpikir. Membuka lagi berkas tentang pria yang dikenal sebagai pengusaha besar. Ternyata adalah jaringan mafia yang bekerja sama dengan pemerintahan Slovstadt.
Ammo membaca berkas yang disimpannya tentang Alistair. Orang itu memulai usahanya di Belfast. Dan itu memang luar negri. Apakah maksud Ana dengan logat khas adalah tempat tersebut? Cara bicara mereka memang khas.
Ammo mencari cari video acak yang berisi bincang-bincang orang negara itu. "Ketemu," ujarnya senang.
Video itu dikirimkan pada Ana. "Coba kau dengarkan suara rekaman ini. Apakah mirip dengan suara yang kau dengar di klinik itu."
Ana memutar rekaman yang diterimanya. Dia mendengarkan dengan seksama. Tapi tak butuh waktu lama baginya untuk membalas pesan Ammo.
"Ya, mereka memiliki logat yang sama."
"Baik, akan kuperiksa daerah itu. Kita butuh bukti konkrit yang pasti tersimpan di sana. Kita tak bisa hanya mengandalkan kesaksianmu saja."
Ana termenung. Kepalanya dipenuhi dengan banyak pertanyaan. Siapa sebenarnya Alistair? Bagaimana dia bisa sangat berkuasa? Padahal dia jelas bukan orang Slovstadt!
*
*****
Ammo langsung menghubungi bawahannya di kota Belfast. Memberi perintah untuk memeriksa negara itu. Mencari tempat yang mungkin dijadikan sebagai klinik ataupun lab riset.
Ammo gelisah. Keadaannya sekarang terjepit. Dan sesungguhnya, informasi Ana adalah hal besar. Dia ingat orang yang menelepon dan menginginkan Ana, ditukar dengan keberhasilannya. Dia mengaku bukan siapa-siapa, tapi punya kekuasaan cukup untuk merubah keadaan.
"Apakah orang ini berkaitan dengan Alistair? Orang suruhan pria itu? atau pihak lain lagi yang ingin memancing di air keruh?" batinnya.
"Aku menemukan sesuatu!" Donny berseru kegirangan. Apapun yang ditemukannya itu, dikirimnya pada Ammo.
Bersama yang lainnya, mereka melihat informasi rahasia itu dengan wajah memucat.
"Gila!" celetuk Ariel.
Tapi Ivan menggeram murka. "Bukankah ini penipuan publik? Yang berkuasa di sana adalah palsu!"
"Kukira mereka baru menguji cobanya pada George, Ana, Sanders, Nathalie dan Oscar saja. Tak kuduga, bahkan presiden Slovstadt juga palsu!" Wajah Ammo memerah menahan amarah.
Apapun yang dilakukan Alistair, itu sangat keji. Dia berpura-pura menjadi pengusaha bersih. Padahal dialah dalang di balik penguasa yang menghancurkan Slovstadt.
"Dapatkah para pejabat itu dipercaya? Jangan-jangan mereka semua adalah palsu!"
Ucapan Theo terasa lebih menakutkan lagi bagi mereka semua. Ariel menatap Ammo. "Apa yang akan kau lakukan? Mau mengirimkan informasi penguasa boneka ini pada militer, atau pada parlemen? Mungkin saja mereka semua juga merupakan boneka dari pabrik yang sama!"
Ammo masih diam. Jari jemarinya mengetuk berirama di atas meja. Dia sedang berpikir keras. "Bagaimana kalau kita broadcast informasi ini pada khalayak? Biarkan orang seluruh dunia mengetahuinya. Kita lihat, siapa yang bergerak untuk membereskan penguasa palsu ini!"
"Kurasa itu juga bagus. Oh ya, coba kirimkan info ini juga pada Ana. Bagaimana pun, dia adalah pemimpin klan yang berpengaruh kuat dan bisa menggerakkan beberapa negara untuk ikut membantu. Mungkin dengan tidak mengakui pemerintahan yang berkuasa sekarang," saran Donny.
Ammo mengangguk. Jarinya segera bekerja dan mengirimkan sendiri informasi itu ke publik melalui siaran terbuka yang bisa diakses dengan mudah.
Ana juga mendapatkan rekaman yang sama. Jelas gadis itu sangat terkejut. Dia percaya Ammo telah mendapatkan informasi rahasia dengan susah payah.Maka untuk membantu Ammo, Ana bereaksi lebih dulu.
Dengan segera dikirimnya rekaman tersebut pada ayahnya dan mengatakan akan membuat rekaman untuk tidak mengakui penguasa yang selama ini menjalankan pemerintahan di Slovstadt.
Tak butuh waktu lama, ayahnya menghubungi. Pria itu dikelilingi oleh para penasehat, sementara Ana hanya didampingi oleh Khouk.
"Dari mana kau mendapatkan informasi itu?" tanya ayahnya, mewakili pertanyaan para penasehat.
Ana mengamati orang-orang yang gelisah di dalam video conference itu. "Aku tak bisa mengatakannya. Tapi informasi ini sangat akurat. Kita tak boleh membiarkan hal seperti ini terjadi. Jika terus berlangsung, bisa saja merambat ke mana-mana. "Mereka adalah duplikat dari orang-orang mati yang tidak ingin bekerja sama dengan para mafia yang ingin memperkaya diri mereka sendiri."
"Negara manapun yang melakukan penipuan seperti ini, maka pemerintahnya tidaklah sah!" tegas Ana.
"Betul. Terbukti selama ini merek telah berlaku zalim dan sewenang-wenang pada semua pihak yang berseberangan!" Ayahnya mendukung keputusan Ana.
Tapi para penasehat itu saling pandang, Dan tampak jelas di wajah mereka ketidak setujuan dengan pendapat Ana.
"Yang tidak setuju dengan pendapatku, hanya ada dua kemungkinan. Pertama, dia tak punya hati nurani dan kemanusiaan. Atau yang kedua, dia mungkin adalah boneka yang menjadi bagian dari para pengkhianat negara di Slovstadt!" ujar Ana tegas.
Hal itu sontak membuat para penasehat klan itu terkejut. Tak menyangka jika Ana yang semuda itu akan memaksakan kehendak, tanpa meminta pendapat mereka lagi. "Kami setuju," jawab mereka pada akhirnya.
"Bagus!" ujar Ana. Video conference itu pun berakhir. Ana merasa puas, dapat mengendalikan para penasehat yang cenderung suka berlama-lama dalam diskusi.
"Khouk, bantu buat rekaman video untukku!" perintah Ana.
******