
Ana berlari memasuki bangunan. Suit pelindung tubuhnya sudah diaktifkan. "Jangan lupa aktifkan pakaian pelindung kalian!" perintah Ana melalui radio.
Matanya yang tajam, ditambahi dengan kaca mata yang berfungsi untuk mendeteksi panas tubuh orang lain dan melihat dalam gelap. Ammo telah meningkatkan fungsi kaca matanya.
Titik merah muncul dari kanan tubuhnya. Ana langsung menembakkan peluru ke sana, kemudian bergulingan di lantai, untuk menghindari serangan yang mungkin dilancarkan orang tersebut.
Kemudian dua cahaya merah lagi muncul saat dia berjongkok. pelurunya menerjang dengan cepat. Dua titik merah itu diam tak bergerak di tempatnya.
"Pemimpin, aku akan masuk ke dalam dan membantumu!" ujar Khouk.
"Hati-hati, banyak yang bersembunyi di antara asap!" ujar Ana.
"Siap!" sahut Khouk.
Ana memperhatikan sekitarnya. Dia tak melihat lagi titik merah yang mengindikasikan panas tubuh manusia, kecuali seseorang ang baru masuk dari luar. Ana mengabaikan orang yang diperkirakannya sebagai Khouk.
"Kau di mana?" tanya Ana.
"Aku menuju ke arah anda, Pemimpin," sahut Khouk. Dia sudah menemukan lokasi di mana Ana berlindung.
"Bagaimana?" tanya Khouk.
"Apanya yang bagaimana? Kau telah menunda langkahku!" ketus Ana. Khouk diam tak menjawab.
"Aku mengenal tempat ini. Ada tangga darurat di sebelah sana. Ikuti aku!" ujar Ana.
"Baik!" jawab Khouk singkat.
Keduanya berjalan hati-hati menyusuri ruang terbuka yang merupakan hall bangunan. Sebuah pintu tertutup menghadang keduanya. Sebuah tulisan Exit berwarna hijau terang, terlihat di atasnya, memandu setiap orang yang ingin mengamankan diri.
"Apa di bawah ada bungker?" tanya Khouk.
"Harusnya memang ada. Itu sebabnya mereka bertahan dari gempuran tadi," timpal Ana.
Khouk membuka pintu dengan hati-hati. Ana melihat satu sinar merah tak jauh di depannya, di tangga darurat itu. Peluru pistolnya menyalak cepat sambil menunduk, menghindari tembakan balasan dari depan.
Khouk ikut berlindung di balik pintu yang kini kembali tertutup. "Anda baik-baik saja?" tanyanya khawatir.
"Hemm," jawab Ana.
"Ikuti setelahku," perintahnya.
"Ya!" sahut Khouk patuh.
Ana membuka pintu dan meluncur masuk tiba-tiba. Khouk sangat terkejut! Ana sudah menghilang dari sebelahnya. Dia mendengar suara tembakan bersahutan dari arah dalam tangga exit.
Dengan cepat Khouk masuk sambil bergulingan. "Pemimpin!" teriaknya memanggil.
Kedatangannya langsung disambut berondongan tembakan dari arah bawah tangga. Ana membalas tembakan itu, untuk melindungi Khouk yang dengan lantang berteriak memberi tahukan posisinya sendiri.
Setelah mendengarkan tembakan balasan itu, Khouk akhirnya mengetahui posisi Ana. Dia harus segera pergi dari tempatnya sekarang. Tidak ada apapun yang bisa menghalangi orang di bawah dari menembaknya.
Saat dari bawah tak lagi terdengar suara tembakan, Khouk langsung berpindah dan mendekati sisi tembok yang melindungi Ana.
"Biar saya cek ke bawah," ujar Khouk.
"Hei!" cegah Ana. Tapi Khouk sudah maju. Tangan pria itu melemparkan sesuatu ke arah bawah. Benda itu menggelinding turun dengan berisik.
"Granat!" jawab Khouk. "Bom asap hanya untuk main perang-perangan!" tambah pria itu datar. Sebuah ledakan kecil terdengar di bawah sana, setelah suara teriakan beberapa orang, memperingatkan yang lainnya.
Ana tersenyum tipis mendengarnya. Dia senang Khouk bersiap dengan serius. Keduanya berdiri dengan menempel rapat pada tembok. Suara teriakan mereda, Tercium bau gosong dan terbakar yang samar, seperti bau barbeque.
Ana mengenakan masker pada wajahnya, untuk menghindari asap pekat yang mungkin akan membuatnya sesak napas. Khouk mengikuti langkahnya. Dia bersyukur mereka didukung oleh perusahaan senjata dan pelindung milik Ammo. Jadi perlengkapan mereka semua sangat memadai.
"Ayo!" Ana maju dengan dua senjata teracung di depan dadanya, siap menembak siapa saja yang menghadang jalannya.
