
Para supporter Alexei terkejut dan merasa kecewa melihat Mayor mereka kalah dalam pertandingan lari.
"Hah, sial!" ujar yang satu kesal.
"Apa kau pikir Mayor akan berlari dengan serius melawan wanita setengah baya?" kata yang lainnya membela Sang Mayor.
"Kau juga bisa lihat tatapan kasih sayang dari Mayor pada wanita itu. Dia terlihat gembira meskipun kalah!" gerutu yang lain, tak puas.
"Apa wanita itu kekasihnya?" mereka bergosip lagi, melihat Mayor dan tamu perempuan itu berjalan bersisian dengan gembira. Mayor mereka menunjukkan berbagai tempat. Dan wanita paruh baya itu menaruh minat atas apa yang dicertikan.
"Apa mungkin wanita itu rekrutan baru?" tebak yang lain.
"Kenapa kau bisa menebak seperti itu?" tanya yang lain ingin tahu.
"Antusiasnya atas setiap penjelasan, tidak pura-pura. Dia benar-benar tertarik. Dan lomba tadi, aku yakin ... mereka bermain secara adil!" jelasnya.
"Kau sudah seperti pakar ekspresi di televisi saja!" ledek yang lain. Akhirnya terdengar tawa riuh di sana.
"Masa sih Mayor mau terima rekrutan seusia itu? Dia harusnya bisa pensiun beberapa tahun lagi!" yang lain masih penasaran.
"Mayor mendirikan perusahaan ini untuk membantu para mantan tentara mencari pekerjaan yang baik. Jadi, bisa jadi wanita itu juga sedang terjepit, seperti kita dulu...."
Teman-temannya akhirnya mengerti dan penjelasan itu terasa sangat masuk akal.
"Hei! Kalian kerjakan tugas! Jangan bergosip saja!" tegur atasan mereka.
"Siap, Kapten!"
Para penonton itu akhirnya bubar ke tempat tugas masing-masing. Tinggallah Sang Kapten sendirian. Diperhatikannya Alexei yang pergi bersama Ana sambil bercengkrama.
Mayor sudah mengatakan bahwa wanita itu keluarga. Dan mengharap bantuan untuk menjaganya karena dalam incaran pembunuhan. Dia baru lihat bahwa yang dimaksud Mayor adalah seorang wanita paruh baya.
*
*
Saat Ana sudah ingin beristirahat, Ammo menelepon.
"Ada informasi terbaru?" tanya Ana langsung.
"Lindsay dan Brandy mengatakan bahwa menelusuran mereka atas kasusmu, membawa mereka bertemu seseorang," ujar Ammo.
"Siapa?" tanya Ana datar.
"Orang yang menyelamatkan ayahmu dari kematian!" sahut Ammo hati-hati.
Ana terdiam. "Berarti dia masih hidup. Tapi tak mencari aku dan Nathalie!" responnya dingin.
Terdengar helaan nafas Ammo dari ujung sana. "Ayahmu terluka parah dan sedang sekarat saat ditemukannya. Butuh waktu untuk menyelamatkannya. Dan setelah itu, dia terus dalam persembunyian."
Ana tak merespon pemberitahuan Ammo. Hatinya membeku karena kecewa pada ayahnya.
"Mereka mencarimu dan Nathalie dengan membayar detektif pribadi. Tapi detektif itu tewas dibunuh tujuh tahun yang lalu." lanjut Ammo.
"Oh ... lalu?" Ana benar-benar tak berminat.
"Beberapa bulan setelah itu, ayahmu mencari jejakmu, dengan meneruskan langkah terakhir detektif itu. Apa kau ingin tau dimana dia memulai pencarian?" pancing Ammo.
"Kalau kau ingin mengatakannya, maka katakan. Kalau tak mau cerita, matikan saja telepon. Aku mau tidur!" sentak Ana kasar.
"Kau harus belajar mengendalikan emosimu!" tegur Ammo halus.
"Hah!"
Ana memutuskan sambungan telepon. Dadanya bergemuruh marah. Dia sangat emosi mendengar ayahnya masih hidup, tapi tidak mencarinya sendiri! Itu terasa menyakitkan hatinya.
Air matanya menetes, mengingat perjuangan hidupnya selama ini. Dia tak seberuntung Nathalie yang diadopsi keluarga kaya raya. Dia tumbuh besar di panti bersama beberapa anak lain dan harus menjaga anak-anak baru yang masih kecil bahkan bayi di panti itu.
Dendam atas kematian ibunya membuat dia bertahan dengan semua kesukaran. Berharap mendapat pentunjuk dan bisa membalas orang-orang itu.
Tapi sekarang dia seperti anjing yang sedang berputar-putar mengejar ekor sendiri. Karena ternyata kematian ibunya terkait intrik di Biro!
Betapa memuakkan! Orang-orang yang selama ini tersenyum dan memujinya justru jadi orang yang menikamnya dari belakang, saat rahasia kotor mereka diketahui Ana.
