Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
128. Hari Yang Membosankan


Kediaman Ammo kembali tenang. Nick belum mau mengakui apapun. Dia merasa diperlakukan tidak adil, karena ditahan dan diinterogasi tanpa terbukti bersalah.


Selama tiga hari, Alexei telah memeriksa semua barang-barang yang diambil dari ruangan Nick.


Ariel, Brandy, Lindsay juga tidak dapat menemukan informasi aneh dari semua barang elektronik yang dimiliki Nick.


Ammo juga tidak menemukan jejak apapun pada dua ponsel yang disita oleh Eleanor.


Sekarang, Ammo meragukan informasi yang didapat Ana. Bukan dia tak mempercayai Ana, tapi Ammo justru khawatir Ana dekat dengan seseorang yang ingin mempermainkannya. Dan itu bisa berbahaya.


Ammo melakukan panggilan telpon, tapi Ana tak mengangkat teleponnya. Akhirnya Ammo mengirim pesan.


Pintu ruang kerja Ammo diketuk dari luar. "Ya!" sahutnya.


Theo masuk dan melapor. "Tuan Alexei ingin bertemu anda, Tuan."


"Suruh dia masuk!" sahut Ammo.


Alexei masuk dan Theo segera keluar serta menutup pintu ruang kerja. "Aku sudah menyelesaikan tugasku memilah barang bukti. Aku harus kembali. Ada pesan dari Dokter Dorjan. Jadi aku akan ke sana, sekarang," pamit Alexei.


"Apakah ayah Ana akan melakukan cuci darah lagi?" tanya Ammo.


"Ya. Dokter Dorjan mengatakan bahwa hari ini adalah jadwal Ivan cuci darah," jelas Alexei.


"Oke. Terima kasih untuk bantuanmu! Bayaranmunakan segera kutrabsfer," ujar Ammo.


"Oke! Aku pamit." Alexei menganggukan kepalanya, lalu kekuar dan menutup pintu.


*


******


Ana baru kembali dari lari pagi. Dia masuk rumah dan langsung mencari minuman dingin di kulkas. Dilihatnya ada dua pesan pada ponselnya.


Dari Ammo. "Siapapun yang memberimu informasi itu, hati-hatilah. Ucapannya tentang Nick tak terbukti. Aku juga akan memeriksa ulang kasus Rosie!"


Ana terdiam membaca pesan itu. "Hemmm ... apa kau masih ingin bermain-main denganku, Alena?" gumamnya halus.


Ana membaca pesan lain dari Alexei. "Aku mau memeriksa dia lagi. Semoga bertemu!"


"Ini pasti tentang ayah," pikirnya. Kemudian jarinya mengetik kata "Oke!" yang dikirim pada dua nomor sekaligus. Untuk Ammo dan Alexei.


Karena tubuhnya lengket sehabis olah raga, Ana pergi mandi. Kemudian dia berdandan dan memasang penyamarannya lagi.


Setelah itu, Ana turun ke basement dan mengambil semua koleksi senjata milik Alexei yang dipajang di dinding ruangan. Semua dipindahkannya ke atas dan diletakkan di loteng.


Kemudian Ana mengunci lagi pintu basement. Dia keluar rumah dan mengunci lagi rumah. Lalu berjalan santai menuju kantin.


Dia ingin melupakan tentang Alena sejenak. Biarkan gadis itu merasakan akibat dari kebohongannya. Kebaikan hatinya telah disalah gunakan.


Ana bersantai dengan para rekrutan Alexei hingga menjelang sore. Dia benar-benar lupa waktu. Hingga Alexei mengirim pesan. "Dia tidak datang. Aku telah menunggu sejak pagi. Aku akan pulang, dan kita susun rencana lain!"


Ana duduk diam dan memandangi orang-orang yang tak lelah berlatih dari pagi hingga sore hari.


"Kemana dia pergi?" pikir Ana. Dia telah melihat pria itu. Jika yang dikatakan oleh orang yang ditemui Lindsay dan Brandy benar, kemungkinan sakit yang diderita aysh adalah skibat dari siksaan The Hunters!


"Cuci darah berkaitan dengan ginjal. Apakah mereka merusak ginjalnya?" pikur Ana.


Seperti mereka merusak


otak orang, mengganti wajah bahkan melecehkan Maya dengan kejam!


"Bagaimana bisa biro intelijen resmi suatu negara, berubah jadi sarang para psikopat?" pikirnya geram.


