Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
143. Panah Kedua


Hingga keesokan hari, penyisiran dilakukan pun, Kakek Wilson dan dua gadis itu tetap tak diketahui keberadaannya.


"Istirahat dulu, Bos," saran Sawyer pada Ammo. Dia dan dua pengawal lain sudah sangat kelelahan.


Ammo duduk didekat tumpukan kayu bakar yang berantakan. Mereka bahkan sudah memeriksa kediaman Kakek Wilson. Tak ada seorang pun di sana.


Ammo menghubungi Ariel, entah untuk yang ke berapa kali pagi itu.


"Bagaimana?" tanya Ammo. Wajahnya terlihat masam.


"Tidak ada tanda apapun dari mereka!" kata Ariel. Dia sudah memikirkan berbagai ide dan mencari ke mana-mana.


"Bagaimana mungkin mereka tiba-tiba menghilang ditelan bumi!" bentak Ammo kesal.


"Mungkin memang mereka bersembunyi di dalam perut bumi!" balas Ariel sewot. Dia juga sudah berusaha. Sama-sama tak tidur juga seperti Ammo dan timnya. Jadi kenapa masih kena bentak?


Ammo terdiam mendengar jawaban Ariel. "Bersembunyi di dalam perut bumi? Apa mereka juga punya jalur rahasia sepertiku?" pikir Ammo.


"Ariel, kau cari cetak biru kota. Dan lihat jalur bawah tanah yang ada!" perintah Ammo.


"Si*lan! Kenapa aku tak terpikir?" Tubuh Ariel langsung duduk dengan tegak di kursinya. Matanya menatap serius layar komputer. Dan jarinya bergerak dengan lincah. Sesekali dahinya mengerut. Kemudian dicobanya lagi cara lain.


"Theo!" terdengar suara panggilan Kapten Smith dari luar rumah.


Theo yang tertidur sambil duduk di meja makan, mengangkat kepalanya. "Ada apa?" tanyanya dengan mata sayu.


"Kau lihat ini! Anak panah kedua yang di kirim melewati gerbang depan!"


Kapten Smith menunjukkan anak panah yang sebelumnya juga pernah menerobos masuk ke halaman mereka. Dan itu terlihat sama. Mata Theo sekarang mulai terang dan dapat melihat dengan jelas dan mengingatnya. Itu anak panah yang sama!


"Apakah ada kertas di situ?" tanya Theo. Dia bangkit dari duduk dan menghampiri Kapten Smith.


"Ada!" Kapten Smith menunjukkan kertas yang menempel pada batang anak panah.


Theo mengambil alih anak panah itu. "Apakah keamanan di depan sudah diperketat?" tanya Theo.


"Sudah!" Aku juga meminta dua orang untuk menyisir tanah kosong di depan.


"Bagus!" ujar Theo. Dia segera mengeluarkan ponsel dan menghubungi Ammo.


"Ya, ada apa?" tanya Ammo.


"Gerbang depan kembali di bobol oleh anak panah yang ditempel selembar kertas. Theo membuka video call. Ditunjukkannya anak panah yangbadavdi tangaan.


"Coba lihat mata panahnya!" kata Ammo. Theo mendekatkan mata panah ke kamera.


"Itu panah yang sama. Itu juga belum kuketahui dari mana asalnya!"


Ammo menggeram kesal. Ternyata masih ada rahasia yang tak bisa ditembusnya, bahkan meskipun sudah menggunakan teknologi pendukung.


Ammo merasakan sedikit rasa takut di hatinya tentang asal usul panah itu. Siapa yang begitu hebat, hingga bisa menyembunyikan rahasia sangat rapat? Itu pasti suatu kekuatan yang sangat besar. "Tapi apa? Siapa?" batinnya.


"Tuan," panggil Theo yang melihat Ammo terdiam. "Ada surat di sini." Tunjuknya.


"Coba buka!" perintahnya.


Smith membantu Theo melepas kertas surat dari batang anak panah. Kemudian membuka dan menunjukkan kertas kosong pada Ammo lewat video call.


"Gunakan lilin untuk membacanya!" kata Ammo.


"Oh, iya!" Theo segera lari ke daour dan mencari lilin. Dia melihat Ammo melakukannya waktu itu.


Sebatang lilin menyala, ada di tangannya dan diletakkan di meja makan. Kapten Smith menyerahkan surat pada Theo dan memperhatikan pria itu mendekatkan kertas kosong itu ke dekat api.


Seketika seperti sulap, pesan yang ditulis, muncul.