Keduanya turun dengan hati-hati. Tak ada lagi peluru yang menyambut kedatangan keduanya. Sepertinya penjaga yang ditempatkan di tangga ini sudah selesai dibereskan. Ana terus merangsek maju. setelah melewati satu putaran tangga lagi, akhirnya mereka menemukan pintu lainnya.
Keduanya berdiri menempel dinding samping pintu. Berjaga-jaga jika ada penjaga lain menunggu untuk menyergap di balik pintu sana.
Ana membuka daun pintu untuk mengetes. Benar saja. Rentetan tembakan langsung memberondong ke arah mereka. Daun pintu dari besi itu berdentingan dihantam peluru.
"Lemparkan lagi yang tadi!" perintah Ana pada Khouk.
"Baik!" Pria itu menggenggam granat di tangannya. Ana sudah memegang daun pintu yang tertutup. "Satu ... dua .... Tiga!" Ana memberi aba-aba sambil membuka daun pintu, agar Khouk melemparkan granat yang dibawanya. Suara benda itu menggelinding, seperti suara jam berdetak menunggu waktunya hukuman mati.
"Granaaatttt!" terdengar suara teriakan orang di dalam, memperingatkan yang lainnya.
Berarti memang ada cukup banyak orang yang bersembunyi di situ. Hal itu membuat Ana kesal. Dia bukanlah orang yang keji dan haus darah ingin membunuh orang-orang yang tidak bersalah padanya. Tapi sepertinya pemimpin biro ini menjadikan para bawahannya sebagai tameng keselamatannya.
Ana menyimpan kedua pistolnya. Diambilnya senapan besar yang disandangnya di punggung. Ditariknya satu peluru besar yang menempel pada bagian dalam jaket kulit hitamnya. Itu adalah peluru khusus yang dapat membuat mereka semua tertidur. Dipasangnya peluru itu pada senapan lalu mengokangnya.
Ana memiringkan kepalanya ke arah Khouk. Matanya memberi instruksi. Ana mengangkat senapan setentang mata. dia membidik sebisanya, agar peluru itu bisa mendarat di area tengah dan menjangkau semua orang yang ada di ruangan itu.
"Satu ... dua ...." Khouk menghitung. "Tiga!" pintu didorong Khouk agar terbuka lebar. Ana langsung menembakkan senapannya ke dalam ruangan besar di balik pintu tersebut. kemudian ditutupnya pintu itu rapat-rapat, agar obat tidur yang ditembakkan tadi tetap berada di dalam.
"Peluru apa itu tadi?" tanya Khouk.
"Obat tidur!?" sahut Ana. Dia memperhatikan jamnya. "Aku tidak ingin membunuh orang yang tidak berusaha membunuhku. Mereka juga pasti juga korban dari orang gila yang memimpin biro saat ini!" gumam Ana. Khouk mengangguk.
"Kenakan maskermu!" Ana melemparkanmasker ke arah Khouk. Pria itu langsung memakai masker yang menyatu dengan helm yang diberikan Ana. Sekarang keduanya masuk ke ruangan itu tanpa perlawanan. Hanya ada asap mengepul, bekas granat yang tadi dilemparkan Khouk.
Ana memeriksa beberapa orang yang tergeletak pingsan. Lampu senter kecil di helm, membantu mereka memeriksa orang-orang yang ada.
"Orang itu tak ada di sini!" kata Ana yakin. Diperiksanya dinding sekitar untuk mencari celah tersembunyi. tapi dia tak menemukannya. Dahinya mengerut. Kemudian matanya membelalak.
"Cepat keluar. Ini jebakan!" teriak Ana panik. "Gan! Bagaimana keadaanmu di sana!" tanyanya khawatir.
Khouk yang sedikit bingung, dengan sigap mengikuti Ana yang berlari keluar ke arah tangga. Dan begitu mereka membuka pintu menuju tangga exit yang sebelumnya dilewati, semburan peluru menyambut keduanya tanpa ampun.
Ana bergulingan dan menutup pintu besi itu lagi.
"Khouk, bagaimana keadaanmu?" tanya Ana."
"hanya terserempet sedikit." Khouk menunjukkan lengannya yang berdarah. Dengan segera Ana mengambil perban P3K yang dibawanya di aku celana. Kemudian diserahkan pada Khouk.
"Gan, bagaimana di sana!" Ana berusaha menghubungi Gan yang berada di luar. Dia khawatir sekarang. Kecerobohannya membuat mereka terjebak di bawah , sementara Gan menghadapi penjaga utama sendirian di tempat terbuka.
"Ammo! Kau dengar aku?" Ana mencoba menghubungi Ammo. Tapi tetap tak bisa.
"Mereka ingin kita mengira bahwa mereka berlindung di bunker. Padahal ini jebakan. Saya yakin mereka sudah merusak sinyak komunikasi kita ke dunia luar!' Khouk mengatakan analisanya.
*****