Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
142. Pemimpin Baru Klan Khaan


"Kau saja yang ceritakan!" perintah Ivan pada pengawalnya.


"Baik, Tuan," sahutnya hormat.


Dia berjalan ke pintu. Memeriksa keadaan luar sejenak. Hari sudah gelap. Harusnya tak ada lagi yang akan datang ke tempat mereka. Kemudian pengawal itu kembali masuk dan mengunci pintu sekalian.


Dahi Ana berkerut melihatnya. "Apakah begitu rahasia?" pikirnya sambil menoleh pada pamannya. Alexei mengangkat bahu tanda tak mengerti.


Pengawal itu mengambil kursi dan meletakkannya di antara tempat tidur Ana dan Ivan. Alexei ikut menggeser kursinya mendekat, membuat pengawal itu bergeser lebih jauh, agar ada ruang untuk Alexei.


Ana melihat hal itu semakin yakin, bahwa apa yang akan dikatakan ini adalah hal yang sangat rahasia. Dia jadi memberi perhatian yang lebih serius lagi.


"Pemimpin, saya harus memperkenalkan diri dulu dengan benar." Pengawal itu hendak berjongkok lagi.


Ana langsung mengangkat tangan kanannya yang menggunakan cincin. Pengawal itu menunggu perintah dengan patuh.


"Tidak perlu berjongkok lagi. Terlalu sempit di sini. Katakan saja namamu!" perintah Ana.


"Baik, pemimpin. Nama saya Xander. Salah satu dari tiga utusan khusus yang dipilih dalam keputusan Uulzalt para Tetua Klan Khaan. Uulzalt adalah rapat khusus para tetua yang hanya diadakan di saat-saat tertentu dan dianggap penting.


"Cerita akan saya mulakan dari lima puluh tahun yang lalu. Klan kita yang besar, berada di puncak gunung. Saat itu klan mengalami krisis. Ada pengkhianatan besar, untuk merebut posisi Pemimpin Klan yang saat itu dipegang oleh kakek Tuan Ivan."


Ana dan Alexei terdiam. Keduanya tak menyangka ada hal semacam itu. Mereka menyimak penjelasan Xander.


"Saat itu terjadi perang saudara. Ketegangan meningkat dengan cepat. Pemimpin Klan memutuskan untuk mengirim menantu perempuan dan cucunya keluar wilayah, agar bisa selamat. Itulah awal mula Tuan Ivan berada di Slovstadt." Xander diam dan mencoba merangkai kata lagi.


"Nama asli Tuan Ivan adalah Erden!" jelas Xander.


Singkat kata, pemberontakan itu berhasil dikalahkan. Pria itu dan kelompoknya mendapatkan hukuman mati. Sebab hasutannya mengakibatkan puluhan nyawa melayang dan hampir semua properti hancur serta terbakar."


"Klan mengalami kerugian dan kemunduran besar. Banyak tenaga ahli kita yang tewas terbunuh. Uang lebih mencengangkan, ternyata ada banyak anggota klan yang hilang!"


"Pemimpin memperkirakan bahwa mereka hanya lari menyelamatkan diri dari huru hara dan tak ingin terlibat. Jadi, kami membuat pengumuman bahwa Klan sudah tenang dan damai lagi. Mereka diharapkan untuk segera kembali."


"Hitungan bulan hingga tahun, tak ada anggota Klan yang pergi itu kembali lagi. Tidak juga Tuan Ivan dan ibunya!"


"Setelah lewat setahun, Pemimpin berganti. Kakek Tuan Ivan tak dapat bertahan lebih lama setelah luka-luka parah yang dialaminya saat pemberontakan. Ayah Tuan Ivan menggantikannya memimpin Klan."


"Di tahun pertama dia memimpin, telah turun setidaknya lima pencari. Pencarian tidak khusus pada Tuan Ivan saja, tapi pada semua anggota Klan yang tiba-tiba menghilang. Namun, hingga tahun berganti, tidak ada hasil yang didapat."


"Pemimpin memilih istri baru untuk meneruskan estafet kepemimpinan. Waktu berlalu tak terasa. Menjelang akhir hayatnya, dia berpesan pada putra keduanya Taban, untuk mencari kakaknya, Tuan Ivan. Dan bila menemukannya, agar menyerahkan kekuasaan padanya!" jelas Xander.


"Selesai masa berkabung, Pemimpin memanggil semua Tetua Klan untuk membahas pesan ayahnya dalam Uulzalt. Disaat itu, kembali dikumpulkan informasi lama tentang orang-orang yang hilang. Karena terlalu banyak nama. Dan tahun sudah berganti, maka diputuskan mencari beberapa keturunan penting saja, agar pencarian lebih fokus!"


