Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
165. Serangan Sawyer


Ana tak menggubris kata-kata orang tersebut. Dalam asumsinya, jika orang itu tak bersalah, dia harusnya keluar saat ada yang mencari, dan bukan malah melarikan diri. Terlebih lagi, lari sambil mengendarai mobil yang sama dengan yang memberikan bom pada Gan. Bukanlah satu kebetulan jika terlalu banyak kejanggalan yang dibuatnya.


Ana mengangkat jari tengahnya, tanda hitungan kedua. Alexei dan Sawyer sudah melihatnya, mereka bersiap. Sebuah cahaya laser menyambar tepat ke arah mobil dan menguncinya.


Alexei dan Ana sudah lebih dekat lagi ke mobil itu. Dua orang itu tinggal menunggu tanda dari Ana untuk melumpuhkan mobil tersebut.


"Kami ke sini untuk mencari sebuah mobil. Dan kau berada di mobil itu. Dan sekarang mencoba melarikan diri. Keluar!" teriak Ana.


"Heli itu mengancamku! Aku tidak mau!" Orang itu berusaha bernegosiasi.


"Jika kau tak keluar dalam satu menit, aku akan memintanya menembakmu!" ancam Ana.


Di sisi lain, Alexei yang mengendap-endap, sudah makin dekat ke mobil itu.


Sawyer masih menunggu aba-aba Ana. Dia orang yang tak sabaran menghadapi trik seperti yang dilakukan orang di mobil itu. Ana masih menahan aba-abanya, jadi Sawyer hanya bisa menunggu, kecuali orang itu melakukan hal tak terduga yang akan membahayakan mereka bertiga.


"Satu! Dua!" tangan Ana terangkat ke atas. Sawyer melihatnya, dan bersiap.


Orang di mobil memperhatikan Heli yang senjatanya kini sudah mulai bersiap menyalak. Tiba-tiba seseorang menodongnya dengan senjata api berperedam dari jendela.


"Jangan berpikir macam-macam!" ancam Alexei. Senjatanya sudah tidak terkunci. Juga siap untuk meledakkan kepala orang itu.


Orang itu terkejut, dan langsung mengangkat tangannya menyerah.


"Aku sudah mengatasinya!" teriak Alexei.


"Mereka ada berdua, Paman!" Ana memperingatkan.


Alexei mengawasi ke sebelah orang tersebut. Seseorang muncul dari persembunyian di bawah dashboard. Sebuah pistol muncul dan meletus ke arah Alexei. Tapi pria itu menghindar dengan cepat dan menjatuhkan diri ke tanah.


Sawyer tak menunggu aba-aba-lagi. Senapannya memuntahkan beberapa peluru ke arah mobil tersebut.


Ana terbengong di tempatnya. Kejadian itu begitu cepat, sejak dia memperingatkan pamannya, hingga tembakan pada Alexei dan tembakan balasan yang diluncurkan Sawyer. Itu hanya selisih sedetik!


Setelah satu putaran, Sawyer berhenti. Tak ada lagi suara dari mobil itu. Bagian depan mobil pick up itu mengenaskan. Ada banyak lubang akibat ditembus oleh peluru-peluru besar yang dikirimkan Sawyer.


"Paman, apa kau baik-baik saja?" Ana berteriak, bertanya.


"Aku baik-baik saja. Biar kuperiksa," ujarnya.


Alexei bangkit dari jatuhnya dan memeriksa mobil itu. Orang yang duduk di depan kemudi menerima sebagian besar peluru, karena posisinya yang terlihat jelas oleh Sawyer.


Alexei kemudian memutari depan mobil, untuk memeriksa sisi satunya. Sekarang dia bisa melihat dengan jelas, bahwa orang yang tadi menembaknya juga sudah jatuh terkulai, menelungkupkan kepala ke jok mobil. Punggungnya ditembus beberapa peluru yang dikirim Sawyer.


"Keduanya sudah mati!" lapor Alexei.


"Ah ... kita tak dapat apapun," keluh Ana. Gadis itu datang mendekati mobil pick up.


"Apa mereka orang yang memberikan bom?" tanya Alexei.


Ana mengamati dua orang tersebut. "Aku melihat orang ini di jendela mobil dan tersenyum jahat!" tunjuk Ana pada orang yang tewas di lantai mobil.


"Yang ini?" tanya Alexei sambil menunjuk orang yang duduk di belakang kemudi.


"Aku tak melihatnya. Entah apakah Gan menerima paket dari orang ini atau bukan!" ujar Ana.


