Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
188. Kemarahan Ammo 2


Ammo mengotak-atik laptopnya. Memeriksa dengan satelit beberapa tempat strategis yang sejak lama telah diincarnya. Tangannya meraih ponsel khusus di laci meja.


Dia menghubungi seseorang lewat telepon itu. "Sepertinya aku membutuhkan bantuanmu. Mereka terlalu keras kepala," ujarnya.


Terdengar jawaban dari seberang yang tak dapar didengar orang lain.


"Lakukan sesuai rencana awal. Aku tak mau lagi dipermainkan. Dan keluarga besarku jadi tarhan di sini. Belum lagi, aku juga yang merujukkan pria itu untuk mendapatkan restu dari Klan Khaan. Sangat mengecewakan. olong berekan kekacauan di sana segera!" perintah Ammo.


Bahkan setelah hubungan telepon itu putus, Ammo masih terlihat sangat gusar. Matanya mengawasi layar laptopnya dengan tajam. Ariel tidak dapat menduga, apa yang sedang dilakukan pria itu. Dia juga tak tahu apa rencana cadangan yang dibuat Ammo. Dan dia tak memusingkan hal itu. Tugasnya adalah mengamati jalannya pergerakan di lapangan dan menerima laporan dari banyak mata-mata yang telah disebarkan Ammo.


Dalam satu jam berikutnya, ruangan itu penuh dengan ketegangan. Donny dan Ivan memeriksa file elektronik yang dikirim utuh oleh Romanov. Inilah satu-satunya harapan mereka untuk membungkam penguasa itu. Dan mereka harus menemukan rahasia besar secepatnya, yang tak mungkin lagi memberi rezim ampunan.


"Ammo, karena pihak militer mendukung rezim, tidakkah lebih baik kita fokus untuk membungkam pihak militer?" saran Donny.


Ammo mengangguk. "Kau benar. Kita harus mencari jejak dosa mereka juga. Tapi, semuanya memang harus dibongkar. Tanpa melihat semua file, maka kita tak akan tahu mana catatan dosa yang mempunyai pengaruh paling besar!" ujar Ammo.


"Jujur saja. Aku merasa waktu kita sangat genting. Apakah kau tak ingin menambah personel untuk memeriksa semua file ini?" saran Donny lagi.


"Apa kau punya saran?" Ammo balik bertanya.


"Cari diantara seratusan penjaga di luar. mereka hanya perlu bantu memeriksa jutaan file ini," usulnya.


"Kalau kau bisa mengajari mereka harus mencari apa, maka cobalah!" kata Ammo.


"Julio, panggil kapten Smith ke sini!" perintah Ammo.


"Baik, Tuan." Pelayan itu kemudian keluar dari ruangan. Ammo kembali sibuk dengan laptopnya. Dia mengawasi satu lokasi yang sepertinya sudah ditandainya sejak lama. Jari jemarinya mengetuk meja secara berirama. Dia sedang menimbang baik-buruknya tindakan yang akan diambilnya.


Panggilan telepon kembali masuk ke ponsel khususnya. "Bagaimana?" tanya Ammo begitu panggilan itu tersambung.


"Bagus! Kita lakukan sesuai rencana semula. Aku sudah mengawasinya sejak tadi. Kalian bereskan langsung targetnya. Aku akan mendukung dari sini!" ujar Ammo.


Ariel yang penasaran hanya bisa diam mengamati tindakan Ammo. Dia tak mungkin bertanya yang bukan tugasnya.


Ammo sangat serius dengan laptopnya saat Kapten Smith masuk. Ammo menoleh padanya sejenak. "Kau pilih dari orang-orangmu, yang bisa dipercaya dan punya kemampuan IT memadai. Mereka butuh bantuan untuk memeriksa semua file yang dikirimkan tadi!" perintahnya.


Kapten Smith menoleh pada Donny dengan bingung.


"Yang bisa memeriksa file dengan laptop. Jika kalian punya laptop lain, itu akan lebih bagus!" ujarnya.


Mereka mungkin tidak akan mengetahui apa yang sedang kalian cari," jawab Kapten Smith ragu.


"Kami akan mengajari dan memberi tahu mereka apa-apa yang penting untuk dicari," timpal Ivan.


"Baik. Akan kutanyakan pada mereka," ujarnya mengangguk. Kemudian Kapten Smith menghilang lagi di pintu.


Berikutnya Julio juga ikut pergi, setelah dia memeriksa ponselnya yang menyala. Theo masuk dan menggantikannya agar dia bisa pergi beristirahat.


Kali ini Theo berbaik hati membawakan semua orang makanan. Dia tak mungkin membiarkan orang-orang itu kelaparan karena tak bisa meninggalkan meja mereka.


Selagi mereka bekerja sambil menikmati makanan lexat, Kapten Smith kembali dan membawa tiga orang yang telah dipilihnya. Masing-masing mereka membawa laptop sendiri.


