
Ana tidur sama gelisahnya dengan Maya. Itu membuat mereka merasa lesu di pagi hari.
Terdengar ketukan di pintu kamar.
"Apa kalian sudah bangun?"
Itu suara Ammo.
"Ya!" jawab Ana.
Dengan malas dia turun dari tempat tidur dan melangkah ke pintu.
Di depannya. Tampak Ammo berdiri dengan pakaian biasa. Ekspresinya masih sedatar es. Hanya sekilas dan tak disadari Ana, mata Ammo menyiratkan kekhawatiran. Namun kemudian tak terlihat lagi.
"Jika mau makan, kalian harus belajar mengambil ikan sendiri."
Ammo membalikkan badan dan berjalan di lorong.
Ana mengikutinya.
"Dimana mencari ikannya? Apa ada pintu keluar?" tanyanya.
Ammo tak menjawab, tapi dia berhenti di depan lift. Memencet tombolnya, dan pintu lift terbuka.
Ammo masuk dan menunggu Ana mengikuti. Mau tak mau Ana ikut masuk.
Ana memperhatikan. Sepertinya tak ada tombol lantai di lift ini. Berarti hanya ada lantai atas dan lantai dasar. Dan benar saja. Ana mengenali lantai itu. Ruang segiempat yang hanya ada pintu lift dan pintu di mana tangga berada.
Ammo mendahului menuruni tangga ke lantai, dimana dermaga kapal selamnya berada. Tapi dia tak menuju ke sana. Ammo berbelok ke arah kanan. Ana masih mengikuti dengan penasaran.
"Tak bisakah dia mengatakan saja ke mana tujuannya?" pikirnya kesal.
Sekarang mereka berdua berdiri di depan pintu tertutup. Ammo membuka kuncinya. Mereka masuk ke ruangan dengan diameter empat meter atau lebih.
Dindingnya dari batu cadas yang dipahat. Ada bukaan kecil di atasnya, tempat masuknya cahaya dan udara laut. Diameter bukaan itu mungkin hanya satu meter. Tapi cahayanya cukup untuk menerangi ruangan ini.
Di tengah ruangan, di lantainya, ada kolam yang terlihat biru gelap. Entah seberapa dalam kolam ini. Ana menyentuh air kolam dan mencicipi rasanya.
"Asin."
Ana menoleh pada Ammo, "Apa kolam ini langsung mengakses laut?"
"Ya. Dari sini kalian bisa menangkap ikan," jawab Ammo.
"Kau mau aku menyelam ke bawah sana untuk mencari ikan?" tanya Ana tak percaya.
"Tak adakah cara yang lebih rumit lagi?" pikirnya jengkel.
Ammo menaikkan tuas yang di sebelahnya. Kemudian turun rantai dengan pengait yang mengait kotak dan membawanya naik. Air menetes jatuh ke dalam kolam. Ada banyak ikan dan juga gurita serta lobster menggelepar di dalamnya.
Wajah Ana berseri-seri. Tangkapan yang sangat banyak. Ini cukup hingga malam. Ana tak sabar menunggu kotak besi itu diturunkan ke lantai.
"Kapan kau memasang jebakannya?" tanya Ana.
"Kemarin sore."
Ammo membawa ember dengan penutup, lalu membuka tutup kotak besi itu. Semua ikan yang ada di dalam, terdorong keluar dan menggelepar serta melompat-lompat di lantai basah.
Ammo cekatan memasukkan hasil tangkapan itu ke dalam ember.
"Wadahnya tidak cukup. Kau ambil ember lain di sana!" tunjuk Ammo ke satu tempat.
Ana melihatnya dan segera berlari. Dia kembali dengan tak sabar. Selalu menyenangkan mengumpulkan ikan-ikan segar ke dalam ember. Keduanya puas melihat hasil tangkapan pagi itu.
"Perhatikan caraku memasang jebakan ikan ini," kata Ammo. Ana mengangguk.
Ammo memasang lagi penutup kotak besi. Tapi ada bagian atas yang dibukanya. Dan itu cukup lebar untuk bisa dimasuki ikan hampir seukuran lengan orang dewasa.
Ammo mengajari bagaimana memasukkan kotak perangkap ikan itu kembali ke laut. Ana menekan tuas ke bawah. Rantai pengait, mengangkat kembali kotak itu ke arah kolam.
Lalu Ana diminta menurunkan lagi tuas yang lain. Kotak besi itu perlahan tenggelam dan hilang di dalam air. Untuk beberapa saat, bunyi mesin masih terdengar. Kemudian berhenti sama sekali.
"Kau harus mengingat semua ini dan bisa melakukannya sendiri," kata Ammo.
Ana mengangguk. "Oke."
Ammo mengangkat satu ember. Ana mengambil ember lainnya. Dia berjalan mengikuti Ammo. Mereka keluar ruangan. Ammo memencet satu tombol. Perlahan kolam itu tertutup batu dan ruangan menjadi gelap.
Ana memasukkan kembali kepalanya ke ruangan, untuk melihat. Bagian atas yang tadi terbuka dan terang, ternyata juga ikut ditutup. Ana akhirnya mengerti. Dengan begini, tak ada yang tau bahwa di bawah tumpukan batu cadas itu ada sebuah kolam yang langsung menuju laut. Permukaan kolam yang ditutup juga akan jadi penyulit bagi penyusup untuk bisa masuk ke villa di atasnya. Dan pasti, yang mendesain ruang ini juga pasti telah membuat penghalang lain di bawah laut.
Ammo memencet tombol lain. Pintu ruangan itu kemudian tertutup. Dan Ammo masih juga menguncinya.
Keduanya berjalan kembali menuju tangga. Namun ada hal yang mengganggu pikiran Ana.
"Kenapa ruang dermaga kapal selam itu tidak kau beri pintu? Bagaimana jika ada orang yang masuk ke sini lewat laut?"
"Apa kau kira aku sebodoh itu?" Ammo bertanya balik.
Ana menggeleng. Pastilah Ammo sudah mempersiapkan semuanya.
Keduanya naik lift dan kembali ke atas.
******