Dan sialnya, saat dia melaporkan semua keganjilan itu pada pusat, dia justru balik menjadi target The Hunters untuk dihabisi.
"Biro itu sudah busuk sejak dari atas hingga ke bawah. Aku tak mudah lagi mempercayai siapapun. Orang bisa dengan mudah merubah senyum dengan sebilah belati untuk menusukku!" bisiknya getir.
Ana tertidur dan garis air mata membekas di pipinya.
*
*
"Apa maksudmu dia mungkin masih hidup?" desak Alexei.
"Yah, pencarian detektif bayaran itu berakhir di kota ini. Dia tewas di sini. Aku memastikannya setelah mencari beritanya dari media lama!" sahut Ammo.
"Jadi Ivan memulai pencarian di kota ini?" ulang Alexei untuk meyakinkan diri.
"Ya. Begitulah informasi orang yang menolongnya saat itu. Ayah Ana tinggal bersama keluarga itu sejak diselamatkan oleh mereka. Dan diijinkan pergi mencari, setelah kematian detektif yang mereka sewa," jelas Ammo.
"Tujuh tahun yang lalu, Ana ada di mana?" tanya Alexei.
"Baru selesai sekolah. Dia langsung mengikuti pelatihan Biro setelah itu. Sementara aku sedang kuliah di negara lain, dan kembali saat dia mulai mendapatkan tugas-tugas kecil." Ammo menjelaskan.
"Apa menurutmu, detektif itu tewas karena menemukan Ana atau Nathalie?" tanya Alexei.
"Kupikir seperti itu!" tegas Ammo.
"Jika Ivan juga dicari-cari Biro, maka tak mungkin dia menggunakan wajah dan nama aslinya!" cetus Alexei.
"Betul. Nama dan wajahnya berubah-ubah jika dia mulai diketahui orang!" sahut Ammo.
"Artinya, dia punya ahli penyamaran hebat yang mendukungnya," guman Alexei.
"Aku hanya menyampaikan hal itu. Nanti kuhubungi lagi. Ada yang ingin kuurus lebih dulu. Sebelumnya, tolong Paman kirimkan foto keluarga Ana yang paman pegang itu padaku. Aku harus memastikan beberapa hal dulu!" pinta Ammo.
"Oke. Sebentar kukirimkan fotonya," jawab Alexei.
Telepon terputus dan Alexei masuk rumah. Dilihatnya Ana sudah tertidur pulas. Dia mencari foto keluarga Ana dan segera mengirimkan hasil fotonya ke nomor telepon Ammo.
Alexei menata sofanya agar jadi lebih nyaman untuk tidur. "Kira-kira, kau menggunakan topeng apa?" pikir Alexei.
"Tapi jelas kami belum pernah bertemu. Karena harusnya dia bisa langsung mengenaliku jika bertemu," batin Alexei.
*
*
Pagi sekali, Ana dibangunkan oleh getaran ponsel yang berada dekat dengan kepalanya.
Dengan mata menyipit dia melihat nomor pemanggil. "Dia lagi?"
Ana menyambungkan telepon dan menyapa dengan malas. "Ada apa lagi? Aku masih ngantuk. Mengganggu tidurku saja. Kalsu tak penting, jangan ganggu. Ini tengah malam!" sungutnya kesal.
"Tengah malam? Harusnya kau pelihara ayam biar ada yang berkokok untuk mengatakan bahwa hari sudah pagi!" jawab Ammo pedas dari ujung telepon.
"Pagi?"
Ana memiringkan tubuh dan melihat ke bawah. Lampu rumah Alexei masih menyala terang.
"Oke. Ada apa?" Ujar Ana akhirnya. Matanya sudah terbuka lebar sekarang.
"Kurasa aku menemukan ayahmu!" ujar Ammo bersemangat.
"Oh ya? Di mana?"
Ammo terdiam. Respon gadis itu diluar dugaannya. "Seberapa kecewa dia?" pikir Ammo sedih.
"Hei, kau masih hidup di sana?"
Teriakan Ana menyadarkan Ammo. "Ya! Ada apa?" sahut Ammo.
"Hloo ... kok ada apa? Bukannya tadi kau yang ingin mengatakan sesuatu? Kenapa malah balik tanya ada apa!" Nada suara Ana yang tinggi, menjelaskan betapa sewotnya dia sekarang.
"Ada apa?" Alexei ikut bertanya dari bawah.
"Ini, Ammo! Bicara sepotong-sepotong dan membingungkan!" Ana menyahuti pertanyaan Alexei dari loteng.
"Maaf, tadi aku agak sedikit terganggu sesuatu," jelas Ammo.
"Lalu, lanjutan ceritamu bagaimana?" tanya Ana.
"Kau, juga sudah bertemu dengannya! Tapi kalian tidak saling mengenali satu sama lain!" ungkap Ammo.
"Apa! Kapan!" pekik Ana tertahan.
********