"Bagus!" ujar Donny. Tapi sekarang dia justru kebingungan karena tak ada meja cadangan lain di ruangan itu.


"Bantu aku menyiapkan meja untuk mereka," ujar Theo sigap. Kapten Smith mengikutinya keluar. Donny juga ikut keluar.


"Kurasa, mereka bisa memeriksa di sini. Cukup dengan untuk tetap dalam pengawasan dan bertanya jika tidak tahu," kata Donny. Theo mengangguk. Dia juga berpikir seperti itu tadi.


Sekarang Kapten Smith mengikuti Theo mengambil dan mengangkat meja dan kursi untuk tiga orang anggotanya yang memabntu memeriksa file di lantai dua.


Ammo mengabaikan mereka sepenuhnya, Dia sedang memperhatikan pergerakan dari orang yang tadi dihubunginya.


"Ke kanan. Di kiri ada jebakan!" katanya memperingatkan.


"Lurus saja!" perintahnya lagi.


"Tunjukkan!" perintah Ammo tanpa mengalihkan perhatiannya.


Ivan mengalihkan file yang tadi dilihatnya ke layar lebar di tengah ruangan.


Ammo membaca informasi disertai rekaman video. "Bagus! Carikan lagi bagiana pendukungnya. Itu akan sangat berarti jika ada data pendukung," katanya.


"Baik!" ujar Ivan,


"Kirimkan file itu padaku!" ujarnya lagi.


"Oke!" sahut Ivan.


Dia senang sekali bisa menemukan data baru yang dapat dipakai Ammo menekan pihak penguasa di Slovstadt. Ivan kembali bekerja dengan serius. Biarkan Donny mengajari tiga tenaga bantuan di luar sana.


"Masuk dari samping. Pintu itu ada jebakan!" ujar Ammo. Matanya tak lepas memandang laptop yang menyajikan aksi lapangan orang pilihannya.


Kemudian terdengar suara tembakan saling bersahutan. "Hati-hati di belakangmu!" ujarnya. Kemudian terdengar suara tembakan.


"Orang itu lari ke belakang. Kejar!" perintah Ammo.


"Dia berbelok ke kanan!" Ammo membimbing orang itu menuju target yang mereka sepakati.


"Kau tak menemukannya? Dia ada tepat di seberangmu!" kata Ammo.


"Cari ruang rahasia!" sarannya.


Nah, dia sudah berbelok ke kiri. Ku rasa dia sudah berada dekat dengan dinding terluar. Hati-hati, dia mungkin punya pintu keluar rahasia!" kata Ammo memperingatkan.


"Ya, lakukan seperti itu. Orangmu sudah berada di seberangnya. Hanya berbatasan dengan dinding rumah saja."


Ammo terus menjadi mata bagi tim itu. Aksi tim cadangan ini harus berhasil. Hanya ini cara terakhir memastikan keberhasilannya.


Kemudian kembali terdengar baku tembak dari laptop Ammo. Ariel menatap tegang. Dia tak punya banyak kegiatan lagi setelah Romanov dan Vladimir mundur. Kedua orang itu belum memberi laporan lain. Diperiksanya laptop yang menandai keberadaan dua tim yang turun lebih dulu itu. Mereka sedang menuju safe house, untuk kemudian harus menghilang sementara dari negara itu.


"Kemudian radio di kepala Ariel berbunyi. Itu panggilan dari Romanov. Ariel mengabarkan hal itu pada Ammo.


Pakai speaker!" perintah Ammo.


Ariel melakukan seperti yang diinginkan pria itu. "Kami sudah sampai di safe house," ujarnya.


"Berapa anggota timmu yang tak bisa kembali?" tanya Ammo Delapan orang! Mereka semua tewas saat berusaha merebut gedung itu!" lapor Romanov.


"Catat namanya, agar aku bisa menghubungi keluarga mereka," kata Ammo.


"Baik!" sahut Romanov.


"Sekarang pergilah dari negara itu secepatnya! Aku akan mengirimkan kendaraan di titik yang sudah dijanjikan. Aku tadi sudah melihatnya. tempat itu aman. Tetap berhubungan agar kami bisa menjaga kalian di jalan!" perintah Ammo.


"Baik!" sahut Romanov. Panggilan itu terputus.


Ammo kembali pada laptopnya dan memberikan beberapa indtruksi pada orang yang turun.


"Apa Vladimir belum memberikan laporan? Di mana dia?" tanya Ammo.


Ariel memeriksa laptopnya dan mengamati lokasi Vladimir.


"Dia sudah sampai di safe house. Tapi dia belum memberikan laporan," lapor Ariel.


"Coba kau yang menghubungi! Mungkin ada kendala dengan mereka!" perintah Ammo.


"Baik!" sahut Ariel. Dia kembali bekerja dan berusaha menghubungi Vladimir yang menderita kerugian paling banyak dari dua tim yang turun.


*******