
"Tolong bantu Bibi Herriet dulu. Aku mau membereskan kamarku," ujar Ammo.
"Siap!" Dua tentara itu membantu Harriet berbenah sebisanya.
*
*
Ammo, Harriet dan Nick akhirnya dibawa ke barak tentara. Kaki Harriet yang terluka parah mendapatkan pengobatan di sana. Dibalut dan harus menggunakan kursi roda untuk sementara.
Kapten Smith, Sawyer dan sepuluh pengawal Ammo, tiba tak lama kemudian. Mereka lega melihat tuannya selamat.
Nick mendapat banyak pujian dari teman-temannya. Aksi nekadmu, menyelamatkan Bos kita," ujar kawan-kawannya.
Setelah perawat selesai menjahit dan membalut semua luka di tubuhnya, ditanyai, bagaimana hal seperti itu bisa terjadi. Mereka bercerita dengan seru di dalam tenda.
Di tenda lain, Ammo terkejut mendapat laporan bahwa rumah dan perusahaan juga diserang secara bersamasn.
"Jadi betul bahwa kejadian ini adalah pesanan seseorang. Aku ditahan di sini agar tak bisa pulang untuk menjaga rumah dan perusahaan.
"Apa yang mereka cari di rumah?" pikir Ammo bingung.
"Berarti ada mata-mata biro yang melihat kehadiranku di sini, dan melaporkan pada atasan. Hemm...."
"Siapa yang dipanggil Theo untuk membantu?" gumannya.
Dia harus berterima kasih untuk itu. Seseorang yang tidak dikenalnya, tapi bersedia membantu saat Theo meminta? Ammo tak pernah tau jika Theo punya kerabat.
Dan Ana, menjaga gedung kantornya dengan baik. Melakukannya secara alami. Dia sangat berbakat di bidang itu. Dia tak butuh penyamaran lagi, jika otak dibalik ini semua, berhasil dibongkar.
*
*
Pukul sembilan pagi, satu truk tentara, tiga kendaraan besar, melaju menuju tempat pemakaman. Mereka kan membongkar makam Carl dan membawanya pulang, sesuai jadwal.
"Dengan pengawalan ketat tentara, tak ada lagi yang berani mengganggu. Terima kasih," ucap Harriet pada Mayor Andreas.
"Tidak masalah, Nyonya. Bukankah bagus, jika mereka takut?" jawabnya sambil tersenyum.
Harriet mengangguk. Dia merasa tenang sekarang. Tak masalah kaki terluka, asalkan nyawanya aman. Dan dia bisa membawa buah hatinya pulang, untuk dimakamkan dengan layak.
Ada yang tak diketahui oleh Harriet dan Ammo, bahkan Kapten Smith. Malam itu juga, dilakukan sweeping hingga pagi hari. Langkah itu diambil setelah Mayor Andreas melaporkan apa yang terjadi malam itu.
Bersama polisi, para tentara dikerahkan untuk membersihkan para bandit dan pembunuh bayaran yang bersembunyi di rumah-rumah warga. Itulah sebabnya, kota itu menjadi sangat sunyi di pagi hari.
Penggalian makam selesai. Surat-surat sudah lengkap. Maka siang itu, peti mati dibawa ke bandara sesuai jadwa tiket.
Ammo tak bisa ikut bersama penerbangan Harriet. Dia mengatakan bahwa perusahaan ada masalah mendadak, jadi harus pulang lebih dulu. Kapten Smith dan Nick serta lima pengawal, menemani Harriet dan harus memastikannya aman sampai di negara mereka.
Sementara Ammo ditemani Sawyer dan lima pengawal lain, pulang dengan pesawat jet mereka sendiri. Ammo harus secepatnya kembali ke rumah.
*
*
Pesaat jet Ammo mendarat di bandara kota itu pukul lima pagi. Ditambah dengan dua pengawal mereka menaiki helikopter menuju rumah. Sementara tiga pengawal lainnya, menyusul dengan taksi.
"Aku sudah kembali. Sekarang menuju rumah. Bagaimana situasimu di sana?" tanya Ammo pada Ana.
"Aku baik-baik saja. Mereka tidak beraksi lagi. Membosankan!" keluh Ana.
Ammo terkekeh mendengarnya. "Setelah urusanku di rumah selesai, aku akan menjemputmu," ujar Ammo.
"Oke!" jawab Ana malas.
"Kau beristirahatlah di kamar pribadiku, d belakang ruang kerja!" saran Ammo.
"Aku sudah tidur pulas di sofa empukmu." tolak Ana halus.
Ammo tak mendesak lagi. Diputuskannya sambungan telepon. Helikopter itu telah sampai di rumah.
Rumah itu masih sama. Hanya saja sekarang jadi lebih ramai dari biasanya. Dan ada orang-orang dengan seragam berbeda dari yang dikenakan pengawal Ammo.
"Siapa mereka?" tanya Ammo pada Theo, begitu turun.
"Akan saya jelaskan, Tuan," jawab Theo.
Sawyer juga melihat hal itu dengan heran. Dia tak mengenali orang-orang baru itu. Dia tak tau apa yang telah terjadi di rumah itu. Tapi, melihat segala sesuatunya tanpak normal, maka artinya mereka bukan orang jahat.
