Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
118. Siapa Kau Pria Tua?


"Kau—"


Orang itu tak menyelesaikan kalimatnya. Melihat Dokter Dorjan yang menunduk, dia tahu ucapan Ammo benar adanya. Jadi dia tak punya kuasa di depan pemilik properti.


"Baiklah. Mari duduk dulu. Biar aku jelaskan tentang diriku dan kenapa aku di sini!" ujarnya dengan suara melunak.


Dipersilakannya Ammo untuk duduk di sofa sebagai penghormatan. Lalu dia mengambil sendiri kursi dari ruang makan, untuk dirinya duduk. Dokter Dorjan mengambil kursi lain dan duduk di situ. Nick dan temannya berdiri dan mengawasi dengan waspada.


"Katakan!" tegas Ammo dengan mata yang menyorot tajam.


"Aku kenalan ayahnya Dorjan. Aku punya masalah kesehatan dan memilih untuk dirawat di sini, agar lebih tenang," ujarnya.


"Dia sakit apa?" Pertanyaan ini jelas ditujukan pada Dokter Dorjan.


"Komplikasi Diabetes, hipertensi dan gagal ginjal kronis," jawab Dokter Dorjan.


"Menurutku, kau memilih tempat ini, bukan sekedar ingin dirawat dengan tenang, kan!" tuduh Ammo.


"Kau bisa mulai cari rumah sakit lain. Besok kosongkan tempat ini!" putus Ammo tegas. Dia berdiri dan berjalan ke pintu.


Orang itu terkejut dan menoleh pada Dokter Dorjan. Matanya memberi isyarat. Tapi Dokter itu tak ingin membantah Ammo. Jadi tatapan penuh makna itu hanya menbentur tembok kokoh.


'Katakan berapa yang harus kubayar agar aku bisa tetap dirawat di sini!" ujar pria tua itu.


"Aku tak butuh uangmu!" sinis Ammo. Dia sudah melangkah di jalan setapak, diikuti dua pengawal dan Dokter Dorjan.


"Tolong! Jangan lakukan itu! Jika tuanku keluar dari sini, dia akan mati!" pengawal berbaju hitam itu mengejar Ammo dan memohon.


"Tuanmu tidak terlihat butuh bantuan. Dia bukan orang yang jujur!" Ammo melangkah cepat meninggalkan tempat itu.


Penjaga itu melihat tuannya yang terduduk di kursi kayu sambil menatap kosong ke halaman yang gelap.


"Tuan, anda sebaiknya berkata jujur padanya!" bujuk pengawal itu.


"Bereskan barang-barangku. Kita pergi malam ini. Semoga para pengintai itu lengah," ujarnya datar.


"Tuan...." Pengawal berbaju hitam itu melihat ke arah pria tua itu dengan pandangan iba.


"Bagaimana kalau kita pulang saja?" saran pengawal itu.


"Aku harus menemukan mereka dulu, sebelum mati!" katanya dengan keteguhan hati.


"Tapi anda bahkan tidak tahu mau mulai mencari dari mana!" bantah pengawalnya.


"Aku akan menemukan mereka!" sahutnya yakin. "Bantu bereskan barang-barangku!" perintahnya.


Pengawal berseragam hitam itu dengan segera mengeluarkan tas dan koper. Dia merapikan buku-buku di ruang kerja. Sebuah album foto lusuh dipisahkannya, untuk ditempatkan bersama tas tangan tuannya.


*


*


"Pecat dua pekerja medis yang melakukan penyetruman itu!" perintah Ammo.


"Baik!" Dokter Dorjan mengangguk.


Ammo memasuki mobilnya bersama dua pengawal dan sopir. Mobil mereka segera meluncur membelah malam.


Begitu pintu pagar dikunci, Dokter Dorjan berjalan cepat menuju rumah di tengah kebun itu.


"Apa Anda sudah mendapatkan rumah sakit?" tanyanya karena melihat pengawal itu sibuk memasukkan segala sesuatu ke dalam tas besar dan koper.


Pria tua itu sedang membuka album lusuh di meja kerja. Tatapannya sayu dan sedih.


"Anda bahkan sedang dikejar-kejar, lupakan saja mereka. Mungkin hidup mereka sudah lebih baik sekarang," bujuk Dokter Dorjan.


"Sekarang katakan, kalian mau ke mana?" desaknya lagi. Pria tua itu tak menjawab.


"Maafkan keteledoranku. Aku sudah memecat petugas medis yang kasar itu. Tapi kau jadi menerima imbas kemarahannya. Tak biasanya dia marah-marah. Tapi pasien tadi adalah temannya. Wanita itu marah besar tadi siang. Dia langsung melaporkan kejadian itu, bahkan sebelum aku mengetahuinya," sesalnya.


