Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
113. Alena


Anthony membuka kunci pintu satu-satunya yang berupa rolling door. Rumah itu terlihat seperti ruko dari luar. Tertutup rapat dari luar, berlantai dua, dengan lebar empat meter.


"Kau masukkan saja mobilnya!" suruh Anthony. Alexei pun memasukkan mobil ke bagian depan bangunan yang difungsikan sebagai garasi. Ada sebuah motor juga diparkir di sana.


Ana dan Alexei turun, lalu mengikuti Anthony. Mereka melewati dapur dan ruang makan di lantai bawah. Kemudian menaiki tangga menuju lantai dua.


Ketiganya langsung menemukan ruang serbaguna yg berfungsi macam-macam, termasuk jadi ruang tidur darurat. Kemudian Anthony mengajak tamunya menuju ke satu-satunya kamar tidur di rumah itu.


"Kak, aku kembali!" tangannya mengetuk pintu kamar. Tak ada jawaban.


"Kak ... aku rasa aku membawa temanmu, ke sini," ujarnya lagi. Masih tak ada jawaban.


"Awas!" Ana merangsek maju dengan tak sabar.


"Dobrak saja!" putusnya.


"Hei, jika rumah ini rusak, aku harus mengganti rugi pada pemiliknya!" cegah Anthony.


"Dia mungkin sedang sekarat di dalam!" bentak Ana marah.


Anthony terdiam. Dibiarkannya saja tubuh tegap Alexei menghantam pintu berkali-kali. Di hantaman ketiga, pintu itu terbuka.


"Bobby!" teriak Ana. Dia langsung mengenali orang yang terbaring tak berdaya di tempat tidur itu.


"Luka-lukanya sangat parah. Kita harus membawanya ke klinik!" ujar Ana panik.


"Dia berpesan, jangan ke rumah sakit. Seorang teman wanitanya hilang, hingga sekarang setelah dibawa ke rumah sakit.


"Maya? Dia sudah ditemukan!" sahut Ana. "Bawa dia ke mobil. Biar kuhubungi seseorang!" ujar Ana.


Dan kau juga tak aman di sini. Ikutlah dengan kami!" perintah Ana.


"Tapi...."


Anthony berpikir sejenak sebelum mengangguk mantap. "Baiklah!"


Dia segera merapikan buku-buku dan beberapa pakaian. Semua itu dijejalkan ke dalam kopor tua yang ada di sudut ruangan.


"Cepat! Bawa seperlunya. Nanti cari waktu untuk bisa mengambil sisanya," ujar Ana. Alexei sudah membopong tubuh Bobby turun ke lantai satu.


"Mau ditaruh di mana dia?" teriak Alexei.


"Sebentar!"


Ana berlari menyusul Alexei ke bawah. Dibukanya pintu mobil, menarik tubuh Alena yang pakaiannya berantakan. Gadis cantik itu masih pingsan. Tapi Ana tak peduli. Ditariknya dan dipindahkannya ke lantai mobil.


"Dia di lantai?" tanya Anthony dengan mata mengedip tak percaya.


"Ya, kau duduk di sini, cepat!" suruh Ana.


"Tasku?" tunjuknya pada Ana.


"Nanti dibereskan!" timpal Ana.


Alexei masuk, membaringkan tubuh Bobby, kemudian keluar lagi. Kemudian Anthony duduk di pinggir jendela dan mengatur posisi Bobby agar nyaman.


Alexei membuka bagasi dan mengangkat kopor Anthony. Sementara Ana menghubungi Ammo.


"Aku menemukan Bobby. Tapi kondisinya buruk. Dia harus dibawa ke Rumah Sakit. Apa kau punya saran?" tanya Ana.


"Akan kukirimkan alamat. Bawa ke sana!" Kemudian tekepon mati.


"Ayo!" ujar Ana.


Dia masuk ke mobil. Mengganti cat mobil dengan warna putih, serta mengganti pelatnya juga. Alexei ikut masuk setelah membuka pintu garasi. Mobil dimundurkan keluar. Ana mengunci lagi pintu rolling door. Dan mobil itu kini meluncur di jalan sempit.


Sebuah pesan masuk. Ana menunjukkan alamat itu pada Alexei. Pamannya mengangguk mengerti.


"Apakah dia tak apa-apa didudukkan di situ?" tanya Anthony. Matanya mengarah pada Alena.


"Biarkan saja!" sahut Ana ketus.


"Tampaknya kau punya dendam padanya!" Anthony cepat tanggap dengan hubungan keduanya.


"Dia punya andil untuk semua kehancuran timku. Termasuk keadaan Bobby!" sergahnya marah.


