Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
131. Tertembaknya Ana


Di dalam rumah, Mereka langsung memblokir pintu dan dinding depan dengan menggeser meja dan sofa, serta membalikkannya. Mengantisipasi peluru yang ditembakkan dapat menembus dinding kayu.


Setelah itu, mereka mengeluarkan dan memegang pistol masing-masing. Bersiap menunggu kedatangan orang yang tak dikenal.


"Apakah mereka mengejarmu?" tanya Alexei pada Ivan, saat mereka bersembunyi di balik sofa.


Pria itu mengangguk. "Sepertinya ada yang membocorkan tempat persembunyianku di sini!" ujarnya.


"Apa kau pernah keluar dari tempat ini?" tanya Alexei lagi.


Ivan kembali menggeleng. "Bahkan saat pemilik kebun ini datang dan mengusirku akibat insiden temannya, aku tetap tidak diijinkan Dorja keluar. Aku hanya berpindah ke kediamannya!" sahut Ivan.


"Berarti ada orang di dalam sini yang mengatakan tentangmu pada orang lain!" simpul Alexei.


"Tuan, perawat yang menyetrum itu langsung dipecat Dokter Dorjan. Mungkinkah dia yang membocorkan rahasia kita?" ujar pengawalnya.


"Sial!" ujar Ana. "Kau benar. Bukankah itu orangnya?" tunjuk Ana ke luar jendela.


Pengawal itu mengintip. "Benar, itu dia! Tapi dua lainnya bukan petugas di sini. Untuk apa dia ke sini lagi?" gumam pengawal itu heran.


"Membalas sakit hati karena dia dipecat!" sahut Ana.


"Tetapi, menurutku dia sama sekali tidak terlihat seperti perawat! Lihatlah caranya memegang pistol. Itu cara orang yang sudah terlatih!" tunjuk Alexei.


"Berarti dia menyamar. Dan seingatku, dia sudah beberapa bulan ini bekerja di sini," ujar pengawal itu.


"Apakah dia sering merawat ayah?" tanya Ana.


"Tidak! Dia bagian mendorong kursi rodaku ke tempat cuci darah. Yang melakukan perawatan, langsung Dokter Dorjan!" bantah Ivan.


"Berarti dia sedang mencari kesempatan untuk melakukan aksi, setelah memastikan bahwa pasien di rumah sebelah adalah ayah!" Ana menyimpulkan.


"Namun sayangnya, Ammo sudah memecatnya begitu tahu!" Alexei menambahi.


"Pertanyaanku sekarang adalah, bagaimana keadaan di klinik sekarang ini. Jika dia bisa lolos masuk dengan senjata, mungkin saja dia melukai para staf, dokter dan pasien di klinik!" Ana merasa ngeri membayangkannya.


"Hubungi Ammo dan minta kirimkan beberapa orang ke sini!" perintah Alexei.


Ana membuka ponsel dan mencoba menghubungi Ammo. "Ya!" Hanya itu yang didengar Ana, sebelum komunikasi itu putus.


"Apakah biasanya di sini tak ada signal telepon?" tanya Ana.


"Biasanya lancar!" jawab Ivan.


"Mereka menggunakan jammer untuk mengacaukan signal telepon dan internet!" Kata Alexei.


Yang lain mengangguk mengerti. "Tapi sebelumnya aku sudah mengirim pesan pada Ammo. Dengan tersambungnya telepon tadi, maka pesanku pasti diterima Ammo!" kata Ana yakin.


"Mereka berbalik, setelah tak menemukan kita di sana!" bisik pengawal Ivan.


"Bersiaplah. Bisa jadi, mereka memeriksa juga ke sini!" ujar Ana mengingatkan.


"Mereka masuk halaman sini!" pengawal itu mengingatkan. Ana mengambil posisi strategis di jendela teras. Alexei menunggu di dekat pintu. Sementara Ivan dan pengawalnya berada di jendela kamar.


"Terdengar suara. "Kau yakin itu dia?" tanya salah seorang.


"Ya! Aku pernah mengintip dia saat membuka topeng sebelum pergi mandi!" jawab mantan perawat.


"Baiklah. Jika dia tak ada di sini juga, maka kau harus menghadap bos besar, dan mengatakan semua omong kosong ini!" kawannya memperingatkan.


"Yakinlah! Aku sudah mengamati. Dia tak pernah keluar dari klinik ataupun perkebunan!" katanya meyakinkan.