"Kalau cuma tempat persembunyian, aku yakin kalian bisa menemukannya. Tapi anda harus cuci darah dua kali seminggu! Dimana Anda akan bersembunyi selain rumah sakit?" Dokter Dorjan jelas sangat khawatir.


"Masih dua hari lagi jadwalku cuci darah. Jika tak menemukan rumah sakit yang cocok, maka aku akan kembali ke klinikmu, dan pergi setelahnya. Anak muda itu tidak melarangku berobat di klinikmu!" katanya menenangkan.


Tapi Dokter Dorjan tahu bahwa itu hanyalah kata-kata saja. Melakukannya tidaklah semudah pergi ke taman samping.


"Tidak! Begini saja. Anda pindah ke kediamanku saja. Meskipun berkurang privasi, tapi anda tetap berada di sini dan dekat dengan tenaga medis." Dokter Dorjan mengajukan pilihan lain.


"Nanti pria itu murka padamu. Tidak. Aku sudah cukup merepotkanmu!" tolaknya.


"Tuan, terima saja dulu tawaran itu. Sambil kita cari tempat persembunyian yang lebih baik. Jangan buru-buru pergi seperti ini berbahaya!" bujuk pengawalnya.


"Bukankah Anda masih ingin bertemu dengan kedua putri anda!"


Bujukan pengawalnya kali ini mengenai tepat dihati pria tua itu. Dia mengela nafas panjang. Kelopak matanya berkedip beberapa kali. Kemudian pandangannya beralih pada Dokter Dorjan.


"Jika dia akhirnya murka dengan keputusanmu ini, bagaimana?" Pria tua itu ingin mengetahui kesiapan Dokter Dorjan menerima resiko.


"Dia hanya meminta Anda keluar dari sini. Jadi ... tak ada salahnya jika aku memindahkan kamar rawat pasienku," sahut Dokter Dorjan.


"Baiklah. Sampai kami menemukan tempat yang sesuai, aku mungkin masih akan menyusahkanmu," angguk pria tua itu.


"Nah, begitu lebih baik. Saya akan bereskan barang-barang. Tuan bisa beristirahat sejenak." pengawal itu membukakan pintu kamar untuknya beristirahat.


Dokter Dorjan memeriksa kesehatannya sebentar. "Pindahlah besok pagi. Anda sangat butuh istirahat," sarannya.


"Baiklah! Terima kasih," angguk pria tua itu dari tempat tidurnya.


Dokter Dorjan keluar dan menutup pintu.


"Aku akan kembali dan membereskan kamar untuknya!" pamitnya sebelum pergi.


*


*


Di ruang kerjanya, Ammo memeriksa tentang pria tua yang tadi ditemuinya di perkebunan anggur. Tapi dia tak menemukan data apapun.


"Kenapa sku tak menanyakan namanya tadi!" pikirnya kesal.


"Dorjan mengenalnya di mana? Apa iya karena kenalan orang tuanya? Dia terlihat hormat pada pria tua itu!"


Ammo terus bergumam dan memikirkan berbagai hal. Dia mencurigai pria itu, tapi tak memiliki bukti yang cukup.


Meski menyadari bahwa insuden penyetruman bukan salah pria tua itu, tapi naluri Ammo memperingatkannya, bahwa pria itu bukanlah orang biasa. Dia tak ingin kebun anggurnya jadi arena kerusuhan berbagai pihak yang tak dikenalnya.


"Apakah kau agen rahasia suatu negara? Atau mafia yang buron? Atau petinggi suatu negara yang sedang buron?"


Ammo terus menebak-nebak sambil memainkan keyboard komputer. Dia mencari pria itu dari daftar buronan berbagai negara. Tapi hingga satu jam berlalu, dia tak menemukan hasil apapun.


"Tak mungkin dia tak punya basic data di manapun. Bahkan seorang pemimpin negara juga punya data yang bisa diakses publik. Hanya agen-agen rahasia terkenal yang datanya tersembunyi!" batinnya.


"Lalu, agen rahasia negara mana kau sebenarnya?" Ammo mengetuk-ngetuk meja dengan jari-jarinya tanda sedang berpikir keras.


"Ah, Ana punya copy data yang belum sempat kubuka!" Ammo mencari-cari di dalam laci meja kerjanya.


Ponselnya bergetar. Dia membaca pesan yang masuk dari Lindsay.


...LIBURAN YANG MENGESANKAN. SEGERA PULANG. INGIN OLEH-OLEH?...


Ammo membalas pesan.


...YANG LUAR BIASA....


******