Mobil itu menjadi sunyi. Semua tenggelam dalam pikiran masing-masing. Alexei mengemudi dengan cepat. Alamat tujuan mereka masih jauh, sementara keadaan Bobby mengkhawatirkan.


Satu jam berlalu.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Ana.


"Masih bernafas. Tolong, bisakah lebih cepat lagi?" Anthony mulai gelisah. Tubuh Bobby agak demam akibat luka-lukanya.


Alexei melirik dari cermin. "Sudah dekat, bersabarlah...."


Ana sibuk memeriksa pesan pada ponselnya. Ammo mengatakan bahwa Maya juga dirawat di tempat itu. Mata Ana berbinar. Dia akhirnya bisa berjumpa lagi dengan gadis itu.


"Bibi, kurasa dia mulai sadar," lapor Anthony.


Ana menoleh ke arah Alena yang mulai menggerakkan kepala yang sebelumnya terkulai ke atas kursi penumpang. Ana mengambil pistolnya dan menodong gadis itu.


Alexei mulai memasuki jalan desa dan sedikit tidak rata. Mobil berguncang pelan. Kepala Alena yang terayun, membentur pintu samping mobil.


"Akhh!" rintihnya halus. Matanya membuka perlahan. Dia sedikit bingung dengan keadaannya saat ini. Tapi tak lama. Saat dia menyadari situasi, tubuhnya bergerak otomatis untuk bangkit berdiri.


"Diam di tempatmu jika sayang nyawa!" Ana melepas pengaman pistol dan mulai membidik dengan serius pada Alena.


Gadis itu langsung terdiam. Dia bisa melihat sinar kebencian di mata wanita tua itu. Diliriknya ke samping. Dia lebih terkejut lagi saat melihat Anthony dan Bobby ada di sana.


"Pemburu yang tertangkap!" ejek Ana pedas. Dia bergerak ke arah belakang dan....


Plakkk!


Gagang pistolnya dipukulkan ke kepala gadis itu dengan keras.


"Aakkhhh!"


Terdengar teriakan lirih dari mulut gadis itu, sebelum pingsan kembali. Darah mengalir dari pelipisnya yang terluka akibat pukulan dendam Ana.


Anthony tak lagi menghalangi apa yang dilakukan Ana. Dia juga merasa marah pada gadis itu. Jadi biarkan saja apa yang ingin Ana lakukan padanya.


"Aku rasa, ini alamatnya." Alexei berhenti di sebuah rumah bergaya country. Di kiri dan kanannya terhampar kebun anggur yang luas.


"Woww, tempat yang bergaya!" komentar Anthony terpesona.


Ana turun dan berjalan ke pintu pagar. Meski dia bisa saja melompati pagar itu, tapi karena ada kamera cctv di situ, maka Ana harus menjaga sikap sopan santun, agar Bobby bisa dirawat di sini.


Ana memencet bel yang ada di tembok kiri kanan pintu pagar. Kemudian terdengar pertanyaan. "Siapa?"


"Ana!" jawabnya cepat.


Pintu pagar itu terbuka dari dalam. Ana mendorongnya lebar, agar mobil mereka bisa masuk ke dalam. Pintu itu kembali ditutup Ana rapat-rapat dan langsung terkunci lagi.


Ana berjalan di sisi mobil. Dan terjejut saat menyadari jalan masuk ke rumah itu, perlahan turun ke bawah. "Tempat ini punya tempat parkir bawah tanah seperti di rumahku," batinnya.


Mobil sedan putih itu menghilang di bawah tangah. Anthony semakin terkagum-kagum dengan trik-trik yang dilihatnya. "Apakah dunia kalian semenarik ini?" gumamnya.


"Jauh lebih menarik jika tak ada yang secerewet kau dan seculas dia!" sahut Ana ketus.


Anthony terdiam. Dia mati kutu, bicara pada wanita tua ini. "Apakah dia seorang agen senior?" pikirnya.


"Selamat datang!" sambut seorang pria tanpan berambut kelabu. Tubuhnya masih sangat bagus terawat, di usia menjelang lima puluhan.


"Anda Dokter Dorjan? Aku Ana!" sapa Ana sopan.


"Bawa pasiennya masuk. Aku sudah menyiapkan tempat!" ujarnya cepat, sambil mendorong brankar yang telah disiapkannya.


"Bawa dia!" perintah Ana.


Alexei dan Anthony mengeluarkan Bobby dari belakang mobil. Tubuh lemahnya diletakkan di atas brankar, lalu didorong masuk ke ruangan.


Ana kemudian menarik Alena untuk keluar ruangan juga. Diseretnya gadis yang tak sadarkan diri itu, untuk ikut masuk ke dalam.


"Siapa dia? Aku tidak diberitahu jika ada dua pasien," ujar Dokter Dorjan.


"Dia pasienku!" sahut Ana dingin.


********