
Di sebuah ruangan yang nyaman dan tenang. Ana terbaring di sebuah sofa bed yang empuk dan lembut warna tan yang natural. Begitu membuka mata, dia tak bisa melepas kebiasaan untuk mengamati sesuatu di tempat yang baru.
Pandangan matanya berkeliling. Secara garis besar, tema ruangan adalah natural and clean. Itu ditandai dengan warna dinding yang kuning gading. Namun satu dinding dijadikan point of view dengan memberinya warna lemon. Dan itu tepat di belakang sofabed tempatnya berbaring. Warna itu berhasil memberi kesan segar dan luas pada ruangan tiga kali empat itu.
Ada tiga orang di ruangan itu. Dirinya, Stone -pria yang dikenalkan Ammo sebelumnya-, serta seorang wanita yang sangat menarik. Mereka terlibat berdiskusi serius hingga tak menyadari sadarnya Ana dari pengaruh obat.
Ana duduk dengan gerakan halus yang tak disadari kedua orang itu. Di seberang meja sana, duduk seorang wanita berambut ikal pendek warna mahoni yang selalu menunjukkan perhatian berlebihan saat Stone bicara. Dia mengenakan blus sutera motif abstrak warna gelap. Celana panjang skinny warna hitam menambah kesan ramping dan jenjang tubuhnya.
"Atau mungkin kesan itu yang ingin ditampilkannya dari penampilan ini" pikir Ana.
Untuk kulitnya yang sangat pucat, pilihannya pada blazer chic warna teal itu, sangatlah tepat. Itu dapat mempermanis penampilannya sekaligus membuatnya terlihat berkelas. Setelan itu disempurnakan dengan high heels hitam berujung runcing.
Ana berpikir, "Mungkinkah seseorang bisa terluka jika ditendang dengan ujung sepatu itu?"
"Apakah Ammo menggaji kalian dengan mahal?"
Pertanyaan Ana yang tiba-tiba, mengejutkan keduanya. Wanita itu dan Profesor Stone merasa risih dengan pertanyaan sensitif itu.
"Bukan apa-apa. Aku hanya melihat setelan kerja kalian bukanlah yang bisa dibeli di departemen store pada umumnya. Jika menilai garis potongan dan jahitannya saja, kita bisa tau itu buatan butik." tunjuk Ana langsung ke arah si wanita.
"Karena Kau sudah sadar, maka kami akan memulai sesinya."
Ucapan Stone menyelamatkan si wanita dari desakan Ana.
"Okey," jawab Ana tenang.
Stone duduk pada armchair di sebelah wanita itu. Mereka dibatasi oleh tiang lampu baca yang tinggi.
"Ini Dokter Sarah. Dia akan membantuku dalam sesi ini," ujar Stone memperkenalkan Sarah.
"Hai, Sarah," sapa Ana datar
"Oke. Mari kita mulai."
"Berbaringlah dengan santai, dan pejamkan matamu." ujar Stone.
Ana mengikuti instruksinya dan berbaring sambil memejamkan mata. Sikapnya tenang dan kooperatif.
"Buang pikiran lain dan rileks. Fokus saja pada suaraku. Apa kau masih mendengarku, Ana?" tanya Stone.
"Ya," jawab Ana.
"Bagus. Kita mulai ya ...."
Sebuah musik lembut terdengar. Tidak! Itu seperti irama konstan yang mengganggu konsentrasi Ana.
"Kenapa kau pasang musik? Itu mengganggu konsentrasiku!" sergah Ana seketika dia bangun.
Stone dan Sarah terkejut melihat reaksi Ana.
"Oke. Kita ulangi lagi," ujar Stone tenang.
Ana kembali mengambil sikap berbaring tenang, lalu memejamkan matanya.
Terdengar dengkuran halus Ana di sofabed.
"Kau adalah Anastasia, usia sembilan tahun, pindah ke Panti Asuhan Hope. Apa yang kau lihat di Panti pertama kali?" tanya Stone.
"Nyonya Jennifer. Dia sangat cantik dan keibuan. Aku langsung menyukainya." Ana tersenyum.
Apa yang dilakukannya hingga kau menyukainya?" tanya Stone.
"Dia langsung memelukku dengan wajah sedih yang tulus. Menggandeng tanganku dan memperkenalkan yang lainnya."
"Apa kau menyukai mereka?'
Ana menggeleng.
"Tidak. Mereka terlalu kecil. Suka menangis, cengeng, dengan ingus mengering di pipi, membuatku jijik."
"Tapi aku segera menyukai Adriana setelah dia pulang sekolah. Dan ada Sanders juga, yang selalu mengikuti Adriana seperti bayangan." Ana tersenyum bahagia.
"Apakah masa remajamu di Panti menyenangkan?" tanya Stone lagi.
"Ya! Sangat menyenangkan. Ada George yang sangat tampan dan baik."
"Siapa saja teman dekatmu waktu itu?
"Yah, untuk ukuran anak panti, bisa berteman baik dengan George adalah kebanggaan. Kami kadang kemping bersama di hutan kecil. Sangat asik melihat bintang di malam hari."
"Apa kau menyukai George?"
"Tentu saja aku menyukainya. Dia baik hati!"
"Ku kira kau mencintainya," pancing Stone.
"Tidak! Dia pernah menyatakan cinta, tapi kutolak," ujar Ana.
"Karena Adriana naksir dia. Dan Sanders naksir Adriana. Mereka benar-benar lucu. Cinta yang berputar-putar." Ana tergelak.
"Lalu, siapa yang kau cintai saat itu?" tanya Stone lagi.
"Aku menyukainya. Dia ...."
Ana tak dapat meneruskan ucapannya.
"Siapa nama pria itu?"
"Aku lupa!"
Ana menggelengkan kepalanya keras-keras. Bola matanya bergerak liar.
"Tidak apa. Lupakan saja. Kau bisa mengingatnya lain kali."
*******