Tiga orang bersenjata itu, berjalan makin dekat ke pintu. Handel pintu diputar, tapi pintu itu tak mau terbuka. Ana memasang slot kunci di bagian atas dan bawah.


"Kurasa dia di sini!" ujar mantan perawat itu.


"Kau yakin?" tanya temannya mulai hati-hati.


"Dua rumah perawatan disini tak pernah dikunci secara khusus. Biasanya ada slot untuk mengunci pintu dari dalam. Dan sekarang, lihatlah...."


Pria itu memutar handle pintu dan mencoba mendorongnya. Dia tak bisa.


"Hai, apa ada orang di sini?" Pria itu mengetuk pintu.


Namun, tak ada jawaban. Pria itu mulai menunduk, mundur, dan bersikap hati-hati. Pistolnya digenggam kuat dan matanya mengamati bagian depan rumah kayu.


Kemudian, dia mulai membidik sasaran. "Mari kita tembaki saja!" sarannya.


Dua temannya mengangguk! Bidik dibagian bawah jendela!" pesannya.


Dua orang lain mulai mengawasi jendela yang tertutup rapat.


Kemudian terdengar suara rentetan pistol menembaki bagian depan rumah.


Ana membidik orang-orang sombong yang tertawa di halanan. Dibidiknya orang yang dulunya adalah perawat. Begitu berada dalam jangkauan, peluru pistol Ana melesat cepat. Pris itu langsung jatuh dengan leher berdarah.


Dua temannya langsung tiarap, menghindari tembakan diam-diam.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya salah seorang, yang masih bisa mendengar racauan orang tadi.


Tak ada jawaban, dan suara racauan itu juga hilang. terdengar lenguhan panjang dari orang yang kesulitan bernapas. Tapi teman-temannya tak bisa membantu. Keduanya sedang berlindung di balik pohon.


"Aku bisa membidiknya!" desis Alexei. Lalu jarinya menarik pelatuk. Sebuah peluru melesat cepat. Nyaris menyerempet batang pohon, tempat salah seorang bersembunyi.


"Aakh!" Terdengar suara pekikan tertahan. Tubuhnya bergerak keluar dari lindungan pohon.


Alexei menembakkan satu peluru lagi. Orang itu jatuh tersungkur di tanah dan menggeliat.


Tinggal seorang lagi yang sekarang menjadi lebih berhati-hati. Dua temannya dipastikan tewas tak lama lagi. Dia membidik ke arah jendela yang ada di dekatnya.


Tangannya sudah menarik pelatuk, tapi terhenti. Ada moncong senjata di kepalanya.


"Siapa kau!" hardik Ana.


Orang itu terkejut melihat seirang wanita paruh baya berdiri di sampingnya.


"Kau siapa?" Orang itu bertanya balik.


"Wrong answer!" Ana melepaskan satu peluru ke lutut orang tersebut.


"Aaaaahhhh!" jeritannya membahana. Pistolnya terlepas. Ana langsung menyingkirkannya jauh-jauh.


"Siapa yang mengirimmu ke sini!" Brntak Ana.


"Orang itu membayar kami untuk merampok tempat ini," kelitnya.


"Wrong answer!" seru Ana emosi. Sebuah peluru kembali melesat masuk ke paha orang itu.


Orang itu sudah membungkuk, menahan rasa sakit tak terkira. Dia tak bisa berdiri, karena peluru yang tertanam di lututnya, memberi rasa sakit tak terkira.


"Apa kau The Hunters?" tanya Ana dingin.


Ana bisa melihat rasa terkejut yang berlangsung hanya sedetik. Setelah itu, tampaklah kepura-puraan.


"Aku tidak tahu The Hunters!" bantah orang itu.


"Aku melihat matamu yang tadi terkejut. Kau tak bisa membohongiku! Kata Ana dingin.


"Waktumu sudah habis. Aku tak pernah membiarkan The Hunters yang kutemui tetap hidup!"


Suara Ana teramat dingin. Dia bersiap menembak pria itu. Tapi suara baling-baling helikopter sedikit mengejutkannya.


Pria itu mengambil kesempatan memukul wajah Ana dan merebut pistolnya. Dia langsung menembak ke arah gadis itu sambil berlari terseok-seok, menerobos kebun anggur.


"Ana!" teriak Alexei dan Ivan panik.


Tiga orang di dalam segera berhamburan keluar, untuk mendekati Ana yang roboh ke tanah.


"Ya Tuhan! Ana! Ana!" panggil Ivan panik, melihat darah membasahi baju putrinya.


********