
""Kami sudah mendapatkan orangnya!" Ammo mengabari Donny.
Mobil yang sudah terlanjur berada di depan, berhenti mendadak lagi. Kemudian putar balik, menuju tempat Ammo.
Mobil Ammo berhenti di pinggir jalan. Sopir menggoyangkan kepala yang terkulai itu. Dia sedikit khawatir kalau apa yang dilakukanny tadi, mungkin bisa membunuh orang tersebut.
"Hei, apa maksudmu menempel di mobil kami?" hardiknya keras.
"Tolong ... tolong...."
Suaranya lemah dan bergetar.
"Dia gemetar," pria yang memegangi orang itu memberi informasi.
"Posisikan dengan benar, agar wajahnya terlihat jelas!" ujar Nick tak sabar.
Pria yang memegang, membenarkan posisi orang itu, hingga menghadap ke belakang. Tangan orang itu berada dalam kuncian. Jadi, mustahil akan mengancam nyawa Bos.
Nick menyibak rambut kusut penuh kotoran dan lumpur itu.
"Sepertinya seorang wanita, Bos!" ujar Nick. Ammo mengangguk. Kepala wanita itu terlihat lemas tak berdaya. Nick kembali mengangkat dagu wanita itu dan menghadapkannya pada Ammo. Kemudian menyibakkan rambut yang menutupi wajahnya.
"Maya!" seru Ammo tertahan.
Matanya membesar tak percaya. Itu bawahan Ana yang hilang di kastil tengah laut, saat penyerangan.
"Anda mengenalnya, Bos? tanya dua pria di depan.
Kemudian perhatian semuanya teralih keluar, karena Donny mengetuk jendela kaca.
"Bagaimana?" tanyanya, ketika Nick membuka kaca jendela.
Karena kehadiran Maya, rencana Ammo berubah. Donny dan Ivan harus membawa Maya ke tempat yang aman. Ammo memberikan berbagai instruksi, agar Donny berpura-pura tidak mengenal Ammo dan Ana.
Bagi Ammo, sebelum melakukan pemeriksaan yang menyeluruh, Dia takkan percaya pada siapapun bawahan Ana dari Biro K.
"Donny dan Ivan mengerti apa yang terjadi saat ini. Jadi keduanya harus menjalankan tugas dengan baik dan hati-hati.
Maya yang pingsan diikat kedua tangan dan kakinya. Lalu diangkat ke mobil yang ditumpangi Donny dan Ivan. Mereka berpisah di tempat itu.
Ammo melanjutkan perjalanan menuju kantornya. Sementara Donny dan Ivan, melanjutkan tugas untuk membawa Maya dengan aman.
Di mobil.
"Jangan katakan pada Ana bahwa kita menemukan Maya. Gadis itu harus dipastikan dulu keamanannya!" Ammo menjelaskan allasannya.
"Siap, Bos!" ujar Nick cepat. Keempatnya melanjutkan perjalanan yang tertunda.
*
******
Ana sedang memutar ulang rekaman televisi tentang hilangnya Nathalie di ruang tengah. Theo datang menghampirinya.
"Nona, Tuan meminta Anda bersiap. Sebentar lagi Sawyer akan menjemput Anda ke sini." Theo menyampaikan pesan Ammo.
"Baik, Aku akan bersiap-siap," jawab Ana.
"Kau mau ke mana?" tanya Ariel yang baru datang.
"Pergi!" jawab Ana singkat.
"Aku baru mau bergabung, tapi kau malah pergi!" kesal Ariel.
Ana tak menggubris. Dia terus pergi menuju kamarnya.
"Tuan meminta Nona Ana untuk pergi. Sawyer akan mengantarnya," Theo menjelaskan.
"Jadi, hanya aku sendiri yang ada di rumah? Membosankan sekali!" gerutu Ariel.
"Bagaimana kalau kusiapkan sedikit cemilan, untuk Anda?" bujuk Theo.
"Ahh, itu hal paling bagus untuk mood booster!" Ariel mengacungkan jempolnya pada Theo. Dia lanjut menonton siaran-siaran televisi yang telah direkam Ammo. Matanya mengerut ketika ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Bagian itu dicopy dan diamatinya dengan seksama.
"Apakah ini orang yang sana? Bukankah seharusnya dia sudah mati lima tahun yang lalu?" gumamnya heran.
"Semaju apapun teknologi dan riset kesehatan, mustahil bisa menghidupkan orang mati!" ujarnya lirih.
Ariel segera mengirimkan pada Ammo, foto yang dicopy dan pembanding yang dimilikinya. Disertai dengan kecurigaannya.
Ana berjalan melewati ruang tengah. Tivi masih menyala, ada hidangan di meja serta secangkir teh. Tapi, Ariel yang empunya, malah sibuk dengan gadgetnya.
"Aku berangkat," ujar Ana sambil lalu.
"Hah?" Ariel mengangkat mukanya.
"Kau sudah mau pergi?" tanyanya.
"Sawyer!" panggil Theo ketika melihat Ana sudah rapi.
"Ya!" Sawyer muncul.
