
Ammo dan rombongan negara Slovstadt akhirnya bertemu dengan para tetua klan. Mereka saling bertukar cindera mata dan beramah tamah sambil menikmati sajian dan tarian.
Pada dasarnya Ammo datang untuk menunjukkan itikad baik dan sikap menghormati dari negaranya kepada klan. Klan ini selama bertahun-tahun sebelumnya telah menjadi sentral dari berbagai pemerintahan di sekitar gunung itu.
Ammo menjabarkan garis besar dari rencana yang dibuatnya untuk menata ulang negara Slovstadt. Termasuk rencana pemilu di tahun depan.
Para tetua mengangguk senang sepanjang acara. Mereka senang karena dengan kunjungan ini, maka diharapkan jadi contoh bagi negara lain untuk kembali menjalin kerjasama dengan klan.
Acara kunjungan itu berakhir sore hari. Ammo diantar ke kediaman sementaranya. DIa dijadwalkan melakukan pertemuan bisnis dengan Ketua Klan Klaan malam nanti.
"Apakah ruang pertemuan untuk malam nanti sudah siap?" tanya Ana untuk yang ke sekian kalinya.
"Sudah, Pemimpin," jawab salah seorang pekerja yang dipanggil Ana ke ruangannya.
""Jangan lupa soal konsumsi. Jam pertemuannya tepat di jam makan malam. Jadi sebaiknya tamu dijamu dengan layak." Ana menekankan pesannya.
"Baik' Pemimpin," jawab orang itu lagi.
Ana mengangguk. Kau bisa kembali melanjutkan pekerjaanmu," ujar Ana. Orang itu menunduk dan keluar dari ruangan.
Ana kembali ke kediamannya sebelum petang. Dia masih harus mempersiapkan diri untuk pertemuan bisnis malam ini. Beberapa orang telah dimintanya untuk ikut serta dalam pertemuan. Perkiraannya, Ammo mungkin akan menawarkan beberapa kerja sama dengan klan.
*
*
"Kau sudah siap?" tanya Ana pada Nathalie.
"Tentu saja," Nathalie mengangguk dengan senyum terkembang.
"Di mana ayah dan paman?" tanya Ana lagi.
"Mereka sudah berangkat sejak tadi. Sekalian mengecek persiapan apa yang kurang," jawab Nathalie.
"Kalau begitu, mari kita berangkat juga." Ana bangkit dari duduknya. Meraih tas kecil yang sudah dipersiapkan. Kedua gadis itu berjalan menuju gedung pertemuan lagi. Tapi kali ini, pertemuan diadakan di ruang penerimaan tamu di samping kantor Ana.
Tak lama Ana sampai, Ammo juga sampai. Keduanya berjabat tangan sebentar, diikuti rombongan yang dibawa Ammo. Semua duduk di tempat yang sudah diatur.
Pembicaraan kali ini sangat serius. Ammo menawarkan kerjasama pendidikan di negara Slovstadt bagi anggota klan yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Kemudian kerjasama perdagangan dan pertanian. Wakil-wakil yang dibawa Ammo akan menuntaskan pembicaraan detail dengan wakil yang ditunjuk oleh Ana. Ana ingin semua dikerjakan oleh ahlinya masing-masing, agar klan dapat makin berkembang dan maju.
Acara resmi selesai setelah makan malam berakhir. Semua senang dengan adanya tawaran kerja sama kedua pihak.
Ammo masih akan dijadwalkan untuk mengunjungi wilayah sakral klan. Yaitu tempat pemakaman para pemimpin terdahulu. Itu akan dilanjutkan besok sebagai jadwal kunjungan pribadi. Sementara Ammo pergi. bawahannya akan menuntaskan pembicaraan bisnis secara lebih mendetail.
"Aku punya kejutan untukmu," bisik Ammo sebelum pamit.
"Kalau diberi tahu, bukan kejutan lagi namanya," senyum Ana.
"Tunggu saja besok!" Ammo tak peduli. Matanya yang jenaka, membuat Ana penasaran.
"Kalau kau yang datang, aku akan senang sekali!" balas Ammo.
"Apa kau ingin mati?" bisik Ana lagi.
"Sampai jumpa lagi," Ammo menunduk, memberi Ana hormat, sebelum mengundurkan diri.
"Dia tak akan melepaskanmu," bisik Nathalie.
"Itu tak seperti dugaanmu," elak Ana.
"Besok, saat kau menemaninya ke makam leluhur. Bisakah kau tanyakan kapan Oscar bisa pulang?"
Ana menoleh pada adik kembarnya itu. Mata Nathalie mengerjap beberapa kali. "Kau pasti sangat merindukannya. Akan kutanyakan perkembangannya besok!" janji Ana.
""Terima kasih. Kau saudari yang terbaik!" Nathalie mencium pipi Ana sekilas dan tersenyum senang.
Ana menghela napas panjang. Memang berat posisi Nathalie. Sekarang memang tak ada lagi The Hunters yang akan mengejar-ngejar dirinya. Ana akan mempertimbangkan memberi Nathalie waktu mengunjungi keluarga dan kekasihnya, nanti.
"Itu yang terbaik yang bisa kulakukan untuknya," batin Ana.
*
*****
"Theo, sudah hampir waktunya. Cepat sedikit!" ujar Ammo.
"Ya, Tuan. Ini sarapan kilat anda. Bagaimana pun, anda tetap harus sarapan sedikit. Atau kesehatan anda yang jadi taruhannya!" Theo memperingatkan.
"Kalau kau terus cerewet seperti ini, kau akan kupulangkan ke rumah!" kata Ammo.
"Anda akan merindukan kecerewetan saya, Tuan," balas Theo percaya diri. Tangannya tak berhenti mengerjakan berbagai hal agar Ammo dapat tampil dengan sempurna dalam setiap kesempatan.
"Terima kasih untuk sarapan lezatnya. Apa sekarang aku sudah bisa pergi?" canda Ammo.
Theo hanya membalas dengan senyum senang. "Jangan lupakan kejutan yang anda siapkan untuk nona Ana."
Ammo terkejut. DIa berbalik dan menoleh pada apelayannya itu. "Bagaimana kau bisa tahu?" tanyanya heran,
Theo tak menjawab. Dia hanya tersenyum misterius. Ammo mengangkat sebelah alisnya, menunggu jawaban Theo. Tapi pria itu tetap tak membuka mulutnya.
"Hah ... terserahlah." Ammo berbalik dan kembali berjalan ke luar ruang. Pengawal sudah menunggu. Kali ini ada guide yang menemani dan menjadi penunjuk jalan.
Kali ini sebuah mobil sudah menunggu di depan kediaman. Ammo dan para pengawalnya naik ke mobil masing-masing. Kemudian mobil meluncur meninggalkan kediaman sementara Ammo. Lalu Ammo melihat mobil lain di depannya. Ana memasuki mobil tersebut. Sekarang beberapa mobil berjalan beriringan menuju satu tempat yang menjadi tempat sakral bagi Klan Khaan.
"Aku juga punya kejutan untukmu!"
Ammo membaca pesan dari Ana. Bibirnya menyunggingkan senyuman. "Kejutan seperti apa yang akan diberikannya padaku?" pikir Ammo.
******