"Apa yang Anda pikirkan, Nyonya?" tanya kapten yang tiba-tiba berdiri di sisinya.


"Bagaimana Anda bisa mengira saya sedang memikirkan sesuatu?" tanya Ana.


"Wajah Anda muram. Selama tiga hari ini, eajah Anda terlihat dangat cerah dan enerjik!" katanya membandingkan.


"Hemmm...." Ana hanya menggumam dan mengangguk.


"Kau suka sok tahu!" ejek Ana. "Tapi dia bilang akan kembali hari ini. Semoga dia membawa bahan makanan. Kulkasnya sudah kosong sejak lama!"


Ana melambaikan tangan, lalu berjalan ke arah rumah Alexei. Kapten itu berdiri dan tersenyum tipis. Dia tak ingin menduga-duga. Tapi entah kenapa, senyumnya tiba-tiba muncul begitu saja.


"Benar katanya. Aku sok tahu dan suka ikut campur!" desahnya sambil memberi kode pada pelatih, untuk mengakhiri pelatihan sore itu.


Ana naik ke loteng dan memeriksa semua jenis senjata koleksi pamannya. Dia memeriksa isinya dan mencoba membidik.


"Koleksi yang bagus. Apakah psman mendapatkannya saat bertugas?" pikirnya. Sebab beberapa dari senjata itu bukanlah buatan negeri ini.


Ana mendengar handel pintu diputar. Tapi tentu tak bisa dibuka, karena dikunci dari dalam.


"Ana!" terdengar panggilan dari luar.


"Ya!" Ana turun dari loteng, sebab mendengar panggilan Alexei.


Pintu terbuka dan sebuah tas belanja yang penuh, diangkat ke hadapan wajahnya.


"Ini upsh aku menjaga rumahmu?" tanya Ana. Tas itu diambil alihnya dan segera dibawa masuk.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Alexei.


"Membosankan!" sahut Ana dengan bibir mengerucut.


"Aku ingin keluar dan beraksi. Aku sudah tak sabar melihat muduhku tertawa culas di tempat lain!" geram Ana kesal.


"Tenang, akan ada saatnya mereka menerima pembalasan!" Alexei membawa masuk satu tas belanja lagi.


"Apa kau sudah makan malam?" tanyanya.


"Belum. Aku menunggu paman pulang!" jawab gadis itu asal.


"Oke!. Aku mandi dulu, lalu kita ke kantin untuk makan malam!" balas pamannya.


"Hah ... kukira kita bisa keluar untuk makan. Aku bosaaannn!" gerutu Ana manja.


Alexei terkekeh geli dari kamar mandi. Tapi dia tak menjawab apapun.


Ana telah selesai menata bahan makanan di kulkas dan rak pantry. Sekarang mereka punya cukup stok untuk seminggu.


"Ayo!" ajak Alexei.


Ana mengangguk dan mengikuti pria itu keluar rumah. Keduanya berjalan bersebelahan menuju kantin.


*


******


Di satu ruangan.


"Tuan, Bukankah Anda sudah buktikan bahwa dia adalah saudara ipar Anda. Kenapa tak mau menemuinya?" tanya Dokter Dorjan heran.


"Jika aku menemuinya, aku akan membawa kesulitan juga untuknya. Istriku sudah tewas akibat pekerjaanku. Tak adil rasanya mengorbankan nyawa kerabat lagi, hanya demi ingin bertemu!" ujar pria tua itu.


"Tapi dia bilang, punya sesuatu untukmu, bukan? Kenapa kau tak ingin tahu?" tanya Dokter Dorjan lagi.


"Aku tak ingin mendengar tentang keluarga istriku lagi. Aku telah bersalah pada mereka. Aku takkan danggup lagi mendengar berita buruk akibat ulahku!" ujarnya sedih.


"Bagaimana kalau itu ternyata tentang kedua putrimu?" bantah Dokter Dorjan.


"Tak mungkin!" pria tua itu menggeleng.


"Apanya yang tidak mungkin? Wanita yang saat itu marah-marah padamu dan membuat Ammo datang adalah keponakannya! Bisa jadi itu putrimu!" jelas Dokter Dorjan.


"Hahahaha...."


Pria itu tertawa terpingkal-pingkal. "Wanita tua itu putriku? Yang benar saja!" ujarnya tak percaya!


********