Ana pergi meninggalkan tempat iru dan berputar ke bagian depan tempat pengumpulan barang bekas itu. Dilihatnya Gan masih mencengkeram tangan Si Bisu. Ana mendekati mereka.


"Dua orang mati ditembak Sawyer. Coba kau lihat, apakah ada orang yang memberimu bom itu di sana," perintah Ana.


"Baik, Pemimpin!" Gan melepaskan cengkeramannya pada orang bisu itu, kemudian pergi ke belakang bangunan.


Ana menahan Si Bisu yang juga ingin ikut ke arah Gan pergi.


Sekarang bawa aku ke dalam!" Ana menarik tangan orang itu dan membawanya masuk ke bangunan tersebut. Orang itu mencoba memberontak, tapi Ana tak memberi ampun. Tangannya melayang menempeleng kepala Si Bisu.


"Jangan kira, karena kau bisu, aku akan bersikap lembut padamu! Kau bersekongkol dengan para penjahat. Aku takkan memberimu ampun!" Ana memperingatkan dengan suara keras dan sedikit gerakan ancaman.


Si Bisu terdiam. Dia mengusap kepalanya yang pasti sakit kena tempeleng tadi. Sekarang dia lebih penurut dan tidak lagi berontak yang akan menyusahkan dirinya sendiri saja.


"Bagus! Kuanggap kau mengerti kata-kataku. Aku tahu kau tak sebodoh kelihatannya!" ejek Ana.


Keduanya berjalan ke sebuah pintu yang ada di tengah bangunan. Ana berusaha membukanya, tapi tak bisa. Sepertinya dikunci.


"Buka!" perintahnya pada pria itu.


Pria itu mengeluarkan rangkaian kunci yang tergantung di pinggangnya. Dia memilih satu, kemudian membuka pintu tersebut.


"Apakah tidak ada siapa-siapa lagi di dalam?" tanya Ana.


Si bisu memberi isyarat yang tidak dimengerti Ana. "Tunjukkan jalannya!" perintah Ana kesal, karena dia tak mengerti.


Tapi orang itu justru terlihat ketakutan dan seperti menolak untuk masuk.


"Apa yang kau takutkan? Dua orang yang di dalam mobil sudah mati ditembak!"


Ana menunjukkan pistol dan mengarahkan moncong pistol ke arah dua jarinya, lalu menunjukkan gerakan menembak, dan keduanya rebah, mati.


Si bisu terkejut melihat hal itu. Dia langsung berlari ke dalam, seperti khawatir akan sesuatu. Suaranya yang sengau dan tak jelas, terdengar memanggil-manggil seseorang.


Ana merasa itu aneh. "Mungkinkah dia diancam oleh orang di mobil pick up? Atau ada sandera yang dikenalnya, di dalam sini?" pikir Ana khawatir.


Dia berlari mengikuti langkah kaki orang itu, menuju lantai atas. Tempat di atas hanya berupa kamar. Ada tiga kamar di sana.


Pria itu berlari ke kamar pertama, dia membukanya dan berteriak tak jelas. Tampaknya dia sedang memanggil seseorang.


Begitu Ana sampai di tempat itu, pria itu menyerbu keluar lagi dan masih berlari dengan panik. Ana yang keheranan, tetap melihat suasana kamar itu.


Dia tak menemukan sesuatu pun. Tempat itu lebih mirip kantor yang ... sangat jorok! sampah berserakan di mana-mana. Setelah memeriksa berkeliling dan tak melihat apapun, Ana keluar.


Sekarang dia mendengar tangis pilu Si Bisu. Gadis itu berlari cepat ke arah ruangan lain yang ada di situ. Matanya membelalak marah. Seorang wanita, yang menurut perkiraan Ana mungkin adalah pasangan Si Bisu, tergeletak dengan tubuh polos, dan dahi tertembus peluru.


Pria bisu itu menangis dengan suara tak jelas, Dipeluknya tubuh wanita itu dengan sedih dan kemarahan yang kuat. Ana melihat sekitar, dia menemukan jaket terhampar di sandaran sofa tua. Diambilnya jaket itu untuk menutupi tubuh polos wanita yang sudah tak bernyawa itu.


Dia belum bisa menanyai Si Bisu saat ini. Jadi diputuskannya untuk keluar dan menelepon Alexei, mengatakan yang dilihatnya di sini.


"Aku akan ke atas!" ujar Alexei.


********