Kapten Smith membacanya dengan lantang. "Mereka aman. Jangan khawatir!"


"Apa?" tanya Ammo tak yakin.


"Pesannya berbunyi, -Mereka aman. Jangan khawatir!-" ulang Theo.


"Apakah yang dimaksud dengan 'mereka' adalah Kakek Wilson?Apakah pengirim panah itu yang menyelamatkan Kakek Wilson?" Begitu banyak pertanyaan di benak Ammo yang belum menemukan jawabannya.


"Ya sudah. Kami akan segera kembali!" putus Ammo.


"Baik, Tuan!" sahut Theo senang. Artinya ketegangan menurun. Dia bisa istirahat sebentar lagi.


Meskipun kepala ketiga orang itu penuh dengan pertanyaan, tapi mereka tak membantah. Pulang juga bagus.


*


*


"Tuan, apa perlu saya siapkan air hangat untuk mandi?" tanya Theo, yang mengikuti langkah Ammo menuju lantai dua.


"Ya!" kata Ammo.


Theo berlari dan segera menyiapkan air mandi untuk tuannya.


Setelah ini, letakkan anak panah itu di ruang kerjaku!" perintah Ammo.


"Sudah saya letakkan di sana, Tuan," sahut Theo.


"Bagus. Tolong siapkan makanan praktis dan kopi. Bawa ke ruang kerja. Aku sangat lapar. Setelah itu, kau bisa istirahat!: perintahnya.


""Terima kasih, Tuan." Theo mrngundurkan diri dan menyiapkan pesanan makanan untuk Theo.


Di meja makan Ariel sudah tak terlihat, sejak Ammo memutuskan untuk pulang. Pencarian Kakek Wilson dan dua gadis itu dihentikan. Jadi Ariel bisa membalaskan waktu tidurnya yang berkurang.


Di ruang kerja, Ammo mengeluarkan anak panah yang dia diterima sebelumnya. Dan mata panah itu persis sama. Mengindikasikan ditempa dan dicetak dengan alat dan pengrajin yang sama.


"Siapa dia? Dulu dia memperingatkanku. Sekarang dia mengatakan bahwa kakek Wilson aman. Berarti dia bukanlah pihak yang jahat." gumam Ammo.


"Lalu siapa kakek tua yang dimaksud Sopir Kakek Wilson?" Apakah dia yang menyelamatkan kakek? Atau ada orang lain.


Ammo mengeluarkan pin yang seperti kancing baju itu. Pin yang unik. Ammo memeriksa di internet tentang lambang itu, tapi tak menemukannya.


"Kelompok mana yang punya rahasia begitu dalam? Kepala Ammo terasa sedikit berkunang-kunang. Dia butuh tidur sekarang. Kopi yang dibuat Theo, tak mempan melawan kantuknya.


*


*


Sore hari, Ammo mendapat laporan dari Blake bahwa mereka telah sampai ke pusat perawatan dokter Devan. Nathalie telah bertemu dengan ayahnya.


Ammo mengangguk senang mendengar laporan tersebut.


"Bagus!" hati Ammo terasa senang.


*


*


Keesokan pagi, ada pesan masuk dari Ana. Nathalie akan ikut ke rumah ayah. Blake dan semua kru dari Ammo akan dikembalikan.


Tapi Ammo dapat menerima penjelasan gadis itu yang menolak membawa orang-orangnya.


"Baiklah. Karena kau tak ada yang menjaga, makan biarkan para pengawal itu menjagamu, saja," putus Ammo.


"Aku juga akan menarik Donny dan Ivan ke sini!" ujarnya.


"Okeyy!" sahut Ama.


"Jam berapa mereka akan pergi?" tanya Ammo.


"Belum kuketahui," ujar Ana.


"Bagaima dengan kondisi ayahmu?


"Biasa saja. Tetapi kemarin baru cuci darah. Jadi keadaannya akan sedikit membingungkan dan lemah.


"Baiklah. Aku hargai kerja keras kalian" ujar Ammo. Pergilah beristirahat. Aku akan membereskan yang lain dari sini!" kata Ammo.


"Baiklah ... terima kasih!" ujar Ana. Satu persatu urusan bisa selesai. Anna bisa lebih fokus untuk menghadapi musuh terbesar yang belum diketahui siapa.


"Aku sudah mengatakan pada Ammo tentang Nathalie. Bahwa dia akan ikut ayah. Bukakah itu bagus? Ujar Ana.


Ivan mengangguk setuju.


*******