Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
11. Ammo


Ketegangan di ruangan itu meningkat setelah James keluar dan menutup pintu.


Di tengah ruangan, di belakang meja kayu besar. Duduk Edmund Emerson Oswald. Ceo grup Oswald. Sebuah konglomerasi multi nasional yang bergerak di berbagai bidang.


Tapi yang paling dikenal publik adalah Kemegahan Apartemen dan Mall yang menyasar masyarakat kelas atas. Serta jaringan hotel bintang lima dan Club house miliknya yang tersebar di berbagai negara.


Namun tak banyak yang tau bahwa Edmund juga punya lab khusus pengembangan senjata rahasia dan IT di negara asalnya.


Ana menatap tajam pada pria tampan di depannya. Tapi pria itu terlihat dingin dan tak terpengaruh emosi yang ditunjukkan Ana.


Dia membuka laci kerjanya. Mengeluarkan sebuah suitcase kecil. Diletakkan di meja, dan mendorongnya ke depan.


"Ini set peralatanmu yang baru. Satu-satunya. Dengan fungsi terbaik dan disempurnakan. Ku ambil sendiri dari lab. Aku yakin itu aman dari penyadapan."


Edmund yang kerap dipanggil Ammo oleh orang-orang terdekatnya, menunggu reaksi Ana. Gadis yang sangat sulit untuk ditaklukkannya.


Melihat Ana masih memasang wajah perang di depan sana. Ammo berpikir, apa lagi yang kira-kira belum dibereskannya.


'Ah, petugas sialan itu!' pikirnya kesal.


Ammo menekan tombol intercom.


"Kirim petugas yang memeriksa Angel ke camp pelatihan!" perintahnya dengan nada marah.


Raut wajah Ana sedikit melembut. Dibiarkannya tali Mimi lepas. Dan kucing lucu itu segera berlarian ke sana-kemari.


Ana melangkah mengambil suit case kecil yang ada di meja kerja Ammo. Lalu berbalik dan duduk di sofa yang berada di sisi kanan pintu masuk. Dia segera sibuk memeriksa peralatan apa saja yang diberikan oleh Ammo kali ini.


Ammo melangkah menuju mini bar yang ada di sudut ruangan. Diambilnya dua kaleng soda dari kulkas dan membawanya ke arah sofa.


Ammo duduk dan meletakkan minuman ringan itu di meja. Dia siap menjawab pertanyaan Ana tentang setiap alat yang ada di dalam suit case tadi.


Mimi berlari dan menggelendot manja di kaki Ammo. Ammo menoleh dan segera menangkat Mimi.


"Kau merindukanku?" tanyanya sambil tersenyum.


Ana melihat sekilas. Senyum itu harusnya bisa sangat menenangkan. Tapi perselisihan antara mereka terlalu banyak. Dan jika bukan karena urusan pekerjaan, Ana lebih memilih menghindar.


"Ini apa?" tanya Ana.


Ammo melirik sejenak dan meneruskan keasikannya mengelus Mimi


"Jam tangan."


"Aku tau ini jam tangan. Tapi kau tak mungkin memberiku hanya benda receh kan?" Ana mulai terpancing emosi.


Ammo menghela nafas. Ana wanita yang hanya punya sedikit kesabaran.


"Itu alat pengacak radar. Jika ada yang melacakmu, itu bisa kau pakai. Tinggal pencet saja tombolnya." Ammo menjelaskan.


"Hanya itu?" tanyanya heran.


Huft!


Ammo menarik nafas dan menghembuskannya perlahan.


"Di situ ada 10 jarum halus beracun. Bisa dilesatkan pada musuh saat kau membutuhkan."


"Jika situasi darurat, kau bisa menyetel jam itu jadi bom waktu. Lalu tinggalkan saja di tempat targetmu."


"Sini ku pakaikan...."


Gerakan tangan Ammo terhenti ketika dilihatnya di tangan Ana masih ada jam tangannya yang lama.


Ana juga terdiam. Entah kenapa dia enggan melepaskan jam mungil itu dari tangannya. Padahal sudah ada retakan kecil pada kacanya.


"Bagaimana jika jam ini dibawa ke lab dan diperbaiki dulu?" Ammo menawarkan bantuan.


Ana meragu sejenak.


"Hemmm, baiklah."


Dilepaskannya jam itu dan diletakkan di meja. Diraihnya jam yang baru dari tangan Ammo lalu memasangnya di pergelangan tangan.


"Cantik!" pujinya jujur.


"Dan fungsional. Itu yang penting." Sambung Ammo.


Mereka melanjutkan pembahasan tentang alat-alat lainnya hingga satu jam berikutnya.


"Ini kunci mobilmu." Ammo mengambil kunci di saku celana dan meletakkannya di meja.


"Aku lebih menyukai motorku!" bantah Ana.


"Motormu sedang diperbaiki dan ditambahkan fungsinya. Jika sudah selesai, aku akan mengabarkan dan kau bisa mengambilnya di tempat biasa."


"Baiklah... baiklah." Ana sudah tak sabar.


"Mari turun. Akan ku tunjukkan mobilnya."


Ammo melepaskan Mimi yang sedang asik tidur di pangkuannya. Ana menyusun kembali semua alat ke dalam suit case.


"Apa kau masih punya pistol genggam?" tanya Ana.


"Ada." Ammo berjalan ke mejanya dan membuka laci. Dikeluarkannya 2 pistol mungil dan di letakkan di meja.


"Kau pilih saja."


Ana mendekat dan mencoba keduanya.


"Aku mau yang ini," kata Ana.


Ammo meraih pistol satunya dan kembali menyimpannya di laci meja. Lalu dikeluarkannya sebuah kotak.


"Ini pelurunya. Hanya ada 30 buah...."


"Oke!"


Ana memotong kata-kata Ammo yang pasti akan menjelaskan lagi panjang lebar tentang pistol itu. Dia sudah bosan.


Ammo mengunci lacinya lalu berdiri. Dia menyadari bahwa Ana ingin segera pergi dari sana. Dia sudah biasa dengan sikap gadis itu. Namun hari ini dia bersyukur, tak ada pertarungan sebagai pembuka perjumpaan mereka.


"Mari kita lihat mobilmu," ajaknya.


Sambil memegang rantai leher Mimi, Ana mengikuti Ammo keluar.


******