
Ana tersenyum. Dia hanya mengangguk, tanpa mengatakan apapun.
"Apakah itu artinya lamaranku diterima?" Mata Ammo berbinar. Tapi dia ingin meyakinkan jawaban gadis itu sekali lagi.
"Ya ...."
Ana menjawab dengan sangat jelas. Dan Ammo langsung memeluknya. "Terima kasih ... aku bahagia sekali!"
"Ehemmm."
Ayah Ana berdehem di belakang. Bersama dengannya, paman dan Nathalie tersenyum-senyum melihat mereka berdua.
"Ah ... maafkan aku."
Ammo berjalan mendekati Ayah Ana yang melihatnya dengan pandangan datar.
"Tolong restui kami. Aku akan menjaganya dengan nyawaku, dan membahagiakannya dengan seluruh kemampuanku," ujarnya menunduk hormat.
"Dia sudah menyetujuinya. Tapi kami punya persyaratan untuk menikahkan seorang Ketua Klan. Jadi sebaiknya kita bicarakan detailnya di kediaman," ujar pria paruh baya itu bijak.
"Tentu saja. Kita memang harus membicarakannya." Ammo mengangguk mengerti.
Kunjungan ke makam pun akhirnya selesai. Rombongan itu kembali ke kediaman Pemimpin Klan. Akhirnya Ammo mengetahui di mana Ana tinggal.
"Kediamanmu sangat megah dan indah. Artistik. Banyak sekali ukiran khas di bangunan ini," puji Ammo.
"Ini kediaman resmi Pemimpin Klan. Akan ditempati oleh siapapun yang memimpin klan ini. Jadi, pada dasarnya aku tak punya rumah di sini."
Ana terkekeh. Dia geli sendiri karena menyadari bahwa dirinya tak punya apapun secara pribadi di tanah klan ini.
"Aku bermaksud menjual rumah mungil dan apartemenku di Giebellinch, lalu membangun satu villa kecil milikku sendiri di sini," ujar Ana.
"Itu bagus!" Ayahnya setuju dengan cepat. "Untuk apa punya banyak properti di sana. Cukup pertahankan satu yang sangat penting saja," tambah pria itu lagi.
"Kau bisa membangun rumahmu sekarang, kalau mau. Aku---"
Ana menggoyangkan jarinya. "Tidak! Aku masih mampu membangun rumahku sendiri!" Ana menolak bantuan Ammo.
"Baiklah. Apapun yang kau bangun dengan uangmu sendiri adalah milik pribadimu. Tidak akan pernah menjadi milik bersama yang bisa dibagi-bagi jika terjadi sesuatu di antara kita!" putus Ammo cepat.
"Apa kau mengharapkan terjadi sesuatu pada hubungan kita?" Mata Ana menyorot tajam.
"Tentu saja tidak!" sanggah Ammo cepat.
"Justru kita harus membahas hal ini di awal, agar kau tak perlu dirugikan nantinya." Ammo mencoba menjelaskan.
"Lalu bagaimana denganmu?" tanya Ana dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Selain properti milik keluarga besar Oswald, maka yang lainnya akan menjadi milik bersama yang bisa diwariskan. Aku akan membuat rinciannya kemudian, dan disahkan oleh pengacaraku, agar kau tidak khawatir lagi." Senyum Ammo terkembang.
"Baiklah. Mari kita bicarakan detail persyaratan untuk menikahi Ketua Klan Khaan." Ayah Ana memotong pembicaraan mereka berdua.
Ammo dan Ana mengangguk. Menunggu syarat seperti apa yang dimaksud oleh ayahnya.
Ayah Ana menoleh pada adiknya, memintanya berbicara. Akhirnya pria itu mengangguk.
"Syarat paling penting adalah, Ketua Klan harus tinggal di klan. Bagaimana kalian berdua mengakali hal ini?" tanyanya.
Ammo dan Ana saling berpandangan. "Tak bisakah misalnya aku sesekali pergi keluar dan menemui Ammo di tempatnya, jika dia sedang sangat sibuk dan tak bisa ke sini?" tanya Ana.
"Apakah kau bisa melakukan tugasmu dari jauh?" tanya pamannya.
"Bukankah aku punya kalian. Mata dan telinga yang sangat kupercaya di sini? Lagi pula, sebelum aku datang, aku sudah menjadi Ketua Klan dan membuat beberapa keputusan dari jauh!" kata Ana.
"Kau belum bertugas secara penuh saat itu. Berbeda dengan sekarang, di mana segala hal harus kau hadapi.
"Bagaimana jika aku mengangkat Wakil Ketua Klan yang akan menggantikanku mengawasi tugas-tugas di sini selama aku pergi. Tapi keputusan tetap berada di tanganku!" usul Ana.
"Itu harus dibicarakan dengan penasehat dan unsur klan lainnya, termasuk para tetua yang pasti tak akan mudah untuk kau bujuk!" tukas pamannya.
