Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
185. Profesor Stone


Ana melihat ponselnya yang terus bergetar. Ada nama Ammo di sana.


"Ya, bagaimana perkembangan di sana?" tanya Ana begitu sambungan telepon itu terhubung.


"Pasukanku berhasil menguasai kantor Biro Klandestine Pusat!" Ammo memberi tahu.


"Benarkah? Itu bagus sekali. Aku senang mendengarnya," sambut Ana senang.


"Bagaimana dengan pimpinan bironya?" tanya Ana.


"Pimpinannya tewas dalam baku tembak," jawab Ammo.


"Sayang sekali.Padahal aku ingin kita bisa menggali lebih banyak informasi jika pimpinannya tertangkap!" ujar Ana kecewa.


"Masih ada cukup banyak yang tertangkap dan sedang kita selidiki," jelas Ammo menenangkan Ana.


"Aku menemukan informasi baru dari laptop yang kubawa. Ternyata pemberontakan klan puluhan tahun sebelumnya itu, adalah atas inisiasi Biro Klandestine. Aku ingin tahu, berapa banyak orang-orang klan yang terusir itu yang menjadi petinggi Biro!" ujar Ana geram.


"Apa maksudmu?' tanya Ammo heran.


"Akan kukirimkan file terakhir dari laptop itu padamu. Kau bisa memeriksa dan menyimpulkannya," kata Ana.


"Oh? Baiklah. Kirimkan padaku," ujar Ammo.


"Nanti, jika file-file dari kator pusat sudah datang, Aku akan mengirimkan filenya padamu!" tambahnya lagi.


"Kutunggu!" timpal Ana.


"Jadi bagaimana perkembangan gerakan yang lainnya?" tanya Ana ingin tahu.


"Negosiasi mereka berjalan alot," jawab Ammo.


"Jangan terlalu percaya negosiasi. Merek sangat berpengalaman dan sangat mungkin untuk berkhianat!" Ana memperingatan Ammo.


"Aku akan mengingatnya," jawab Ammo.


Ammo dan Ana membicarakan strategi mereka agar gerakan itu bisa selesai lebih cepat sebelum persediaan mereka menipis dan mental para tentara bayaran itu jatuh akibat berbagai kekalahan.


"Lalu, bagaimana dengan isi cpu yang diselamatkan Gan?" tanya Ana.


"Isinya kurang lebih sana dengan informasi yang kau berikan," jawab Ammo.


"Sungguh sia-sia dan buang-buang waktu untuk menelusuri informasi yang sama," pikir Ana.


"Ya, membuatku kesal saja," timpal Ammo.


"Sepertinya kau kurang tidur. Beristirahatlah sejenak, biar otakmu fresh dan bisa memikirkan jalan cerdas untuk membuat gerakan yang berarti bagi mereka.


"Baiklah. Beri aku informasi apapun yang mungkin kau temui lagi di laptop itu," harap Ammo.


"Oke," sahut Ana setuju. Kemudian sambungan telepon itu pun terputus.


Ana kembali ke kamarnya sambil membawa laptop. Di jalan diaa bertemu dengan Profesor Stone.


"Bagaimana kabarmu?"tanya Profesor Stone.


"Baik-baik saja," sahut Ana tersenyum.


"Bagaimana perkembangan ingatanmu?" tanya profesor lagi.


"Belum ada ingatan baru lagi," sahut Ana.


'Jika pekerjaanku sudah selesai, aku akan menyetujuinya," jawab Ana diplomatis.


"Baiklah. Kau bisa datang ke kantorku kapan saja," ujar Profesor Stone. Ana mengangguk dan tersenyum lebar.


"Sampai jumpa lagi," pamit pria itu.


"Sampai jumpa lagi, Prof," jawab Ana.


Gadis itu melanjutkan langkahnya menuju kamar. Dia harus memeriksa file cctv yang belum juga diperiksanya.


*


Ana menghabiskan waktu hingga sore hari untuk memeriksa rekaman cctv. Dia merasa bosan dan jengkel karena tidak menemukan apapun. Akhirnya gadis itu meregangkan tubuhnya dan beristirahat sejenak.


Pukul delapan malam dirinya terbangun. Panggilan masuk dari Gan membangunkan tidurnya.


"Ya?" sahutnya. "Apa ada informasi baru?" tambahnya.


"Saya hanya ingin mengatakan bahwa dua cpu yang saya bawa sudah dikirimkan pada Tuan Ammo," lapor Gan.


"Aku sudah tahu. Ammo sudah mengabarkannya siang tadi," jawab Ana.


"Bagaimana dengan informasinya? Semoga itu bisa dimanfaatkan oleh Tuan Ammo," harap Gan.


"Biarkan mereka bekerja dan membongkar informasi yang tersimpan di situ," kata Ana.


"Baiklah. Aku harus melanjutkan pekerjaanku yang tertunda," ujarnya.


"Berhati-hatilah, Pemimpin," ujar Gan.


"Aku bersama dengan Khouk. Jadi kau sama sekali tidak perlu khawatir." ujar Ana menenangkan.


"Baik. Jika ada kabar baru lainnya, akan segera saya sampaikan," janji Gan.


Ana melihat langit-langit kamar sambil berbaring di tempat tidur. Berpikir sebentar tentang beberapa hal. Tapi dia segera bangkit dan keluar kamar.


Antrian di kafetaria sudah sepi. Ana mengambil jatah makan malamnya dengan santai.


"Hai, kita bertemu lagi," sapa Profesor Stone. Dia membawa nampan berisi makanan dan ingin duduk semeja dengan gadis itu.


"Silakan,"Ana menunjuk bangku di seberang mejanya.


"Terima kasih," ucapnya.


"Apakah anda punya banyak pasien, Prof? Makan malam bisa sampai selarut ini," Komentar Ana.


"Tidak. Tapi aku sedang membuat jurnal ilmiah tentang kasusmu. Dan itu sangat menyita waktu," jawab Profesor.


"Kalau begitu, anda butuh istirahat sejenak. Setelah beberapa saat bisa dilanjutkan kembali," saran Ana.


"Kau benar. Setelah ini, aku memang ingin beristirahat," sahut Profesor Stone. Ana mengangguk.


Kedua orang itu tidak bicara apapun. Ana tenggelam dalam lamunannya yang tadi terputus.


Tak begitu lama, Profesor Stone ikut keluar dari kafetaria.


"Aku harus kembali dan memeriksa informasi apa lagi," katanya ramah.


********