"Sepuluh tahun lalu, kami bertiga turun gunung. Masing-masing mencari satu orang. Dan tugas saya adalah mencari putra pertama pemimpin sebelumnya, Erden!"


"Saya menemukan bahwa, ibu Tuan Ivan, telah tewas dengan sebab yang belum diketahui. Akhirnya negara memasukkannya ke panti asuhan yang dikelola dinas sosial!"


"Saya terus menelusuri jejaknya, hingga tanpa terduga, melihatnya terjatuh dan pingsan di depan saya. Awalnya saya kira dia hanya gelandangan yang sedang sakit dan menunggu ajal. Lalu saya bantu dengan memberinya sepotong roti yang saya punya dan sebotol air."


"Tapi Tuan Ivan mencengkeram tangan saya dengan mata yang memiliki api di dalamnya!"


"Api?" tanya Ana bingung.


"Oh, oke. Aku mengerti!" Ana mengangguk.


"Saat melihat wajahnya lebih teliti, saya makin terkejut!"


Xander meminta ijin pada Ivan untuk menunjukkan sesuatu. Ivan mengangguk dan menyerahkan sesuatu yang disimpannya di saku dekat dada.


"Inilah foto pemimpin kami sebelumnya. Ayah Tuan Ivan. Bukankah mereka terlihat seperti pinang dibelah dua?" kata Xander.


Ana melihat foto itu, dan meneliti wajah ayahnya. "Memang mirip!" Ana mengangguk. "Apakah cukup hanya dengan selembar foto saja, sebagai bukti keturunan yang sah?" tanya Ana tak percaya.


"Tentu tidak. Setelah menemukan Tuan Ivan, saya melapor pada Klan. Mereka mengirim orang-orang untuk menjemput kami kembali."


"Dan ... dugaan saya tidak salah. Setelah tes DNA membuktikan, maka tak ada lagi penolakan. Seluruh anggota Klan setuju Tuan Ivan mengambil alih kepemimpinan!"


"Namun Tuan Ivan menolaknya. Alasannya adalah karena dua putrinya hilang dan istri pertamanya tewas dibunuh orang, akibat pekerjaannya. Jadi sementara, kepemimpinan tetap dipegang oleh adiknya. Hingga nanti pemimpin kembali ke sana!" Xanders menutup ceritanya.


Alexei dan Ana terdiam mendengarnya. "Jadi, ayah sudah pernah ke sana?" tanya Ana.


"Ya, tempat yang indah dan menyenangkan. Mari kita pulang dan membangun komunitas yang baik di sana," bujuk Ivan.


"Apakah di sana ada sarana cuci darah?" tanya Ana lagi.


"Ada!" Kali ini, Xander yang menyahuti.


"Bagus! Kalau begitu, kau bawa ayah dan Nathalie kembali ke sana!" putus Ana.


"Baik, pemimpin!" Xander menjawab cepat. "Saya akan segera mengurus kepulangan kami. Lalu bagaimana dengan anda?" tanyanya khawatir.


"Jangan khawatir. Ada paman Alexei yang menjagaku. Aku akan merasa tenang, kalau Ayah dan Nathalie sudah berada di tempat yang aman. Sebaiknya, putra ayah itu juga dibawa serta ke sana," saran Ana.


"Aku akan membujuknya. Istriku itu sedikit keras kepala. Tapi demi keamanan putranya, dia harusnya bersedia ikut ke sana!" kata Ivan.


"Bagus!" Ana mengangguk puas.


"Lalu bagaimana dengan dua orang lain yang ditugaskan berbarengan denganmu?" tanya Ana ingin tahu.


"Kabar yang saya dapat saat membawa Tuan Ivan untuk mengikuti tes DNA, mereka berdua juga sudah menemukan orang yang mereka cari. Tapi saya tak mengetahui siapa-siapa saja mereka," jawab Xander.


"Jika misalnya aku bertemu mereka, bagaimana caranya agar aku mengenalinya?" tanya Ana.


Xander berpikir sejenak. Kami dibekali dengan pin ini!" Xander mengeluarkan pin yang terbuat dari kuningan. Pin berbentuk bulat dengan ukiran dua hunung kecil di belakang, mrngapit satu gunung besar di tengahnya.


"Kau saja tidak memakainya. Maka akan sulit menemukan mereka. Jika mereka melihat cincin anda, harusnya mereka akan segera berlutut memberi hormat!" kata Xanders.


"Selain itu?" desak Ana.


"Salah seorang memiliki luka cadet di pipi. Jika dia tak menutupi,' maka Pemimpin bisa melihatnya dengan mudah.


Ana mengangguk-angguk. "Baiklah, aku mengerti.


*******