
Pengawal Ivan segera membopong tubuh Ana dan berlari menerobos kebun anggur menuju klinik. Ivan menyusul dengan tertatih-tatih. Alexei menelepon Ammo dan mengatakan Ana tertembak.
Helikopter yang sebelumnya berputar di atas rumah, segera terbang menjauh ke arah kebun anggur.
Alexei berlari menyusul Ivan, dan membantunya berjalan. Dari jauh, terdengar rentetatan tembakan.
Ana dan pengawal itu sudah sampai di klinik. Tapi mereka tak bisa berbuat apa-apa. Orang-orang di situ telah tewas tertembak, tanpa sempat mengelak!
Saat Ivan dan Alexei tiba, mereka terkejut melihat pembantaian di klinik itu. Sungguh mengerikan.
Ivan menelepon Ammo mengabarkan keadaan di sana. Ammo diam cukup lama sebelum memberi instruksi. Aku akan minta Sawyer menyelamatkan Ana dan ayahnya lebih dulu. Kita akan bereskan hal itu nanti!" katanya.
"Baik!" sahut Alexei.
"Kau dan Ana pergi lebih dulu bersama Sawyer. Selamatkan nyawanya!" pesan Alexei.
Kemudian Helikopter mendarat di bagian belakang klinik. Alexei menerobos darah yang berserakan di ruangan, untuk mencari tandu.
Sawyer berlari ke arah Ana yang tertembak. Dia memeriksa denyut nadinya. "Masih ada. Kita harus segera membawanya!" katanya cepat.
"Pria itu ... apa kau sudah menbunuhnya?" geram Ivan.
"Ya, dia sudah mati!" sahut Sawyer.
Alexei kembali dengan membawa tandu. Sepatunya penuh jejak darah.
Sawyer terkejut melihat hal itu. "Apa yang terjadi di sini?" tanyanya sambil berlari ke arah klinik.
"Dorjan! Dorjan!" panggilnya panik.
Alexei dan Ivan menoleh ke arahnya. "Apa dia mengenal dokter itu?" tanya Ivan.
"Tidak tahu!" sahut Alexei.
"Sawyer! Ana taj bisa menunggu!" panggil Alexei. Tubuh Ana sudah siap untuk dibawa.
"Dia masih bernapas!" ujar Sawyer sambil memapah Dokter Dorjan.
Alexei dan pengawal Ivan membantu membaringkan dokter yang baju putihnya telah memerah seluruhnya.
Alexei kembali lari ke klinik dan mengambil tandu lain, untuk dokter itu.
"Dorjan...." Sawyer memeluk tubuh bersimbah darah itu dan menangis.
Tandu itu lepas dari pegangan Alexei. Mereka terlambat. Sangat terlambat untuk menolong orang-orang di klinik, karena berlari menjauh. Dia sungguh tak menyangka tiga orang itu sanggup melakukan pembantaian di siang hari terang!'
"Kau bawa Ana dulu. Selamatkan dia. Aku akan mengurus yang disini. Kita harus membalaskan pembantaian ini!" geram Alexei.
Sawyer duduk tegak. Dibersihkannya wajahnya yang basah. "Dia sepupuku. Satu-satunya kerabatku yang tersisa. Tolong, perlakukan dengan baik!" pinta Sawyer.
"Tentu!" sahut Alexei.
Sawyer membawa tandu, dibantu oleh pengawal Ivan. Alexei memanggil beberapa anggotanya untuk membantu membersihkan tempat itu.
Alexei mengirimkan semua foto yang diambilnya di tempat itu, pada Ammo sebagai laporan.
Hingga malam hari, anggota Alexei masih bekerja keras membersihkan tempat itu dan mengidentifikasi. Hal seperti ini tak boleh terkuak ke publik. Karena tidak pernah ada ijin klinik di situ. Dan nama Dokter Dorjan tak pernah terdaftar di negara itu.
Klinik itu hanya sekedar fasilitas kesehatan untuk para pekerja perkebunan anggur Ammo. Para pekerjanya juga adakah putra dan putri pekerja perkebunan.
Ammo tiba tepat pukul sembilan malam. Dia lebih dulu mengecek dan menunggui operasi Ana, baru mendatangi tempat pembantaian itu.
"Bagaimana dengan Ana?" tanya Alexei.
"Operasi pengambilan pecahan peluru itu berhasil. Sedikit lagi, hampir mengenai jantungnya. Kita tinggal menunggu dia sadar dan pih lagi." Ammo terlihat lelah.
