
Note! Bagian ini jangan baca dulu, banyak banget typho dan salah ketik. Belum direvisi, Okey.
*
"Bos, pergi dari sana!" teriak Ariel panik. "Itu bukan bantuan dari Kapten Smith!"
"Kita harus pergi dari sini, Bi. Ayo!" Ammo akhirnya berlari melintasi jalan raya dibawah tembakan orang di seberang. Kini Ammo dapat melihat sinar lampu mobil yang melaju cepat mengejarnya di jalan yang lengang.
Theo, Ariel dan Alexei melihat situasi Ammo yang terjepit.
"Ammo, kau bisa berlindung di pos polisi di tengah jalan itu!" saran Ariel.
"Aku juga menuju ke sana!" dengus Ammo sambil berlari kecil.
Dia tak bisa memaksa bibinya berlari kencang. Kakinya yang kembut terawat pasti sudah sakit dipaksa berlari tanpa alas kaki di jalanan kasar.
"Bos!" terdengar teriakan di belakang Ammo.
"Nick!" Ammo berbalik dan memanggil Nick.
"Lari, Bodoh!" teriak Alexei gemas.
"Suara siapa itu?" tanya Ammo. Dia sudah lanjut berlari. Nick mengikuti dari belakang. Kakinya terpincang-pincang dan tubuhnya penuh luka.
"Awas mobil melaju ke arahmu, Nick!" teriak Ariel memperingatkan. Sementara itu, Ammo masih belum mencapai pos polisi yang berdiri di persimpangan.
"Apa yang kau lakukan!" teriak Ariel. Dilihatnya Nick berdiri di tengah jalan dan mengacungkan tangan. Membidik ke arah mobil yang makin dekat.
"Tembak sekarang, atau kau mati!" teriak Alexei. Theo sudah pucat pasi.
"Bos, bantuan datang. Jangan berada di jalur tembak!" teriak Kapten Smith.
Ammo berhenti. Dia telah mencapai pos pilisi dan menyembunyikan Harriet.
"Nick!" serunya terkejut.
"Pergi dari sana!" perintahnya. Nick tak mendengar, dia sedang konsentrasi.
Ammo berlari mengejar Nick.
"Bos!" Seru Ariel dan Alexei ngeri.
"Tuan," Theo merasa tubuhnya tiba-tiba lemas melihat tuannya berbalik ke arah Nick.
Ammo menerjang Nick yang terkejut dan tembakannya terlepas begitu saja. Ammo menyeretnya menjauh! "Bos?" ucap Nick kebingungan.
Disaat yang sama, sesuatu meluncur cepat dari arah berlawanan.
"Itu rudal!" seru Alexei.
Kemudian terdengar ledakan memekakkan telinga, disertai sambaran bunga api. Ammo dan Nick memandang terkejut. Mobil yang mengejar mereka tadi, telah habis dimakan api.
"Siapa—"
"Bantuan Kapten Smith tiba," ujar Ammo lega.
"Smith, apakah orang-orang ini bantuanmu?" tanya Ammo. Sebuah mobil tentara dan satu truk tentara berhenti di dekat Ammo.
Seseorang turun dan mendekati Ammo dan Nick.
"Hallo, apakah Anda Tuan Oswald?" tanyanya ramah.
"Ya, aku Edmund Emerson Oswald," jawab Ammo.
"Maafkan keterlambatan kami. Saya Mayor Andreas. Kapten Smith meminta bantuan saya tadi. Jadi kami berangkat secepatnya," ujarnya.
"Terima kasih bantuannya. Bisakah bantu membawa beberapa orang si sana? Tadi ada yang masih hidup," ujar Ammo.
"Apakah orang Anda?" tanyanya.
"Bukan!" jawab Ammo cepat.
Mayor Andreas segera menyuruh bawahannya menyisir tempat itu. Nick mengikuti. "Mari kutunjukkan!" ujarnya.
"Tadi, di sebelah sana juga ada yang menembaki kami," ujar Ammo.
Mayor Andreas kembali menyuruh dua orang untuk mencari di sekitar perempatan.
Ammo mendekati pos polisi. "Bibi, kita aman sekarang. Kapten Smith akan segera datang," ujarnya.
"Syukurlah." Harriet keluar dari persembunyian. Ammo mematikan mode transparan jasnya. Sekarang bibinya bisa terlihat kembali.
"Ini Bibiku, Harriet." Ammo memperkenalkan bibinya pada pria itu.
"Selamat malam, Nyonya. Anda pasti sangat ketakutan," sapanya.
"Ya, tapi Ammo melindungiku dengan baik. Terima kasih sudah datang membantu kami. Heran, tidak ada polisi yang datang. Padahal sudah terjadi baku tembak selana lebih dari satu jam!" keluh Harriet.
"Kami akan membicarakan hal ini dengan kepolisian," janji Mayor Andreas.
"Tak ada apapun di sini!" terdengar laporan radio.
"Kembali. Dia pasti sudah lari, begitu melihat mobil temannya meledak di tengah jalan!" panggilnya.
"Mayor, kami mendapatkan seseorang yang masih hidup. Tapi, keadaannya buruk!" lapor seseorang yang lain.
"Bawakan tandu. Panggil mobil medis!" perintah Andreas.
"Siap!"
"Bawa truk ke sana. Angkut!" perintahnya.