Dilihatnya Ana berjalan keluar, diapun segera berlari ke halaman. Helikopter sudah disiapkan sejak tadi, setelah Theo menyampaikan pesan.
"Kami pergi," ujar Ana.
Theo mengangguk dan terus memperhatikan, hingga helikopter itu menghilang dari pandangan.
*
*
Ammo tercenung melihat ponselnya. Ada pesan dari Ariel. Dia mengirimkan foto Carl Corbett. yang di-copy dari tivi, serta satu foto Carl yang digandeng dengan sebuah kecelakaan mobil di sebuah negara kecil. Di situ Carl disebut sebagai orang yang tidak dikenal, karena semua identitasnya hilang.
Foto tambahan di potongan berita itu, jelas Carl. Ammo tak mungkin salah mengenali sepupunya.
"Aku harus mencari waktu untuk mengunjungi Bibi Harriet," batin Ammo.
Untuk sementara, Ammo tidak mengambil tindakan tegas terhadap Carl. Jika dia menarik semua fasilitas dan memblokir kartu kreditnya, maka Pria asing itu akan menyadari, bahwa Ammo telah mengetahui rahasianya.
Sebelum melakukan itu, Ammo harus melindungi Bibi Harriet lebih dulu. Dan membawanya mengunjungi makam Carl di negara lain.
Ammo membuka ponsel untuk membaca pesan Theo.
...SUDAH BERANGKAT...
Ammo membereskan berkas terakhir yang ada di mejanya.
"Nick!" panggilnya melalui interkom. Nick sekarang menempati meja Rosie, di depan pintu Ammo.
Nick masuk dan menghampiri. Ammo menunjuk setumpuk berkas yang ada di meja. "Kau antar semua berkas ini ke semua alamat, dengan mobil. Ingat, serahkan langsung pada orangnya. Setelah itu, kalian pulang!" perintah Ammo.
"Tapi, Bos. Tugasku melindungi Anda," katanya. "Bagaimana nanti Kapten—"
"Aku yang akan jelaskan pada Kapten Smith," potong Ammo.
Meski ragu, tapi Nick tak mungkin membangkang perintah. "Baik, Bos!"
Semua berkas di atas meja, dibawanya. Ada alamat yang tertera di setiap bagiannya. Ada tujuh berkas yang harus dikirim saat ini juga. Dia harus bergegas.
Ammo berjalan menuju ruang pribadinya dan menyegarkan diri sejenak. Kemudian berganti pakaian santai. Dia juga menyelipkan pistol di balik jaketnya.
Ponsel di meja bergetar. Pesan dari Sawyer. Mereka telah sampai. Ammo bergegas keluar, mengunci pintu dan mematikan semua lampu serta alat-alat yang tidak penting.
Dia keluar ruangan. Memeriksa meja Rosie. Dan ruang sekretariat yang kini kosong melompong. Entah kapan dia punya waktu untuk menyeleksi sekretaris baru. Ada dua orang pengawal berseragam hitam di lantai itu. Selalu menjaganya dari waktu ke waktu.
Pintu lift terbuka setelah Ammo memencet tombol. Di dalam, ada Ana yang bersiap keluar. Tapi Ammo langsung masuk dan memilih tombol naik lagi.
"Bukankah sudah kukatakan pada Sawyer tak usah turun?" ujar Ammo heran.
"Aku tak mendengarnya." jawab Ana santai.
Ammo tak mendebat lagi. Dia hanya memperhatikan angka-angka yang berganti setiap kali satu lantai terlewati. Hingga lantai rooftop, di mana Helipad berada.
Ana keluar lebih dulu, membuat pengawal berseragam hitam itu sedikit tak biasa. Biasanya, Bos yang akan berjalan lebih dulu. Ammo hanya menggeleng dan tersenyum kecut.
"Anda akan pulang, Bos?" sapa pengawal itu hormat.
"Ya, tak ada lagi yang akan datang ke sini. Jangan bukakan pintu, apapun yang terjadi," pesan Ammo.
"Siap, Bos!" jawabnya cepat.
Ammo berjalan menuju helikopter. Sawyer terlihat berwajah bingung. Ammo awalnya tak mengerti apa sebabnya. Tapi setelah dia membuka pintu, barulah paham. Ana duduk di tempatnya, dan Sawyer tak berani menegur.
"Itu tempatku!" ujar Ammo.
Ana harus diberi sedikit tambahan informasi tentang posisinya. Meski mereka berteman dan Ammo menyukainya, bukan berarti boleh membuat bingung semua bawahannya tentang posisi Ammo.
"Bukankah sama saja?" sanggah Ana.
Ammo menggeleng. "Kau bisa duduk di sebelah sana!" tunjuk Ammo.
Ana akhirnya menurut. Tapi terlihat tidak puas. "Aku tak melihat perbedaan kursi ini dan kursimu. Kenapa kau harus di situ?" selidik Ana.
"Aku suka melihat ke jendela bagian kiri!" jawab Ammo asal.
"Hah! Alasan yang menggelikan!" ejek Ana kesal.
Ammo tak peduli. Dia duduk santai dan menikmati pemandangan kota di bawah sana.
*******""