
Setelah tandu Maya ditarik Ana, Ammo melepaskan tangga tali dari dahan pohon. Dia melempar tali-tali itu ke bawah. Kemudian menghapus bekas jejak-jejak mereka di tepi tebing dan sekitarnya. Ammo melakukannya hingga cukup jauh.
Kemudian mengambil langkah ke arah lain. Diapun bergegas. Sebentar lagi pasti banyak helikopter menyisir hutan dan perbatasan ini.
Ammo terus berjalan mengendap-endap. Sesekali kepalanya melihat sekeliling dan memeriksa radar pada jam tangannya. Setelah yakin tak ada siapapun dalam jangkauan radar.
Ammo berlari cepat dan menyelinap sambil membuka celah antara dua batu besar. Dia masuk ke sana dan celah segera menutup. Tubuhnya langsung menghilang dari pandangan mata.
Di dalam bukit batu, Ammo meluncur mengikuti lubang di bukit yang berkelok-kelok. Di satu tempat, Ammo memencet tombol pada jam tangannya. Satu pintu batu lain terbuka. Dan dia langsung menuju ke sana. Kemudian pintu batu di belakangnya kembali menutup rapat seakan tak ada jalur lain di situ.
Brukkk!
Tubuh Ammo menabrak balon pelindung yang terkembang otomatis. Dia segera berdiri dan merapikan dan mengembalikan balon ke tempat semula.
Ammo memeriksa radar jamnya. Dia melihat 2 titik kecil mendekat ke arahnya. Keningnya berkerut. Lalu segera menyusul ke arah tersebut.
Benar saja. Ana sedang berjalan sambil menyeret tandu Maya di belakangnya.
"Ana!" panggilnya.
Ana yang mengenali suara itu, terkejut karena dipanggil dari arah depan.
"Bagaimana kau bisa dari sana?" tanyanya heran.
Tapi Ammo mengabaikan pertanyaan itu. Dia melihat ke belakang Maya.
"Kenapa kau tak menaiki kendaraan yang ke siapkan di sana?"
"Apa itu transportasiku?" tanya Ana. Dia tak tau tentang itu.
"Tunggu di sini!"
Ammo berlari kembali ke lorong gua. Di sana kendaraan roda tiganya masih terparkir. Tapi Ammo masih terus melangkah menuju mulut gua. Dia merangkak untuk mencapainya.
Ana meraih tangga tali yang jatuh, tapi tidak menyembunyikannya. Ammo membereskan kembali tempat itu. Menghilangkan semua pertanda tempat itu telah dijamah manusia.
Ammo kembali menuju dimana kendaraannya menunggu. Dia memencet satu tombol di dinding batu. Gua rendah di belakangnya, kini menjadi lebih rendah lagi, hingga tak mungkin dilalui manusia. Debu-debu berjatuhan seiring langit-langit gua yang makin turun. Lalu menutup sepenuhnya lorong gua dan pintu masuknya.
Ammo menaiki kendaraannya. Dia meluncur dan akhirnya menemukan Ana yang duduk menunggu.
Mereka berangkat meninggalkan tempat itu dengan kecepatan tinggi. Di belakang, lorong gua itu menutup perlahan. Tak ada jejak jalan apapun di situ.
*
*
"Ayo cepat turun!"
Ammo mengecek beberapa panel yang ada di dinding.
Kemudian muncul tabung besi kecil dari dalam kolam.
"Apa ini kapal selam mini?" pikir Ana takjub.
Ammo membuka pintu tabung itu.
"Masuklah ke dalam."
Kali ini Ana langsung mengikuti instruksi Ammo tanpa membantah. Bagaimanapun, sudah tak ada jalan lain lagi selain ini. Ana menopang tubuh Maya yang sudah terbangun. Keduanya masuk ke dalam tabung besi itu.
Ammo menekan beberapa tombol lain di dinding. Kemudian ikut masuk dan menutup pintu tabung itu. Dia duduk di depan kemudi. Ana dan Maya duduk di dua bangku belakang.
Kemudian kendaraan besi itu bergetar. Mesin telah dinyalakan. Siap untuk menjalankan instruksi pengemudinya. Ammo membawa kendaraan itu turun ke dalam air.
"Apakah ini kapal selam?" tanya Maya lirih.
Ana yang di sebelahnya mengangguk. Di kaca depan, jelas terlihat kalau kendaraan milik Ammo ini telah tenggelam sepenuhnya. Dan masih terus turun ke kedalaman.
Telinga Ana mulai terasa berdenging. Dia yakin, kapal selam ini telah turun sangat dalam melewati batasan seharusnya. Kemampuan kapal selam kecil menahan tekanan tentu berbeda dengan kapal selam besar milik angkatan laut yang bisa turun sangat dalam.
Kemudian kendaraan itu berhenti turun. Dia berputar lebih dari 30 derajat, lalu berhenti. Ammo menyalakan lampu depan kapal selam itu.
Kendaraan itu mulai berjalan. Ana bisa lihat ada gerbang bawah laut yang terbuka saat kendaraan berhenti berputar. Mereka telah berada di laut lepas. Itu ditandai dengan beberapa ubur-ubur dan ikan yang melayang di depan kaca kapal selam.
"Ammo mau membawa kami ke mana?" pikir Ana.
Tapi dihapusnya prasangka dari pikirannya dan sepenuhnya mempercayai Ammo saat ini. Ana bersandar dan memejamkan matanya. Dengan cepat dia tertidur pulas.
******