"Hai, kau sudah kembali! Di mana Kapten Smith?" tanya seorang lengawal yang dikenalnya.
"Kapten Smith mengawal Nyonya Harriet," sahut Sawyer.
"Siapa mereka?" Bisik Sawyer.
"Mereka pasukan bantuan. Saat kalian pergi, rumah ini diserang orang. Ku dengar, perusahaan juga diserang orang di saat yang bersamaan." jawab orang itu.
"Benarkah?" Sawyer sangat terkejut. Apa mereka berhasil menghalau penyerang itu?" tanya Sawyer antusias.
"Aku tak menyangka dia sehebat itu," ujar Sawyer jujur. "Kukira dia hanya gadis manja serta cerewet." Sawyer tertawa.
"Dia membunuh penyerang dari balkon tanpa berkedip," kata orang itu lagi.
"Dari mana kau tahu?" tanya Sawyer heran.
"Ya dari laporan penjaga di sanalah...."
"Kita kan awalnya satu kelompok, lalu dibagi dua," tambahnya lagi.
"Ya, aku tau." Sawyer mengangguk. "Apa mereka baik? Kalisn cocok?" tanya Sawyer tentang orang-orang baru itu.
"Yah, mereka bisa bekerja sama, dan handal," jawabnya lagi.
"Baik, aku mau ke kamarku dulu, untuk beristirahat," pamit Sawyer.
"Oke!" Dua orang itu berpisah.
*
*
"Jadi, Anda kenalan ayahku. Terima kasih bersedia membantu di saat darurat," ujar Ammo tulus.
"Tidak masalah. Dan kurasa, karena Snda6telah kembali, maka artinya aku sudah bisa pergi, bukan?" ujarnya sambil tersenyum.
"Dapatkah Anda menunggu hingga keadaan kondusif dan Kapten Smith kembali?" Ammo menahannya.
"Hemm, baiklah!" Alexei mengangguk, kemudian berjalan pergi.
"Theo, Aku akan ke kantor melihat sutuasi Anastasia. Apakah kau tau siapa yang bisa menggantikan Sawyer menerbangkan burung besi itu?" tanya Ammo.
Alexei menghentikan langkahnya mendengar perkataan Ammo. "Aku bisa menerbangkan helikopter itu," tawarnya.
"Benarkah? Kebetulan sekali!" Ammo benar-benar senang.
"Beri aku waktu untuk membersihkan diri dengan pakaian yang pantas. Setelah dari kantor, kita akan menghadiri pemakaman Carl," jelasnya.
"Baik. Aku tunggu di bawah." Alexei melanjutkan perjalanannya menuruni tangga.
"Siapa Anastasia? Apakah hanya nama yang sama?" gumannya dengan kening mengerut.
"Ariel, terima kasih sudah jadi mataku. Aku berhutang nyawa padamu!" Ammo meneluk pundak temannya itu dengan penuh perasaan haru.
"Kurasa kau butuh pelukan. Sini kupeluk!" Ariel langsung memeluk Ammo. Tapi sedetik kemudian, dia kembali jatuh terduduk di kursi kerja Ammo.
"Menjauhlah! Dan sekarang, ruang kerja ini, kembali kepada pemiliknya!" ujar Ammo datar, sebelum keluar ruang kerja.
"Theo, tanya Paman Brenton, apakah urusan pemakanan sudah siap. Dia harus menjemput Bibi Harriet ke bandara sekutar tiga jam lagi!" perintah Ammo.
"Siap, Tuan!" Theo segera berlalu untuk melakukan tugasnya.
Ammo mandi dan berganti pakaian dengan cepat. Dia lalu turun ke lantai bawah. Theo sudah mencegat di dekat meja makan.
"Anda harus makan lebih dulu, Tuan," ujarnya oenuh penekanan.
"Baiklah. Selama itu hidangan yang praktis, aku bisa melakukannya."
Ammo duduk di meja makan. Di sana sudah ada roti croissant isi daging iris diberi saus keju dan segelas juice merah yang entah dibuat dari buah apa.
Ammo menikmati sarapannya yang sudah mendekati siang.
"Bagaimana dengan Paman Brenton?" tanya Ammo sambil makan.
"Tuan Oswald bilang, pemakanan sudah diurus. Dia segera akan menjemput Nyonya Harriet ke Bandara," lapor Ammo.
"Bagus!" Ammo meneguk habis juice merah itu.
"Enak. Buah apa ini?" tanya Ammo sanbil berdiri. Sarapannya telah selesai.
"Buah pomegranate, Tuan." jawab Theo.
"Aku suka rasanya. Kau boleh membuatnya lagi lain kali," puji Ammo.
"Baik, Tuan!" Theo tersenyum senang.
"Mari kita jalan!" ajak Ammo pada Alexei yang menunggu di pintu.
"Baik." Alexei berlari lebih dulu ke arah helikopter parkir.
"Jaga rumah selama aku pergi!" pesan Ammo pada Theo.
"Tentu, Tuan. Jangan khawatir!" Pelayan setengah baya itu menundukkan sedikit kepalanya.
Helikopter itu melayang naik. Thei masih melihatnya hingga lenyap dari pandangan.
**********