"Jasad mereka semua ada di belakang!" kata Alexei.
Ammo mengikuti arah yang ditunjukkan Alexei. mereka melewati koridor klinik, hingga sampai di halaman belakang. Semua korban dibaringkan di lantai. Masih ada percikan darah di sana sini.
Ammo menghitung ada hampir dua puluh orang yang jadi korban. Semua orang tanpa kecuali, telah dibunuh dengan tak berperi kemanusiaan. Terlihat dari begitu banyaknya lubang peluru di tubuh mereka.
"Kuburkan mereka di bagian belakang perkebunan. Sebentar aku panggil seseorang," kata Ammo.
Ammo melakukan panggilan telepon dan menunggu. Sepuluh menit kemudian, sebuah mobil pick up datang dari balik kerindangan pohon pear di halaman belakang. Seorang pria paruh baya dan pria muda yang wajahnya mirip, turun dan menghampiri.
"Tuan...." Keduanya terkejut melihat jasad yang dibaringkan berjejer di lantai.
"Kenapa bisa begini?" tanyanya takut.
"Apa kalian tidak mendengar suara tembakan pembantaian dari klinik? tanya Ammo.
"Tidak!" jawab pria paruh baya.
"Aku sebelumnya sedang di dekat sungai belakang. Aku melihat sebuah helikopter terbang, lalu disusul suara tembakan!" jawab anak muda itu.
"Benarkah?" tanya yang tua.
"Ya. Ku kira, itu mungkin saat ayah sedang berada di gudang anggur. Mungkin itu sebab ayah tidak mendengar suara tembakan.
"Lalu apa yang kau lakukan? Aku lari pulang dan mengatakannya pada Ibu," katanya.
"Jika mendengar suara helikopter lalu tembakan, itu bisa jadi saat Ana ditembak, atau saat Sawyer mengejar pembunuh itu di kebun anggur, dekat sungai," jelas Alexei.
"Lalu yang di sini?" tanya Ammo.
"Menurutku, mereka menggunakan peredam suara pada pistolnya. Kami juga tidak mendengar pembantaian di sini. Pada hal, sebelumnya sedang berada di rumah itu."
"Ana mengetahui ada yang datang mengendap-endap, kewat jam tangan yang dikenakannya. Karena itulah kami kabur ke rumah yang di tengah kebun. Kami kira mereka hanya akan mengejar kami saja. Jadi ketika Ana terluka, dibawa ke klinik untuk meminta pertolongan." Alexei mengatakan apa yang diketahuinya.
"Baiklah. Pak Boris. Tolong beritahu keluarga mereka tentang kejadian ini. Kami akan mencari dan membalaskan dendam darah ini. Makamkan mereka dengan layak di pemakaman di bukit itu!" perintah Ammo.
"Baik, Tuan," sahut lelaki tua itu.
"Oh ya, sebelumnya, tolong lihat pelakunya. Katakan jika kalian mengenal atau pernah melihat mereka di satu tempat!" kata Ammo.
Alexei membawa ketiga orang itu ke ruangan lain, di mana tubuh tiga pelaku dibaringkan.
"Aku hanya pernah melihat dia. Yang dua lagi tidak kenal sama sekali," dahut lelaki tua itu.
"Di mana?" tanya Ammo.
"Aku pertama melihatnya di klinik ini. Dia jadi salah satu perawat di sini. Aku pernah menihatnya mendorong kursi roda pasien. Kedua kali, aku melihatnya berdiri di luar kafe Red moon, saat aku kembali dari luar kota," katanya mengingat-ingat.
"Jika kau tak mengenalnya, artinya dia bukan bagian keluarga pekerja perkebunan?" tebak Ammo.
"Aku yakin bukan. Aku tak pernah melihatnya dalam pertemuan keluarga pekerja perkebunan." Lelaki utu menggeleng.
"Jika dia bukan orang-orang perkebunan, bagaiman6 Dorjan bisa menerimanya bekerja?" gumam Ammo. Lelaki tua itu menggeleng tidak tahu.
"Baiklah. Bawa mereka kembali pada keluarganya. Dan jangan ribut-ribut. Kita tak ingin polisi ikut campur dalam hal ini," kata Ammo.
"Mengerti, Tuan."
Lelaki itu dan putranya, dibantu beberapa bawahan Alexei, memindahkan jasad-jasad taj bernyawa itu naik ke atas bak belakang pick up. Mereka membawa semua jasad untuk dikuburkan di bukit. Beberapa bawahan Alexei ikut membantu.
*********