Truk tentara itu dinyalakan dan dibawa ke tempat dimana Nick bertarung dengan banyak orang, untuk menghindarkan Ammo dikejar lebih banyak orang.
"Kami tadi pulang makan malam dari restoran. Tapi sejak perempatan sana, mobil kami dikendalikan pihak lain. Saya minta supir mengarahkan ke jalan berbukit agar kecepatan bisa berkurang dan tak banyak lalu lintas. Tapi, saat kami melompat keluar, dia terkunci di mobil dan jatuh ke jurang di sana!" tunjuk Ammo ke arah perbukitan.
"Kalian berdua! Periksa tebing di sana. Panggil helikopter untuk membantu," perintahnya.
"Baik!"
Dua tentara berjalan ke arah tebing, dambil memanggil helikopter.
"Di mana hotel Anda?" tanya Mayor Andreas.
"Itu!" tunjuk Ammo pada hotel berbintang lima di seberang jalan sana.
Mayor Andreas mengerutkan kening. "Saya akan temani Anda berdua untuk mengambil barang-barang. Jika tidak keberatan, lebih baik beristirahat di barak!" tawarnya.
"Baik, terima kasih." Ammo mengangguk.
"Benar-benar ajaib negara ini. Tak ada seorangpun yang menawarkan bantuan saat kami ditembaki. Tak ada juga polisi yang datang menengahi!" ujar Ammo kesal.
"Tak banyak yang ditakuti polisi negri ini, selain berhadapan dengan kartel, mafia, dan pembunuh bayaran. Mereka juga sayang nyawa." Mayor Andreas berusaha menjelaskan situasi di sana.
"Tapi saya tidak berhubungan dengan kartel ataupun mafia," ujar Ammo heran.
"Kemungkinan musuh atau saingan bisnis anda yang menyewa mereka," duga Andreas.
"Hemmm ... mungkin saja. Lalu bagaimana mengurus semua kekacauan ini?" tanya Ammo. Dia bersedia pergi ke kantor polisi dan melaporkan kejadian itu.
"Biar saya yang laporkan. Anda harus dibawa ke tempat aman lebih dulu," ujarnya.
"Baik!" Ammo mengangguk setuju.
Ditemani dua tentara lain, Ammo, Harriet dan Mayor Andreas menuju hotel tempat Ammo menginap.
Lobby hotel itu begitu sepi. Tak ada seorangpun yang terlihat. Hotel itu seperti bangunan tua berhantu.
"kemana semua petugas di sini?" tanya Harriet bingung.
"Mereka menyembunyikan diri, Nyonya. Saya menduga orang yang memburu Anda berdua, telah masuk ke kamar Anda."
Mayor Andreas memanggil lebih banyak orang lagi untuk menyisir hotel dan mengawal Ammo serta Harriet.
Delapan orang petugas lainnya menyusul masuk hotel tak lama kemudian. Mereka masuk lebih dulu menggunakan kunci kamar Ammo dan Harriet. Tigasnya adalah memastikan kamar itu aman dari segala jebakan.
"Kau efisien sekali," puji Ammo.
"Tidak! Itu hanya kebiasaan berpikir tentara, dan didukung oleh tim yang solid," ujarnya merendah.
Setengah jam kemudian. "Ruangan Clear!" lapor seorang petugas.
"Bagus! mari kita ke sana dan membereskan barang-barang kalian yang tersisa, secepatnya!" ujarnya datar.
"Mari!"
Ammo membimbing tabgan Harriet untuk melangkah. Dia bisa melihat bibinya telah berjalan berjingkat-jungkat sejak tadi. Kakinya pasti sangat sakit.
"Mari kugendong, Bibi," tawarnya.
"Tidak! Aku menolak menyerah melawan orang-orang itu. Pasti mereka ada hubungannya dengan jematian Carl!" ucap wanita itu marah.
"Baiklah. Berhati-hati ... Pegangan padaku," ujarnya lembut.
Mereka menaiki lift menuju lantai 10 dimana kamar berada. Kerusakan sudah terlihat sejak di lorong. Pemandangan mengerikan terlihat hingga menuju kamarnya.
"Bahkan ada seorang pelayan wanita tewas di pintu masuk kamar Harriet.
"Apa yang mereka lakukan!" geram Ammo marah. Mayor Andreas tak menyahuti. Dia mengawasi setiap sudut dengan hati-hati.
"Jangan lupa menbuat foto dokumentasi kejadian ini! perintahnya pada bawahannya.
"Siap!"
Sekarang dua petugas yang mengikuti mereka, menyibukkan diri dengan memotret dari berbagai angle.
Kamar Harriet dibuka. Tempat itu super berantakan, hingga Harriet terpekik melihatnya.
"Ya Tuhan ... Orang barbar itu menghancurkan semuanya! Kamar yang cantik jadi kacau balau begini!" ujarnya histeris.
"Sabar, Bibi. Kumpulkan mana yang bisa saja. Dan hati-hati dengan segala sesuatu di lantai. Kaki Bibi sudah terluka sangat parah!" Ammo mengingatkan bibinya.
"Tolong bantu Bibi Herriet dulu. Aku mau membereskan kamarku," ujar Ammo.
"Siao!" Dua tentara itu membantu Harriet berbenah sebisanya.
*
*
******