"Ini hanya sementara. Sampai tugasku di Slovstadt selesai. Setelah itu, aku akan ikut pindah dan tinggal bersamanya!" Ammo mencoba meyakinkan ayah dan paman Ana.
"Tentu lebih mudah jika aku yang bolak balik pergi, ketimbang seorang Ketua Klan yang sangat terikat dengan aturan."
Ana diam mendengarnya. Tapi ayahnya langsung mengangguk. "Seperti itu lebih bagus!" katanya mendukung ucapan Ammo.
"Baik. Lalu persyaratan apa lagi yang mesti kupenuhi?" tanya Ammo, setelah syarat pertama selesai dibahas dan harus menunggu pertemuan dengan unsur klan lainnya.
Mereka membicarakan banyak syarat yang meskipun terasa memberatkan, namun akhirnya disetujui Ammo. Hingga semua merasa lega setelah Ammo menyetujui semua persyaratan pernikahan.
"Pada dasarnya, pembicaraan tentang pernikahan ini sudah selesai. Kalian bisa tentukan kapan ingin menikah. Dan lebih baik diselenggarakan di sini saja," ujar Ayah Ana.
"Di kesempatan itu, seluruh keluarga Oswald bisa pulang ke kampung halaman leluhur mereka. Bukankah itu lebih baik?" saran ayahnya lagi.
"Benar. Seperti itu memang lebih baik. Jika bukan karena ada acara seperti ini, para orang tua keluarga Oswald mungkin tak akan pernah menginjakkan kakinya di tanah leluhur mereka. Aku sangat setuju rencana ini!" Ammo mengangguk.
"Baiklah. Semua sudah kami sampaikan. Maka kalian bisa membicarakan detail kecil lainnya berdua. Kami undur diri," pamit Ayah Ana.
Ammo mengangguk. Terima kasih."
Tetapi Nathalie tak ikut pergi bersama ayah dan pamannya.
"Aku ingin tahu keadaan Oscar," katanya penuh harap.
"Oh, baiklah. Akan ku telepon Doktor Sarah agar kau bisa langsung bertanya padanya."
Ammo menghubungi Doktor Sarah yang sekarang tinggal merawat Oscar dan James saja.
Saat panggilan tersambung. "Ada seseorang yang ingin bertanya padamu!" ujarnya seraya menyerahkan ponsel pada Nathalie.
Gadis itu segera menyambar ponsel Ammo dengan tak sabar. Dia bahkan menjauh dari Ammo dan Ana untuk melakukana pembicaraan.
Ana tersenyum melihat tingkah adiknya. Dilihatnya Ammo yang terus menatapnya sejak tadi. "Apakah ada yang aneh dengan wajahku?" tanya Ana heran.
"Ya," sahut Ammo.
"Apanya yang aneh? Di mana?" Ana meraba-raba wajahnya sendiri.
"Kau makin cantik dari terakhir kali kulihat," puji Ammo,
"Apaan sih!" Wajah Ana memerah karena kata rayuan Ammo.
"Apa kau tak pernah bercermin?" Ammo bertanya dengan serius.
"Tentu saja aku bercermin. Tapi rasanya tak ada yang berubah. Semuanya biasa saja!" sangkal Ana.
"Cerminmu pasti iri melihat kecantikanmu. Itu sebabnya dia menampilkan yang biasa-biasa saja!" ujar Ammo lagi. Dia sangat percaya diri saat mengucapkannya.
"Apakah kau belajar merayu selama menjadi pejabat presiden di Slovstadt?" ejek Ana sebal.
"Untuk apa merayu? Aku hanya mengatakan sebuah kenyataan. Mungkin karena udara dan lingkungan di sini sangat baik untukmu," tambah Ammo lagi.
"Jika kau hanya ingin merayu, maka lebih baik kita akhiri pertemuan ini," kata Ana keki.
"Jangan ambil kebahagiaan adikmu yang sedang bertemu dengan kekasihnya," tegur Ammo.
"Hloo ... apa hubungannya denganmu?" Ana terheran-heran.
"Dia membawa lari ponselku! Hahahaa ...." Ammo tertawa senang. Dia berhasil mengerjai Ana.
Ana menhernyitkan hidungnya sebal. "Baiklah. Kita tunggu dia selesai." Ana mengalah. Dihirupnya aroma teh hangat dari cangkir, sebelum meminumnya.
"Menurutmu, apakah Oscar masih bisa sembuh?" tanya Ana penasaran.
"Kalian saja bisa melaluinya dan berhasil sembuh. Asalkan bisa menemukan keywordnya, aku yakin dia akan sembuh lagi."
Ammo menghela napas. "Tapi Sanders, aku tidak yakin sama sekali. Kerusakan yang dialaminya sangat parah!"
Ammo dan Ana kembali bersedih membayangkan keadaan Sanders, teman masa kecil mereka. Tapi, sakit masih lebih baik, ketimbang kehilangan nyawa. Seperti George dan Adriana yang tak pernah bisa mereka lihat lagi.
******